
Pagi itu Dewa telah menunggu Lisa di lobi hotel. Kejadian semalam, membuatnya sulit untuk memejamkan matanya. Bibir Lisa yang manis dan aroma tubuhnya, membuat Dewa tak bisa melupakan begitu saja.
Dia pun, tak mengatakan bahwa menemani Lisa pada Ibu. Dewa tak ingin orang rumah heboh dengan kedekatan keduanya, karena tak enak keluarga Dirga akan mendengar gosip ini.
Sebagai lelaki, Dewa juga punya harga diri, ia tak ingin dikira merebut Lisa dari Dirga. Namun, di sisi lain, ia tau, jika Bu Sisil tidak menyukainya. Ingin rasanya ia bilang ke Lisa, untuk menyudahi hubungannya dengan Dirga, namun, apalah dia. Dewa menyadari jika mungkin ia hanya pelarian bagi Lisa, namun, entah mengapa dia pun menikmati semua kebersamaan di antara mereka.
Dewa membuka pesan dari Laura yang mengingatkan untuk menjaga Lisa, dan jangan macam macam dengannya, karena Lisa masih bersama Dirga.
Dewa senyum senyum sendiri membaca pesan dari Mbaknya itu, seolah tau apa yang ia rasakan saat ini. Terkadang Laura bisa jadi teman ngobrol yang asik dan seru juga pikirnya.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, Lisa turun ke lobi.
"Maaf menunggu lama. Aku pikir kamu mau naik, menunggu di kamar." Ucap Lisa merasa tak enak karena Dewa menunggu lama.
"Gak apa apa kok. Ini sambil main game juga." Jawab Dewa sambil menutup permainan game di ponselnya.
"Duh, kalo menunggu di kamarmu, bakal ga keluar seharian kita!!" Batin Dewa dalam hatinya.
Mereka menuju parkiran motor, Dewa memakaikan helm pada Lisa dan merapikannya, lalu ia pun sama. Dewa menghidupkan motornya, dan setelah Lisa naik, mereka berangkat menuju pantai.
Hari Minggu jalanan di Yogya tampak ramai orang berolahraga, ada yang jalan kaki, joging, bersepeda, terlihat pula ada beberapa yang melakukan senam sehat bersama. Mereka menyusuri sepanjang jalan berkeliling kota sebelum menuju ke luar kota ke arah pantai.
Dewa memberi penjelasan tentang daerah tersebut atau bersama bercerita masa masa dia sekolah dulu, atau hal hal lain yang membuat Lisa dapat tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Dewa membawa Lisa ke arah yang dia sendiri tidak tau. Dewa membawa ke daerah Gunungkidul yang terdapat banyak pantai. Lisa memeluk Dewa dari belakang, dan meletakkan kepalanya bersandar pada punggung Dewa. Ia merasa sangat nyaman. Sejenak Dewa terdiam. Terakhir kali dia melakukan itu, saat Bu Sisil memperingatkan Lisa supaya menjauhi Dirga. Namun, setelah itu ia melihat Lisa mesra kembali dengan Dirga. Dewa hanya diam dan fokus mengendarai sepeda motornya.
"Lis, kamu lapar gak?" Tanya Dewa.
"Lapar sih, kenapa emangnya?"
"Kita cari makan dulu yuk, di depan ada pasar." Ajak Dewa.
Setelah memarkir motor, Dewa mengajak Lisa masuk ke dalam pasar.
"Mau pecel atau gudeg?" Tanya Dewa.
"Hmmm, apa ya?" Lisa memperhatikan menu yang dijual oleh seorang ibu yang ramai dirubung pembeli.
__ADS_1
"Aku mau pecel saja deh." Jawab Lisa.
Dewa memesan satu porsi pecel dan bubur gudeg. Dewa memberikan seporsi nasi pecel yang dibungkus memakai daun pisang pada Lisa. Lalu mereka menikmati sambil duduk di bangku kecil yang disediakan untuk pembeli yang ingin menikmati makan di tempat.
Lisa memakan nasi pecelnya dengan lahap. Begitu pula Dewa. Lisa melirik Dewa yang sedang menikmati bubur gudeg.
"Wa, aku boleh minta?" Rengeknya.
"Mau aku pesankan?"
Lisa menggeleng. " Aku mau punyamu itu!" Pinta Lisa sambil nyengir.
Dewa menyodorkan makanannya, Lisa pun menyendoknya dan memasukkan dalam mulutnya.
"Hhhmmm... Enak sekali! Boleh tukeran gak?" Rayu Lisa.
Dewa tersenyum sambil menghela napasnya. Ia mengambil nasi pecel milik Lisa dan memakannya. Lisa telah asik melahap bubur gudeg.
Dewa menatap wajah Lisa tak berkedip, ia selalu terpesona menatap gadis cantik sahabat kakaknya itu.
Setelah kira kira setengah jam, mereka tiba di pintu masuk area pantai.
"Sepanjang itu daerah pantai, tapi namanya beda beda. Mau yang mana?" Tanya Dewa.
