
Gavin terkejut melihat kehadiran Aurelia yang sudah berdiri di depannya dan menyapa dirinya.
"Aurel?? Kamu dari mana?" tanya Gavin sedikit gugup.
"Mencari Kamu dan akhirnya kita bertemu juga di sini," jawab Aurel sambil tersenyum menggoda.
"Buat apa kamu mencari aku? Belum cukup jelas pembicaraan kita kemarin?" tanya Gavin dengan muka yang menunjukkan ketidaksukaannya.
"Kamu tidak senang bertemu aku sayang? Aku begitu merindukanmu dan Tuhan mempertemukan kita di sini," jawab Aurel.
"Cukup Aurel!! Aku harap kamu bisa pergi sekarang karena aku sedang menunggu seseorang di sini. Kita tidak ada janji untuk bertemu, tolong kamu mengerti," pinta Gavin.
"Sebegitu sulitnya aku untuk bertemu dengan kamu saat ini, apa karena posisimu sebagai seorang CEO sehingga menjadi penghalang untuk aku bertemu dengan kamu?" tanya Aurel sedikit jutek.
"Terserah apa pendapat kamu tapi tolong tinggalkan aku saat ini, karena aku sedang menunggu seseorang dan kami sudah berjanji bertemu empat mata tanpa ada pihak ketiga," jawab Gavin tegas.
Aurel dari jauh melihat kedatangan Kania yang sedang berjalan menuju pintu masuk, ingatannya masih bagus siapa gadis itu saat mereka bertemu pertama kali.
Kesempatan ini bisa ia pakai untuk merusak hubungan Gavin dan wanita itu.
"Baiklah kalau kamu tidak suka dengan kehadiranku, aku akan pergi," ucap Aurel sambil berjalan mendekati Gavin dan melayang sebuah ciuman di pipi pria itu.
Gavin kaget seketika mendapat ciuman dari Aurel, terlebih Kania yang baru masuk terhenti langkahnya seketika melihat sesuatu yang begitu menyakitkan hatinya.
Aurel sedang mengecup pipi Gavin dengan mesranya dan dengan wajah tersenyum memandang ke arah wajah Kania.
"Aku pamit dulu sayang karena temanmu sudah datang dan sampai ketemu lagi aku tunggu telepon kamu," ucap Aurelia sambil tersenyum mengejek ke arah Kania dan berlalu pergi.
"Sayang semua tidak seperti yang kamu lihat dan aku bisa jelasin semuanya,kamu duduk dulu." Kata Gavin sambil mengusap kasar wajahnya dan menggaruk rambutnya.
Kania memandang Gavin dengan wajah penuh kebencian, air matanya sudah hampir tumpah di pelupuk matanya. Sakit hatinya melihat semua ini, ia tidak menyangka Gavin dan Aurelia bisa berbuat seperti itu di belakangnya.
"Enggak perlu ada yang di jelaskan karena semuanya sudah jelas," sahut Kania sambil meneteskan air matanya.
Sambil menangis menahan sakit hatinya Kania meninggalkan Gavin berjalan dengan cepat menuju lift.
Gavin ingin menyusul Kania dan memberi penjelasan namun ia harus mematikan laptop dan membereskannya kembali setelah itu ia mencari keberadaan Kania.
Namun ia tidak menemukan gadis itu, Gavin pikir Kania masih menunggu taksi di lobby mall segera ia berlari ke arah lobby namun nihil Kania tidak ada juga di sana.
Gavin mulai panik mencari keberadaan Kania, ia menghubungi lewat ponsel tetapi tidak mendapat jawaban, sepertinya gadis itu dengan sengaja mengabaikan panggilan darinya.
__ADS_1
Lama ia berdiri di lobby mall sambil memegang kepalanya untuk berpikir dan menunggu siapa tau Kania nanti akan muncul dan Gavin akan memberikan sebuah penjelasan.
Lima belas menit berlalu wanita itu tidak kunjung muncul dan Gavin mulai frustasi memikirkan apa Kania akan mempercayai dirinya, sejujurnya ia memang tidak punya hati lagi terhadap Aurelia.
Kejadian tadi di luar dugaannya dan Gavin bahkan tidak menyangka Aurel nekad melakukan hal yang memalukan seperti itu.
Gavin membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan lobby dan kembali ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Justru pada saat yang sama ia melihat Kania berjalan keluar dari arah toilet menuju pintu keluar, segera Gavin mengejarnya dan menarik tangan Kania.
"Kamu dari mana sayang, dari tadi aku cari-cari dan menunggu kamu di sini?" tanya Gavin dengan wajah cemas.
