
Lisa sengaja menjemput Laura di kantornya untuk menemaninya berbelanja untuk keperluannya selama syuting di Yogya besok.
Lisa menunggu sambil duduk pada sofa yang ada di lobi. Dirga keluar dari lift, ekor matanya melihat sosok Lisa. Ia mendekatinya.
"Sedang menunggu siapa?" Tanya Dirga sambil memasukkan tangan ke saku celananya.
"Laura." Jawab Lisa dengan singkat tanpa ekspresi.
"Kamu jadi berangkat ke Yogya?"
"Jadi. Besok aku berangkat. Laura yang menemani dan membantuku bersiap siap. Kamu tak perlu khawatir, di sana kru sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku tinggal datang ke sana, belajar bahasa Jawa, dan syuting." Lisa menjelaskan pada Dirga seperti biasanya.
"Kamu sudah tau akan tinggal di mana?"
"Untuk pastinya aku belum tau. Tapi kru pasti memberikan tempat yang layak untuk ditinggali."
"Mengapa ingin berangkat lebih dulu?" Cecar Dirga.
Lisa mengambil napas dalam-dalam, sebenarnya dia sudah sedikit emosi, karena dicecar pertanyaan bertubi oleh Dirga, sedangkan mereka sedang dalam masa break.
"Dirga, aku ingin menikmati suasana Yogya sebelum melakukan syuting. Di sana sudah ada kru dari pihak film dari Jakarta juga yang telah mempersiapkan tempat tinggal dan lokasi untuk syuting. Aku sedang bekerja di sana. Lagian kita sedang break. Aku ingin menikmati ini semua dengan tenang." Jawab Lisa dengan tegas.
Di kejauhan Bu Sisil tampak mengamati Lisa dan Dirga dengan seksama. Laura yang baru menuruni anak tangga tak sengaja menyaksikan itu semua. Bu Sisil sedang mengamati, atau lebih cenderung mengawasi putranya dan Lisa.
Laura bergegas berjalan seolah tak memperhatikan Bu Sisil, mendekati Lisa dan Dirga.
Laura berpamitan pada Dirga, dan mengajak Lisa untuk segera meninggalkan tempat itu.
Mereka menuju ke salah satu mall besar untuk mencari keperluan selama syuting.
"La, kita mampir dulu ke tempat Madam, mau taruh koper besarku itu. Biar aku cuma bawa tas kecil saja, ga ribet." Ucap Lisa sambil menyetir. Ia mengarahkan mobilnya ke tempat tinggal Madam Lulu yang lokasinya tak jauh dari mall.
Lisa memarkir mobil di halaman rumah besar Madam, dan membuka bagasinya. Laura membantu mengangkat membawa masuk ke ruang management.
Di sana terlihat Anita sedang sibuk menelepon. Ia melambaikan tangan saat melihat Laura dan Lisa masuk ke ruangan itu.
"Halo cantik!" Sapa Mas Andre saat melihat Laura datang.
"Hai, Mas Andre." Balas Laura sambil cipika-cipiki pada Mas Andre.
"Kamu ga ikut ke Yogya sekalian nih." Tanyanya berbasa-basi.
"Mungkin Minggu depan Mas, kebetulan ada pekerjaan juga di sana." Jawab Laura.
__ADS_1
"Tuh kan... Kita emang jodoh ya Nek. Kamu kan orang Yogya, sekalian pulang kampung dong say."
"Iya. Besok mampir ke rumah, main main ke rumahku di Yogya." Laura menawari Mas Andre. Seketika Mas Andre berbinar matanya.
"Ibunya Laura pengusaha katering langganan para bangsawan Yogya loh!" Imbuh Lisa, yang membuat wajah Mas Andre terlihat sumringah.
"Wah... Pasti, kita harus agendakan untuk datang ke rumahmu." Ucap Mas Andre bersorak girang.
"Siapa yang jadi langganan bangsawan?" Tanya Anita yang tiba tiba nyamber.
"Ibunya Laura, pengusaha katering langganan keluarga keraton." Ulang Lisa.
"Benarkah?" Tanya Anita tak percaya.
Laura hanya mengangguk dan senyum mengembang di wajahnya. Terbayang bagaimana ramenya rumah Ibunya, jika teman-temannya datang berkunjung ke sana. Pasti terjadi kehebohan di sana.
"Hallo... Kami pulang!" Teriak orang dari ambang pintu. Beberapa artis management mereka sudah kembali dari lokasi syuting.
