
Satya duduk di kursi belakang mobilnya, di dampingi oleh Jihan dan Josh yang duduk di kursi depan. Mobil Satya melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, mengikuti mobil di depannya yang juga melaju dengan kecepatan yang sama.
Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Satya memasuki halaman sebuah rumah sakit.
Tante Rosa, ibunda Marsya turun dari mobil yang berada di depan Satya. Diikuti dengan Satya ,Jihan dan Josh yang juga turun dari mobil mereka.
Menyusuri koridor rumah sakit, Tante Rosa berjalan di urutan paling depan. Disusul Satya, Jihan dan Josh si belakangnya.
Tante Rosa terus melangkahkan kaki dan berbelok menuju taman di dalam rumah sakit, lalu berhenti di sudut taman.
"Satya, itu Marsya... Tante mohon temuilah dia sebentar saja." ucap Tante Rosa menunjuk Marsya yang duduk di kursi roda membelakangi mereka.
Dengan perasaan enggan, Satya pun melangkahkan kakinya mendekati Marsya. Setidaknya ia ingin memastikan sendiri keadaan Marsya sebelum melanjutkan gugatan hukumnya.
Jihan dan Josh yang ingin menemani Satya dihadang oleh Tante Rosa.
"Berikan mereka waktu sendiri... kalian disini saja, dan jangan ikut campur..!!" ucap Tante Rosa tegas.
Jihan dan Josh pun tidak bisa membantah karena itu memang bukan urusan mereka. Mereka berdua pun duduk menunggu di kursi sudut taman.
"Ehem..."
Seketika Marsya menoleh.
"Satya... kamu datang untukku...??" ucap Marsya dengan wajah yang berbinar.
Tak dapat dipungkiri, walau wajah Marsya terlihat bahagia dengan kedatangan Satya, namun ia tetap terlihat pucat, sangat pucat.
"Apakah ibuku yang membawamu kesini...??" tanya Marsya.
Satya hanya mengangguk.
"Sepertinya Ibu benar - benar menuruti semua permintaanku, layaknya permintaan terakhirku..." ucapnya lagi.
Satya hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Terimakasih Satya, kamu mau datang menemuiku." ucapnya sambil bergelayut manja di lengan Satya.
"Sudah kuduga, kamu akan datang. Bagaimanapun juga, aku tetap selalu ada dihatimu, bukan...?? Cintamu tetap ada untukku, Satya...." gumam Marsya lirih, namun tetap terdengar oleh Satya.
Ia pun menepis Marsya, dan sedikit memundurkan langkahnya.
"Sebentar saja Satya, ku mohon... temani aku sebentar saja." ucap Marsya menggenggam tangan Satya. Tidak membiarkannya pergi.
Disaat yang bersamaan ia mendengar suara dan juga nama yang tidak asing di telinganya.
"Nia...!!" pekik Niko dari kejauhan.
Satya langsung menoleh mencari sumber suara. Dan melihat Nia dengan tatapan tajamnya menatap lurus kepada dirinya.
Di dekatnya juga berdiri Niko, yang memunculkan sebuah tanya di benaknya.
Dengan kasar, Satya berusaha melepas tangannya dari
genggaman Marsya.
"Satya...!!" pekik Marsya yang mencoba menghentikan Satya yang hendak berlari menyusul Nia.
Langkah Satya terhenti, terdiam, lalu kemudian membalikkan badannya.
"Sebenarnya apa maksudmu...??!!" tanya Satya dengan tatapan penuh amarah.
"Kau adalah milikku, Satya..." ucap Marsya dengan senyum sinis di bibirnya.
"Teruslah bermimpi...!!" kata Satya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Satya berlari mengejar Nia. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Nia... sayang... tunggu...!!!"
Niko yang melihat Satya juga mengejar Nia, langsung menghentikan langkahnya.
Di belakang Niko, Bunda Wike yang baru saja keluar dari toilet kebingungan mencari Nia.
Hingga tanpa sengaja ia melihat Marsya yang sedang duduk di kursi roda, dan disisi lainnya ia melihat seorang pria yang tengah berlari.
"Satya...?? Ya ampuun... apakah itu Nia...??" ucap Bunda Wike.
"Nia... kumohon berhentilah.." ucap Satya yang berhasil menyusul Nia.
Nia pun berhenti. Dengan nafas yang sedikit terengah, Nia menatap tajam mata Satya.
Di sudut matanya nampak berair, Nia sudah berkaca-kaca namun dengan sekuat tenaga menahannya agar tidak pecah.
"Tidak ada yang perlu aku khawatirkan, bukan...??" tanya Nia.
Satya mengangguk.
"Nomor yang menelpon sejak beberapa hari lalu itu dia...??" tanyanya lagi.
Satya kembali mengangguk.
"Kamu masih ada urusan dengannya...??" tanya Nia kembali.
Satya mengangguk.
"Tapi bukan urusan seperti yang kamu kira, sayang..."
potong Satya cepat.
