
“Selamat siang, Ibu…” ucap Jihan menunduk hormat pada Nia.
“Selamat siang, salam kenal Jihan..” ucap Nia dengan senyum manisnya.
Jihan pun permisi keluar dari ruangan untuk segera menyiapkan perintah atasannya.
“Sayang, aku tinggal sebentar dulu ya… kamu istirahat disini dulu..”
“Iya mas…”
Satya pun keluar ruangannya menuju ruangan ayahnya.
Cukup lama Nia menunggu Satya. Minuman dan camilan yang dibawakan oleh Jihan bahkan sudah habis.
Tak ada yang bisa dikerjakannya selain duduk bersandar dan memainkan ponselnya.
Mata yang terasa amat berat membuat Nia akhirnya memilih untuk sekedar memejamkan matanya di sofa.
Tak kurang dari 2jam kemudian Satya kembali ke ruangannya dan mendapati istrinya yang tertidur pulas di sofanya.
“Sangat menggemaskan… huuuhft, aku masih harus menahannya…” batin Satya melihat wajah polos Nia yang tertidur.
“Sayang… ayo bangun yuk.. kita pulang..”
“Sayang… ayo bangun…”
Nia pun menggeliatkan badannya.
“Sudah selesai mas, urusannya..??” tanya Nia.
“Maaf ya sayang, kamu menunggu terlalu lama sampai ketiduran.”
“It’s oke mas… kalau gitu kita belanja sekarang..?” tanya Nia.
“Kamu gak capek..?? atau kita tunda lagi belanjanya..?? kita pulang aja..??” kata Satya.
“Kita belanja dulu deh mas, kulkas sudah kosong melompong mas.. perlengkapan mandi juga. Terus ada beberapa barang juga yang harus aku beli.”
“Oke kalau begitu. Ini…” ucap Satya menyodorkan kartu debit pada Nia.
“Untuk apa mas..?”
“Kamu pakai itu untuk semua kebutuhan rumah dan kebutuhan kamu. Mas gak tahu harus memberimu berapa untuk tiap bulannya. Jadi mas kasih kartu ini dulu, kalau kurang nanti mas transfer lagi.” Jelas Satya.
“Tapi Nia juga ada pemasukan sendiri kok mas. Nia kan juga dapat gaji dari kantor papa…”
“Iya gak apa – apa.. kamu simpan saja itu,atau untuk apa terserah kamu. Yang ini salah satu kewajiban mas untuk kamu.”
Dan sekali lagi entah kenapa Nia terharu mendengar perkataan suaminya itu.
“Terimakasih mas..”
Mereka berdua pun keluar dari perusahaan setelah berpamitan sebentar ke ruangan ayahnya.
__ADS_1
Satya pun melajukan mobilnya menuju salah satu supermarket. Kali ini bukan supermarket tempo hari, melainkan yang lebih jauh dari apartemennya. Antisipasi jika harus bertemu lagi dengan dosen atau teman kampus Nia.
Satya mendorong troli besar, sedangkan Nia mulai memasukkan sejumlah barang kedalamnya.
Karena memang ini adalah pertama kalinya mereka berbelanja kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadi, troli yang didorong Satya dalam sekejap sudah terisi penuh.
Selesai berbelanja, Satya mengajak Nia untuk sekalian makan malam di restoran di dekat situ.
Ia merasa kasihan jika Nia masih harus memasak untuknya malam – malam begini.
“Padahal kita bisa pulang saja lho mas.. aku bisa memasak sebentar …” ucap Nia.
“Lain kali saja sayang, kali ini kita makan malam disini dulu, oke…??” kata Satya yang menarik kursi untuk Nia duduki.
Mereka berdua kembali melewatkan moment makan malam mereka dengan bersenda gurau.
Sikap Satya bahkan berubah menjadi sangat romantis dan hangat. Berbeda jauh dari sosok Satya dosen killer dan dingin bak kutub utara.
Nia bahkan sempat lupa jika saat ini ia sedang dikejar deadline tugas kampus, oleh suaminya sendiri..!!
Setelah makan malam mereka segera kembali pulang ke apartemen.
“ Ternyata kita berbelanja banyak juga hari ini…” kata Satya sembari menunggu lift untuk naik ke apartemen.
“Maaf ya mas, aku belanja terlalu banyak ya…??” tanya Nia.
