Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 30


__ADS_3

Waktu menunjukkan masih pukul 5 sore, namun kamar Nia sudah seperti kapal pecah dengan semua isi lemari memenuhi ranjang king size nya.


Ia nampak mematut dirinya di depan cermin, mencoba satu demi satu pakaian yang dibawa nya.


“Isshh, kenapa gue cuma bawa baju ini doank sih?? gak ada yang bagus!! Pak Satya kira-kira mau


ngajak gue kemana ya?? gue bingung mau pake baju apa nih! Dress gak bawa, adanya baju kantoran ama casual gini. Duh, gak bawa heels juga. Masak iya pake heels kerja gini.apa gue beli baju dulu kali ya?? duuuh, gak keburu donk!!”


Dengan membulatkan tekad dan memotong urat malu nya, Nia mengirimkan pesan kepada dosennya itu.


Pak,


nanti kita mau jalan-jalan kemana?? takutnya saya salah kostum.


~Nia


Kamumau pakai apapun tetap terlihat cantik.


~Satya


Nia semakin salting dibuatnya, andaikan bisa ia pasti sudah gulung-gulung koprol, bergelantungan, lompat kodok kesana kemari.


Tak lama kemudian Satya mengirimkan pesan berisi foto suatu tempat.Nia tersenyum lebar melihatnya.


Tepat pukul 7 Nia turun ke lobby, netranya memutari lobby yang mewah itu mencari sosok Satya. Pandangannya terpaku pada pria yang berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok pojok lobby, memainkan ponselnya.


“Buseeet!! ganteng banget tuh dosen!!!” gumam Nia yang melihat tubuh atletis Satya yang terpampang jelas dibalik kaos oblong putihnya. Dipadukan dengan celana jeans biru plus sneaker putihnya, membuatnya terlihat semakin mempesona.


Nia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Satya.


“Maaf menunggu lama Pak.”


Satya mengangkat kepalanya, sekali lagi terkagum dengan gadis yang berdiri di hadapannya.


“Eh, kok bisa kembaran ya?? wah, jangan-jangan...” kata Satya menunjuk Nia, yang ternyata juga memakai kaos oblong putih, celana jeans juga sneaker putih plus jaket jeans yang menutupi tubuhnya.


“Eh, iya ya pak!!! padahal gak janjian lho..”


“Mungkin sudah jodohnya. Ayo kita berangkat.” Ajak Satya berjalan keluar lobby.


Nia sempat salah tingkah mendengar perkataan Satya. Senyum malu – malu jelas terukir di wajahnya.


Nia mengikuti dari belakang. Lalu tanpa sadar ia menabrak punggung Satya.


“Kan udah dibilang, kamu bukan bodyguard saya, ngapain jalan dibelakang saya??”


Nia tersenyum lebar seraya mensejajarkan langkahnya di samping Satya.


“Lho pak, kita kok jalan kaki??” tanya Nia yang melihat Satya terus berjalan keluar hotel.


“Kan kita mau jalan-jalan, ya jalan kaki donk. Daripada nyewa mobil, lebih asyik gini Nia.” jawab Satya mengerling.


Nia hanya manggut – manggut mendengar penuturan Satya.


Ini memang pertama kalinya ia ke Surabaya., jadi Nia memilih menurut saja ajakan Satya.

__ADS_1


Nia berjalan disamping Satya keluar area hotel. Mereka menuju kawasan tempat kumpul muda mudi yang selalu ramai saat weekend seperti ini, dekat dengan hotel yang mereka menginap.


“Nah... itu tempatnya Nia..” Satya menunjuk jalan diseberang mereka yang sudah ramai dipenuhi orang-orang menghabiskan malam minggu mereka.


“Kita menyebrang.” Dengan refleks Satya mengenggam tangan Nia, menyebrang jalan,sepanjang zebracross hingga sampai di seberang.


Senyum Nia semakin melebar, menatap tangannya yang di genggam oleh Satya.


“Tempatnya asik kan??” tanya Satya menoleh kepada Nia karena semenjak tadi ia tidak mendengar suaranya sama sekali.


Sedangkan yang dilihat masih tersenyum simpul melihat tangannya sendiri.


“Oh,Maaf..” Satya melepaskan genggamannya,menyunggingkan bibirnya melihat Nia yang terlihat salah tingkah.


Mereka berdua kembali melanjutkan jalan-jalan malam. Menyusuri jalanan yang dikenal dengan nama Jalan Tunjungan.


