Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 24


__ADS_3

Udara malam hari di kaki gunung begitu dingin menusuk. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berkumpul di taman belakang villa.


Sesuai rencana mereka, malam ini akan ada acara bakar-bakaran alias barbeque an.


Moment yang paling mereka tunggu-tunggu. Bercanda, berkumpul, dan makan bersama di bawah sinar bulan, beralaskan tikar foam dengan kompor portable di tengah mereka membuat malam semakin akrab.


Niko dan kevin bertanggung jawab dalam hal panggang memanggang. Mereka berdua duduk berhadapan dengan panggangan di depannya.


Sedangkan para cewek-cewek sibuk membuat bumbu dan juga menata berbagai macam side dish di sisi kiri mereka.


Tidak lupa berjejer berbagai minuman dan juga ice cream yang tertata dengan apik.


No, mereka bukan penggemar minuman beralkohol. Mereka cukup dengan sparkling water dan minuman soda, yang bila bersendawa cukup membuat hidung bergelitik.


“Ini doank nih yang dibakar...??” Niko membolak balik daging yang di panggangnya dengan capit di tangan kanan nya, sedangkan tangan kirinya sibuk memegang piring berisi daging yang sudah matang.


“Masih banyak... noh...” tunjuk Nindya dengan dagunya pada piring yang berisi sosis dan teman-temannya yang belum terpanggang


Kevin pun juga sibuk membolak-balik tusukan sosis, daging dan paprika yang dibikin ala – ala shish kebab. Memanggangnya dengan penuh ketelitian, layaknya semacam eksperimen di laboratorium.


“Lagak loe Vin, manggang gitu doang udah kayak profesor lagi penelitian loe.” Celetuk Nindya yang memperhatikan tingkah Kevin.


“Eiitss, jangan salah. Ini namanya gue memanggang degan setulus hati dan sepenuh cinta.”


“Hmmmmm.... manis banget bahasa loe...” Goda Ayu yang diikuti oleh cekikikan teman – temannya.


Satu piring daging yang sudah matang diletakkan Niko tepat di depan para cewek-cewek.


Tanpa membuang waktu pun segera menyerbunya.


“Lebih enak dibalut ama selada gini nih..” Nindya memasukkan selada berisi daging dalam jumlah besar kedalam mulut kecilnya. Mengunyahnya dengan mulut yang benar-benar penuh.


“Gue lebih suka langsung hap gini lah...”Nia memakan daging yang matang langsung kedalam mulutnya juga.


Mereka bertiga asyik memakan dan bercengkerama hingga melupakan dua pemuda yang sedari tadi sibuk memanggang yang justru lupa mencomot daging yang ada di hadapannya.


“Lah... jangan di habisin sendiri laaah... gue ama Niko capek-capek manggang lho ini.” Kevin merengut melihat kenyataan daging yang disajikan tadi sudah terlahap habis.


“loe kenapa gak nyomot langsung dari situ... ?? langsung dimakan aja, daging dihadapan sendiri dianggurin.” Sahut Ayu.


“Gak enak donk... kan enaknya makan bareng-bareng. Ya kan Nik...??”


Niko hanya mengangguk dengan mulut terbuka karena kepanasan memakan daging yang baru matang dihadapannya.


“isssh.... dasar loe gak setia kawan..!!!”

__ADS_1


Para cewek tergelak melihat nasib Kevin yang sedari tadi malah belum makan sesuap pun.


“Oke..oke.. kita nungguin loe Vin... kalo uda mateng sini makan bentar.” Ucap Nia.


“Tuh, kayak Nia tuh.. baik hati dia sama gue, gak kayak kalian.. saranghae Nia...”


Dengan tangan yang membentuk simbol hati.


“Apaan sih... gak jelas banget loe...!!” cemooh Nindya dan Ayu.


Mereka menghabiskan makan malam mereka dengan ceria. Ghibah sana ghibah sini, ngomongin hal yang penting sampe gak penting. Melahap habis semua stok daging, sosis dan teman-temannya hingga tak bersisa.


