Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Season 2-32


__ADS_3

Sepulang dari Sumba, Andre mendatangi rumah Kania dengan membawa sebuah kue ulang tahun kecil dan sebuah buket bunga.


Setiap tahun memang Andre selalu mengingat hari ulang tahun gadis itu.


Dari SMA mereka memang sudah dekat dan masa-masa itu hanya bermodalkan uang jajan Andre bisa menyisakan untuk membeli kado dan sekotak donuts yang atasnya di beri lilin untuk merayakan ultah Kania.


Dan hari ini Andre masih melakukan hal yang sama memberikan kejutan ulang tahun kepada gadis yang pernah ia cintai dalam hatinya.


Kania membuka pintu rumahnya dan melihat Andre sudah berdiri di depan pintu dengan seikat bunga di tangannya dan sebuah kue ulang tahun mini.


"Selamat ulang tahun Kan, panjang umur dan sehat selalu. Apa yang kamu cita-citakan semoga tercapai, tetaplah menjadi teman terbaik aku sekalipun kamu sudah menjadi pacar sahabatku," ucap Andre sambil memberikan tangannya untuk bersalaman.


"Terima kasih kak Andre, kakak akan selalu Kania ingat kok.


Kita akan menjadi sahabat sampai kapan pun," balas Kania.


"Terima kasih kamu masih menganggap aku sahabat kamu, semoga hubungan dengan Gavin langgeng sampai kalian menikah nanti," sahut Andre.


"Masuk kak, kita asik ngobrol di luar sampai lupa suruh kakak masuk," kata Kania mempersilahkan Andre untuk masuk ke dalam rumahnya.


Lelaki itu melangkahkan kakinya untuk memasuki ruang tamu ada sedikit kecanggungan setelah beberapa bulan ini mereka putus komunikasi.


"Kak Andre tunggu sebentar di sini, Kania ke dalam sebentar mau bikinin minum buat kakak," kata Kania sambil pamit menuju dapur.


Tidak lama gadis itu kembali lagi dengan secangkir teh manis di tangannya dan meletakkannya di atas meja dan mempersilakan Andre untuk meminumnya.


"Tiup lilin dulu dong Kan," pinta Andre.


"Oh iya ... sampai lupa kak, sebentar Kania panggil mama sama papa biar tiup lilin sama-sama," ucap Kania sambil masuk menghampiri Rio dan Sisil yang ada di kamarnya.


Kania keluar bersama kedua orang tuanya untuk meniup lilin ulang tahun karena baru tadi siang ia pulang dari Sumba belum sempat merayakan ulang tahun beserta keluarganya.


Setelah lilin di nyalakan mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun buat Kania.


"Doa dulu sebelum tiup lilinnya," kata Andre.


Kania yang didampingi kedua orang tuanya menutup matanya berdoa sebentar menaikan permohonannya kepada Tuhan baru setelah itu ia hendak meniup lilin ulang tahunnya.

__ADS_1


Seseorang masuk yang tidak lain ada Gavin, ia menyaksikan Andre dan Kania beserta orang tuanya sedang merayakan ulang tahun gadis itu.


Gavin langsung mendekat dan bergabung bersama, Rio dan Sisil tersenyum melihat kedatangan Gavin dan Andre yang semangat merayakan ultah Kania.


Kania langsung meniup lilin ulang tahun dan mengambil pisau untuk memotong kue ultah dan memberikan kepada Rio dan Sisil sebagai suapan pertamanya.


Rio dan Sisil yang menerima suapan kue pertama pun tertawa.


"Enggak sangka kita udah tua ya Sil, sekarang anak kita udah gadis dan dewasa," ucap Rio sambil terkekeh.


Kania bersama Andre dan Gavin pun tertawa mendengar ucapan Rio "Biar udah tua tapi om Rio dan tante Sisil tetap mesra" balas Gavin.


"Ayo duduk dulu, nanti kita makan malam bersama Tante Sisil udah masakin menu special khusus ulang tahun Kania. Kebetulan kalian datang sebaiknya kita makan bersama," kata Rio mempersilahkan kedua pemuda itu untuk duduk.


Sedangkan Sisil dan Kania masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan malam mereka semua.


Setelah selesai Andre dan Gavin pun bergabung di meja makan untuk makan malam bersama dengan keluarga Kania.


