Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 32


__ADS_3

“Nia...!!!” pekik Niko saat Nia hendak membuka handle pintu masuk kedalam rumahnya.


Nia kaget hingga terjingkat, berbalik menatap Niko yang sudah berdiri di hadapannya. Nia sekilas melirik ke arah gerbang, dan melihat mobil Satya yang sudah menghilang.


“Niko...!!! lo ngagetin gue aja...!!”


“Kenapa loe, santai aja kali!! muka loe kayak abis kepergok selingkuh aja.”


Nia mencebik, “Tumbenan loe kesini malam-malam. Ada apa?”


Niko menggaet tangan Nia mengajaknya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu,


“Gue mau ngasih ini.” Niko mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.


“Apaan??” Nia yang menatap tak mengerti melihat berkas layaknya proposal di tangannya.


“Hmm, gini nih keseringan bolos rapat HIMA sih loe.”


Nia mencebik, tak menampik apa yang Niko katakan, memang sejak Nia mengetahui ia dijodohkan dengan Niko, ia lebih berusaha menghindar termasuk selalu ijin setiap ada rapat HIMA, dimana Niko adalah ketua nya.


Nia membaca sekilas setumpuk kertas di tangannya itu


“Kok gue seksi acara siy Nik?? paling sibuk donk gue.” Kesal Nia .


“Udah jangan bawel. Nih, uda gue buatin rundown acara nya. Makasih loe ama gue.”


Wajah Nia seketika berbinar menerima selembar kertas lagi dari Niko.


“Besok ada rapat lagi, jangan lupa datang. Ntar gue kabarin lagi detailnya.”


“Oke.”


“Nia, tadi loe pulang bareng ma siapa??” tanya Niko menelisik.


Nia terdiam,”Ada tadi yang nganterin. Ya udah ya Nik, gue masuk dulu ya! capek pengen istirahat.” Kilah Nia tidak ingin membahasnya lebih lanjut.


“Oke kalau gitu, gue pulang dulu. Salam buat om ama tante.”


Nia mengangguk, menatap punggung Niko yang menjauh, memasuki mobilnya kemudian berlalu.


*****


Keesokan harinya, seusai kelas Nia mengikuti rapat HIMA yang selama ini selalu dihindarinya.


Kali ini mau tidak mau ia harus menghadirinya,apalagi dia salah satu panitia dan sudah seharusnya ia bersikap profesional.


Nia fokus mendengarkan penjelasan ketua panitia, pun Nia juga memaparkan dengan detail rundown acara untuk 2hari 1malam tersebut yang rencananya akan diadakan di salah satu villa di kaki bukit.


Beruntung acara ini akan berlangsung saat weekend, sehingga tidak akan mengganggu aktivitas kampus dan magangnya.


“Nia, kantin yuk!!” ajak Niko tepat saat mereka keluar dari ruangan rapat.

__ADS_1


“Loe duluan deh ya, gue mau ngasih ini dulu ke Pak Satya sama Bu Mega.” Nia menunjukan proposal acara Malam keakraban mereka.


Sesuai dengan rencana awal, Pak Satya dan Bu Mega yang akan mengisi pembekalan jurusan sekaligus pengawas dalam Makrab.


“Mau gue temenin??” Tawar Niko.


Nia menggeleng,” gue gak bakalan ilang, udah gede ini.” Lantas tersenyum meninggalkan Niko yang masih terpaku melihat punggung Nia menjauhinya.


Nia melangkahkan kakinya dengan degup jantung yang tidak beraturan.


Setelah dari ruangan Bu Mega, kini giliran ia harus masuk ke ruangan Pak Satya. Walaupun kini mereka sudah sering bertemu namun Nia masih belum bisa mengontrol degup jantungnya.


Apalagi setelah kejadian tadi malam, Nia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya, pun Nia dengan sungguh – sungguh meminta dosennya untuk tidak memberikan harapan palsu baginya.


Nia semakin bingung harus bersikap bagaimana di depan dosen sekaligus rekan bisnisnya itu.


Tokk... tokkk... tokkk...


“Masuk” suara khas Satya terdengar dari dalam ruangan.


“Permisi pak. Saya ingin menyerahkan ini pak.” Ujar Nia meletakkan proposal di meja Satya.


