
Suatu sore Radit mengunjungi rumah Laura. Ia menikmati suasana halaman rumah Laura yang tampak warna warni karena bunga bunganya mulai bermekaran.
"Nih, cobain, aku tadi buat brownis dan risol." Laura keluar dari dalam rumah sambil membawa baki berisi makanan dan minuman.
"Wow, harum sekali baunya! Pasti enak sekali!" Puji Radit dengan raut wajah gembira. Lalu ia mengambil sepotong risol dan langsung menggigitnya.
"Enak sekali!"
Laura tersenyum menanggapi pujian yang bertubi dari Radit.
"Katanya kamu mau ke Yogya?" Tanya Radit sambil mengunyah brownies.
"Iya, tapi belum tau pastinya. Jika sudah pasti, aku akan mengabari Ibu."
"Ya. Kebetulan,aku juga akan ke Yogya, untuk peresmian kantor baru cabang sana."
"Ya, aku sudah lihat, dari Dewa." Ucap Laura sambil mendengus kesal, lalu mengambil sepotong brownies lalu menggigitnya.
Radit menatap Laura dengan heran, karena ia terdengar kesal.
"Ya, Lisa lebih dulu tau daripada aku." Ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Radit tertawa terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Kamu tuh, kalo ngambek ngegemesin. Pingin kucium!" Ucap Radit sambil menjawil hidung Laura.
"Gombal! Kok ga pernah cerita sama aku sih?"
"Kamu sibuk selama beberapa Minggu terakhir, ingat kapan terakhir kali kita berbalas chat? Saat kamu di puncak saja, aku ga bisa menghubungi! Kesel gue!"
"Kesel kenapa?"
"Aku pikir kamu lupa sama aku." Radit menatap Laura mesra.
"Radit, tolong kamu jujur padaku kejadian di New York!" Laura menatap balik Radit.
__ADS_1
Detik itu juga raut wajah Radit berubah setelah mendengar permintaan Laura.
Ia mengubah posisi duduknya, ia menggeser kursi ke hadapan Laura. Lalu ia menggenggam jemari tangan Laura sangat erat.
"La, aku benar benar minta maaf. Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu. Kami hanya terlalu mabuk malam itu, lalu semua terjadi begitu saja. Sejak itu aku selalu menyalahkan diri sendiri, dan mencarimu. Hingga melihat video viralmu tantang penembakan itu." Ucap Radit.
Laura hanya terdiam menatap Radit, mencari kejujuran di mata lelaki itu.
Laura merasa, Radit lebih baik dari Dirga. Ingin rasanya ia menceritakan yang telah dialaminya, namun sepertinya waktunya tidak tepat.
"La, saat di Yogya besok, bolehkah aku bertemu dengan Ibu?" Tanya Radit.
"Boleh. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin berkenalan dengan keluarga besarnya di sana. Aku ingin kita ke tahap lebih lanjut La. Aku ingin hidup bersamamu." Tatapan Radit membuat jantung Laura meleleh. Seakan kenangan lamaran dari Ben mengulang kembali di kepalanya.
"A-aku..!" Lidah Laura terasa kelu saat itu. Ia bingung akan menjawab apa. Kenyataan Ben, yang dulu bersamanya, ternyata memiliki masa lalu yang membuatnya masih syok.
"Jika belum siap menjawab sekarang, aku akan tetap menunggumu. Aku mencintaimu." Ucap Radit lirih namun terngiang-ngiang di telinga Laura.
"Ya, aku memang butuh waktu sejenak." Ucap Laura.
"Mau jalan jalan?" Tawar Radit.
"Kemana?"
"Kita ke tempat Bude. Sudah lama kita tidak ke sana."
"Baiklah. Aku bereskan dulu ini."
Laura menyimpan kembali makanan ke dalam wadah, dan mencuci cangkir bekas mereka minum.
Saat itu, terdengar ribut ribut dari arah teras rumah. Laura segera bergegas menuju ruang teras.
"Dasar brengs*k..!!" Dirga mengayunkan tinjunya ke tubuh Radit. Namun, dengan sigap Radit mengelak dan menghindar, ia menangkis tangan Dirga, lalu dengan sekali pukul ia membalas dengan meninju punggung Dirga.
__ADS_1
Dirga terhuyung terhempas di lantai.
"Auuhh, aduh!" Runtuhnya, sambil meringis.
"Apa maunya Dirga?"
"Menjauhlah dari Laura!" Jawabnya
Tepat saat itu Lisa dan Laura datang menyaksikan adegan perkelahian yang baru terjadi, dan mendengar teriakan Dirga.
Dirga menyadari semuanya, ia menatap Lisa dan menggeleng cepat. "Ini tidak seperti yang kamu lihat, Lisa!" Sungguh!" Elaknya.
Namun, Lisa hanya melenggang berjalan masuk menuju rumah dan membiarkan Dirga. Ia berlalu dari hadapan lelaki yang menjadi kekasihnya saat ini.
Pernyataan Dirga barusan membuatnya kecewa.
Ia menatap Laura saat berpapasan, Laura hanya mengangguk, mengisyaratkan ia mengerti. Lalu membiarkan Lisa masuk ke dalam kamarnya.
"Laura, dengar! Lelaki itu brengse*k, dia menipumu. Dia selingkuh saat jauh darimu. Aku saksi mata perbuatannya. Saat itu kita ke sana bersama, memergoki mereka berdua. Aku masih mengingat dengan jelas La. Apa kamu masih ingat?" Tanya Dirga sambil tersenyum sinis pada Radit.
Radit hanya diam, dan menatap tajam ke arah Dirga.
"La, tak ada yang dapat aku jelaskan, jika semua sudah terjadi. Itu adalah masa laluku. Dan aku sangat menyesali semua perbuatan bodohku kala itu. Aku tak ingin kehilanganmu Laura. Sungguh!" Ucap Radit memohon.
"Sekarang apa mau mu, Ga?" Laura menatap ke arah Dirga.
"Aku ingin meminta maaf atas semua yang kulakukan padamu La." Ucapnya dengan tegas.
"Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Tanya Radit.
Dirga menatap Laura , sedangkan Laura membuang wajahnya dengan sinis.
"Sudahlah. Sebaiknya kalian berdua pergi dari sini. Aku tak ingin tetangga terganggu dengan ribut ribut kita di sini. Radit, kita bahas ini nanti. Dan kamu, Ga. Setidaknya Radit lebih gantle dari pada kamu! Apa kamu tidak memikirkan perasaan Lisa? Dasar Playboy!" Ucap Laura dengan sinis ke arah Dirga.
Lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan kedua laki laki itu yang masih terbengong-bengong di teras.
__ADS_1