
Acara setelah makan siang adalah outbound yang diikuti oleh semua karyawan dipandu EO dari hotel itu.
Mereka dibuat beberapa regu untuk bertanding, adu ketangkasan pun dimulai.
Ada yang lomba pindah tepung, pipa bocor, pesan berantai, dan tebak gaya.
Pada pindah tepung, mereka mengambil tepung dari depan lalu diteruskan menggunakan piring, dengan menuang ke rekan di belakangnya tanpa melihat ke belakang. Laura dan Dirga satu team. Mereka berlomba memindahkan tepung dalam piring, rambut, wajah dan baju mereka putih oleh tepung.
Lalu pipa bocor, sebuah pipa yang dibuat lubang lubang di sampingnya, lalu diisi air, dan mereka harus memindahkan ke ember di ujung sana. Mereka harus kompak menutup lubang itu sambil berjalan, lalu kelompok yang mengisi banyak air dalam embernya itu pemenangnya.
Saat lomba mereka bertanding empat kelompok dulu, lalu pemenang tiap pertandingan, diadu kembali, baru diambil pemenangnya.
Regu yang tidak mendapat giliran saling berteriak memberi semangat dan menyoraki teman teman mereka yang bertanding.
Bu Sisil pun ikut berpartisipasi dalam lomba. Baru kali itu Laura melihat Bu Sisil dapat berekspresi dengan lepas. Ia tertawa, bahkan berteriak, bersorak menyemangati karyawannya.
Pada pesan berantai, peserta pertama akan di beri kata kata oleh pemandunya, lalu ia akan membisikkan ke rekan disebelahnya, dan diteruskan hingga peserta terakhir. Peserta terakhir akan harus mengatakan dengan kencang pesan dari pemandu tadi.
Kebanyakan pesan menjadi berubah. Ada yang hilang kata kata tengahnya, ada yang menjadi kalimat lain, hingga membuat mereka saling tertawa ketika ketemu dimana bagian pembuat salahnya itu.
Lalu pada tebak gaya, salah satu peserta kelompok diminta maju dan membaca perintah. Lalu ia bergaya, dan anggota kelompok lain menebak kata yang dimaksud.
Suara tawa tergelak saat rekan kelompoknya ada yang salah menebak.
Laura tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Ia benar-benar sangat menyukai acara kekeluargaan ini. Dulu pernah seperti ini saat sekolah, pada saat lomba tujuh belasan.
Acara tersebut diselingi dengan musik yang dibuat oleh band penghibur. Suara sorak Sorai dan keramaian membuat kepala Dirga mulai sakit lagi. Ia menjambak rambutnya untuk mengurangi rasa sakit, namun, yang terjadi pandangannya tiba tiba berkunang-kunang, dan ia pun kehilangan keseimbangan tubuhnya. Lalu jatuh ke lantai.
"Mas Dirga!" Seru Roy, sambil bergegas menghampiri tubuh Dirga yang tergeletak di lantai. Beberapa rekan membantu membopong tubuh Dirga ke ruang lobi hotel.
Laura dan Bu Sisil mengikuti tubuh Dirga dibawa.
Laura meminta minuman panas untuk Dirga, dan balsem atau minyak angin untuk membantu menyadarkan. Bu Sisil menopang tubuh Putra di pangkuannya, lalu Laura mengoles minyak angin pada pelipis, hidung, dan leher Dirga.
Bu Sisil tersenyum melihat perlakuan Laura pada Dirga. Tak lama Dirga membuka matanya karena mencium aroma minyak angin yang kuat.
"La, kamu tolong jaga Dirga. Ibu akan mengurus di sana!" Pinta Bu Sisil sambil menunjuk ke arah tempat mereka berlomba sebelumnya.
"Baik Bu." Jawab Laura sambil mengangguk.
Laura duduk menemani Dirga yang mulai membuka matanya perlahan. Ia tersenyum saat melihat Laura yang menemaninya.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih pusing? Atau kita perlu ke dokter?" Tanya Laura dengan cemas.
