Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 56


__ADS_3

“Tugas…?? Mampus gue…!!!” gumam Nia lirih.


“Kenapa Nia..?” tanya Ayu.


“Gue lupa kalau ada tugas dari Pak Satya.. mana gue belum selesai lagi..” kata Nia.


“Halah.. suami loe juga ini.. bisa lah di nego dikit – dikit..” ucap Nindya.


“Gitu ya, Nin..?? tapi gue rasa gak bakalan bisa deh… bagaimana pun kan doi killer banget kalau masalah kampus.” Ucap Nia.


“Coba dulu aja, tunjukin pesona maut loe…” goda Nindya mengedipkan sebelah matanya.


Setelah mata kuliah yang kedua selesai, Nia pun berniat ke ruangan Satya untuk mengumpulkan tugas teman – temannya tadi sekalian meminta keringanan karena belum menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.


Nia melangkahkan kakinya menyusuri koridor kampus menuju ruangan Satya. Meskipun dosen killer itu sudah berstatus suami resminya, namun jantung Nia masih saja berdegup kencang.


Bukan karena gugup bertemu dengan pujaan hati, namun lebih karena bingung mencari alasan yang tepat karena belum menyelesaikan tugas.


Dosen killer yang tidak pernah mentolerir ketidakdisiplinan dalam bentuk apapun itu sudah terlanjur tersemat pada diri Satya.


Tok.. tok.. tok..


“Masuk..!”


Nia perlahan membuka pintu ruangan Satya.


“Kelasmu sudah selesai, Nia…??” sapa Satya.


Nia hanya mengangguk dalam diam.


Nia berjalan menuju meja suaminya itu lalu menumpuk sejumlah kertas yang berisikan tugas teman – temannya.


“Ini tugasnya, Pak.” Kata Nia


Satya mengangguk, “ oke, taruh aja di meja…”


Nia masih berdiri menundukkan kepalanya di hadapan Satya.


“Kenapa Nia…??” tanya Satya.


“Begini pak… eeee… begini… tugas saya belum selesai pak.. saya mau minta tambahan waktu pak…” ujar Nia terbata – bata.


Satya terdiam, memandangi wajah istrinya dengan tatapan serius.


Nia yang diam – diam mencuri pandang itu semakin bergidik ngeri melihat tatapan suaminya itu.


“Maafkan saya pak… saya benar – benar lupa dengan tugas saya karena saya kemarin sangat sibuk pak…” ucap Nia


“Lupa…??!!! Sibuk…??!!!”


“Iya pak… saya sibuk menata hati saya karena akhirnya bisa menikah dengan orang yang saya cintai pak… dan saya lupa karena terlalu bahagia menghabiskan waktu bersama suami saya..” ucap Nia berusaha menggoyahkan hati Satya.


Satya menelan saliva dengan susah payah.


“Sial… alasannya sangat menggemaskan…!!!” batin Satya.


Satya pun beranjak dari kursinya, mendekati Nia.


“Saya kalah… alasanmu saya terima karena kamu sepertinya sangat mencintai suamimu itu.” Ucap Satya berbisik di telinga Nia.


Nia langsung mengangkat wajahnya dengan sumringah.


“Terimakasih pak… terimakasih…” ucap Nia

__ADS_1


“ Hanya ucapan saja…??”


Nia pun mengecup kedua pipi Satya.


Cup


Cup


Satya tampak menyembunyikan senyumnya dan masih berlagak sok cool.


“Eh… tapi jangan girang dulu..saya beri kamu tambahan waktu sampai jam 12 malam ini..” ucap Satya tiba – tiba.


Raut bahagia Nia pun mendadak berubah menjadi masam.


“Kok jam 12 nanti malam sih pak…?? Besok siang lah pak… atau besok pagi deh.. ya pak..? ya…???” bujuk rayu Nia.


Satya menggeleng tegas,” Tidak ada tambahan waktu lagi. Jam 12 malam ini, tet!”


Nia memeluk Satya erat,” besok pagi aja ya sayang…??”


Namun Satya tetap pada pendiriannya, tidak terbujuk rayuan maut Nia.


“Jam 12 malam ini, sayaaaaaang…” ucap Satya melepaskan pelukan Nia.


Nia tidak berkomentar dan hanya memanyunkan mulutnya. Sungguh terlihat sangat menggemaskan di depan Satya.


“Ayo kita berangkat…!” ajak Satya kemudian menggamit lengan Nia.


“Mau kemana pak..??”