Makan malam berlangsung lancar, hening dan semua menikmati masakan Sisil yang sengaja ia masak untuk menyambut kedatangan Kania dari Sumba dan sekaligus ulang tahun anak gadisnya.


Setelah semua selesai makan malam mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu, Kania dan Sisil masih di dapur membereskan semua peralatan makan yang kotor.


Tertawa mereka bertiga terdengar sampai ke dapur membuat Kania dan Sisil melemparkan pandangan tidak mengerti apa yang membuat ketiga pria itu tertawa lepas.


Setelah selesai merapikan dapur perabotan yang kotor Kania memilih bergabung di ruang tamu bersama papanya dan kedua pria tampan tersebut.


Sesaat mereka bertiga terdiam setelah kedatangan Kania, Gavin sempat melirik ke arah Andre.


Melihat Andre diam dan Kania juga diam tanpa suara duduk di sebelah papanya.


Gavin akhirnya memulai membuka obrolan terlebih dahulu.


"Om Rio aku mau ngomong, jujur aku dan Kania sudah pacaran beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku gak menganggap Kania itu sebagai adik aku lagi tetapi melainkan pacar aku. Aku ingin minta persetujuan om untuk melamar Kania untuk nanti bisa menjadi istri aku, karena aku tidak ingin pacaran terlalu lama," ucap Gavin dengan tegas di hadapan Rio dan Sisil.


Muka Andre berubah menjadi memerah mendengar ucapan Gavin yang dengan berani meminta Kania untuk menikah dengannya.


Selama ini Andre dekat dengan keluarga Kania tapi belum pernah ia seberani itu untuk mengungkapkan perasaannya dengan lepas.

__ADS_1


Bagaimana juga sebenarnya hati Andre belum sepenuhnya merelakan Kania menjadi milik Gavin.


Ada tersimpan cinta untuk Kania di hatinya yang terdalam, cinta yang ia pendam sendiri tanpa seorangpun yang tau.


Ternyata sakit sekali mendengar orang yang ia cintai harus menikah dengan sahabatnya sendiri yang langsung di saksinya sendiri saat ini.


Untung Andre seseorang lelaki yang pandai menyimpan air matanya, ia tidak ingin orang lain melihat ia menangis kecewa.


Kedatangannya malam ini sebenarnya ia tidak berharap bertemu Gavin, apalagi menyaksikan dan mendengar sahabatnya meminta wanita yang ia cintai di depan orang tua Kania.


Seperti pedang yang menikam hatinya, sakit dan nyeri itu yang Andre rasakan.


Harapannya datang malam ini supaya Kania menyisahkan sedikit ruang di hatinya untuk Andre tetapi kembali ia harus merasakan sakit hati kesekian kalinya menyaksikan cinta Kania dan Gavin.


Haruskah ia berpura-pura bahagia mendengar ucapan Gavin barusan? Entahlah, untung air matanya masih tertahan di pelupuk matanya.


"Gavin kalau masalah kalian pacaran itu om tidak mau ikut campur, semua keputusan ada di Kania.


Tetapi masalah kalau kamu meminta Kania menjadi istri kamu itu menjadi urusan om Rio dan keluarga kamu.


Kalau papa dan mama kamu menerima Kania masuk keluargamu, bawa orang tuamu menemui om Rio dan tante Sisil," jawab Rio tegas.


"Baik om, Gavin mengerti dan akan membicarakan hal ini dengan daddy and mommy secepatnya," sahut Gavin.


"Menikah tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan atau karena kita sudah kenal. Menikah bicara soal komitmen dan kesetiaan, siap menikah berarti siap untuk berkomitmen setia untuk selamanya dan menyatukan dua keluarga untuk saling bisa menerima.


Apa kamu sudah siap untuk itu?" tanya Rio dengan tegas.


"Aku siap dan sudah memikirkan itu semua om, aku ingin berkeluarga seperti orang tuaku dan seperti om Rio yang setia sampai tua bahkan sampai maut memisahkan," jawab Gavin mantap.


Andre mendengarkannya dengan sedikit menunduk dan sesekali ia melihat melirik Gavin bicara secara tegas di hadapan orang tua Kania.


Betapa bodohnya ia yang sudah menyimpan perasaannya dari dulu, coba saja ia berani seperti Gavin mengungkapkan perasaannya dengan mantap pasti saat ini Kania sudah menjadi miliknya.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa like, komen, dan vote.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia menunggu aku up ... happy reading.


__ADS_2