__ADS_1
Dirga mengambil tangan Laura dan menggenggamnya.
"Aku butuh dirimu saat ini." Ucap Dirga. Sejenak Laura terdiam, ia menatap tajam ke arah Dirga, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Dirga.
"Kamu salah. Kita tak seharusnya seperti ini." Laura duduk menjauh dari Dirga.
Ia merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Akhir akhir ini sikap Dirga berbeda. Tatapan Dirga, perhatian, dan ucapan selalu tampak seolah sesuatu pernah terjadi sebelumnya di antara mereka berdua.
Laura tak ingin menjadi seperti Dina, yang merebut kekasih sahabatnya sendiri. Ia tak ingin menyakitinya. Sejak kehilangan Mamanya, ia berjanji akan selalu melindungi dan tak akan menyakiti Lisa.
"Maaf, maafkan aku yang terlalu takut untuk menerima kenyataan. Aku adalah seorang pengecut selama ini. Aku meninggalkanmu di saat kamu membutuhkanku. Aku membuat hidupmu menjadi kacau." Ucap Dirga. Membuat Laura tercengang, mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ga?" Tanya Laura.
"Aku telah ingat semuanya. Aku bisa mengingat kembali kini." Jawab Dirga.
"Maksudmu?"
"Saat di Amerika, kamu melihat Radit bersama wanita lain, lalu kita dekat, namun hanya sekedar teman masa kecil. Lalu aku kembali ke Jakarta, membantu Mama di kantor, dan kembali bertemu Ben. Aku akui, dulu Aku dan Ben hanya sekedar bertaruh. Aku bisa denganmu dan Dia bersama Gwen, artis muda itu. Kami awalnya hanya iseng. Tapi pergaulan ku yang bebas selama di luar negeri membuat kita melakukan hal yang terlalu jauh, membuatmu hamil. Dan aku belum siap menanggung semuanya saat itu. Aku berjanji akan datang menemuimu, namun, akhirnya aku berbalik meninggalkanmu, lalu kecelakaan itu terjadi, dan aku kehilangan ingatan..."
Belum selesai Dirga menceritakan, Laura berdiri, tubuhnya gemetar saat mendengar ia pernah hamil. Lalu ia berlalu dari hadapan Dirga, ia pergi keluar dari hotel itu.
Ia tak menggubris panggilan Dirga dan pegawai hotel yang membantu Dirga memanggilnya. Ia hanya ingin lari dari semua kegilaan ini. Ini bukan adegan film yang hanya akting. Tapi kenyataan dari masa lalu Laura.
Hari sudah semakin sore, dan langit berubah menjadi gelap karena mendung. Laura - Gwen baru sadar jika ia telah terlalu jauh berjalan, ia lupa membawa ponselnya, dan dompetnya ada di tasnya. Laura menyeka air mata di wajahnya, sambil memperhatikan sekelilingnya.
Hujan mulai turun rintik-rintik. Laura mempercepat langkahnya, saat melihat sebuah rumah besar di ujung jalan setapak. Ia berlari kecil masuk ke halaman rumah itu, dan berteduh di teras rumah itu.
Dia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Pakaiannya basah terkena air hujan, dan pikiran sedang kalut.
Terdengar seseorang membuka pintu rumah.
"Loh, cari siapa Nak?" Tanya seorang perempuan paruh baya dengan ramah.
"Maaf saya numpang berteduh." Jawab Laura sambil menggigil kedinginan.
Perempuan itu terlihat iba menatap Laura, lalu mendekati.
"Ayo masuk saja. Tunggu di dalam. Di luar dingin." Ajaknya ramah. Laura mengikuti perempuan itu.
"Ada siapa Ma?" Seorang lelaki datang ke ruang tamu.
"Ini, ada yang numpang berteduh, kehujanan." Jawab perempuan tadi. Laura tersenyum ramah sambil mengangguk kepala kepada lelaki itu.
