
Nia kini sedang dalam perjalanan ke kampusnya bersama Niko. Semenjak hari itu, hampir tiap hari Niko selalu menyempatkan diri berangkat dan pulang kampus bersama Nia.
Meskipun masih terselip rasa canggung diantara mereka namun Nia tidak menolak ajakan Niko, karena ia sudah berjanji akan mencoba menjalani hubungan dengan Niko, toh ia juga tidak mungkin berharap pada Satya, jadi apa salahnya mencoba.
“Nanti loe jadi bimbingan dulu..??” tanya Niko yang masih fokus mengemudikan mobilnya.
“Iya jadi, loe gak usah nungguin gue, gue nggak tahu selesai jam berapa, lagian gue mesti ke perpus dulu, ada yang harus gue cari.” Ucap Nia berusaha untuk biasa saja.
“Oke, kalau gitu ntar habis dari perpus telepon gue aja. Biar gue jemput.” Kata Niko.
“Gak usah Nik, gue pulang sendiri aja. Gak enak ngrepotin loe.” Kilah Nia yang sebenarnya merasa enggan jika setiap hari harus diantar jemput oleh Niko.
“Kayak ama siapa aja sih loe.. lagian gue juga gak ngerasa direpoti kok.” Desak Niko.
“Gak usah Nik, gue pulang sendiri aja.”
“Gue jemput.” Potong Niko.
“Nik....” ucap Nia dengan penuh penekanan.
“Oke... oke.. sorry..” ucap Niko yang pada akhirnya menyerah.
Keheningan kembali menemani mereka berdua sepanjang perjalanan ke kampus. Hingga mobil Niko memasuki pelataran kampus.
Nia hendak keluar dari dalam mobil, ketika Niko tiba – tiba memegang tangan Nia.
“Nia, thankyou ya..” Niko tersenyum tulus, seraya mengelus lembut puncak kepala Nia.
Nia hanya mengangguk, mencoba untuk tersenyum seraya turun dari mobil yang di tumpanginya.
****
Waktu sudah menunjukan pukul 14.30 saat kelas terakhir Nia hari ini selesai. Rasanya ingin sekali Nia segera pulang melepaskan penatnya. Namun hal itu ia urungkan karena hari ini, ia masih ada jadwal untuk bimbingan magangnya.
Apalagi Dosen pembimbingnya kali ini adalah Pak Satya, seseorang yang selalu mengisi relung hati Nia selama ini.
Meskipun hatinya telah terluka, memaksakan diri untuk mengubur rasa cinta nya dalam – dalam. Namun tidak bisa ia pungkiri, rasa itu telah lama berdiam di hatinya.
Rasa ingin bertemu, ingin melihatnya, mendengar suaranya, masih tertanam kuat di hati Nia.
Hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk mencintai, tapi tidak akan semudah itu untuk melupakannya. Akan butuh banyak waktu dan airmata.
Ttok... Ttokkk.... Ttookk
__ADS_1
“Silakan masuk.” Satya menghentikan sejenak pekerjaannya, menanti siapa gerangan yang berada di balik pintu.
“Permisi pak... Maaf saya mengganggu, hari ini jadwal saya bimbingan pak.” Ucap Nia berhati-hati.
“Duduk dulu Nia, saya sudah menunggu kamu dari tadi.” Ucap Satya menunjuk sofa yang ada dikantornya.
Nia duduk disofa yang dipersilahkan Satya, sedangkan Satya nampak masih membereskan setumpuk kertas yang berserakan di atas meja kantornya.
“Santai aja Nia, buat diri kamu nyaman.” Ucap Satya yang melihat ketegangan di wajah Nia, seraya ikut duduk di sofa single dekat Nia.
“Iyaa pak.” Ucap Nia.
Dan masih saja jantung Nia berdegup dengan kencang. Bahkan jantungnya saja tidak bisa berbohong, bahwa ia masih merasa adrenalin memacu dengan cepat saat berdekatan dengan pemilik hatinya.
Cinta itu masih bersemayam dengan kuat di dalam hati Nia.
