
"Kita langsung pulang aja yuk, gue mau mandi. Lengket semua." Pinta Laura.
"Bau acem Lo...!" Ejek Lisa.
Laura mengarahkan keteknya ke wajah Lisa, membuat Lisa menjauh dan mengomel.
Laura tertawa terbahak-bahak melihat temannya yang risih.
"Gimana di sana?" Tanya Lisa.
"Ya biasalah. Acara rame rame aja. Ada lomba kayak tujuh belasan gitulah." Jawab Laura.
"Kelihatannya Lo capek?"
"Ya begitulah. By the way, gimana hubungan Lo sama Dirga selama ini?" Tanya Lisa.
"Entahlah." Lisa menaikkan kedua bahunya dengan enggan.
"Kenapa emangnya?" Tanya Laura menyelidik.
Lisa tak menjawab, ia terus fokus mengemudi hingga menuju komplek tempat tinggal mereka.
Lisa berhenti di sebuah minimarket yang jaraknya hanya beberapa blok saja dari rumah mereka.
Lisa dan Laura membeli beberapa cemilan dan minuman untuk dinikmati bersama. Lalu mereka kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Laura segera membersihkan tubuhnya, lalu ia membereskan dan menaruh oleh oleh si meja makan dan kulkas untuk beberapa buah dan sayur yang ia beli dari perkebunan di kawasan itu.
Sembari mencuci pakaiannya dengan mesin cuci, Laura menyiapkan makan malam mereka dibantu oleh Lisa.
"Minggu depan, gue rencana mau berangkat ke Yogya." Ucap Lisa saat mereka sedang memulai makan malam.
"Loh katanya bulan depan?" Laura heran.
"Ya, dimajukan jadwal syutingnya. Selain itu, aku sambil belajar bahasa Jawa, karena ada beberapa dialog yang mengharuskan gue memakai bahasa Jawa yang halus. Kata sutradara, gue harus cepat belajar soal itu." Terang Laura.
"La, entahlah, beberapa Minggu ini, Dirga seakan menjauh dari gue. Setiap di wa, hanya centang dua abu saja, baru dibaca entah kapan kapan. Lalu, syukur kalo dibalas. Seringnya gak. Pesan yang gue kirim seminggu yang lalu, baru dibales saat kalian gathering kemaren. Gue ngerasa kami sudah ga ada harapan lagi, La." Akhirnya Lisa menumpahkan kegalauan selama ini pada Laura.
Sebenarnya Laura ingin menceritakan semuanya pada Lisa, namun ia masih ragu dan takut, setelah kesedihan yang dialami oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Mungkin dia ada masalah, namun ia tak mau cerita padamu. Sehingga dia menyimpan semua sendiri." Jawab Laura dengan bijak.
"Ya. Bisa jadi. Hhmmm ya sudahlah. Gue mau fokus pada film gue dulu kali ini. Gak mau berpikir soal Dirga kali ini. Terserah dia. Capek hati gue!" Keluh Lisa dengan pasrah.
Lalu ia berdiri untuk membereskan sisa makan malam mereka. Laura membantunya mencuci piring.
Laura sibuk membereskan urusan cucian bajunya, dan Lisa membersihkan area dapur.
Selesai urusan rumah, mereka ke kamar masing masing. Lisa belajar berdialog untuk film terbaru yang akan produksi. Beberapa dialog dalam bahasa Jawa terdengar, membuat Laura tertawa mendengar logat Lisa yang lucu.
"Woi, jangan diledek!" Sahut Lisa dari kamarnya.
Laura menatap kardus yang berisi foto-foto dan kisah masa lalunya yang carut marut. Ia menimbang nimbang akan menceritakan pada Lisa atau tidak.
Dari dulu setiap dia ada masalah, selalu Lisa menjadi tempat tujuan curhatnya. Setiap ia bermasalah dengan urusan pekerjaan, atau menghadapi perceraian orang tuanya dulu, ia teringat pernah kabur dari rumah dan tinggal di rumah Lisa. Hampir seminggu ia di sana, tidak sekolah, tidak syuting. Bahkan Mas Andre dan Mamanya yang kalang kabut atur jadwal kembali. Lisa tersenyum geli, saat mengingat betapa kekanakan sikap Gwen dulu.
Akhirnya ia memutuskan semuanya, tak peduli akan apa yang terjadi selanjutnya. Ia membawa kardus itu menuju ke kamar Lisa.
"Lis, gue ganggu gak?" Kepala Laura menyembul dari balik pintu.
"Oh, nggak lah. Masuk aja." Lisa menggeser duduknya di bibir ranjangnya.