“Alhamdulillah.... kenyang banget gue... “ Nia mengelus perutnya yang kekenyangan.


“Gue udah gak sanggup gaes... nyerah gue” Nindya melambaikan tangan.


“Gak nyerah gimana Nin, orang loe makannya paling banyak.” Kevin mendengus.


Ayu merebahkan tubuhnya, menikmati pemandangan langit malam itu,


“Bagus banget....” gumamnya.


Serta merta Nindya dan Nia pun merebahkan diri di samping Ayu.


Kevin mengambil gitar yang dibawanya, dan mulai memetik dawai-dawai yang semakin membuat malam mereka lebih berkesan.


“Iya... bintangnya bagus banget. Tapi jahat..” ucap Nia sendu.


“Kok jahat Ni....??” Nindya memalingkan wajahnya menatap Nia.


“Karena dia manipulatif. Menipu kita. Dia memang terlihat bagus banget, indah, menerangi malam-malam kita,selalu ada di tempatnya,membuat kita terlena seakan kita bisa menggapainya. Tapi pada kenyataannya, dia begitu jauh, begitu tinggi dan mustahil kita bisa menggapainya. Kita hanya bisa melihatnya tanpa bisa menyentuhnya apalagi memilikinya. Yang justru semakin membuat hati kita terasa sakit.”


Niko menatap Nia intens. Merasakan apa yang dia rasakan , karena pada kenyataannya ia juga merasakan hal yang sama.


“Tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, siapa yang akan membuat kita terlena, dan siapa yang akan menjadi bintang kita.” Tutur Niko kembali mengangkat wajahnya  melihat langit malam.


“Gue setuju sama Niko, gak ada yang gak mungkin. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Karena bukan kita yang memilih bintang, tapi bintang yang membiarkan kita memilikinya.” Ayu menambahkan.


“Ngomongin apa sih...?? gak ngerti deh gue... Bodo amat lah.. tidur udah yuk..!!! ngantuk gue... Yuk Ay...” rengek Nindya.


“Ya udah ayok...” Ayu bangkit dana mulai membereskan sisa-sisa acara mereka malam itu.


“Udah kalian tidur aja, ini biar gue yang beresin.” Ucap Nia.


“Jangan donk Ni... kan kita makan sama-sama.. beresin sama-sama lah..” ucap Ayu.

__ADS_1


“Gakpapa.. kan tadi sore gue gak bantuin kalian, gak ikut prepare. Sekarang gantian gue.”


“Kan emang loe lagi istirahat gara-gara kaki loe.” Imbuh Nindya.


“Udah buruan tidur sono, gue biar dibantu ama Niko, ya kan Nik...” Nia melirik ke arah Niko.


Niko menganggukkan kepala.


Kevin melihat interaksi diantara mereka berdua pun akhirnya mendorong Ayu dan Nindya untuk masuk kedalam villa.


“Udaaaaaah biarin nasibnya Niko... kita masuk, tidur aja, yukk ah...”


Nindya dan Ayu pun akhirnya masuk kedalam villa karena desakan Kevin.


Kevin sempat menoleh ke arah Niko dan mengedipkan matanya.


Nia menumpuk piring-piring kotor, menjadikannya satu tumpukan. Membersihkan sisa-sisa acara mereka.


“Katanya ada yang mau di omongin...??” Nia memulai pembicaraan diantara mereka.


Niko mendekati Nia. Mengambil lap dan piring kotor yang berada di tangan Nia. Menaruhnya ke sembarang tempat.


Perlahan Niko duduk semakin mendekat ke arah Nia. memegang kedua bahu Nia. kemudian beralih turun, mengenggam kedua tangan Nia.


Menatap dalam manik mata Nia. Niko masih membisu, sedangkan Nia juga masih terdiam menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Niko.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya.


Jangan lupa like dan koment ya, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.


Terimakasih.

__ADS_1


.


.


__ADS_2