Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 33


__ADS_3

Sejak pagi hari Nia sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya selama 2hari 1 malam saat makrab nanti.


Ini adalah harinya.


Acara Makrab yang rutin diadakan kampus untuk setiap prodi disana. Begitu juga dengan prodi management, dimana Nia menjadi salah satu panitianya.


Sebagai salah satu panitia, mau tidak mau Nia pasti akan disibukkan dengan berbagai kegiatan, apalagi jabatannya sebagai seksi acara, yang akan mengkoordinir setiap acara.


“Sudah siap sayang??” tanya Mama Dessy di ujung pintu kamar Nia.


“Sudah ma.”


“Vitamin jangan lupa dibawa.” Perintah Mama Dessy.


“Sudah ma.”


“Baju hangat sama jaket tebal?? Malam hari disana pasti dingin banget sayang”


“Sudah ma.”


“Obat yang dari dokter kemarin?? Buat jaga – jaga sayang.”


“Sudah maaaa....”


“Oke, bagus. Ya sudah, Niko sudah menunggu dibawah.”


“Iya ma.”


Nia menganggukkan kepalanya. Berjalan kearah pintu dengan tas ransel di punggungnya.


“Nia, kamu bahagia dengan ini???” tanya Mama Dessy hati-hati.


Nia menghentikan langkahnya, berbalik menatap Mama Dessy yang berjalan di belakangnya.


Nia tersenyum, mendekati mamanya,” Nia berangkat dulu ma.” Ucapnya seraya mencium kedua pipi mamanya.


Nia menuruni anak tangga dan menemukan Niko yang sudah menunggunya di ruang keluarga.


“Nia pamit ma... assalamu’alaikum..”


“Niko juga berangkat tante, assalamu’alaikum..”


“Walaikumsalam. Hati-hati ya sayang, hati-hati Niko, titip Nia ya..”


“iya tante.”


Mobil Niko memecah jalanan, mengantarkan mereka berdua menuju kampus. Sebelum nantinya berangkat bersama – sama menuju villa tempat acara Makrab diadakan.


“Gimana magang loe,Ni???” tanya Niko memulai pembicaraan.


“Lancar.” Jawab Nia singkat.

__ADS_1


“Loe jadi nerusin bisnisnya Om Wijaya..??”


“ Gue belum tahu,Nik. Gue gak mau mikir yang jauh-jauh ke depan.”


“Apa karena masa depan loe sama gue?? makanya loe males mikirnya?? kalau masa depan loe ama Pak Satya??” tanya Niko sinis.


Nia tersentak kaget mendengar pertanyaan Niko. Tidak biasanya ia bersikap sinis seperti itu pada dirinya.


“Gue ngikutin arusnya aja. Gue mikir step by step, yang pasti-pasti aja.”


“Jadi menurut loe, hubungan kita gak pasti?? perasaan gue juga gak pasti gitu..” ujar Niko semakin sengit.


“ Nik, loe kenapa sih?? gue gak mau berantem. Gue udah bilang, gue ngikutin arusnya aja. Gue capek kalau harus ngelawan arus terus.”


Niko mengalah. Ia memilih diam. Ia tidak ingin berdebat dengan Nia. walau dalam hati Niko juga kecewa karena Nia tidak mau membuka hati untuknya, bahkan hubungan mereka justru terkesan canggung dan renggang.


Mobil Niko memasuki pelataran kampus. Mereka segera turun dari mobil dan bergabung dengan para panitia lain untuk melakukan breafing sebelum berangkat ke villa.


Ayu yang juga menjadi salah satu panitia melambaikan tangan pada Nia yang baru saja datang.


“Udah mulai ya??” Bisik Nia.


“Belum kok, gue juga baru nyampe. Nia,are you okay??” telisik Ayu.


Nia menoleh, menatap Ayu intens,” Yah, sure.. I’m okay.” Dengan senyum yang Ayu tahu, itu sedikit dipaksakan.


Setelah breafing dan sedikit sambutan serta wejangan dari dosen pendamping, para peserta maba beserta panitia mulai memasuki bis yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


“Sini Ni!” Niko menepuk kursi kosong di sampingnya, tepat disisi jendela. Baris kedua dari depan.


