
"Kami saling mencintai sejak dulu hingga sekarang. Kami pernah bertemu beberapa kali setelah dia bersama Gwen. Meskipun dia selalu mengelak, namun aku tau, masih ada rasa tersimpan untukku." Ucap Jane.
Laura menatap tajam pada Jane saat mendengar Jane. Kesibukan Gwen dulu, terkadang membuat mereka harus rela menjalani hubungan jarak jauh, namun mereka tetap saling kontak melalui video call.
"Mengapa kamu tetap mencari Ben saat ia telah bersama Gwen?"
"Hei, Laura, mengapa kamu seemosi ini? Ada apa kamu dengan Ben sebenarnya?" Tanya Jane dengan heran.
Laura terdiam, jiwanya sebagai Gwen merasa teramat patah hati mendengar penuturan Jane. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Ben selalu tampak baik di depannya, namun ia tahu ada banyak hal yang sepertinya tak ingin ia bagi.
"Jane, mengapa dulu kamu meninggalkan Ben? Padahal kalian saling mencintai. Kamu telah membuatnya patah hati dan terluka karena pernikahanmu." Tanya Laura yang telah berhasil menguasai emosinya.
Jane menatap sekelilingnya, ia mendengar suara Rendy dan Alina tertawa, dan berada di kamar Oma sedang bersenda gurau.
"Saat malam menjelang ulang tahun Ben, aku memberikan kejutan untuknya. Ben tinggal di kost, saat sekolah dulu. Aku dan Ben memang pernah melakukan hubungan intim sebelumnya, namun hanya sekedar flitring dan bermain-main. Namun, malam itu, kami melakukannya lebih. Saat itu usia Ben genap 17 tahun. Aku sangat mencintainya, dan rela memberikan miliki yang berharga untuknya malam itu." Kenang Jane, Laura mendengarkan dengan seksama tanpa berkomentar apapun. Radit juga ikut menyimak.
"Malam itu dalam pelukannya, aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Meskipun terdengar bodoh dan naif, namun sampai sekarang akupun masih tetap merasakan hal yang sama.
Ben, berjanji akan mencintaiku selamanya, dia akan menikahiku, beberapa tahun ke depan, setelah ia menggapai impiannya menjadi seorang pengacara. Saat itu ia sedang berusaha untuk mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri.
Ia berjanji malam itu, akan menikahiku setelah studinya selesai. Aku percaya pada Ben." Lanjut Jane.
"Bagaimana kamu mempercayai?" Tanya Laura.
__ADS_1
"Aku mengenalnya sejak kecil, Ben adalah teman masa kecilku. Dulu, Mama papaku tinggal di Bogor, rumah ku tepat di samping rumah Ben. Saat aku kelas 4, Papa pindah ke Jakarta, membantu bisnis Papanya Radit. Saat kami berpisah, Ben berjanji akan bersekolah di Jakarta, bersamaku. Kami sering berkirim surat sejak saat itu, hingga menjelang ujian kelulusan, Ben tidak mengirimiku surat lagi. Aku sangat sedih saat itu. Tapi aku tetap mengiriminya surat, mengatakan kalo aku masuk ke SMA favorit di Jakarta. Lagi lagi Ben tak memberi balasan apa apa. Hingga tahun ajaran baru dimulai. Saat ospek, dia mengejutkanku. Ternyata dia juga bersekolah di sana. Dia ingin memberiku kejutan, dengan tak membalas suratku. Dari situ aku percaya, dia adalah lelaki yang baik. Dia menepati janjinya untuk bersekolah denganku, lalu dia mengatakan bahwa ia menyukaiku." Cerita Jane.
"Lalu mengapa kamu meninggalkannya, setelah itu?"
"Satu bulan setelah malam ulang tahunnya, aku sakit. Muntah muntah dan tubuhku drop. Kamu tau gejala apa?" Tanya Jane sambil menatap Laura.
"Kamu hamil?" Tanya Laura.
"Ya, aku hamil. Kamu bisa bayangkan perasaanku saat itu? Orang tuaku pasti akan marah. Aku menceritakan semua pada Radit. Lalu Radit punya ide gila waktu itu. Kebetulan saat itu teman kakaknya, seorang pengusaha di Surabaya sedang melakukan bisnis di Jakarta. Saat itu kakaknya Radit dan pengusaha itu peegi ke sebuah klab malam di sebuah hotel berbintang. Radit mengajakku ke sana, dia mengenalkanku padanya juga, lalu setelah berkenalan, karena dalam pengaruh alkohol, akhirnya aku dan pengusaha itu tidur bersama. Lalu aku menceritakan kehamilanku pada keluargaku, dan akhirnya kami menikah. Ya, pengusaha itu, adalah suamiku."
"Kamu egois Jane!" Ucap Laura dengan ketus, membuat Radit terperanjat.
"Mengapa?" Tantang Jane.
Jane terdiam sesaat menundukkan kepalanya, lalu mengambil napas dalam-dalam sebelum mengatakan alasannya.
"Aku tidak ingin menjadi penghalang Ben menggapai cita citanya. Aku mendukungnya, aku mencintainya." Jawab Jane.
"Cinta? Kamu tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi saat kamu berbicara jujur pada Ben. Dia akan bertanggung jawab, atau meninggalkanmu. Tapi kamu memilih, tidak jujur padanya dan memilih meninggalkannya. Kamu yang telah memilih Jane, bukan Ben. Lalu jika Gwen masih hidup, lalu Ben menikah dengannya, dan rumah tanggamu berantakan, apa kamu akan menggangunya?" Tanya Laura.
Jane terdiam, matanya mulai berkaca-kaca, saat mendengar ucapan Laura.
"Ya, aku egois! Tapi aku tak punya pilihan lain waktu itu." Ucapnya berat menahan tangisnya.
__ADS_1
"Aku yang mempengaruhi dan memberi ide gila itu." Ucap Radit.
"Lalu, Rendy adalah anakmu dengan Ben?" Tanya Laura dengan nada mulai melunak.
"Ya. Alina putriku dengan suamiku. Lama lama aku pun mulai bisa menjalani kehidupanku. Lalu tiba-tiba, perselingkuhan suamiku terbongkar, rasanya tetap sakit, meskipun awalnya tanpa cinta." Ucap Jane.
"Jika tanpa cinta mengapa kalian bisa memiliki Alina? Kan bisa saja kamu suruh suamimu memakai pengaman, atau kamu meminum pil KB." Ucap Laura sambil tersenyum sinis.
Jane hanya diam saja. Ia mengaku salah kali itu.
"Apa Ben tau masalah ini?" Tanya Laura.
"Belum. Aku takut akan akibatnya. Bukan untuk diriku atau Ben, tapi pada Rendy. Aku belum siap mengatakanmya pada putraku." Ucap Jane sambil terisak.
Laura menghela napas panjang, lalu ia berdiri.
"Aku ingin pulang, Dit. Biarkan aku sendiri dulu saat ini. Sampaikan salam untuk Oma." Pamit Laura.
Laura bergegas keluar dari rumah itu, diikuti oleh Radit.
"Ada apa La?" Tanya Radit yang masih bingung.
"Aku ingin sendiri dulu kali ini Dit." Jawab Laura.
__ADS_1
Tak lama mobil pesanan Laura tiba, dan ia segera masuk, meninggalkan Radit.