Lisa menerima foto itu, melihatnya saja, dan mengambil napas dalam-dalam setelahnya.
"Lalu selama ini mengapa mendekati dan memberi harapan pada gue?" Gumam Lisa, sambil bertanya pada diri sendiri.
"Dia hilang ingatan." Jawab Laura.
"Hah?" Lisa terkejut, dan menatap Laura, lalu ia ikut duduk di lantai bersandar pada ranjang.
"Dirga dan Laura pernah melakukan hubungan satu malam, yang mengakibatkan Laura hamil. Lalu ia ketakutan, dan tak mau bertanggung jawab. Saat ia hendak kabur, ia kecelakaan, dan hilang ingatan, namun hanya pada Laura saja." Cerita Laura sambil menatap Lisa penuh simpati.
"Astaga, berarti benar. Ada bekas jahitan pada punggung Dirga. Saat aku tanya, ia pernah kecelakaan, namun ia lupa kapan tepatnya."
"Dia dan Ben hanya bermain main awalnya. Ben mendekati gue, Gwen. Lalu Dirga dengan Laura. Astaga, gue baru ingat. Waktu ada acara gathering perusahaan Bu Sisil di salah satu hotel milik Pak Anton. Awal awal gue kenal Ben. Gila!" Laura seolah mengingat kejadian pertama ia bertemu dengan Ben saat masih hidup sebagai Gwen.
"Lalu Laura dan Dirga?" Tanya Lisa.
"Dirga dan Laura melakukan kisah satu malamnya, lalu hamil, Dirga tak bertanggung jawab, dan gue sangat yakin Laura adalah perempuan terhormat, ia pasti sangat malu dan menyesal. Maka ia tak berani untuk kembali ke rumah selama itu, menutup diri, dan penembakan itu adalah jawaban dari keinginannya. Ia ingin mati, karena ia kehilangan harapan untuk hidup. Gue ga tau di mana janin yang dikandungnya. Seluruh catatan harian, susah gue baca, namun tak ada cerita tentang anak."
__ADS_1
"Atau jangan-jangan Laura aborsi janinnya?"
Laura menggeleng tak tau, lalu menatap Lisa.
Sejenak mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing masing.
Tiba tiba Laura mengambil sebuah buku dalam kotak yang ia bawa tadi, membuka buka halaman buku itu, dan melihat sebuah foto usg. Ia membaca tulisan yang ada di sana. Ada nama Laura dan sebuah klinik ibu dan anak beserta nama dokternya.
"Sebaiknya gue datang ke klinik ini dan bertanya langsung ke dokternya." Gumam Laura.
Lisa mengarahkan tangan Laura di depannya dan membaca tulisan di foto USG itu.
"Linawati SpOG." Lisa membaca nama dokter yang tertera di foto itu.
"Ya, gue harus menemuinya, untuk mencari tau apa yang terjadi dengan janin Laura." Ucap Laura-Gwen.
"Ya, gue akan temenin Lo."
"Terima kasih Lis. Maaf jika gara gara ini hubungan Lo dengan Dirga jadi kacau." Sesal Laura-Gwen.
"Denger ya La. Sejak Bu Sisil mengingatkan gue waktu itu, sebenarnya gue sudah pasrah. Gue sudah ga terlalu berharap lagi sama Dirga. Namun Dirga berulangkali meyakinkan gue. Dan berjanji akan selalu memilih gue, bukan kehendak keluarganya. Bikin gue yakin kembali untuk balik ke dia. Tapi setelah mendengar cerita Lo tentang Laura yang ditinggalkan, membuat gue jadi berpikir kembali." Lisa mengungkapkan unek imejnya pada Laura.
Mereka berdua duduk saling menyender, sambil melihat lihat album foto milik Laura yang ada dalam kardus.
"Ini Lo sama Radit?" Tanya Lisa menunjukkan sebuah foto.
"Ya, Laura dan Radit juga sempat dekat, setelah Pras menghianatinya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Laura memergoki Radit tidur dengan perempuan lain, saat ingin memberikan kejutan di New York." Laura menunjukkan sebuah foto dirinya sedang berpose di depan foto Patung Liberty.
"Astaga!" Lisa terkejut.
"Tapi karena ia tau gue lupa, jadi dia ngakunya ke gue itu temennya dan pacarnya."
"Kok Lo bisa yakin, dia bohong?"
"Dirga, dan Katrin yang bilang. Gue ke apartemen Radit ditemani Dirga dan Katrin. Ga mungkin mereka bohong ke gue. Lalu sejak itu Dirga jadi lebih dekat ke Laura." Terang Laura.
__ADS_1