Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Putus


__ADS_3

Malam itu seusai menjelaskan semua alasan mengenai penolakan perjodohannya dengan Dirga, Laura menatap dengan lembut pada kakek dan nenek Dirga itu.


"Eyang, maaf, Laura benar benar tidak bisa menerima lamaran dari Dirga. Bukan karena Lisa. Karena saya telah mempunyai pilihan hati sendiri. Saya memang dekat dengan Dirga, sebagai sahabat. Kami berusaha untuk mendekatkan diri, tapi yang ada, kami tidak nyaman jika sebagai pasangan.


Sekali lagi Maafkan saya Eyang Kakung dan Eyang Putri." Laura tertunduk di depan kakek dan nenek Dirga itu.


Tiba tiba Eyang Putri memeluk Laura.


"Nduk, jika itu sudah pilihanmu, kami tidak apa apa. Tapi, tolong bantu kami mencari pasangan yang tepat untuk temanmu yang bandel itu!" Bisik nenek.


Laura terdiam, sedikit terkejut dengan ucapan Eyang Putri.


"Eyang? Ini serius. Lalu mengapa tidak mengijinkan dengan Lisa?" Tanya Laura.


"Kami tidak ingin dari kalangan artis. Kecuali dia memang dari keluarga keraton yang menjadi artis. Kehidupan keraton banyak hal yang harus diikuti, tata Krama dan aturan. Eyang pernah tanyakan hal itu padanya, namun, gadis itu sepertinya kurang suka atau mungkin kurang paham dengan maksud Eyang."


Laura terdiam, memikirkan ucapan Eyang Putri. Lisa tidak pernah menceritakan itu. Dia selalu menceritakan hal lain, dan penolakan. Atau sebenarnya, Lisa sejujurnya sudah tidak nyaman lagi dengan hubungannya terhadap Dirga, namun ia tak punya alasan untuk memutuskannya.


Mereka mengobrol dengan santai setelahnya. Laura benar benar merasa sangat lega setelah mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Dirga. Terlihat Bu Sisil tersenyum saat Laura melihat ke arahnya.


"Adakah calon pengganti Laura untukmu Dirga?" Tanya Eyang Kakung, membuat Dirga terkejut dan langsung menatap Laura untuk membantunya menjawab.


"Eyang, Dirga punya calonnya. Namun, saat ini dia masih ragu. Tolong beri kesempatan untukku berusaha meyakinkan wanita cantik ini, supaya dapat berkenalan dengan keluarga kita." Jawab Dirga sambil melihat ke arah Laura.


"Jadi, Dirga ada teman dekat. Tapi, Eyang bersabar dulu ya. Saya akan bantu Dirga untuk mendapatkan wanita itu." Janji Laura.


Eyang hanya mengangguk setuju, sedang, Bu Sisil menatap tajam ke arah Laura maupun Dirga. Seolah ingin tau siapa wanita itu.


Setelah acara selesai, Laura berpamitan. Dirga juga berpamitan akan mengantar Laura kembali ke rumah.


Namun, di parkiran terlihat mobil Radit telah menunggu di sana. Ia keluar dari mobil, menuju pasangan sahabat itu.


"Biar aku antar dia sampai ke rumah." Ucap Radit.


Dirga tersenyum menanggapi ucapan Radit, dan melepas kepergian pasangan itu. Lalu ia menuju mobilnya, menuju ke tempat Lisa tinggal selama syuting.

__ADS_1


Ia menyusuri kota Yogya melewati ring road untuk menghindari kemacetan.


Ia membelokkan ke sebuah kompleks perumahan, tempat para pemain film dan para kru tinggal selama proses syuting. Ia melihat di depannya ada sepasang muda mudi sedang berboncengan mengendarai motor, ia mengenal perempuan yang dibonceng itu. Itu adalah Lisa, yang tengah bermotor dengan Dewa.


Dirga hanya menghela napas dalam-dalam, mengatur emosinya. Ia tau sedang cemburu melihat pemandangan di depannya itu. Ia sadar masih ada rasa cinta di relung hatinya untuk artis itu, namun, ia juga sadar tidak bisa memaksakan perasaan Lisa, atau memaksakan keluarga besarnya untuk menerima Lisa apa adanya.


Dirga hanya bisa menatap pasangan yang tengah naik motor di depannya saling bercanda saat berboncengan dan Lisa memeluk pinggang lelaki di depannya. Rasa sakit itu timbul, entahlah. Dirga merasa Lisa tak akan bahagia jika bersamanya. Ia ingin segera mengakhiri semuanya dengan Lisa dan menjalani kehidupan baru.


Motor itu memasuki gerbang rumah besar tempat menginap kru film. Ternyata benar tebakan Dirga, pasangan yang naik motor tadi adalah Lisa dan Dewa.


