
“Bagaimana perkembangannya…??” tanya Satya pada detektif yang di sewanya itu.
“Tepat seperti dugaan anda, Pak. Nona Marsya otak di balik kejadian ini. Ini bukti - buktinya..” jawab Josh, nama detektif itu.
Satya mengambil lembaran kertas yang disodorkan kepadanya. Lembaran kertas yang berisi bukti -kejahatan Marsya.
“Ini bukti percakapan antara Nona Marsya dengan sopir mobil box itu. Tertulis dengan jelas bahwa Nona Marsya menyuruh sopir itu menabrak Nyonya Nia dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan.” Terang Josh.
“Saya jugasudah merekam pengakuan sopir mobil box itu. Ia sduah mengakui semua perbuatannya. Ia juga mengatakan bahwa Nona Marsya menjanjikan sejumlah uangdan menanggung semua biaya perawatannya, Pak…” imbuh Josh.
Seketika guratan kemarahan tercetak jelas di wajah Satya. Rahangnya mengeras dan hatinyamendidih panas. Ia tak menyangka Marsya bisa nekat melakukan hal seperti itu. Bahkania sendiri tak habis pikir, mengapa ia dulu bisa sampai mencintai wanitaseperti Marsya.
Satya dan Josh masih serius membahas tindakan yang akan mereka ambil atas kasus kecelakaan itu saat ponsel Satya berdering tanpa henti.
Satya melirik ponselnya dan tersenyum sinis.
“Dan bahkan dia masih tidak tahu malu dan terus menghubungiku.” Ucapnya pada Josh sembari memperlihatkan layar ponselnya, nomor tanpa nama tertera disana.
“Lanjutkan rencana kita…!!” perintah Satya.
“Baik pak…” ucap Josh kemudian pamit meninggalkan ruangan Satya.
Satya pun kembali berkutat dengan pekerjaannnya. Kembali memeriksa sejumlah berkas yang harus ia tandatangani dan juga mengikuti beberapa rapat hingga sore hari.
“Oh Ya Tuhan, Nia….!!!” Pekiknya.
Satya pun baru ingat jika ia harus segera menjemput Nia. Dengan segera ia menyambar tas dan kunci mobilnya, dan memacu mobilnya menuju kampus.
Tak butuh waktu lama Satya sudah sampai di parkiran mobil kampus, dimana Nia sudah menunggunya di tempat biasa mereka bertemu.
“Maafkan aku sayang, kamu sudah lama menunggu…??” tanya Satya pada Nia yang kini sudah duduk di samping kemudinya.
“Belum kok mas, kelas juga barusan selesai kok..” jawab Nia.
“Syukurlah… kalau begitu, bagaimana kalau sore ini kita jalan – jalan dulu ke taman.. kamu mau…??” ajak Satya.
Nia mengangguk cepat.
“Ayo mas…!!”
Satya pun memacu mobilnya keluar area kampus. Seperti biasa, mereka akan mencari taman yang jauh dari area kampus dan tempat tinggal mereka.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, mereka sampai di taman favorit Nia dulu, yang kini juga menjadi tempat favoritnya bersama Satya. Taman dengan danau buatan di tengahnya.
“Sudah lama kita tidak jalan – jalan santai menikmati langit sore, bukan..??” ucap Satya sembari menggenggam erat jemari Nia menyusuri jalan taman yang berhiaskan dedaunan tabebuya yang bermekaran.
“He’em….. belakangan ini kita sepertinya terlalu sibuk mas.. benar begitu, bukan…??”
“Lain kali aku akan lebih meluangkan banyak waktu untuk kita bersantai seperti ini, sayang….” Ucap Satya.
“Terimakasih mas… sepertinya aku juga harus mempertimbangkan lagi untuk bekerja membantu papa... belakangan ini rasanya sangat capek, mas…” ucap Nia.
“Terserah kamu saja, sayang… Mas tidak akan memaksa, mas akan dukung semua pilihan kamu…”
__ADS_1
Mereka duduk berdua di kursi taman tepi danau, menikmati langit sore yang cerah. Mentari yang bersinar cerah sejak tadi perlahan beringsut memendarkan cahaya kemilau yang menambah kesyahduan.
Nia duduk menyandarkan kepalanya di bahu Satya. Dengan jemari yang masih tergenggam erat, keduanya menatap lurus ke depan, ke arah air danau yang memainkan warna kemilau mentari dengan indah.
“Kenapa rasanya malah jadi mengantuk ya mas…???”
“Iya, sama. Anginnya terlalu sepoi – sepoi dan sejuk. Membuat kita jadi mudah mengantuk setelah melewati siang yang sibuk tadi.”
“Benarkan…??”
“Kita pulang sekarang…??? Sebelum kita ketiduran di tempat ini.” Ajak Satya.
“Ayo mas…”
Nia pun berdiri hendak beranjak namun langkahnya sejenak terhenti karena melihat Satya yang tak kunjung berdiri dari tempat duduknya.
