
"Kamu mengenal dia?" Tanya Frea, sambil menunjukkan foto pada surat kabar yang dibacanya pagi itu pada Miranda.
Anak buah Ivan merupakan Paman dari Miranda, yang juga managernya.
Ivan menghubungi Paman Miranda untuk menjemput dan menampung Frea. Lalu ia kini tinggal bersama mereka. Frea mendapat tawaran menjadi model majalah dewasa untuk pekerjaan pertamanya.
Awalnya ia agak kesulitan dalam urusan bahasa, karena lama tinggal di Amerika, namun, setelah sebulan lebih, ia mulai sedikit bisa berbahasa Indonesia.
"Itu Lisa, artis yang lagi naik daun kini." Jawab Miranda dingin.
"Bukan, yang di sebelahnya."
"Aku kurang tau, tapi dia bekerja di Anugrah Group. Rekan kerja perempuan yang telah merebut kekasihku."
Perempuan yang dimaksud adalah Katrin.
"Lalu, pria yang di samping itu?" Frea menunjuk Radit.
"Aku kurang tau namanya. Tapi dia pengusaha, kalo ga salah. Ada apa?" Miranda balik bertanya pada Frea.
Frea menatap kembali surat kabar itu dan berusaha membaca dan mengerti isi berita itu.
Frea mengangguk angguk mulai memahami, bahwa benar itu adalah Radit, lelaki yang selama ini ia cari. Lalu perempuan gemuk itu ternyata adalah kekasihnya, yang merupakan sahabat Lisa, artis terkenal itu, dan mereka sedang menjadi relawan banjir dua hari yang lalu, saat Jakarta terendam banjir. Rupanya Radit, kembali lagi pada perempuan itu.
Ia sangat mengingat kejadian waktu dulu, Radit sengaja ia buat mabuk dan mereka menikmati kebersamaan, lalu tiba-tiba, perempuan itu datang, mengetuk pintu. Lalu Radit dengan mudahnya mengusirnya dan mengejar perempuan itu. Frea benar benar kesal dan ingin menyingkirkan perempuan itu.
Frea segera mengambil ponselnya, dan mencari alamat kantor Radit, yang nama perusahaannya disebutkan dalam berita itu. Ia ingin menemui Radit dan mengungkap semua perasaannya pada lelaki itu.
****
Siang itu, Ben menuju kantor Klien, tempat, dia bertemu dengan Nova. Setelah hari itu, Nova sama sekali tak ada kabar.
Ben menepuk keningnya.
"Bagaimana mungkin dia menghubungiku, nomornya saja aku ga ada, dasar bodoh!" Ben memaki dirinya sendiri.
Hari itu dia datang dan segera mendatangi bagian kantor yang dijadikan tempat syuting sinetron.
Ben celingukan mencari sosok Nova.
"Cari siapa Pak?" Tanya seorang kru film.
"Nova ada?" Tanya Ben.
"Nova, sudah selesai di sini." Jawabnya sambil meninggalkan Ben.
Ben menghela napas panjang.
Ia berpikir bagaimana menghubunginya dan menanyakan kabarnya.
"Apa harus bertanya pada Lisa? Ya, dengannya, mungkin tak terlalu mencolok. Jika dengan Anita, dia pasti akan curiga."
Ben segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu ia berencana menemui Lisa.
"Hai, Lisa. Lo dimana?" Tanya Ben saat berada dalam mobilnya, usai pekerjaannya.
__ADS_1
"Gue di rumah. Ada apa, Ben?"
"Gue mampir ya."
"Boleh, jangan lupa bawa makanan buat gue!"
"Gampang."
Ben menutup panggilannya, lalu segera mengemudikan ke rumah Laura, menemui Lisa.
Ben memarkir mobil di depan rumah. Hanya ada mobil Lisa, mobil Laura tidak ada.
Mungkin lembur atau berkencan dengan Radit, pikir Ben. Lalu ia melangkah masuk ke halaman dan memencet bel.
"Tunggu..!" Jawab Lisa dari dalam rumah.
Tak lama, Lisa membuka pintu. Mereka duduk di teras.
"Nih, gue bawa cemilan, tadi gue mampir di toko kue dekat sini." Ucapnya sambil menyerahkan kantong plastik berisi aneka jajanan pasar.
"Makasih, Ben. Tau aja gue laper. Laura belum pulang juga."
Ben menatap bunga anggrek yang terletak di sudut teras itu.
"Cantik sekali." Gumam Ben memuji tanaman yang sedang berbunga itu.
"Ada apa tiba tiba mampir ke sini. Gue rasa bukan sekedar memuji bunga itu." Sahut Lisa.
"Ya. Pingin mampir saja, sudah lama ga ketemu, pingin silahturahmi. Apa kabar Dirga?" Tanya Ben usai berbasa basi.
"Gak salah nih? Lo kan temannya."