“Ke kantor bentar dulu kan, baru kita belanja…” ucap Satya.


“Eeeh… tunggu dulu.!! Jangan barengan pak, saya dulu yang keluar. Bapak tunggu disini dulu.”


“Ya sudah, kamu tunggu di parkiran mobil ya sayang.. saya beresin ini sebentar.” Ucap Satya.


“Oke…” Nia pun membalikkan badan berjalan keluar pintu.


Baru 5 langkah Nia melangkahkan kakinya, Satya menarik tangan Nia.membuat Nia sontak berbalik badan dan jatuh di pelukan Satya.


“Jangan manyun gitu donk sayang… bibirrmu justru menggodaku.” Ucap Satya yang langsung saja menyambar bibiir Nia.


Menciumi bibirr manis yang sudah membuatnya kecanduan.


“I love you, Nia prameswari…” ucapnya lalu kembali mencium Nia dengan lembut.


Dan benar saja, kecupan dan kalimat ampuh Satya seakan menjadi mantra jitu yang membuat Nia kembali tersenyum.


“Aku tunggu di parkiran mas, jangan lama- lama…” ucap Nia yang tersipu kemudian berlalu dari ruangan Satya.


Tak lama kemudian Satya dan Nia pun meluncur meninggalkan kamus menuju ke perusahaan milik orang tua Satya yang terletak tidak jauh dari kampus.


“Nanti gak akan lama kan mas…??”


“Bentar doank kok sayang, mas cuma harus mengecek sesuatu.”


Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan perusahaan Satya. Satya yang turun terlebih dahulu dari mobil segera memutar dan membukakan pintu untuk Nia.


Nia sedikit tercengang melihat perlakuan Satya kepadanya.


“Ayo sayang…” ajak Satya menggenggam tangan Nia.


Langkah Nia terhenti lalu melihat jemarinya yang berada dalam genggaman Satya.

__ADS_1


“Kita kan di kantor sayang, bukan di kampus… jadi tidak apa – apa kan…?? Istriku…???” ucap Satya.


Nia mengangguk dan tersenyum tulus.


Keduanya melangkahkan kakinya ke dalam lobi dan langsung disambut tatapan mata yang penuh keingintahuan oleh para karyawan.


Satya tampak tak mempedulikan tatapan para karyawannya dan terus berlalu menuju lift yang khusus diperuntukan bagi para petinggi di perusahaan itu.


Dilantai 15, Satya melangkah menuju ke ruangannya.


“Selamat siang, pak..” sapa seorang wanita cantik.


“Siang Jihan.” Balas Satya kepada sekretarisnya itu.


Jihan melihat kearah Nia dan juga kearah tangan atasannya yang menggenggam erat tangan Nia, dengan tatapan yang cukup penasaran.


“Siapa dia…?? Pacar Pak Satya…? Wah, saingan berat nih…!” batin Jihan.


Satya pun masuk kedalam ruangannya yang tentu saja diikuti oleh Nia.


“Duduklah dulu sayang, buat dirimu nyaman.”


Nia pun segera menjatuhkan dirinya di atas sofa tamu ruangan Satya. Sedangkan Satya duduk dibalik kursi kebesarannya dan langsung memeriksa beberapa berkas.


Tok.. tok.. tok…


Jihan muncul dari balik pintu.


“Permisi pak, ini ada beberapa berkas yang menunggu keputusan bapak. Dan juga, tadi Pak Dika berpesan jika bapak sudah datang, disuruh ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan katanya.”


“Oke, kamu taruh saja berkasnya di meja, nanti saya akan mengeceknya di rumah.” Ucap Satya.


“Baik pak…”


“Oh iya, dan juga minta tolong suruh OB untuk membuat minuman dan membawa beberapa camilan untuk istri saya.” Ucap Satya menunjuk Nia yang sedang duduk di sofa.


Jihan terkejut namun sebisa mungkin menutupi keterkejutannya itu.


“Istri…??”


“Iya, kenalkan ini Nia, istri saya…” ucap Satya.


“Sayang, ini Jihan sekretarisku. kalau kamu butuh apa – apa, kamu bisa minta tolong dia.” Ujar Satya pada Nia.


“Sayang… sejak kapan Pak Satya bisa seromantis itu…”” batin Jihan.


“Selamat siang, Ibu…” ucap Jihan menunduk hormat pada Nia.


“Salam kenal Jihan..” ucap Nia.


Jihan pun permisi keluar dari ruangan untuk segera menyiapkan perintah atasannya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2