“Siapa mas…??” tanya Nia yang melihat Satya hanya memandangi ponselnya yang berdering tanpa kunjung mengangkatnya.
“Mas juga tidak tahu. Tidak ada namanya.” Jawab Satya berbohong. Dalam hati ia tahu jika nomor itu adalah milik Marsya.
“Angkat saja mas… siapa tahu penting…” ucap Nia.
“Sudah biarkan saja. Ayo kita pulang…!!” ajak Satya yang kemudian berdiri dari kursi taman.
Nia pun mengangguk patuh.
Satya kembali menautkan jemarinya ke jemari Nia. Tak sedetik pun ia ingin terpisah dari kekasih hatinya. Mereka kembali menyusuri jalan setapak menuju mobilnya untuk segera kembali ke apartemen.
Keduanya sampai di apartemen saat matahari sudah sepenuhnya tenggelam.
“Mas mandi dulu aja, aku akan menyiapkan malam malam. Kalau sudah selesai gantian aku yang mandi.” Ucap Nia.
“Kalau bisa barengan, kenapa harus gantian…??!!” ucap Satya mengedipkan matanya.
Nia menautkan alisnya.
Tanpa aba – aba Satya menggendong Nia dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka bersama – sama.
Jelas mereka menghabiskan waktu lebih lama dari ritual mandi yang sesungguhnya.
Satya merasa sedikit bersalah karena melihat raut wajah Nia yang tampak kelelahan setelah menemaninya mandi bersama. Ia pun berinisiatif memesan makan malam daripada membiarkan Nia memasak makan malam mereka.
“Sayang… hari ini kita beli saja ya, makan malamnya…??!” ucap Satya sambil memilih makanan yang akan ia beli di ponselnya.
“Gak usah mas, aku pengen masak hari ini… lagian banyak bahan di kulkas, mubazir juga kalau gak di masak, keburu busuk semua.” Ucap Nia.
“Oke… kalau begitu sini mas bantuin…” ucap Satya yang kemudian menaruh ponselnya di meja makan lalu bergabung dengan Nia di dapur.
“Serius mas…??”
“Ya iyalah sayang….!!”
“Ihhhh…. Senengnya Pak Dosen ikut bantuin masak…!!” pekik Nia girang seperti anak kecil.
__ADS_1
“Jarang – jarang lho kamu lihat dosen ganteng masak….” Ujar Satya dengan gaya cool-nya.
“Iya… iya… Pak Dosen sayang….. muachh…!!!” ujar Nia seraya mencuri satu kecupan di pipi Satya.
“Hmmmm…. Masih kurang nih…?? Godain aku lagi nih…??”
“Godain…? Lagi….??? Idih... Ga salah tuh Pak Dosen?? Saya gak menggoda lho yaaaaa….” Cibir Nia dengan bibir
monyongnya yang justru membuat Satya gemas dan langsung mencumbuinya.
“Mas… mas… udah mas… ampun.. ampun… mau masak lho ini…!! Udah masak dulu ahh… sudah lapar banget akuuu…” ucap Nia yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Satya.
Keduanya sibuk berkutat di dapur. Memasak makan malam mereka diselingi gelak tawa canda mereka berdua.
Suara ponsel Satya yang berdering sejak tadi pun seolah menghilang lenyap tertutupi oleh suara gelak tawa mereka.
Beberapa saat kemudian, Nia menata masakan yang sudah matang itu di meja makan mereka yang ala lounge bar itu.
Saat menata itu juga kembali ponsel Satya berdering untuk yang kesekian kalinya.
“Ini seperti nomor yang sore tadi bukan sih…??” gumam Nia.
“Mas… ada yang telpon lho… ponselnya bunyi terus tuh….!!!” Ucap Nia pada Satya yang masih membersihkan kekacauan di dapur.
“Siapa sayang…??”
“Gak tahu mas.. gak ada namanya…”balas Nia.
Saat ponsel berhenti berdering sekilas Nia melirik layar dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama.
Satya pun menyusul Nia duduk di meja makan.
“Itu nomor yang tadi sore telpon kan mas...?? Kenapa gak diangkat aja sih mas…?? Siapa tahu penting… dia udah telpon banyak banget lho…” ucap Nia.
“Benarkah…??” ucap Satya asal jawab.
Satya pun mengambil ponselnya dan melihat ada lebih dari 10 panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama.
“Gak di telpon balik, mas…??” tanya Nia.
“Biarin aja, nanti kalau telepon lagi baru mas angkat. Tadi kan gak denger sayang…” jawab Satya
Nia mengangguk patuh. Walau terbersit sedikit rasa aneh di hatinya. Namun ia memilih menepis semua pikiran buruknya dan memilih mempercayai perkataan suaminya.
Satya dan Nia pun menghabiskan moment makan malam mereka dengan santai nan romantis.
Sejenak bersantai di balkon teras kamar, mereka kemudian menghabiskan sisa malam dengan kisah cinta manis nan romantis di balik selimut tebal.
.
.
.
__ADS_1
.