
Laura bermain dan bernyanyi bersama anak anak di posko korban banjir. Sambil memetik gitar milik salah tulis korban banjir di sana, ia menghibur dan membuat anak anak di sana bisa tertawa dan bernyanyi dengan gembira, seolah tak merasakan kesedihan mereka tinggal di pengungsian.
Radit melihat Laura yang sedang bernyanyi bersama sambil memetik gitar membuat suasana di sana terlihat gembira. Terlebih saat datang tadi, Laura membawa makanan berupa ayam goreng dari brand kakek jenggot, sontak disambut riuh oleh anak anak di tempat itu. Radit terpesona oleh keberadaan Laura saat itu. Setelah kemarin, Laura meminta waktu kembali untuk memikirkan kelanjutan hubungan mereka, Radit sudah pasrah. Ia tak ingin Laura berpikir ia mengekangnya, maka selama hampir dua Minggu ini ia membiarkan saja Laura dengan kesibukannya. Ia hanya menghubungi melalui whatsapp saja, tanpa menunggunya selama di Yogya. Radit pun tahu, bahwa Laura baru pulang kemarin. Kini, wanita itu datang dengan mengejutkannya.
Lalu anak anak menikmati makanan yang dibawa oleh Laura dengan suka cita. Sedang Laura terduduk di sudut ruangan sambil meneguk air mineralnya. Radit menghampirinya.
"Terima kasih."
"Sama sama." Jawab Laura, sambil menaruh air mineralnya, lalu, Radit membuka tutup botolnya dan meneguk hingga habis airnya.
"Oh, jika haus bilang saja, nanti aku ambilkan air mineral." Ucap Laura terkekeh melihat Radit.
"Ada angin apa kamu datang kemari?" Selidik Radit.
"Menemani kamu." Laura menaikan bahunya.
"Lalu.. Bukannya baru kemarin kamu pulang dari Yogya. Apa tidak capek?" Cecar Radit.
"Yang capek itu Dirga, dia yang nyetir, full dari Yogya sampe Jakarta. Aku duduk anteng sambil makan saja di mobil." Sahut Laura.
Radit menatap Laura menyelidik, sementara yang ditatap malah tersenyum manis, membuat Radit makin terpesona dan melupakan pertanyaan yang akan diucapkannya.
"Aku barusan menghubungi Lisa, katanya dia mau ikut bantu bantu di sini juga. Karena jadwal syutingnya mundur hingga banjirnya surut."
"Oya? Bagus dong! Aku juga sudah bilang ke anak buahku, ambil bantuan pakaian bayi dan anak, diapers, dan susu buat anak anak di sini juga." Sahut Radit.
"Sudah ah istirahatnya. Aku mau bantu di dapur mereka saja sambil nunggu Lisa Dateng." Laura beranjak berdiri. Secara refleks Radit memegang tangan Laura, kemudian ia menoleh ke arah Radit.
"Ada apa?" Tanya Laura.
"Tidak apa apa. Kamu cantik!" Puji Radit sambil tersenyum, lalu melepas genggaman tangannya.
Laura lalu membantu team konsumsi di dapur pengungsian.
"Wah, Neng ini pacarnya Kak Radit ya?" Tanya salah satu ibu di sana.
Laura hanya tersenyum.
"Cocok kok sama Kak Radit. Dia kelihatan sayang sama Neng." Celetuk ibu yang lain.
__ADS_1
"Memang Radit sering kemari?" Tanya Laura.
"Iya, sering. Dari dulu dia sering main ke sini. Ngajar anak anak, terus suka bagi sembako. Kadang kalo ada yang ketangkep, kalo memang ga terlibat dia akan bantu juga. Sering bantu di sini kalo pas kena banjir, apalagi kalo pas banjir gede gini. Pasti dia bantu. Pernah dia ga nongol, taunya dia sekolah di luar negeri. Wah dia memang orang kaya yang benar benar tulus kalo bantu." Cerocos Ibu itu.
"Iya, dia sering di goda sama cewe cewe di gang sana itu loh, Neng!"
"Cewe cewe?" Laura mengerutkan keningnya.
"Iya, Kak Radit itu terkadang suka nolongin kalo ada cewe yang sudah kerja, dipake gitu, tapi ga mau bayar. Nah, kadang Kak Radit yang nagihnya." Sahut Ibu itu.
"Itulah, kadang dia suka digodain sama cewe cewe di gang dalam situ."
Laura terkekeh mendengar cerita Ibu ibu itu.
"Ternyata, Radit benar benar bergaul dengan semua orang. Mungkin sikap tenang dan cool nya itu, karena terlalu sering bergaul di sini." Batin Laura.