Bimbingan Nia kali ini berjalan dengan lancar dan kondusif, walaupun Nia harus bersusah payah mengatur degup jantungnya. Apalagi saat Satya menerangkan sejumlah materi, aura yang terpancar membuat Nia harus benar – benar berkonsentrasi jika tidak ingin membuat kekonyolan yang memalukan.
Satya pun bisa berlaku sangat profesional terhadap Nia, sama seperti sikapnya kepada mahasiswa yang lain. Seperti tidak terjadi apa – apa diantara mereka.
Nia bisa bertanya tentang materinya tanpa beban, begitu pula Satya, akan menjawabnya dengan senang hati.
“Saya senang kamu menjadi salah satu mahasiswa yang saya bimbing.” Ucap Satya saat mereka telah mengakhiri sesi bimbingan.
Nia tersenyum mendengar penuturan Satya, hatinya seketika menghangat mendapatkan pujian dari Satya. Namun hatinya juga pilu di saat yang bersamaan. Karena ia teringat pada wanita yang ia lihat tempo hari di restoran, juga teringat pada Niko.
"Gak usah ngarep Nia.... gak usah ngarep..." batin Nia mencoba menenangkan hatinya.
“Tapi kenapa saya merasa akhir – akhir ini kamu terlihat berbeda ya,Nia..?? apa kamu ada masalah...??” tanya Satya menelisik
“Saya terlihat bagaimana, pak...??”
“Entahlah, tapi saya merasa kamu lebih pendiam dari biasanya.” Ujar Satya serius menatap lekat ke manik mata Nia.
Nia terdiam terpaku, membalas tatapan lekat Pak Satya, ingin rasanya ia menumpahkan segala rasa. Namun hanya semakin pilu yang ia rasa.
“Saya hanya tidak ingin terluka lebih dalam.” Ucap Nia lirih menundukkan kepalanya, menahan airmata nya yang ingin tumpah.
Satya terdiam mendengar jawaban Nia. Raut wajahnya menyiratkan tanda tanya.
Satya pun mengakhiri sesi bimbingannya, karena masih ada satu kelas yang harus diampu. Nia pun pamit undur diri, keluar dari ruangan Satya.
Nia berencana mampir ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku, sebelum pulang. Cukup lama Nia berada di perpustakaan. Mencari dan memilah buku-buku yang akan dipinjamnya.
__ADS_1
"Harusnya ada di rak sini sih.. mana ya...???" ucap Nia pada dirinya sendiri yang masih sibuk mencari - cari buku di salah satu rak, di sudut perpustakaan.
“Kayaknya itu buku ada yang minjem deh, apa gue beli aja ya...??? gak keburu juga nunggu itu buku sampe dibalikin yang minjem.” Gumam Nia saat tidak menemukan satu buku yang dia cari.
Nia akhirnya meninggalkan perpustakaan dengan beberapa buku di tangannya. Rencana Nia selanjutnya, ia akan pergi ke toko buku sebelum pulang kerumahnya. Membeli buku yang tidak bisa ia temukan di perpustakaan tadi.
Baru saja Nia menuruni anak tangga yang mengarah ke depan kampus, hujan turun dengan sangat deras disertai angin yang kencang.
Hujan yang tiba-tiba membuat anak-anak lain yang kebetulan ada di pelataran kampus berlarian mencari tempat untuk berteduh ataupun kembali masuk ke gedung kampus.
Anak –anak yang berlarian tanpa sengaja menabrak Nia hingga semua buku-bukunya jatuh berserakan.
Brakkk...!!!!
“Aduuuh... hati - hati donk..” ucap Nia sambil mengambil buku-bukunya yang berserakan di lantai.
Sedangkan orang yang menabraknya hanya say sorry sambil terus berlari masuk ke dalam gedung kampus.
Nia mendengus kesal.
"Dasar...!!!" umpat Nia yang bahkan tidak di dengar oleh orang yang menabraknya.
“Kamu tidak apa-apa...??” tanya seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Nia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Hai Readers, ini adalah karya pertama Author. Mohon maaf jika masih agak kaku ya.
Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.
__ADS_1
Terimakasih.