
Mama Dessy mendorong kursi roda Nia, memasuki rumah yang selama ini ia kenal. Rumah tempat ia dibesarkan. Rumah yang seharusnya tidak asing baginya.
Tidak banyak yang berubah, masih sama seperti kemarin saat Nia berangkat ke kampus untuk pertama kalinya. Itulah hal pertama yang ia rasakan saat memasuki rumahnya.
Namun entah mengapa, ia masih merasa suatu kekosongan dan kehampaan jauh di lubuk hatinya. Terasa janggal, seperti ia sudah melewatkan sesuatu hal yang penting.
“Nia, sayang… sebelum kakimu sembuh, kamu istirahat di kamar bawah dulu ya… Bik Tini sudah menyiapkannya untukmu.” Ucap Mama Dessy.
“Iya ma…” jawab Nia gamang.
“Kamu kenapa sayang…??? Ada yang sakit…??” tanya Mama Dessy seakan mengerti perasaan Nia.
“Cuma merasa sedikit pusing saja, Ma….” Jawab Nia.
“Ayo mama antar ke kamar… kamu masih harus banyak istirahat.” Pungkas Mama Dessy.
“Iya ma…”
Nia pun menghabiskan waktunya untuk beristirahat di kamar. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Apalagi jika ia terlalu memikirkan sesuatu hal yang ia sendiri tidak tahu apa itu. Semuanya masih terasa membingungkan baginya.
Keesokan paginya semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Hanya Tiara yang masih belum keluar dari kamarnya. Nia sudah sedikit terlihat ceria walau jelas nampak wajahnya masih pucat.
“Selamat pagi semuanya…!!! Pagi pa, ma… “ sapa Tiara yang baru saja bergabung ke ruang makan.
“Pagi sayang..” jawab Mama Dessy.
“Pagi Kak Nia…” sapa Tiara.
“Pagi juga Tiara… lho, Tiara…??!!” pekik Nia yang terkejut saat melihat Tiara.
“Kenapa kak…?? Kok kaget gitu lihat Tiara….??” Tanya Tiara yang kebingungan.
Nia terdiam seribu bahasa dengan tatapan matanya yang masih melihat tajam ke arah Tiara.
“Tiara… kamu…???” Nia bahkan sampai tidak bisa meneruskan kata – katanya.
Mata Tiara seakan menunggu pertanyaan dari kakaknya yang justru terhenti di tengah jalan.
“Kamu kenapa pakai seragam SMA…??? Bukannya kamu masih SMP…??” tanya Nia.
Kini berbalik Tiara yang bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan kakaknya itu. Tiara berbalik menatap papa dan mamanya untuk mencari solusi jawaban yang tepat.
“Nia… nanti mama jelaskan ya..?? sekarang kita sarapan dulu yuk…!! Tiara, cepat kamu duduk…” ucap Mama Dessy kemudian.
Nia pun mengangguk setuju meskipun berjuta pertanyaan menghinggapinya. Namun Nia memilih tidak terlalu memikirkanya. Karena ia mulai sedikit memahami, jika ia merasa terlalu lelah berpikir maka kepalanya akan langsung terasa pusing.
Setelah selesai sarapan, Pak Wijaya dan Tiara pun pamit untuk melanjutkan aktivitasmereka. Tiara yang harus berangkat sekolah sedangkan Pak Wijaya yang masih harus mengantar putri kecilnya itu sebelum ke kantor.
“Ma… Nia, kita berangkat dulu ya..” ucap Pak Wijaya berpamitan yang tak lupa untuk mencium kening istrinya.
“Tiara juga ma… kak..” Pamit Tiara yang mencum takzim punggung tangan mama dan kakaknya.
“Hati – hati di jalan ya…!!!” ucap Mama Dessy.
Mobil yang dikendarai Pak Wijaya dan Tiara pun perlahan keluar meninggalkan kediaman mereka. Mama Dessy dan Nia yang tetap duduk di kursi roda pun masih berdiri di depan teras hingga mobil mereka benar – benar keluar dan hilang dari pandangan mata.