“Bukan begitu maksudku sayang, selama ini semua kebutuhan apartemen masih diurus sama Bunda, aku tahu tinggal beres aja. Ternyata segini banyaknya.”
“Mulai sekarang aku yang akan menggantikan peran itu, mas Satya…” ucap Nia dengan senyum manisnya, senyuman favorit Satya.
Nia segera menata semua isi belanjaannya hari ini. Menaruhnya di dalam kulkas maupun di dalam cabinet dapur. Hingga tanpa terasa waktu pun sudah berjalan hingga satu jam.
“Akhirnya, selesai juga… eh, dimana mas Satya…??”
Nia pun menemukan suaminya yang ternyata sedang sibuk berkutat dengan laptopnya di ruang kerja.
Nia berjalan perlahan mendekati Satya. Perlahan melingkarkan tangannya di leher Satya.
“Mas, mau dibuatkan minum…???” tanya Nia.
“Eh, sayang…?? Boleh…”
“Kopi atau teh…?”
“Kopi boleh sayang… terimakasih ya…” ucap Satya mengecup lembut pipii Nia.
Nia pun kembali beranjak ke dapur dan kembali dengan secangkir kopi untuk suaminya.
“Mas, aku juga ingin mengerjakan tugas disitu. Mas, Satya gak terganggu kan..?? ucap Nia menunjuk meja di dekat jendela yang sengaja di tata untuknya.
“Tentu saja tidak sayang… kerjakanlah tugasmu. Mas dengar dosenmu itu galak dan killer. Bisa bahaya kalau kamu tidak segera mengumpulkan tugasmu.” Goda Satya.
“Iya bener banget mas…!! Dosenku itu killer abis, mana dingin banget kek kutub utara. Tapi dia juga ganteng sih, makanya aku jatuh cinta sama dia…” ucap Nia seraya mengecup kilat pipii Satya dan segera berlari menuju mejanya.
__ADS_1
Satya hanya bisa tersipu mendengar pengakuan Nia tentang dirinya.
Satya dan Nia kembali berkutat dengan kesibukannya masing – masing.
Satya mengecek berbagai berkas kantor yang sengaja ia bawa pulang dan juga beberapa tugas mahasiswanya.
Nia juga mulai fokus mengerjakan tugas yang belum sempat diselesaikan. Sebelum acara pernikahan mereka sebenarnya Nia sudah menyelesaikan separuhnya. Kini tinggal sisanya saja, sehingga Nia beban Nia tidak terlalu berat.
Satu jam, dua jam, tak terasa hingga tiga jam keduanya masih larut dalam pekerjaannnya masing – masing.
Hampir menjelang tengah malam Satya akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Diliriknya Nia yang ia pikir masih sibuk dengan tugasnya, karena tidak bersuara sedikitpun.
Namun ternyata Nia sudah tertidur di mejanya.
Satya pun menghampiri Nia yang tertidur pulas. Dilihatnya laptop yang masih menyala. Tugas sudah selesai semua
dan hanya tinggal mengklik untuk mengirimkannya.
Satya pun mematikan laptop Nia setelah mengirimkan tugas Nia ke emailnya.
Nia bahkan tidak terusik saat Satya menggendongnya ala bridal. Satya berjalan dengan perlahan menuju kamar tidur.
Dengan perlahan pula Satya menidurkan Nia diatas ranjang. Namun gerakan yang sangat perlahan itu membuat Nia terbangun.
“Mas Satya… tugasku mas…!! ini jam berapa mas..?? aku belum mengirimkannya mas..!!” ucap Nia yang terlihat seperti mengigau.
“Sssst… sudah sayang, mas sudah mengirimkan tugasmu pada dosen killermu itu. Sekarang tidurlah, ya…” Kata Satya menenangkan Nia.
Satya pun beranjak dari ranjang.
“Mas Satya , mau kemana..??” tanya Nia
“Mas mau bersih – bersih dulu sebentar. Tidurlah dahulu..”
Nia menggeleng,” aku ikut bersih – bersih juga mas…” ucap Nia dengan mata yang setengah terpejam.
Satya pun menggandeng Nia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju tidur.
Baru kemudian mereka berdua merebahkan diri diatas ranjang.
“Ayo tidur..”
“Iya mas…”
Satya memeluk Nia, memasukkannya dalam pelukannya. Nia pun segera tertidur dengan nyaman dalam pelukan Satya. Kembali menghabiskan malam yang manis dalam buaian kekasih hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.