Selesai memasak untuk para pengungsi dan relawan, Laura membantu membungkusnya.
Saat itu, Lisa datang bersama beberapa teman artis lain untuk membantu dan menghibur. Mereka juga membawa bahan makanan, selimut, air minum, dan makanan ringan untuk para pengungsi dan relawan di sana.
Tempat itu langsung menjadi sangat ramai, karena mengetahui ada artis yang datang ke sana. Lisa dan teman artisnya sibuk melayani foto dan mengobrol dengan orang di sana.
Saat sedang menikmati makan siang, Laura tiba tiba berlari menuju halaman rumah Pak RT, dan ternyata dia sibuk menyelamatkan tanaman anggrek budidaya dari warga kampung itu.
Sontak aksi Laura yang aneh itu membuat beberapa orang mengabadikannya, dan mengunggah di sosial media mereka.
Para wartawan yang meliput juga akhirnya menyiarkan aksi unik Laura tersebut.
Saat di wawancarai, Laura mengatakan bahwa ia sangat menyukai bunga itu. Dan dia tau beberapa jenis yang ia selamatkan itu harganya mahal.
Mereka berada di sana hingga menjelang sore. Laura sedang mencuci tangan, hendak berpamitan pulang pada anak anak di sana.
Lisa dan teman temannya juga hendak berpamitan juga. Demikian juga Radit.
Radit meminta beberapa karyawannya untuk bergantian membantu di sana. Ia menitipkan mobilnya pada asistennya untuk di bawa pulang. Ia akan bersama Laura.
Usai berpamitan, Lisa pulang bersama teman-temannya, dan Laura bersama Radit.
"Akhirnya selesai juga!" Laura menghela napas dengan lega sambil menyeka keringatnya saat di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Capek?" Tanya Radit yang sedang menyetir.
"Iya, tapi menyenangkan. Apalagi bisa melihat Radit dari sisi yang berbeda." Sahut Laura sambil menatap Radit.
"Aku lapar, kita drive thru saja ya, di Mac D depan itu." Ucapnya sambil membelokkan mobil ke restoran cepat saji itu. Lalu mereka memesan beberapa menu untuk di santap.
Radit mengambil burger untuk mengganjal perutnya saat menyetir. Sedang Laura hanya menyesap kopi sambil menikmati kentang goreng.
"Aku mau makan di tempatmu saja." Ucap Radit.
"Iya. Aku juga ga sangka Lisa malah mengajak teman artisnya. Membuat ramai tempat itu. Aku senang bisa menghibur, terlebih bisa membantu mereka." Gumam Laura.
"Aku juga senang kamu temani." Sahut Radit, sambil tersenyum ke arah Laura.
****
Ben, menatap layar televisi melihat liputan banjir. Aksi sosial yang dilakukan Radit, Laura, dan Lisa, bersama teman artisnya menjadi headline di berita nasional.
Aksi penyelamatan anggrek oleh Laura juga masuk dalam berita itu. Membuat Ben sangat terkejut.
Anggrek, Laura, sebelumnya Laura marah saat melihat Nova memakai pakaian Gwen. Lalu ia teringat anggrek yang dahulu hadiah untuk Gwen juga dirawat oleh Laura.
Saat bersama Laura, seolah ia bersama Gwen. Banyak kesamaan antara Gwen dan Laura, Ben seolah tersadar akan hal itu.
"Apa aku kurang berjuang merebut hatinya? Atau sebenarnya Laura itu adalah Gwen?"
Pertanyaan pertanyaan berputar putar di kepala Ben. Ia mengurut pelipisnya saat melihat berita tentang Laura di televisi.
Nova terdiam saat melihat Ben terpaku menatap berita tentang aksi sosial relawan banjir itu. Ia melihat ada Laura, yang tadi pagi datang ke rumah Ben, lalu tiba-tiba pergi setelah memberikan bungkusan makanan oleh oleh dari Yogya.
Setelah kejadian pagi tadi, sikap Ben mendadak berubah pada Nova. Terlebih saat Ben melihat berita itu, ia hanya duduk terpaku di sofa sambil menghisap rokoknya.
Nova menyeka air matanya, lalu bersiap-siap untuk pergi dari rumah Ben.
"Aa Ben, Nova pamit pulang dulu ya. Terima kasih sudah memberi tumpangan bermalam buat Nova." Ucapnya berhati hati pada Ben.
"Loh, sudah mau balik. Biar aku antar ya." Sahut Ben.
"Ga usah A. Nova sudah pesan grab. Sepertinya itu sudah datang. Nova pulang ya A."
__ADS_1
Nova berlalu meninggalkan Ben, dalam perjalanan air matanya berlinang mengingat kebodohan yang ia perbuat semalam bersama Ben.