"Nova, kenalkan ini Laura, teman satu rumah gue." Lisa menyapa Nova dan mengenalkan pada Laura.
"Nova."
"Laura."
Nova dan Laura saling berjabat tangan.
"Nah loh?" Ucap Laura spontan.
"Belum jadi pengacara, masih magang. Nyaliku ciut kalo sudah berhadapan langsung di pengadilan." Ucap Nova jujur.
Laura tersenyum menanggapinya.
Ia teringat dulu awal awal Ben membangun Firma hukum bersama teman temannya dan Pak Bimo. Saat ada kasus yang rumit, ia selalu uring uringan, lalu curhat panjang lebar pada Gwen, meski pun ia tau, Gwen juga ga bakal ngerti soal hukum.
Namun, Gwen selalu menghibur, dengan mendengarkan semua cerita Ben saat menjalani persidangan. Lalu mereka makan bersama meski hanya nasi goreng gerobakan yang lewat di depan rumah Ben. Lalu berakhir di tempat tidur.
Lalu beberapa hari setelah itu, Ben menceritakan kembali bahwa ia dapat menyelesaikan kasus dengan baik, ada yang menang, ada yang secara kekeluargaan, pernah juga ia kalah, namun tidak terlalu mengecewakan, karena ada celah untuk melakukan banding.
Sekian tahun bersama Ben, membuat Gwen terbiasa dengan istilah atau kisah kisah di pengadilan atau pengacara.
"Oya, Nova, ikut ke Yogya juga?" Tanya Laura.
"Nggak. Aku ada jadwal syuting sinetron di sini." Jawab Nova dengan ramah.
__ADS_1
"Jadi siapa yang ke Yogya besok?" Tanya Laura.
"Mas Andre, Lisa, Maura, Kevin, sama dua orang lagi editor dan kameraman. Gue jaga kandang mengurus kerjaan di Jakarta." Terang Anita.
"Semangatlah Nit. Tenang, pasti besok akan dapat banyak oleh oleh dari Yogya." Hibur Laura.
"Yah kalo ingat, La, biasanya cuma jadi bemper saja. Kalo ada apa, lari ke gue." Keluh Anita.
"Eh, udah yuk! Gue nitip koper gue yang pink itu ya, Tolong ya Nit, ingatkan Mas Andre lagi besok. Udah gue tulisan nama gue di kopernya. Jangan lupa dibawa!" Pesan Lisa pada Anita.
"Oke, beres." Anita mengacungkan jempol.
"Makasih ya!" Ucap Lisa.
Lalu Lisa dan Laura meninggalkan rumah Madam Lulu, dan menuju mall.
Mereka berjalan-jalan menikmati suasana mall malam itu.
Mereka memasuki gerai parfum dan memilih milih aroma wangi.
"Buat siapa?" Tanya Laura heran, karena Lisa mencoba wangi aroma lelaki.
Lisa terdiam dan tetap memilih, ia pura pura tak mendengar.
"Astaga, Lis, buat Dewa ya?" Tanya Laura.
Lisa menghela napasnya, dan menoleh ke arah Laura.
"Ya." Jawabnya singkat, namun mampu membuat Laura terkejut.
"Lo, serius dekat sama Dewa?" Desak Laura.
"La, gue adalah perempuan single, jadi gue bebas dengan siapa saja." Jawabnya dengan kesal.
"Lisa. Lo boleh dekat dengan siapa saja. Silahkan! Gue ga akan menghalanginya. Tapi coba Lo pikir kembali, jika cuma buat main main, ga usah dekat dengan Dewa. Jangan cuma buat pelarian." Pinta Laura.
"Ya, gue ngerti itu. Makanya, gue pingin menikmati dulu semuanya. Lagian Dewa sudah janji mau jadi guide selama gue syuting di Yogya. Dan gue juga pingin mengenal keluarga Laura." Ucap Lisa.
Laura menatap Lisa mencari kebenaran dari kata katanya.
"La, Lo adalah sahabat terbaikku, sebagai apapun Lo, gue tetep menganggap sahabat. Gue juga pingin mengenal keluarga Lo sebagai Laura, yang pernah diceritakan ke gue dulu. Gue juga merindukan apa yang disebut keluarga La. terutama Mama." Sambung Lisa kembali.
Laura menepuk bahu Lisa.
__ADS_1
"Sepertinya aroma yang ini cocok untuk Dewa." Ucap Laura sambil menunjuk salah satu produk parfum.
Lisa tersenyum setelahnya, lalu mengambil pilihan Laura tadi dan menuju ke arah kasir.