Sesaat kemudian Mama Dessy dan Nia kembali masuk ke dalam rumah. Baru juga mereka membalikkan badan, sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka yang membuat Mama Dessy menghentikan langkahnya.
“Sepertinya ada tamu….” Ucap Mama Dessy.
“Siapa yang bertamu pagi – pagi begini, ma…” tanya Nia yang juga penasaran.
“Entahlah… kita lihat saja siapa yang turun dari mobil.” Ucap Mama Dessy berbohong. Karena sebenarnya dia hafal pemilik mobil tersebut.
Sesosok laki – laki turun dari mobil lalu melangkah mendekati mereka berdua.
__ADS_1
“Selamat pagi,ma…” sapa Satya yang mencium takzim punggung tangan Mama Dessy.
“Selamat pagi juga Satya…” jawab Mama Dessy.
“Selamat pagi, Nia….” Sapa Satya.
Nia hanya mengangguk tersenyum. Ia melemparkan tatapan aneh pada Satya, sepengetahuannya dia adalah salah satu dosen kampusnya tapi mengapa ia sangat dekat dengan mamanya…?? Bahkan ia juga memanggil orang tua Nia dengan sebutan Mama….
“Apa dia laki – laki penggoda yang sengaja mendekati mama…?? Kenapa dia senyum – senyum…?? Dia juga sering datang ke rumah sakit tempo hari…” batin Nia curiga.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang keluarga.
“Satya, kamu sudah sarapan…?” tanya Mama Dessy.
“Sudah ma… terimakasih…” jawab Satya.
“Ma…. Nia ingin bertanya sesuatu…” ujar Nia.
“Iya… ada apa sayang..??” tanya Mama Dessy.
Nia sejenak terdiam. Ia melihat Satya lalu sejurus kemudian melihat Mamanya.
“Katakanlah… tidak apa – apa…” senyum Mama Dessy menyiratkan ia tahu maksud Nia.
“Bukankah mama harus menjelaskan sesuatu…?? Soal Tiara…??” ucap Nia.
“Tiara…??? Ada apa dengan Tiara, ma…??” tanya Satya.
Mama Dessy terdiam sejenak. Lalu menarik nafasnya berat.
“Baiklah Nia… mama akan menjelaskan sesuatu kepadamu. Mama harap kamu tidak terkejut dan bisa menerimanya.” Kata Mama Dessy dengan hati – hati.
Nia mengangguk tampak serius ingin mendengarkan penjelasan mamanya.
“Berakhir 3 tahun lalu…??” ucap Nia yang kebingungan.
“Iya sayang… sekarang, saat ini umurmu sudah hampir 22 tahun, dan kamu sudah semester 6….” Lanjut Mama Dessy.
“Maksud Mama bagaimana..?? Nia gak ngerti ma… jelas – jelas kemarin Nia ikut ospek hari pertama ma…!!” kata Nia
Mama Dessy menatap nanar putrinya, ia bingung bagaimana harus menjelaskan dengan baik kondisi putrinya saat ini. Ia takut Nia akan terluka.
“Nia sayang… kecelakaan yang kamu alami kemarin selain mengakibatkan kakimu seperti itu,juga berakibat cedera di dinding otakmu. Dan itu yang membuatmu amnesia, seperti ini….” Jelas Mama Dessy perlahan.
“Amnesia…?? Nia…??”
“Ingatanmu mundur 3 tahun tepat saat kamu baru mengikuti ospek. Jadi kamu lupa semua kejadian selama 3 tahun belakangan ini, sayang….” jelas Mama Dessy.
“Gak mungkin ma… itu jelas – jelas tidak mungkin…” lirih Nia pedih.
Tiba – tiba saja kepalanya terasa sangat pusing dan berat. Pandangannya tampak nanar dan seakan samar menghilang.
“Nia… nia… kamu tidak apa – apa, sayang…??” tanya Mama Dessy yang melihat Nia terus saja memegangi kepalanya.
“Ayo sayang, mama antar kamu ke kamar. Maafkan mama sayang, hal ini pasti sangatmengagetkanmu…” ucap Mama Dessy yang kemudian berdiri dan hendak mendorong kursi roda Nia.