"Buat apa lagi mencari aku? Tolong lepasin tangan aku!" Sahut Kania jutek sambil menarik tangannya dari genggaman Gavin.
"Ayo aku antar pulang, nanti di mobil kita bicara dan aku jelasin semuanya," kata Gavin.
"Terima kasih, aku bisa pulang sendiri dan aku sudah pesan taksi online," balas Kania ketus.
"Enggak bisa kamu tetap pulang sama aku!" paksa Gavin.
"Kamu gak dengar aku ngomong, aku bisa pulang sendiri! Aku udah pesan taksi dan sebentar lagi sampai, lepasin tangan aku!" kata Kania lagi.
"Terserah mau di lepasin atau gak, aku gak bakalan pulang bareng," balas Kania dengan muka jutek.
"Oke kita pulang bareng naik taksi online," ancam Gavin.
"Bodo amat" gerutu Kania.
Tidak berapa lama taksi yang di pesan Kania datang ia tidak mempedulikan tangannya yang terus di pegang Gavin, ia seperti orang yang tertangkap habis mencuri di mall.
Kania tidak mau banyak bicara ia hanya fokus menunggu kedatangan taksi pesanannya.
Pas taksi sampai di depannya, Kania pun membuka pintu taksi tersebut dan berusaha masuk ke dalam sekalipun Gavin sudah berusaha menarik, supaya ia tidak naik ke dalam mobil tersebut
Kania seakan mengacuhkan semua perkataan dan permintaan Gavin, mau tidak mau akhirnya terpaksa pria itu pun naik ke dalam taksi dan meninggalkan kendaraannya di parkiran mall.
Di dalam mobil Kania terus diam, ia tidak mempedulikan keberadaan Gavin.
"Mau sampai kapan kamu diam begini sayang? Dengar aku bicara, tadi aku dan Aurel tidak sengaja bertemu. Kami tidak ada janjian untuk bertemu sebelumnya dan kalau ia mencium pipiku itu pun membuat aku kaget dengan aksi nekadnya atau memang ia sengaja ingin membuat kamu cemburu," jelas Gavin.
Kania hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun, ia hanya memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau aku salah, tolong jangan mendiamkan aku dan jangan salah paham," ucap Gavin sambil memegang tangan Kania.
"Kan, mau sampai kapan kamu diam begini?" tanya Gavin.
"Selamanya," jawab Kania singkat.
"Kamu boleh marah asal jangan mendiamkan aku seperti ini, beneran sumpah demi apapun aku gak ada perasaan apa-apa lagi sama Aurelia," kata Gavin dengan suara nyaring.
"Aku gak mau ngurusin soal kamu sama Aurelia, tolong lepasin tangan aku, capek dari tadi di pegangin kayak maling aja," sahut Kania ketus.
"Maaf, aku lupa. Tapi janji dulu kita balik lagi ke mall ambil mobil aku, nanti kamu pulang aku anterin," ucap Gavin memelas.
"Gak aku mau pulang sekarang kamu balik aja sendiri, lagian aku gak suruh ikut aku," balas Kania ketus.
"Please" ucap Gavin lagi.
"Malas," balas Kania.
"Pak, tolong putar balik arah ke mall lagi ya!" perintah Gavin.
"Tapi___" sahut si abang taksi.
"Gak pakai tapi-tapian balik arah lagi sekarang, jangan takut nanti ongkosnya saya bayarin dua kali lipat." Balas Gavin cepat memotong pembicaraan si abang taksi.
Kania diam tidak bisa membantah perintah pacar si tukang pemaksa tersebut sekalipun ia sedang jengkel sekali.
Taksi yang mereka tumpangi akhirnya berbalik arah ke mall kembali, Kania terpaksa mengikuti perintah Gavin untuk menemaninya mengambil kendaraannya yang masih terparkir di parkiran mall.
Mau tidak mau akhirnya gadis itu terpaksa pulang di antar Gavin lagi, tetapi bukan berarti perang di antara mereka sudah usai.
Kania tetap mendiamkan Gavin sampai saat ini karena hatinya masih jengkel, sebanyak apapun ia mendengar penjelasan dari pria itu seakan ia menutup telinganya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa buat kasih like dan komen setelah membaca supaya penulisnya lebih bersemangat untuk up lagi.
Kalau kamu suka bisa kasih vote ... happy reading.
Selama menunggu up kalian readers bisa juga membaca ceritaku yang lain, udah up dan banyak bab di sana...mampir ya.
__ADS_1