"Gue ga sama Dirga lagi."
Jawaban Lisa, membuat Ben membesarkan bola matanya dan menatapnya tajam.
"Bagaimana ceritanya?" Selidik Ben.
"Panjang ceritanya, ga cukup sejam kalo cerita. Intinya sekarang gue bukan ceweknya lagi. Terus gosip Lo sama Nova, beneran?" Lisa ganti bertanya.
"Hah? Gosip? Gosip apaan?" Tanya Ben penasaran.
"Nova Deket sama Lo. Terus pas banjir itu, katanya dia nginep di rumah Lo. Abis itu semalaman dia ga keluar kamar, terus paginya pas dia keluar, matanya sembab, habis nangis gitu. Kamu apain dia?" Ganti Lisa menyelidiki Ben.
Sebenarnya, Lisa hanya mengarang cerita, karena Laura yang menceritakan kisah pagi hari yang memergoki Nova memakai pakaiannya dan menggelayut manja di lengan Ben. Ia hanya ingin mendengar cerita sebenarnya dari Ben.
"Lisa, gue..." Ben terdiam sebelum melanjutkan ceritanya.
Lisa menunggu sambil mengunyah soes.
"Gue tidur sama Nova." Ucap Ben lirih.
Sontak membuat Lisa terbelalak kaget.
"Gila Lo, Ben! Anak orang Lo gituin. Kalo hamil gimana?"
__ADS_1
Ben mengacak rambutnya sendiri dan menjambaknya dengan kesal.
"Gue bego banget malam itu? Malam itu hujan lebat, Nova bareng gue. Mau gue anter, tapi jalan ke rumah Madam airnya sudah tinggi, gue ajak aja ke rumah. Gue pinjemi baju Gwen yang masih gue simpan.
Baju itu pas sama dia. Lo tau, cowok itu butuh pelampiasan kan. Malam itu setan benar benar menggoda iman gue, Lis. Dan Nova juga nurut saja, bahkan dia juga menikmati semuanya." Tutur Ben.
"Ben, Lo tuh benar benar sudah gila ya! Dulu Lo punya kisah kebablasan sama Jane. Terus sekarang sama Nova. Beruntung ya Gwen ga sama Lo! Cowo maniak, cabul." Lisa meluapkan emosinya setelah mendengar cerita langsung dari Ben.
Bukan menyesali, malah mengatakan, jika Nova juga menikmatinya.
"Lisa, terserah, Lo mau bilang apa ke gue. Yang jelas gue benar benar akan bertanggung jawab kali ini. Lo bisa kasih nomor Nova atau Lo tau sekarang dia ada di mana?" Tanya Ben dengan wajah memelas dan pasrah.
"Nova lagi syuting film serial baru, kalo ga salah. Gue kirimin nomornya ya. Ben, Lo harus benar-benar berubah ya. Pantas saja Gwen kecewa dan marah besar. Insting perempuan itu ternyata bagus." Ujar Lisa. Setelah sadar apa yang diucapkannya, Lisa buru buru menutup mulutnya, berharap Ben tidak peduli dengan ucapannya.
"Gwen?" Ben mengerutkan keningnya.
"Maksud gue, Gwen pasti akan marah dan kecewa ma Lo kalo tau ini?" Elak Lisa.
"Kalo Gwen masih ada, gue ga bakal gini. Gue mungkin sudah menikah dengannya, dan menikmati hidup berdua dengannya." Ben tersenyum kecut ketika mengingat Gwen.
****
"La, ada di mana?"
"Aku dalam perjalanan pulang ke rumah ini."
"Sudah ke panti asuhan ya?"
"Sudah. Aku dipaksa makan dulu di sini, jadi sampai di rumah agak malam."
Hari itu, Laura mengunjungi panti asuhan seperti biasanya seusai jam kantor selesai.
Sebelumnya dia mampir ke toko sembako langganannya untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan oleh panti.
Saat hendak pamit pulang, Laura dipaksa untuk menikmati makan malam dulu bersama mereka.
Hasilnya, malam ini, Laura agak malam sampai di rumahnya.
"Hati hati ya. Kalo ada apa apa kabari."
"Nanti, jika sampai di rumah, aku hubungi ya. Bye Radit!"
Laura memutus panggilannya.
Radit membereskan meja kerjanya, bersiap untuk pulang.
Tinggal beberapa karyawan yang masih terlihat lembur mengerjakan proyek permintaan klien.
Setelah menyapa mereka, Radit berpamitan pulang lebih dulu.
Ia menuruni anak tangga menuju lobi kantor.
Sejenak ia tertegun di lobi, menatap sosok yang duduk di sofa tunggu lobi.
Ia berjalan mendekati sosok itu.
__ADS_1
Perempuan cantik nan seksi itu berdiri berhadapan dengan Radit. Senyum tersungging di bibirnya.
"Hai, Radit, selamat malam!" Sapanya.