"Aku ga tau, yang aku mau pantai yang bagus buat foto foto." Jawab Lisa.
Dewa membawa ke sebuah pantai di sana yang menurutnya banyak spot bagus.
Lisa dapat membaca tulisan keterangan 'Pantai Drini' di sana. Ia melihat sekelilingnya. Pantai lepas telah tampak di depan sana. Ia tersenyum senang saat mencium aroma air laut.
Lisa melepaskan jaketnya dan memasukkan dalam tas ranselnya. Ia mengenakan kaos berwarna putih, dan celana Jogger 7/8, di padu dengan sandal jepit. Tak lupa ia mengenakan kacamata hitamnya.
"Eh kita samaan ya!" Pekik Lisa girang saat Dewa melepas jaket jeans miliknya. Dewa mengenakan kaos putih juga, dengan celana jeans. Ia menggunakan sandal santainya.
Dewa dengan sukarela menjadi juru foto Lisa dan mengarahkan ke spot spot yang bagus. Lisa dengan senang hati, lalu ia berpose dengan berbagai macam gaya. Lalu Lisa mengambil foto Dewa juga. Ia menatap pemuda itu sambil tersenyum. Sejak pertama bertemu hingga saat ini, ia selalu nyaman bersamanya. Mereka pun mengambil foto selfie berdua dengan pemandangan pantai di belakangnya.
Dewa meminta tolong seorang pengunjung di sana untuk mengambilkan gambarnya bersama Lisa.
__ADS_1
Di sana tak ada yang mengenali Lisa sebagai artis. Itulah yang membuat Lisa sangat senang mengekspresikan dirinya saat itu. Ia berjalan menyusuri sepanjang pantai sambil menggandeng tangan Dewa. Mereka tertawa saat ombak menerpa kaki mereka. Berlari saling kejar-kejaran di pantai dengan gembira. Hingga tubuh Lisa setengah oleng karena terkena ombak, Dewa menolongnya, namun ikut terjatuh hingga menindih tubuh Lisa.
Dewa langsung mengangkat tubuh Lisa, dan menuntunnya ke area pantai.
"Jadi basah semua kita." Keluh Lisa sambil memonyongkan bibirnya.
"Kita berjemur di sini saja, nanti juga kering." Jawab Dewa dengan santai.
Mereka saling tatap, lalu tertawa bersama sama.
Lisa mengambil sebotol air mineral dari tasnya, lalu meneguknya, dan memberikan pada Dewa. Dewa menerimanya, dan meneguknya juga. Lalu memberikan botol itu kembali pada Lisa.
"Kenapa ke Yogya sebelum teman teman yang lain datang?" Tanya Dewa.
"Aku ingin refreshing. Jenuh dengan semuanya." Jawab Lisa sambil menatap laut lepas.
"Apa hubunganmu dan Mas Dirga baik baik saja?"
Lisa mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Dewa.
"Kami break saat ini. Aku ingin memikirkan kembali semuanya. Aku lelah menjalaninya. Jujur awalnya aku menikmati semuanya, semua terlihat indah dan baik baik saja. Tapi ternyata untuk berhubungan lebih jauh itu bukan hanya aku dan dia, tapi keluarga kita semua. Keluarganya tak bisa menerimaku untuk masuk dalam keluarga mereka. Karena status Mamaku. Mamaku memang istri kedua, tapi dia bukan pelakor Dewa!
Saat itu Papa sakit keras, dan istrinya meninggalkan dia bersama dua anaknya. Mamaku yang saat itu bekerja pada Papa, merawat dan mengurus nya ,bahkan anak anaknya. Mas Wisnu dan Mbak Niken. Mamaku menganggap mereka sudah seperti anaknya sendiri.
Ketika papa berangsur sehat kembali, ia menikahi Mamaku, dan aku lahir. Saat itu kehidupan kami bahagia dan baik, hingga perempuan itu datang kembali mengacaukan semua dengan drama dramanya. Lalu ia hamil, dan memiliki anak lagi.
Ia memplintir cerita, bahwa Mamaku, asisten yang merebut suaminya. Padahal dia yang meninggalkan anak anak dan suami saat itu. Aku juga ga bisa memilih lahir dari siapa, Wa.
Mamaku berjuang sendiri sejak itu. Hanya rumah kecil yang diberikan pada kami, dulu.
Lalu saat Papaku kemarin sakit, siapa yang merawatnya? Dia hanya menghamburkan uang untuk kesenangan sendiri. Aku dan Mas Wisnu yang merawat Papa.
Hanya karena statusku, anak dari istri kedua, yang membuat aku dicap sebagai anak pelakor." Lisa menceritakan semua keluh kesah yang dipendamnya selama ini.
Lisa duduk sambil memeluk lututnya sambil menatap ombak yang berkejar-kejaran di pantai.
Dewa, menoleh ke arah Lisa, ia mengambil tangan gadis itu, dan menautkan jemari mereka. Lisa menggeser tubuhnya mendekat ke tubuh Dewa. Ia duduk bersandar di dada lelaki itu. Sambil menikmati pertunjukan alam yang indah di laut lepas.
__ADS_1