__ADS_1
"Ayo keringkan dulu rambut dan tubuhmu. Biar tidak sakit." Perempuan itu menyerahkan sebuah handuk kecil untuk mengeringkan rambut dan tubuh Laura yang basah.
"Oya, mari kita makan sama sama dulu. Kebetulan kami tadi baru mau makan malam." Ajak perempuan tadi.
"Baik Bu." Jawab Laura tak menolak, karena ia memang mulai merasa lapar.
Perempuan itu memberikan sebuah piring dan sendok untuk Laura. Ia kembali lagi ke dapur, tak lama ia kembali lagi dengan membawa secangkir teh panas yang sangat harum.
Laura menikmati hidangan yang di sajikan oleh Ibu itu. Meskipun hanya tumis kangkung, telor dadar, tempe goreng, sambal terasi, dan lalapan, namun membuat napsu makan Laura meningkat. Entah karena ia memang lapar, atau karena masakan Ibu tadi enak.
"Wah... Terima kasih banyak Bu. Masakannya sangat luar biasa." Puji Laura. Membuat pasangan suami istri itu tertawa mendengarnya.
"Jadi apa yang membawamu hingga sampai ke sini?" Tanya sang suami.
"Saya sebenarnya menginap di hotel Anugrah." Jawab Laura.
"Oh, tamu dari hotelnya Pak Anton." Ucap sang istri.
"Iya, nama saya Laura. Saya karyawan dari Anugrah grup yang ada acara di hotel itu. Saya kejauhan jalannya, jadi lupa jalan pulang." Ucap Laura sengaja berbohong.
"Astaga. Mereka pasti bingung mencarimu Nak. Nanti kami coba hubungi pihak hotel ya, supaya mereka tidak khawatir, atau bisa menjemputmu di sini. Karena sekarang sedang hujan deras." Ucap Sang Istri.
"Iya, maaf merepotkan Bapak dan Ibu." Jawab Laura tak enak hati.
"Tidak apa apa. Yang penting kamu sudah di sini, sudah aman." Ucap Sang istri lembut sambil menepuk tangan Laura.
"Maaf, jika boleh tau Bapak dan Ibu ini siapa?"
"Nama saya Baron dan istri saya ini, Asri. Kami hanya berdua, karena anak kami sudah menikah, dan tinggal bersama suaminya. Itu foto fotonya." Pak Baron menunjuk foto foto yang terpajang di dinding ruang tengah dan ruang makan.
Laura memperhatikan dengan seksama foto foto itu, ia merasa itu mirip dengan Gwen saat masih kecil. Lalu ia melihat foto pernikahan, dan betapa terkejutnya dia melihat foto itu. Itu adalah Nora dan suaminya. Jadi ini adalah orang tua Nora, kemungkinan ini adalah kakek dan neneknya. Laura menelan ludahnya, dadanya bergejolak tidak tenang. Rasa bahagia, cemas, dan gelisah bercampur, antara dirinya sebagai Gwen, dan tubuhnya sebagai Laura.
"Nora." Ucap Laura lirih.
"Loh, kok tau nama Putriku? Apa kamu mengenalnya?" Tanya Bu Asri dengan heran.
"Iya, pernah bertemu dan ngobrol. Kami berteman juga." Jawab Laura senang.
"Ternyata dunia ini sempit sekali ya, Nak." Ucap Bu Asri.
Pak Baron menghubungi pihak hotel, mengabarkan bahwa, Laura ada di rumahnya. Terlihat cukup lama Pak Baron berbicara lewat ponselnya itu.
Laura dan Bu Asri menunggu sambil mengobrol. Laura merasa nyaman berada di rumah itu. Seandainya ia Gwen, pasti akan sering mengunjungi kakek neneknya ini, apalagi tempat tinggalnya yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Ia dapat beristirahat dengan nyaman di sini selama berlibur.
__ADS_1