Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Season 2-38


__ADS_3

Gavin sebenarnya masih enggan membahas masalah dia dengan Kania di depan orang tuanya, tetapi karena Dave yang menyinggung lebih dahulu mengenai Kania akhirnya ia terpaksa menanyakan hal itu.


Apakah orang tuanya bisa menyetujui hubungannya dengan gadis itu? Gavin agak ragu dengan pertanyaannya akan mendapatkan persetujuan dari orang tuanya.


Jangan-jangan orang tuanya merencanakan sebuah perjodohan buat dirinya seperti kebanyakan pengusaha-pengusaha yang lain yang mengutamakan bisnis di atas segalanya dari pada perasaan anaknya.


Dave terdiam sebentar menarik napas dan menunduk, membuat perasaan Gavin semakin tidak menentu jangan-jangan benar saja perasaannya orang tuanya sudah merencanakan sesuatu untuk dirinya.


Bagaimana bila orang tuanya tidak bisa menerima Kania sebagai anggota baru dalam keluarga mereka, sedangkan ia sudah terlanjur jatuh hati dan lebih parahnya ia sudah berjanji akan menikah dengan gadis itu setelah lulus wisuda.


"Kamu serius suka sama Kania, bukan karena cinta sesaat?" tanya Dave menatap wajah putranya meminta satu kepastian.


Gavin menganggukan kepalanya " Emangnya aku anak sekolah yang baru kenal cinta monyet ?" jawab Gavin.


"Kita berdua bicara sebagai lelaki, seorang lelaki yang sudah menikah harus siap untuk berkomitmen setia apapun yang terjadi, menerima kekurangan pasangannya dan pantang untuk menyakiti hati istrinya.


Tidak boleh melihat ke belakang apapun masa lalu pasangan kita, mau dia orang baik atau tidak baik sebagai lelaki kita berkewajiban untuk membimbing dan menuntun pasangan kita, kalau dia salah kita wajib untuk membantu mengarahkan dia kembali ke jalan yang benar bukan meninggalkannya.


Menikah itu sekali untuk seumur hidup, apapun yang terjadi jangan pernah berpikir untuk bercerai.


Tugas lelaki itu berat karena kita imam dalam keluarga yang harus mampu mengasihi istri dan anak-anak kita nanti, mencurahkan kasih sayang untuk mereka," ucap Dave panjang dan lebar untuk menasehati putranya yang sudah dewasa.


Hanya mereka berdua yang ada di ruangan kerja Gavin, Dave bicara sebagai seorang ayah dan seorang laki-laki untuk mengajari putranya tentang tanggung jawab seorang laki-laki yang siap menikah.


Gavin mengangguk dan ia fokus mendengarkan nasehat dari daddy-nya, ia mengerti apa yang di ucapkan oleh ayahnya itu.


"Jadikan pernikahan itu sebagai ibadah untukmu seumur hidup, kalau kamu tau arti mencintai Allah pasti kamu bisa mencintai istrimu dan keluargamu," lanjut Dave.


"Aku mengerti dad, terima kasih buat nasehatnya," ucap Gavin.


"Sebagai orang tua bukan kami cerewet untuk melarang kamu tidak boleh pacaran sama si A atau si B, semua kami lakukan karena kami ingin melihat anak-anak bahagia sampai tua," balas Dave.


"Aku paham dad, terus gimana hubunganku dengan Kania kira-kira dapat restu gak nih?" tanya Gavin sambil terkekeh.


"Gimana ya? Kira-kira di restuin gak ya?" ucap Dave tersenyum sambil memainkan jari telunjuk di dagunya.


"Aduh dad aku lagi bertanya serius, kenapa malah di jawab bercanda dong," kata Gavin pada Dave yang masih senyum-senyum.


"Kamu serius sama Kania?" tanya Dave lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Iya dad, aku sangat serius !!" Ucap Gavin lantang.


"Kalau begitu kamu harus cepat lamar gadis itu, ngomong sama om Rio sebelum di dahului orang lain," sahut Dave sambil terkekeh.


"Lampu hijau nih dari daddy??" tanya Gavin seolah ingin mendengar sekali lagi penegasan dari orang tuanya.


"Heem" balas Dave.


"Makasih dad," ucap Gavin sambil memeluk Dave.


