
"Ternyata tempat favoritmu di sini sekarang." Ucap Dirga sambil duduk di bangku yang ada di rooftop gedung kantor milik Mamanya itu.
"Ngapain cari aku?" Tanya Laura sambil memakan sandwich bekal makan siangnya.
"Lisa meminta break." Jawab Dirga pasrah sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
"Wajar dia meminta itu. Kamu benar benar keterlaluan, Ga! Jika boleh jujur, pingin kutonjok mukamu itu." Ucap Laura jujur.
"Jadi kamu ga ada perasaan sedikit pun padaku?" Protes Dirga. Membuat Laura terhenyak dan menghentikan acara makan siangnya.
"Perasaan padamu?" Laura mengulang ucapan Dirga.
"Oh, Dirga. Dengar, aku tegaskan tak ada. Itu hanya masa lalu saja. Aku rasa waktu itu, kita, terutama aku hanya terpengaruh oleh minuman setan itu. Dan membuatku menyesal seumur hidup. Lupakan saja! Aku juga tak ingin mengingat kembali. Kita harus terus melangkah, melanjutkan hidup kita masing masing. Aku dengan pilihanku, dan kamu dengan pilihanmu." Laura menegaskan tentang perasaannya terhadap Dirga.
"Ya, jujur. Sebenarnya saat ini aku masih memikirkan Lisa. Dia perempuan yang bisa membuatku merasa yakin untuk berkomitmen. Hingga, sakit kepala itu muncul, dan ingatanku kembali lagi. Itulah yang membuat aku bimbang. Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu bersamamu, tapi di sisi lain, aku mencintainya." Ungkap Dirga.
"Lalu sekarang?"
"Aku masih mencintainya." Jawab Dirga sambil menerawang menatap langit biru.
"Kalian masih break, belum break up. Berjuanglah! Dekati dia kembali, namun kali ini lebih smooth. Biarkan dulu dia sendiri untuk saat ini, mungkin dia hanya ingin fokus pada syuting film terbarunya besok." Laura memberi semangat pada Dirga.
"Ya. Setiap kali aku ada masalah, kamu selalu dapat memberikan saran, bahkan dukungan untukku. Aku sangat malu padamu, La." Dirga menutup wajahnya dengan tangan.
"Sudahlah. Kita fokus dulu untuk pekerjaan kita. Masih banyak pr yang harus kita kerjakan untuk perusahan ini."
"Ya."
Mereka beranjak dari tempat favorit itu untuk kembali ke ruangan masing masing untuk melanjutkan pekerjaan kembali.
***
__ADS_1
"Hai Lis, kenalin ini Nova. Dia talent baru agensi kita." Ucap Mas Andre sambil mengenalkan artis pendatang baru itu.
Seorang perempuan berparas ayu, memiliki kulit kuning langsat, untuk tingginya sama dengan Lisa kurang lebih, memiliki rambut panjang terawat bak bintang iklan shampo, dan memiliki lesung pipit, menambah manis wajahnya saat tersenyum.
"Hai, gue Lisa." Lisa menyapa anak baru itu sambil menyambut uluran tangannya.
"Nova." Balasnya.
"Dia akan membintangi sinetron baru, bareng Monik. Ntar biar Anita yang urus jadwal mereka soal sinetron. Buat gue fokus bantu ngurus jadwal Lo selama syuting di Yogya." Terang Mas Andre, sang manager.
"Oh, Kak Lisa mau ke Yogya?" Tanya Nova dengan sopan.
"Ya, kebetulan setting tempatnya di sana, lusa berangkat ke sana. Eh, umur Lo berapa?" Tanya Lisa.
"Saya 25 tahun, Kak." Jawabnya.
"Nah, jangan panggil Kak. Kita ini seumuran, tau. Berasa tua dipanggil Kak." Pinta Lisa, Nova tersenyum mendengar permintaan Lisa.
"Kapan datang ke Jakarta?" Tanya Lisa pingin tau lebih jauh tentang Nova.
