Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Menikmati Malam di Yogyakarta


__ADS_3

Malam itu Malioboro tampak ramai, Dewa memarkir motornya di area tempat parkir. Lalu mereka berjalan menikmati suasana malam itu mulai dari ujung jalan Malioboro. Lisa meminta Dewa untuk mengambil gambar dirinya pada tulisan itu, dan ternyata banyak pelancong yang juga ingin berfoto di sana.


"Loh, ini Kak Lisa, pemain sinetron itu kan? Boleh minta fotonya kak?" Ternyata ada yang mengenalinya di sana. Dan sesi foto foto pun berlangsung, hampir sepuluh menitan Lisa meladeni para penggemarnya, Dewa dengan sabar menjadi juru fotonya.


"Oke, sudah ya, saya mau jalan dulu." Pamit Lisa sambil berjalan menjauhi kerumunan penggemar. Tak lupa ia melambaikan tangannya. Dewa berjalan mengikutinya di belakang.


Ia melihat lihat barang barang yang dijual di selasar toko toko. Lisa juga menikmati pertunjukan musik tradisional yang dilakukan beberapa seniman di jalan Malioboro malam itu. Ia mengambil foto, tak lupa ia memasukkan selembang uang dalam kantong yang di sediakan di depan para pemain musik itu.


"Rame bener, Wa?" Tanya Lisa.


"Iya, biasalah, malam Minggu." Jawab Lisa.


"Eh itu apa? Kok rame bener?" Tunjuk Lisa.


"Oh, jual lumpia. Kamu mau?"


"Ya, mau."


Mereka menuju ke tempat yang ramai itu, Lisa melihat apa saja yang dijual di situ. Ternyata hanya lumpia, tapi ramai sekali.


Ia meminta Dewa untuk memesan satu paket untuk dibawa saja, karena melihat tempatnya yang ramai, Lisa tidak nyaman.


Sambil menunggu pesanan, mereka masuk ke sebuah toko batik. Lisa membeli beberapa potong pakaian untuk dikenakan sehari hari selama di sana. Ia juga memilih sebuah kemeja untuk Dewa.


Dewa menerima pemberian Lisa sambil tertawa dan mengucapkan terima kasih.


"Mengapa tertawa?" Tanya Lisa.


"Ya, lucu saja, aku kan cuma menemani, malah dapat bagian." Jawabnya dengan logat jawanya yang kental.


"Yuk, kita ambil pesanan kita tadi, moga saja sudah ada." Ajak Lisa.


Mereka kembali ke penjual lumpia yang ramai tadi. Ternyata pesanan mereka baru selesai dibungkus. Lisa membayar dan mengambil pesanannya.


"Di sana ada apa?" Tunjuk Lisa.


"Ini pasar Beringharjo, kalo pagi hingga sore ramai di dalamnya. Kalo malam ya di trotoarnya saja. Lalu itu Benteng Vredeburg, seberangnya ada Gedung Agung. Gedung Agung itu Istana negara, sama seperti di Jakarta atau Bogor. Kalo Benteng Vredeburg itu peninggalan Belanda. Lebih ke museum. Minggu depan sepertinya ada event di sana, kalo ada waktu kita bisa masuk." Dewa menjelaskan.


Lisa mengamati setiap tempat yang ditunjukkan oleh Dewa, ia juga melihat lihat barang yang dijual di sana.


"Itu kawasan titik nol kilometer. Di sana banyak bangunan kuno." Tunjuk Dewa.


Mereka berjalan menuju Titik Nol Yogya, dan Lisa tak melewatkan kesempatan untuk berfoto ria di sana. Ia pun mengambil beberapa foto selfie bersama Dewa.


Lalu Lisa mencium sesuatu yang aromanya enak. Aroma jahe. Dewa mengerti yang dimaksud Lisa. Dewa mengajak ke salah satu penjual wedang ronde di sana, dan memesan dua mangkok.


"Apa ini namanya?" Tanya Lisa saat menerima mangkok.


"Wedang ronde." Jawab Dewa.


"Oh, ini yang namanya wedang ronde. Hmmm... Enak rasanya, hangat." Lisa menikmati hingga habis minuman tradisional itu.


Dewa hanya tersenyum geli melihat Lisa yang menambah semangkok lagi wedang ronde.


Mereka saling mengobrol menceritakan hal hal yang lucu dan tentang pekerjaan masing masing.


Dewa menceritakan serumah pada mengikuti sinetron yang Lisa bintangi. Saat kemarin pulang, ia langsung ditodong dengan pertanyaan bertubi tubi tentang Lisa. Dewa hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat kejadian itu. Lisa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Dewa.


Ia sudah lama tak merasa selepas ini. Menikmati hidupnya sendiri. Selain bersama Gwen/Laura, baru kali ini ia merasa sangat senang dan bisa menjadi dirinya sendiri. Dewa pun sering melontarkan candaan yang dapat membuatnya tertawa lepas.

__ADS_1


Setelah puas menikmati suasana tempat itu, perut Lisa terasa lapar.


"Dewa, aku lapar."


"Mau makan apa? Pecel lele, angkringan, atau bakmi?"


"Bakmi? Apa itu?" Tanya Lisa heran.


"Mi biasa, ada yang rebus dan goreng."


"Mi Jawa?" Ulang Lisa mengerti.


Dewa menganguk.


"Ya, aku mau itu." Pilih Lisa.


Mereka berjalan kembali ke arah parkiran, lalu menaruh belanjaan Lisa pada gantungan motor. Setelah membayar parkir, Dewa menuju tempat penjual bakmi langganannya.