Sepanjang jalan berdiri bangunan zaman kolonial belanda yang kini menjadi cagar budaya. Disisi kanan kiri jalan juga berderet streetfood kekinian maupun tradisional yang dikemas lebih modern, yang menggugah selera mereka berdua.


Satya berinisiatif membeli beberapa streetfood untuk mereka sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan.


Banyak anak muda menghabiskan malam minggu bersama pasangan atau sahabat-sahabatnya, pun tidak sedikit keluarga muda yang mengajak anak mereka menikmati keindahan malam kota Surabaya.


“Ayo kita makan ini, disitu.” Ajak Satya menunjuk kursi taman yang kosong. Mereka mengobrol akrab, memakan jajanan yang di beli tadi sambil menikmati suguhan musik akustik di sudut jalan.


Selain streetfood juga kafe kekinian yang bertebaran sepanjang jalan, disudut-sudut jalan juga menampilkan berbagai kesenian daerah. Pantomim, musik akustik, ataupun seni budaya lainnya.


“Berdirilah disitu!” perintah Satya.


“Hah??”


Nia berdiri menuju tempat yang dimaksud Satya,


“Kenapa seperti itu?? kamu mau foto KTP?? kening Satya berkerut melihat pose Nia yang benar-benar kaku.


Nia semakin malu dibuatnya, "Sial!! kenapa gue gini banget sih, aduh jangan malu-maluin donk... buseet, ngeblank gini gue.” Batin Nia.


Satya tergelak kemudian berjalan menghampiri Nia,”Kalau begitu ayo kita foto bersama.”


“Hah??”


Satya beralih ke mode selfi.


Dan mulai berswafoto.


Cekrek.. cekrek..


“Ayo senyum Nia.” protes Satya yang melihat hasil fotonya tidak sesuai harapan.


Mereka kembali berfoto bersama. Nia kini sudah mulai bisa menata degup jantungnya kembali. Nia mulai luwes berpose, ia bahakan mengeluarkan semua pose andalannya.


Malam itu mereka banyak mengambil foto bersama ataupun bergantian, Nia memotret Satya, Satya memotret Nia.


 Setelah puas berswafoto dan mengelilingi tempat itu, Satya memutuskan untuk mengajak Nia makan malam sebelum kembali ke hotel.


Kali ini mereka memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke salah satu restoran favorit di Surabaya.

__ADS_1


Entah sudah kali keberapa mereka makan malam bersama, tapi ia merasa makan malam kali ini terasa sedikit istimewa.


Bukankah ini terasa seperti kencan makan malam??


Setelah selesai makan malam, mereka segera kembali ke hotel karena memang malam sudah sangat larut.


Satya mengantarkan Nia hingga kedepan pintu kamar hotelnya.


“Terimakasih sudah mengajak saya jalan-jalan pak, makan malam bahkan foto bersama. Terimakasih untuk malam ini Pak.” Ucap Nia tulus.


Satya mengangguk,” Sama-sama Nia."


“Besok flight jam berapa??” tanyanya lagi


“Jam 10 pak.”


“Kita bisa sama-sama berangkat ke bandara. Saya tunggu besok di lobby. Selamat malam Nia, selamat beristirahat.”


“Baik pak, selamat malam juga Pak Satya.”


Satya beranjak ke kamarnya setelah Nia masuk ke dalam kamar. Malam ini bisa dipastikan Nia akan tidur dengan nyenyak, walau sebelumnya pasti dia akan koprol, gulung-gulung dikamar, lompat-lompat kasur atau jungkir balik saking senengnya bisa jalan berdua bahkan berfoto bersama dengan pujaan hatinya.


Nia melihat kembali fotonya bersama Satya di layar ponselnya. Angan-angan dan halusinasinya dulu sedikit demi sedikit menjadi nyata.


“Semoga besok-besok bisa foto bersama di pelaminan ya pak, Aamiiin!!!” Ucapnya mendekap ponselnya, sebelum menaruhnya diatas nakas dan beranjak tidur.


Mempersiapkan esok hari kembali ke Jakarta, ke rutinitas padatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers tercinta, hari ini Author sengaja up 2 bab langsung ya..


sebagai bentuk terimakasih Author kepada Readers setiaku yang gak bosen - bosen ngikutin cerita halu Author.


Jangan lupa like dan koment ya, supaya Author tetap bersemangat dalam berkarya.


Terimakasih.


.


.

__ADS_1


__ADS_2