“Gue sama Ayu aja ya??” Nia duduk tepat di seberang Niko.


 Niko merasa sedikit kecewa, namun ia tetap menganggukkan kepalanya.


Tentu saja ia tidak bisa memaksakan kehendaknya.


Sedangkan Pak Satya dan Bu Mega naik setelah memastikan semua peserta dan panitia sudah masuk bis. Mereka berdua duduk tepat di belakang supir, di depan Niko.


“Saya yang di dekat jendela ya pak??” pinta Bu Mega.


“Silakan Bu.” ucap Satya


Perjalanan menuju villa akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Bagi orang lain, mungkin hal tersebut bukanlah masalah, namun beda halnya dengan Nia yang amat sangat anti dengan bis.


Gadis itu tidak akan mampu bertahan walau hanya 1 jam jika harus bepergian dengan bis. Ya, Nia mabuk darat jika naik bis sebagus dan senyaman apapun bis itu. Dan hanya satu jalan keluarnya...


“Nih!!” Niko memberikan kulit jeruk kepada Nia, sedangkan buahnya ia makan sendiri.


Orang lain akan mengira Niko kurang ajar karena memberikan sampah pada Nia. tapi lihat, Nia menghirup dalam-dalam aroma kulit jeruk itu. Itu satu-satunya cara Nia terbebas dari mabuk darat.


“Loe pengertian banget Nik, cuma loe yang paham seluk beluk Nia.” kata Ayu.

__ADS_1


“Dan parahnya lagi, udah tahu obat loe cuma kulit jeruk, kenapa gak pernah prepare sendiri sih?? kalau gak ada Niko gimana coba??!!” sambung Ayu menatap Nia yang masih menghirup dalam-dalam aroma kulit jeruk.


Nia mengedikkan bahunya, merasa tidak perlu menanggapi perkataan Ayu. Niko hanya tersenyum melihatnya.


“Udah, percuma loe ajak Nia bicara, gak bakalan buka mulut dia.” Jawab Niko kembali menyandarkan tubuhnya setelah memakan habis jeruk yang dibawanya.


Satya diam – diam mencuri dengar percakapan Niko dan Ayu yang duduk di belakangnya.


Dalam hati ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia merasa tidak bisa membantu Nia atau bahkan sedikit menunjukan perhatiannya kepada Nia. Karena pada dasarnya, ia tidak tahu apapun tentang gadis itu.


Hatinya merasa panas dan sakit disaat yang bersamaan melihat Niko yang perhatian kepada Nia, sedangkan ia tidak bisa berbuat apa – apa.


“Niko memang laki – laki yang baik.” Batin Satya.


Dan benar saja, selama perjalanan Nia hanya diam saja. Tidak membuka mulutnya sama sekali. Bahkan saat Ayu mencoba mengajaknya berbicara, Nia hanya diam atau mengangguk seperlunya saja.


“Kan udah gue bilang Ay, dia gak bakalan buka mulut. Daripada ntar dia mabuk darat. Dah mending loe diem aja Ay, ntar kalau udah sampai, baru buka mulut tuh si Nia.” terang Niko panjang lebar.


Ayu pun akhirnya memilih diam dan tidur sepanjang perjalanan. Meninggalkan Nia yang sedari tadi diam, namun tatapannya tak pernah lepas dari sosok pria yang duduk di depan Niko.


Ya, Nia diam-diam memandangi Satya yang duduk di depan Niko.


Ia melihat Dosennya itu bercengkerama hangat dengan Bu Mega. Terlihat seulas senyum yang tersungging dari bibirnya.


Dan entah mengapa Nia tidak suka melihatnya. Cemburu, ya tentu saja ia cemburu. Meskipun ia tahu dengan pasti bahwa ia tidak berhak untuk cemburu.


Nia hanya berani memandangi punggung Satya. Karena memang hanya itu yang bisa lakukan, apa lagi yang ingin ia harapkan??!!


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readersku tercinta,terimakasih untuk selalu mengikuti novel Author ini ya,


Jangan lupa like dan komentarnya ya, supaya Author lebih semangat nge halu terus.


Terimakasih.


.

__ADS_1


__ADS_2