"Memangnya urusan seperti apa yang aku kira..???Aku membencinya. Aku tidak menyukainya...!! cepat selesaikan apapun urusanmu dengan dia... Aku tidak menyukainya...!!" ucap Nia lalu melangkah pergi.
Nia tetap melangkah pergi keluar rumah sakit.
Air matanya pun pecah. Mengalir tanpa suara.
Dengan suara yang terisak, Nia tetap berlari keluar dari rumah sakit.
Bunda Wike yang sejak tadi mengamati dari jauh, kemudian mempercepat langkahnya menyusul Nia yang ia yakin sedang menangis sendirian.
Dalam hati ia pun geram melihat putranya yang bisa - bisanya bertemu dengan Marsya, hanya berdua saja. Tanpa sepengetahuan Nia.
Niko yang masih berada di posisi nya melihat Satya yang kembali ke area taman lalu berbicara dengan dua orang yang tidak di kenalnya juga.
Niko tidak mempedulikan mereka, ia kembali menyusul Nia yang berjalan kearah luar rumah sakit
Satya yang kembali ke area taman mencari keberadaan Josh dan juga Jihan.
"Tetap pada rencana awal... aku tidak akan pernah mencabut laporanku...!!" ucap Satya pada Josh.
Nia yang menangis terisak terus saja melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Tanpa ia sadari, ia terus berjalan di trotoar tepi jalan raya yang ramai.
Airmata yang tiada ingin berhenti, dan rasa sesak di dalam dada membuat kepala dan penglihatannya seakan berputar - putar.
Nia terus berjalan dan berjalan dengan langkah yang terlihat sempoyongan.
Disisi lain Niko berlari menyusul Nia. Entah arah mana yang ia ambil, ia terus saja berlari mencari keberadaan Nia.
Perasaannya seakan tidak enak meninggalkan Nia seorang diri.
Niko berlari, matanya awas melihat sisi kanan dan sisi kiri.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia menemukan Nia yang sedang berada tepat di ujung persimpangan jalan yang ramai lalu lalang kendaraan.
Bukannya berhenti, Nia terus saja melangkahkan kakinya.
"Nia.....!!!" pekik Niko.
Nia memalingkan wajahnya, lalu tiba-tiba saja...
BRAAAKKKKKK....!!!!!!
Sebuah mobil melintas tepat di depan Nia dan menyerempetnya.
Nia sempat terpelanting dan kepalanya membentur tepi trotoar.
"Niaaaa....!!!!" pekik Niko yang berlari seperti kesetanan.
"Oh God.... Niaaaa..." gumam Niko yang melihat darah terus mengucur dari kepala Nia.
Bunda Wike yang berdiri di pintu masuk rumah sakit resah karena tidak bisa menemukan keberadaan Nia.
Ia sudah berusaha mencarinya ke parkiran mobil, namun tak juga kunjung ketemu. Bunda Wike pun juga sudah berkali-kali menelpon Nia namun tak juga diangkat.
"Apakah Nia langsung pulang ke apartemen...??? Haduuuuh, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di jalan..??" gumam Bunda Wike yang cemas.
Dengan putus asa, Bunda Wike pun mencoba untuk menghubungi Satya. Meminta sekaligus menyuruhnya untuk mencari Nia.
Bunda Wike menekan nomor Satya di ponselnya, sembari bersandar di dinding rumah sakit. Lalu lalang pasien dan perawat yang keluar masuk UGD, membuatnya lebih menepi disudut luar pintu masuk.
Sekian detik Bunda Wike menunggu Satya mengangkat teleponnya.
Hingga datanglah sebuah ambulans yang tiba- tiba saja mengusik rasa ingin tahunya.
"Halo bun... assalamualaikum.."
"Walaikumsalam salam... Satya..."
"Iya bun...??"
Seorang pasien diturunkan dari ambulans tersebut dan melintas tepat di depan Bunda Wike.
"Nia...?? Niaaaaa....!!! Akhhh.....!!! Niaaa....!!!" Pekik Bunda Wike dengan ponsel yang jelas masih tersambung dengan Satya.
"Nia kenapa Bunda...?? ada apa...??" tanya Satya yang panik mendengar jeritan ibunya.
Niko yang ikut turun dari mobil ambulans, sedikit melirik pada Bunda Wike yang ia yakini pasti itu adalah ibu mertua Nia.
Satya yang bahkan tidak tahu jika bundanya berada di Rumah Sakit yang sama segera berlari keluar dan berniat untuk pulang ke apartemen.
Namun saat melintasi UGD matanya langsung tertuju pada sosok yang di kenalnya, yang sedang duduk tertunduk dengan airmata yang terus membanjiri pipinya.
"Bunda...??!!" pekik Satya.
Bunda Wike dan Niko yang duduk di sampingnya langsung menoleh pada sumber suara.
"Ada apa dengan Nia, bun...?? dimana dia sekarang...??" tanya Satya dengan raut wajah yang sudah pucat pasi.
Bunda Wike hanya menangis sembari menunjuk bilik yang hanya tertutupi tirai.
.
.
.
.
__ADS_1
.