Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Pengakuan


__ADS_3

Karena Yoga adalah anak tunggal, mamanya meminta untuk tetap tinggal bersama. Tapi dia menolak. Akhirnya Yoga membeli sebuah rumah dekat rumah orang tuanya. Katanya supaya mama bisa sering-sering datang. Meskipun tidak bersebelahan persis, jaraknya tidak lebih dari seratus meter.


"Istriku sayang, kamu suka rumah ini? tanya Yoga di hari pertama kami menempati rumah baru. Kami duduk di sofa ruang santai.


"Rumahnya terlalu besar, yang nempati cuma kita berdua."


"Nanti kan ada asisten rumah tangga. Mereka bisa bantuin kamu ngurus rumah. Istriku cukup santai di rumah menungguku pulang."


"Siapa yang mau di rumah aja? Aku mau kerja." jawabku.


"Kerja?" Alisnya berkerut tanda tak setuju.


"Gak boleh!" lanjutnya.


"Ada begitu banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku."


"Kalau begitu ceritakanlah ..." ucapnya lembut.


"Terlalu banyak."


"Ceritakanlah satu per satu, aku akan mendengarkannya."


"Entah dari mana aku harus memulai."


"Pelan-pelan saja, bila sekarang kamu belum siap, ceritakanlah lain waktu."


Yoga memelukku. Pelukan hangat dan nyaman. Aku memang butuh tempat bersandar. Aku tidak bisa menanggung semuanya sendirian.


Perlahan kulepaskan pelukannya.


"Setelah kuceritakan semuanya, aku pasrah dengan apa yang selanjutnya terjadi." Kutarik nafasku lebih dalam.


"Aku bukanlah Tania. Namaku adalah Bella." Entah mengapa tiba-tiba aku ingin menceritakan semuanya.


Kuselami mata Yoga, aku tak bisa mengartikan pandangannya.


"Lanjutkan." ucapnya sambil menggenggam tanganku.


Kuceritakan semua tragedi dan keajaiban yang telah kualami. Yoga mendengarkan dengan serius.


"Aku pun tak tahu di mana tubuh Bella sekarang." Air mata jatuh tak terbendung. "Kamu sudah tau semuanya. Apabila kamu ingin bercerai, aku tak akan keberatan."


"Apa yang kamu pikirkan? Aku mencintaimu dan tak akan pernah menceraikanmu."


Yoga menghapus air mataku.


"Dengar, aku mengenalmu setelah kejadian itu. Aku mencintai kamu yang sekarang."


"Tapi semuanya tidak sesederhana itu. Bagaimana jika suatu saat tubuh ini kembali ke pemiliknya, begitu juga dengan aku?"

__ADS_1


Yoga tampak terkejut tapi mencoba untuk tetap tenang.


"Aku akan segera menyelidikinya. Kamu tenanglah, sekarang ada aku di sisimu."


Setelah kuceritakan semuanya, aku merasa seperti ada jarak di antara kami. Satu minggu berlalu dan kami belum pernah merasakan malam pertama. Dia begitu sibuk di luar. Berangkat pagi pulang larut malam.


Apakah aku kecewa? Aku memang belum pernah mengungkapkan perasaanku padanya, tapi Yoga tidak bisa memperlakukanku seperti ini.


Malam ini pun begitu, dia pulang larut malam.


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" bisik Yoga.


Aku diam saja, berpura-pura tidur sepertinya lebih baik.


"Tidurlah." bisiknya lagi sambil memeluk pinggangku.


Saat pagi hari aku membuka mata, Yoga sudah terjaga dan sedang memandangiku.


"Ini masih terlalu pagi, kenapa sudah bangun?" tanyaku.


"Aku rindu kamu." ucapnya.


Yoga memelukku erat. "Diamlah, biarkan seperti ini." pintanya.


Aku hanya diam menuruti kemauannya. Ada apa dengannya? Apakah ada sesuatu? Apa dia akan meninggalkanku?