Satya menghentikan aktivitas laptopnya sejenak, melirik kearah meja. Membaca sekilas proposal yang sudah berada di tangannya dengan menautkan kedua alisnya.


“Ini proposal untuk acara keakraban prodi manajemen pak, kami berharap bapak bersedia untuk memberi materi dan pembekalan sekaligus pendamping makrab.


“Akan saya pertimbangkan.” Jawab Satya singkat lalu menaruh kembali proposal itu kembali diatas meja dan kembali fokus dengan laptopnya.


Sedangkan Nia masih dalam posisi terbengong di depan meja Satya.


Nia tersentak dari lamunannya,” oh, tidak pak. Terimakasih. Saya permisi.”


Satya tetap fokus dengan laptopnya tanpa menghiraukan Nia yang beranjak keluar dari ruangannya.


“Loe sendiri yang minta biar Pak Satya gak buat loe bingung, terus sekarang kenapa loe kecewa,kenapa hati loe sakit Nia..?? Stop it Nia..!! jangan terus berharap.. masa depan loe udah di tentuin. Tapi gimana donk, tidak semudah itu untuk melupakan, gue udah jatuh terlalu dalam ama perasaan gue. Tapi loe liat, Satya sudah bersikap sewajarnya ama loe, jadi gak ada alasan buat loe untuk gak move on.” Batin Nia kembali berseteru untuk yang kesekian kali.


Nia melangkahkan kakinya keluar gerbang kampus setelah sebelumnya memesan taksi online, memutuskan untuk pulang ke rumah.


Nia mengangkat ponselnya yang berdering.


“Sorry Nik, gue pulang duluan, kepala gue pusing..”


“....”


“Gak...gue gakpapa, cuma capek doank.”


“...”


“Oke thanks”


Nia mematikan ponselnya. Menghembuskan nafas beratnya, menerawang jauh dengan pikiran dan hatinya yang kalut.Lalu kemudian menutup perlahan matanya dan menitikkan airmata. Menangis sendiri dalam diam.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Nia langsung masuk ke dalam kamarnya. Mama Dessy yang sedang berada di halaman belakang kebetulan melihat Nia yang menaiki tangga dengan wajah yang sendu.


Mama Dessy pun mengakhiri kegiatan siram menyiram bunga kesayangannya, lantas beranjak menyusul naik ke kamar putri sulungnya.


Tokk... tokk... tokk...


“Nia, boleh Mama masuk???”


Nia yang sedang merebahkan dirinya di atas ranjang kebesarannya, lantas berdiri membukakan pintu untuk mamanya.


“Ada apa, ma???”


“Tumben jam segini sudah pulang?? Kamu tidak enak badan??” tanya Mama Dessy memperhatikan wajah Nia yang sedikit terlihat pucat.


“Gak ma, cuma sedikit


capek aja.” Jawab Nia seraya kembali ke ranjang kebesarannya, kembali


menjatuhkan tubuhnya di atasnya.


Mama Dessy mendekat dan duduk di tepian ranjang.


“Nia, kamu ada apa sayang?? Kamu ada masalah di kampus?? Atau di kantor papa???” tanya Mama Dessy membelai lembut rambut Nia yang tidur membelakanginya.


“Nia gak apa – apa ma.” Jawab Nia masih dalam posisi yang sama.


“Kamu ada masalah sama Niko??” tanyanya kembali dengan penuh kehati – hatian.


Nia membalikkan tubuhnya, menghadap mamanya, “ Nia baik – baik saja, ma.”


“Baiklah, istirahatlah kalau begitu. Jangan terlalu banyak pikiran ya sayang, mama tidak ingin kamu jatuh sakit lagi.” Ucap Mama Dessy mengalah. Lalu menyelimuti tubuh anak gadisnya itu.


Nia hanya menganggukkan kepalanya, seraya beringsut di balik selimut. Memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan penat di hati dan pikirannya sejenak.


Berharap semua yang terjadi di hidupnya kini hanyalah sebuah mimpi, yang akan usai saat ia membuka mata nanti.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers tercinta, terimakasih untuk selalu setia mengikuti kisah cinta Nia , Satya dan Niko.

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya. saran yang membangun sangat membantu Author untuk semakin semangat nge halu lho.


Terimakasih.


__ADS_2