"Ingat pesan daddy, jangan permainkan anak gadis orang dan ketika nanti kamu sudah menikah cintai wanita itu dengan sepenuh hati seperti kamu mencintai Allah demikian cintailah istrimu jangan pernah berpikir untuk menduakan dia juga," nasehat Dave terakhir sebelum mereka menyudahi pembicaraan mereka.


"Kita mau makan siang di mana dad?" tanya Gavin.


"Kita makan di luar kantor aja gimana? Ajak calon mertua kamu tuh," ledek Dave pada putranya sambil tertawa.


Gavin yang mendengar ucapan Dave hanya tertawa, sedangkan Rio yang ada di dalam ruangannya tengah sibuk dengan tumpukan kertas dokumen yang menggunung.


Mata Rio tertuju pada laptop yang ada di depannya, kadang melirik map dokumen yang ada di sampingnya.


Banyak kontrak kerjasama yang harus diperbaharui ketika menandatangani perpanjangan kontrak kerjasama berikutnya.


Dave yang keluar dari ruangan Gavin memilih mendatangi ruangan Rio.


"Lagi sibuk banget keliatannya," ucap Dave yang masuk dari balik pintu.


"Eeh ... pak Dave, iya ini banyak tugas dari bos kecil," sahut Rio.


"Bos kecil??" tanya Dave.


"Iya, bos kecil putranya pak Dave," jawab Rio terkekeh.


"Bukankah itu juga calon menantu kamu kelak," ledek Dave pada Rio sambil tertawa.


"Itu sih rahasia Tuhan pak, biarkan aja mereka menjalaninya kalau jodoh tidak akan kemana," sahut Rio diiringi tawa.


"Yang jelas kita udah menjadi tua Rio, perasaan baru kemarin aku sibuk mengejar Alena dan kamu mengejar Sisil. Sekarang anak kita kejar mengejar," balas Dave sambil menarik kursi di depan Rio diiringi tawa dari mulutnya.


"Kadang anak itu suka aneh mau di jodohkan dengan Kania dia menolak, akhirnya yang dia memilih gadis itu juga menjadi pacarnya," lanjut Dave.

__ADS_1


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya pak, seperti bapak di jodohkan sama Bu Alena di tolak malah memilih bercerai tapi ujungnya rujuk juga sampai sekarang. Kalau orang bilang cinta mati tapi kalau saya bilang cinta sampai mati sampai maut yang memisahkannya," sahut Rio sedikit meledek Dave.


"Oh iya, anak itu mengingatkan kisah lamaku terulang kembali," kata Dave sambil tertawa.


"Makan siang dulu yuk, udah lama kita gak makan bareng mumpung aku ada di kantor sekarang kita makan siang bersama," ajak Dave.


"Saya masih banyak kerjaan pak," jawab Rio.


"Tinggalin aja dulu nanti baru sambung lagi," sahut Dave.


"Nanti bos kecil marah," kata Rio.


"Jangan takut kalau marah pecat aja jadi calon mantu, calon mertua lebih berkuasa dari pada pimpinan perusahaan," goda Dave sambil tertawa.


Rio tertawa mendengar ucapan Dave sambil merapikan berkas dan mematikan laptopnya dengan segera.


Mereka bertiga akan pergi makan siang bersama hari ini.


Tidak berapa lama ketiga lelaki beda generasi tersebut berangkat makan siang menuju sebuah resto yang tidak jauh dari kantor.


Mereka menggunakan mobil Dave tetapi sebagai generasi yang paling muda tetap Gavin yang mengendarai mobil tersebut.


Sampai di resto mereka bertiga langsung masuk dan memilih tempat duduk.


Tidak lama pelayan datang membawa daftar menu mereka bertiga pun memilih menu buat mereka santap siang ini.


Setelah selesai Dave dan Rio memilih untuk melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus tadi.


Sedangkan Gavin sebagai generasi yang beda usia memilih untuk memainkan gadget di tangannya sambil sesekali memperhatikan dua lelaki yang berada di depannya sedang membicarakan sesuatu.


Tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam resto, ia mengenal wanita itu adalah Dira bersama dengan seorang teman prianya tetapi bukan Andre.


"Siapa pria yang sedang bersama Dira saat ini?" Tanya Gavin dalam hati.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa membudayakan memberi komen dan like setiap selesai membaca karena gratis tidak bayar.


Kalau suka kalian bisa kasih vote dengan cara itu berarti kalian memberi semangat para author untuk terus berkarya... happy reading

__ADS_1


__ADS_2