"Sudah jam berapa ini, kamu gak ngantor?” tanyaku setelah beberapa lama.


"Kemana?" tanyaku sedikit curiga.


"Nanti kuceritakan setelah sarapan." jawabnya.


Kenapa harus menunggu setelah sarapan?


"Yoga, kamu membuatku penasaran. Ada apa?" tanyaku saat duduk di meja makan.


Yoga memberi isyarat padaku untuk menghabiskan sarapan. Mbak Lis, asisten rumah tangga kami yang baru, telah menyiapkan nasi pecel untuk kami. Ini makanan yang berat untukku di pagi hari. Biasanya aku hanya makan selembar roti gandum.


"Habiskan makananmu." perintah Yoga.


Tak seperti biasanya, Yoga memaksaku untuk makan banyak. Sungguh aku merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres.


"Oke oke, segera kuhabiskan." jawabku ketus.


Setelah isi piringku benar-benar bersih, Yoga baru mulai berbicara, "istriku sayang ... ada yang mau kukatakan."


"Katakanlah."


Hening. Sepertinya begitu berat yang ingin dia sampaikan.

__ADS_1


"Detektif yang bekerja untukku telah menemukan seorang gadis yang wajahnya mirip dengan Bella." ucapnya.


"Benarkah? Dimana?" tanyaku tak sabar.


"Kita akan menemuinya nanti. Aku ingin kamu memastikan apakah dia Bella atau bukan."


"Baiklah, ayo pergi."


"Dia berada di Kota M. Kita perlu naik pesawat untuk segera sampai di sana."


Kota M bila ditempuh menggunakan kendaraan darat, membutuhkan waktu setidaknya minimal dua belas jam. Naik pesawat tentunya akan mempercepat waktu kami.


Selama di perjalanan, kami tak banyak bicara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Setelah turun dari pesawat, seseorang menjemput kami dengan sebuah mobil. Ternyata dia adalah detktif yang pernah diceritakan Yoga. Mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah sakit.


"Kenapa kita ke rumah sakit?" tanyaku.


"Nanti kamu akan tau." jawab Yoga menggenggam tanganku


"Tunggulah kami di sini." kata Yoga pada detektif.


"Baik, Pak."


Aku dan Yoga berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Kemudian kami masuk ke sebuah ruangan.


Meskipun aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan, ternyata tetap saja aku tak kuat. Kaki ini gemetar melihat siapa yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang.


Itu aku, Bella! Meskipun ada banyak luka di wajah dan seluruh tubuh, aku bisa mengenalinya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku pelan.


"Duduklah, aku akan menceritakannya setelah kamu tenang."


Aku duduk dan mulai menenagkan diri.


"Dia Bella." ucapku.


"Kondisinya tidak baik, kata dokter kondisinya kritis."


Air mata ini mengalir begitu saja, Yoga memelukku.


"Bagaimana tubuhku bisa ada di sini?" tanyaku sambil melepas pelukannya.


"Seseorang menemukan tubuhmu sekitar sepuluh hari yang lalu. Lalu orang itu membawanya ke rumah sakit ini. Orang itu adalah pemilik rumah sakit ini. Karena tidak ada tanda pengenal dan kondisi wajah yang terlalu banyak luka, dia mengupayakan supaya tubuh Bella bisa bertahan. Dia berharap setelah sadar, Bella bisa mengatakan siapa dirinya. Tapi... " Yoga berhenti meneruskan kata-katanya.


"Tapi apa?" tanyaku.


"Menurut dokter yang menanganinya, kemungkinan Bella bisa sadar terlalu kecil. Dia bisa bertahan hingga sekarang karena bantuan alat-alat yang terpasang di tubuhnya." jawab Yoga.

__ADS_1


Kudekati tubuh yang tebaring lemah itu. Wajahnya rusak parah. Kugenggam tangannya yang serasa dingin.


Apakah aku akan mati?


__ADS_2