Lisa melihat kanan dan kiri jalan, menikmati suasana kota itu. Ia mulai jatuh hati pada kota Yogya, setelah beberapa jam di situ.


Aroma harum masakan telah tercium dari kejauhan. Lisa melihat sebuah warung tenda depan sebuah ruko, yang terlihat tampak ramai. Dewa berhenti dan memarkir motor di samping warung tenda itu.


"Loh, Mas Dewa, monggo. Mau pesan apa?" Sapa Pakde Pur penjual bakmi Jawa langganan.


"Sebentar Pakde. Saya tanya dulu sama yang mau makan." Jawab Dewa.


"Mau makan apa? Ada mi godog, goreng, nasi goreng, dan magelangan." Tanya Dewa.


"Hah? Magelang.. apa itu?" Tanya Lisa bingung.


"Magelangan itu nasi goreng dicampur sama mi." Dewa menjelaskan.


"Godog itu rebus. Mi rebus."


"Oh, aku mau magelangan, tapi juga pingin bakmi godog yang rebus tadi." Ucap Lisa sambil berpikir.


Ia melipat tangannya di dada, bibirnya komat Kamit ga jelas. Dewa menatapnya dengan gemas.


"Kalo ga ingat di depan umum, atau di bukan kekasihnya mas Dirga, bakal tak cium gadis di depanku ini!" Ucap Dewa dalam hati.


"Kamu pesan apa?" Tanya Lisa.


"Aku mau bakmi goreng." Jawab Dewa.


"Kalo aku ga abis, bantuin ya?" Rayu Lisa.


"Siap Nona cantik. Jadi pesan apa ini?"


"Aku bakmi godog sama magelangan."


"Oke, tunggu sebentar, aku pesankan."


Dewa mendekati Pakde Pur, memesan makanan dan minuman, mereka berbicara dalam bahasa Jawa, yang Lisa tak mengerti.


Terlihat beberapa kali Pakde Pur melirik ke arah Lisa, dan menggoda Dewa, dan Dewa hanya tersenyum saja menanggapinya.


Dewa mengajak Lisa untuk duduk lesehan di emperan toko. Di bagian sudut.


" Ini Mas, Mbak, minumnya!" Seorang pemuda meletakkan dua gelas es jeruk di meja, sambil melirik ke arah Lisa.

__ADS_1


"Sudah sana, bantu Bapakmu!" Kata Dewa pada pemuda itu.


"Kenalke, Mas. Ayu men, koyo artis!" Rayu pemuda tadi.


"Yo, salaman ae Yo, Jo nambah!" Ujar Dewa.


"Lis, ada yang mau kenalan." Ucap Dewa pada Lisa.


Pemuda itu mengulurkan tangannya ke arah Lisa.


"Bagus. Nama saya Bagus, Mbak." Ucapnya.


"Lisa." Jawab Lisa sambil terkikik geli melihat tingkah pemuda itu.


Tak lama pemuda itu kembali lagi sambil membawakan pesanan mereka.


"Ngopo masih di sini?"


"A-anu, Mas. Nganu.."


"Wis Kono, rewangi Bapakmu disik!"


Pemuda itu akhirnya meninggalkan Dewa dan Lisa untuk menikmati bakmi yang mereka pesan.


"Dewa, besok kapan kapan aku boleh belajar bahasa Jawa denganmu?"


"Dengan senang hati." Jawab Dewa, membuat Lisa tersenyum senang.


Mereka menikmati bakmi diiringi lantunan lagu pengamen yang bersuara merdu.


Malam semakin larut, Lisa dan Dewa akhirnya memutuskan untuk pulang. Lisa ingin bermain ke pantai besok, sebelum dia syuting film.


Dewa berjanji akan menemaninya.


Selesai membayar, Dewa mengantar Lisa kembali ke hotel tempatnya menginap.


Dewa membawakan belanjaan Lisa, ia letakkan di atas meja di dalam kamar.


"Eh iya. Ini buat Ibu dan kamu di rumah. Dan ini ada untukmu." Lisa menyerahkan sekotak lumpia yang tadi mereka beli, dan sebuah parfum untuk Dewa.


"Wah, terima kasih. Malah merepotkan." Jawab Dewa.


"Sama sama. Aku juga terima kasih sudah ditemani jalan jalan." Balas Lisa sambil tersenyum.


Mata mereka saling beradu. Saling mendamba satu sama lain. Sejak pertama kali bertemu, Dewa telah menyukai Lisa, namun ternyata ia kekasih Dirga. Ia sadar diri akan hal itu, sampai saat ini.


Jantung Lisa berdetak dua kaki lebih kencang. Ada sensasi aneh dalam dirinya saat ini.


Tiba tiba Lisa mendekati Dewa dan menautkan bibirnya pada pemuda itu, kedua tangannya memegang wajah Dewa. Dewa membalas dengan lembut.


Dua insan yang sedang terbawa suasana larut dalam hasrat mencinta.


Dewa tersadar akan perbuatannya, lalu ia melepaskan ciumannya pada Lisa. Napasnya terengah-engah menahan hasratnya. Ia menatap Lisa dengan perasaan tak enak. Sedangkan Lisa wajahnya telah bersemu merah karena malu.


"Sampai bertemu besok ya. Terima kasih." Pamit Dewa sambil membawa plastik pemberian dari Lisa.


Dewa bernapas lega setelah keluar dari kamar Lisa. Ia mengatur emosi dan napasnya kembali, menenangkan dirinya.


"Bodoh! Mengapa jadi kebablasan!" Gumamnya sambil bermonolog merutuki dirinya sendiri. Lalu bergegas pulang menuju rumah.

__ADS_1


__ADS_2