"Sebenarnya saya cuma iseng, posting foto di ig, terus ada yang DM nawari endors. Setahun belakangan lah mulai diseriusin, sejak lulus kuliah. Sebulan yang lalu ada casting audisi pemain film di Bandung, ikut, terus lolos. Bingung awalnya, ternyata dulu pernah dapat tawaran promoin produk Madam Lulu. Nah, saya DM ke manager Madam Lulu, minta tolong saya, yang masih baru ini. Apalagi ga ada saudara di sini. Terus Mas Andre yang balas, langsung menghubungi, dan disuruh langsung kemari. Bersyukur sekali saya bisa bergabung di sini, managementnya jelas, pembagian fee nya jelas, ada surat kontraknya juga." Cerita Nova.
"Wow, sungguh berani sekali kamu, kemari sendiri. Mengapa tidak kerja sesuai jurusan kuliah? Gak sayang?" Lisa penasaran.
"Dulu sempat magang di kantor hukum di Bandung. Tapi sepertinya, bukan panggilan hati. Saya lebih senang bekerja di dunia hiburan." Jawabnya.
"Ohh, pengacara?" Tanya Lisa.
"Saya kuliah hukum, tapi sepertinya menjadi pengacara, bukan pasion saya."
"Tapi dunia artis ini ga seindah yang terlihat loh, Nov. Dunia artis ini kejam, kita harus benar benar harus bisa jaga diri." Lisa memberi wejangan pada Nova.
__ADS_1
"Dunia hukum sama. Bahkan lawannya ga main main, terkadang nyawa taruhannya. Aku ga sanggup menjalani hidup jadi pengacara, meskipun dulu lulus cumlaude." Ucapnya sambil tersenyum sinis.
"Iya, setiap pekerjaan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti kita harus bahagia menjalani setiap pekerjaan yang kita lakukan."
"Kamu salah satu idolaku." Ucap Nova.
Lisa langsung menatap Nova tak percaya.
"Serius. Dulu aku pikir dirimu hanya bayang bayang ilusi dari Gwen, tapi ternyata dirimu masih eksis sampai saat ini, bahkan genre film yang dimainkan bermacam-macam."
Lisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Nova.
"Gwen yang membuat aku seperti ini. Awalnya sempat down, namun, setelah dipikir pikir, pasti Gwen juga sedih kalo aku lama lama sedihnya. Jadi sebenarnya dia yang membuatku kuat dan bertahan. Semangatnya."
Nova terkesima dengan penuturan Lisa mengenai Gwen.
"Ya, Gwen juga merupakan artis yang keren dan berbakat, sayang Tuhan memanggilnya dalam usia muda." Ucap Nova penuh simpati.
"Terima kasih, Nova. Selamat bergabung di team kami. Semoga betah di sini. Jika ada apa apa kamu bisa minta tolong ke Anita atau Mas Andre. Atau kita kita artis management ini. Jangan sungkan, kita sudah seperti satu keluarga." Ucap Lisa dengan ramah. Membuat Nova merasa sangat senang dan dihargai.
Setelah berbasa-basi dengan Mas Andre, Anita, dan artis lain, Lisa pamit untuk pulang. Ia ingin mempersiapkan dirinya untuk keberangkatan ke Yogya Lisa. Besok ia sengaja meliburkan diri untuk packing.
Lisa sengaja berangkat ke Yogya lebih dahulu. Mereka telah menyewa sebuah rumah di sana sebagai tempat tinggal sementara selama syuting. Kebetulan selain Lisa ada dua artis lain yang bermain di film yang sama. Jadi Mas Andre dan yang lain berangkat setelah Lisa.
Beberapa barang bawaannya, ia titipkan pada Mas Andre karena ia pergi menggunakan mobil pribadi. Lisa ingin berangkat menggunakan kereta api, karena seumur umur belum pernah naik kereta api.
Lisa beralasan ingin mengenal kota Yogya sebelum proses syuting dan beradaptasi dengan lingkungan di sana. Padahal sebenarnya ia telah janjian dengan Dewa.
Lisa telah memikirkan berulang kali hubungannya dengan Dirga. Ia merasa perlu waktu untuk introspeksi kembali perasaannya dan masa depan. Dia memutuskan untuk break dengan Dirga saat itu, entah sampai kapan.
Dewa hadir saat kacaunya hubungan Lisa dan Dirga, bagai gayung bersambut, mereka saling merespon, Dewa berjanji akan menjemput Lisa di stasiun saat tiba di Yogya dan menjadi guide selama berada di sana.
__ADS_1