Dirga memarkir mobilnya di luar gerbang, ia berjalan masuk ke halaman yang ramai kru film.


"Halo, Dirga. Apa kabar, sudah lama ga kelihatan? Kangen Lisa ya, kok baru nyamperin nih?" Sapa Mas Andre saat melihat Dirga datang.


Lisa dan Dewa terkejut dengan kehadiran Dirga di rumah itu.


Lisa segera menghampiri Dirga yang tengah mengobrol dengan Mas Andre.


"Kamu ke sini?" Tanya Lisa.


"Ya iyalah, masa ga kangen sama kekasih hatinya? Kamu itu ya Lis, bukannya menemani Dirga, malah sering jalan sama Dewa, adiknya Laura." Protes Mas Andre sambil berkacak pinggang menasihati Lisa dengan gaya kemayunya.


"Aku pamit pulang dulu. Sudah malam. Selamat malam semua." Pamit Dewa sambil menganggukkan kepalanya.


Lisa hanya membalas dengan anggukan kepala juga.


Dirga hanya menatap Dewa dengan tatapan tajam, seolah tak percaya, dia kalah dengan anak kecil seperti Dewa.


Dewa berlalu dari rumah itu dengan motornya. Lisa hanya diam saat Mas Andre pun meninggalkannya, hanya berdua dengan Dirga di teras rumah.


Kru yang lain sebagian masuk ke dalam rumah, ada pula yang masih duduk duduk di bale di halaman rumah.


Kini, Dirga dan Lisa hanya berdua, saling diam dan bertatap mata, namun, seolah tak ada rasa di antara mereka berdua.


"Mau cari wedang ronde bersamaku?" Ajak Dirga.

__ADS_1


Lisa menganguk mengikuti Dirga menuju mobil.


Dirga menuju ke daerah alun alun. Terlihat ramai di sana. Banyak orang orang berwisata kuliner dan berkeliling menggunakan sepeda yang berbentuk mobil, dengan hiasan warna warni kerlap Kerlip.


Dirga dan Lisa menuju seorang penjual wedang ronde yang berjualan di situ, dan memesan dua mangkuk.


"Apa kabarmu?" Tanya Dirga berbasa basi.


"Baik. Yogyakarta ternyata kota yang menyenangkan." Ucap Lisa.


"Ya, aku melewati masa kanak kananku di kota ini."


"Selamat atas pembukaan usahamu di sini. Aku sering datang ke sana untuk berbelanja, atau sekedar membeli minuman."


"Terima kasih."


Mereka sama sama diam saat menikmati wedang ronde. Dirga melirik ke arah Lisa, yang sedari tadi tak pernah menatapnya secara langsung, seolah tak berani menatap mata Dirga.


"Lisa." Panggil Dirga.


"Ya." Jawab Lisa. Kali ini Lisa benar benar menatap mata Dirga.


"Hubungan kita ini terasa menggantung. Aku tau kamu butuh waktu untuk memikirkan kembali semuanya. Aku tau keluargaku cukup sulit menerima dirimu untuk masuk ke dalam keluargaku. Lalu jarak usia kita yang terpaut cukup jauh. Pekerjaanmu yang mungkin berbenturan dengan aturan keluarga besarku. Aku tau kamu kesulitan mengikutinya." Dirga mengucapkan semua sambil menatap Lisa.


Lisa hanya diam, ia benar benar tak banyak bicara saat itu.


"Dirga, aku minta maaf, jika tidak bisa memenuhi permintaan keluargamu untuk melepaskan semua pekerjaanku. Belajar hal hal baru mengenai aturan jadi keluarga keraton, merupakan hal berat untukku. Aku tidak bisa." Jawab Lisa tertunduk kembali.


"Ya, aku paham itu. Aku tak akan memaksamu lagi untuk masuk ke keluargaku." Dirga berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam.


"Lisa, aku ingin kita tidak menjalin hubungan yang serius lagi. Aku ingin kamu bebas menikmati hidup dan karirmu. Dan aku juga bisa menjalani hubungan yang serius dengan yang lain." Ucap Dirga dengan cepat cepat membuat Lisa harus enar benar mendengar semua dengan baik dan seksama


"Jadi, maksudmu, kita putus?" Ulang Lisa.


"Ya." Jawab Dirga. Ada rasa sakit dan kecewa saat mulutnya mengucapkan kalimat putus itu.

__ADS_1


Lisa menatap Dirga seolah tak percaya, lelaki yang menjadi kekasihnya selama lebih dari satu tahun itu akhirnya memutuskan hubungan mereka.


Ada rasa lega, dan beban yang teras berat dipundaknya seolah terangkat dan lepas.


__ADS_2