Namun dengan sisa tenaga yang ia miliki, Nia menepis tangan mamanya dan dengan sekuat tenaga ia mendorong sendiri kursi rodanya.
“Nia…” lirih Mama Dessy.
Satya pun yang sejak tadi duduk diam berdiri beranjak dari tempat duduknya. Memberi kode kepada Mama Dessy untuk tenang dan kembali duduk.
“Mari saya antar ke kamar…” ucap Satya dan langsung mendorong kursi roda Nia.
Nia terdiam seribu bahasa saat Satya mendorong kursi rodanya hingga ke kamar. Saat hendak menggendong Nia untuk memindahkannya ke ranjang, Nia menepis keras tangan Satya.
__ADS_1
“Kaki saya cedera, bukan lumpuh…!! Saya bisa sendiri, terimakasih…” ucap Nia sinis.
Satya tersenyum manis. Dia masih Nia yang mandiri…
“Tapi ngomong – ngomong Pak dosen ini siapa..?? kenapa sangat dekat dengan keluarga saya…?? Bahkan waktu itu bapak sering ke rumah sakit.” Tanya Na masih dengan nada ketusnya.
“Bapak selingkuhan mama saya ya…??” tebak Nia yakin.
Satya tertawa mendengar perkataan Nia. Tawa yang sudah cukup lama menghilang sejak Nia terbaring sakit.
“Satya…nama saya Satya… dan seperti yang kamu bilang, saya adalah dosen, Dosen di kampusmu.” Ucap Satya.
“Benarkah…?? Kenapa memanggil mamaku juga dengan sebutan mama..?? kenapa bapak baik sekali dengan keluarga saya…??” cecar Nia.
“Aku akan membantumu belajar selama sakit ini, selama kamu belum mengingat kembali materimu.” Ucap Satya masih dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
“Tuh kan.. bapak baik banget…!! Jangan – jangan bapak penyebab saya seperti ini..?? dan bapak seperti ini karena merasa bersalah…!!” tebak Nia lagi.
Seketika raut wajah Satya berubah. Kepalanya tertunduk dan wajahnya menyiratkan kesedihan.
Nia yang awalnya terkesan ketus pun sedikit merasa menyesal dengan ucapannya yang menurutnya mungkin menyinggung perasaan dosennya itu.
“Saya ingin istirahat pak….” Ucap Nia kemudian.
Satya seakan tersadar dan kembal menatap wajah Nia.
“Iya, kamu harus banyak istirahat… jangan terlalu banyak berpikir ataupun berusaha mengingat – ingat sesuatu. Istirahatlah saja… ya…??” ucap Satya.
“Baik pak…”
“Saya akan kembali lagi besok…” pamit Satya dengan senyum manisnya.
Nia mengangguk patuh, melihat dosennya itu keluar dari kamarnya. Ada perasaan kehilangan yang menyeruak saat dosen yang kini dikenalnya dengan nama Satya itu pergi.
Namun tidak ingin ambil pusing dan memilih untuk tidur.
Keesokan harinya, seperti yang ia janjikan, Satya pun kembali datang ke rumah Nia.
Satya datang untuk mengantar Nia kontrol sekaligus terapi fisik kakinya. Satya memang datang agak siang karena masih harus memberi materi kuliah, walaupun ia sebenarnya juga tidak terlambat karena masih ada waktu satu jam sebelum waktu janji dengan dokter.
Mobil Satya terparkir dengan sempurna di halaman rumah mertuanya itu. Sepintas Satya melirik mobil yang juga terparkir di sebelahnya. Entah mobil siapa itu, yang pasti ia yakin itu bukan mobil milik keluarga Nia.
Satya memilih tidak ambil pusing dan memilih untuk segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Saat Satya hendak masuk dan mengucapkan salam. Satya tampak terkejut karena melihat Niko yang sedang mendorong kursi roda Nia kearahnya.
“Nia…??”
“Eh Pak Satya…”
“Kamu mau kemana…??” tanya Satya yang melirik Nia dan juga Niko yang juga berdiri di belakang Nia.
“Niko menawarkan diri untuk menemani saya kontrol ke rumah sakit, Pak…” jawab Nia lugas.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1