Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 17


__ADS_3

Nia memutuskan untuk duduk dibawah pohon rindang,di taman kampusnya. Dia merasa perlu sejenak untuk


berpikir dan menata hatinya lagi.


Setelah tadi jantungnya  berdegup tidak karuan saat berada di ruangan Satya.


Nia duduk-duduk menikmati semilir angin yang menentramkan hati.


Tidak menyadari sejak tadi dua sahabatnya bingung mencarinya.


“ Ya ampuuuun Nia... loe ternyata disini.. gue cariin kemana-mana juga.” Pekik Nindya dari kejauhan yang mendapati Nia duduk anteng di taman kampus.


“Kenapa gak telepon gue aja sih...? sampe ngos-ngosan gitu.”  Ujar Nia tidak merasa bersalah.


“Udah...!!! tapi gak loe angkat-angkat juga..!!” sahut Nindya kesal.


Nia mengambil ponselnya di dalam tas, lalu melihat ada banyak panggilan yang terlewatkan.


Nia hanya menyengir kuda, “ sorry, gak denger... mode silent.” Nia menelangkupkan kedua tangannya kedepan dada, memelas pada Nindya dan Ayu.


“Lagian ada kabar apa, sampe kalian heboh banget gini coba...??” tanya Nia penasaran.


Ayu yang sejak tadi diam mengatur nafas kini mengambil suara.


“Kan bener, dia belum tahu,Nin...”


“Apaa sih...?? buruan deh, bikin penasaran aja..” seru Nia sudah tak sabar.


“Jadwal praktek kerja lapangan kita uda keluar, Ni... dan kita satu kelompoookkk...!!!” pekik Ayu girang.


“Beneran...?? Waaaahhhh....asyik bangeeeeet...” sahut Nia ikut berbahagia.


“Dan gak itu aja, loe tahu siapa dosen pembimbingnya...?? Pak Satya...!!!!” pekik Ayu kembali.


Nia yang awalnya berbunga-bunga, lantas kembali duduk terdiam dengan wajah yang tampak murung.


“Lho... gue kira loe bakalan seneng, Ni...” kata Ayu yang justru kaget melihat perubahan wajah Nia.


Mereka berdua terdiam, duduk mengapit Nia, seakan menunggu penjelasan dari Nia.


“Gue tentu aja seneng... tapi kenapa gue merasa dewi fortuna terlambat datang ke gue. Andai aja kabar ini terjadi sebelum gue dijodohin, pasti.....” Nia tidak melanjutkan kata-katanya.


“Ni...semua uda diatur ama yang punya hidup. Gak ada yang terlambat, kita harus terus berprasangka baik Nia. Yakin... semuanya akan baik-baik aja.” bijak Ayu mencoba menenangkan sahabatnya.


“Udah ah, melow-melow nyaaa... yang penting kita sekarang satu kelompok magang.....!!!” pekik Nindya bersemangat.


“Eh gaes... kita kayaknya harus luangin waktu buat diskusi soal magang ini deh.” Lanjut Nindya tampak serius.


Nia dan Ayu mengerutkan alis mereka bersamaan, menerka maksud terselubung dibalik ajakan Nindya.


“Kayak gini harus cepetan, gak bisa ditunda lagi sih ini... malam ini, kalian semua ngumpul dirumah gue. Kita diskusi disana. Jangan lupa minta ijin nginep juga.”Lanjut Nindya masih dengan raut wajah yang serius.


Ayu dan Nia menatap Nindya, lalu mengedipkan matanya. Menangkap maksud sebenarnya.


“Pajamas party...!!!!” pekik Ayu dan Nia bersamaan.. lalu mereka tergelak bersama.


Kelas terakhir yang di ampu Satya berakhir tepat pukul 16.30. Satya segera meninggalkan kampus, setelah sebelumnya dia kembali ke ruangannya sebentar utuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal.


Malam ini dia sudah berjanji akan tidur di rumah orang tua nya, setelah kemarin malam bundanya meminta Satya untuk pulang.

__ADS_1


“Masak Bunda mau ketemu anak sendiri pake alasan siy, Sat...” kenang Satya mengingat penuturan Bundanya tadi malam di telpon.


Tepat saat Satya ingin membuka pintu mobil, ponselnya berdering.


Satya melihat siapa yang menelpon nya, sebelum mengangkatnya.


“Halo...”


“........”


“hmm.”


“......”


Satya menutup telponnya. Sesaat ia terdiam dan nampak berpikir. Tak lama berselang ia menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan area kampus.


Satya memarkirkan mobilnya disebuah cafe. Dilihatnya wanita itu sudah berada di dalam. Duduk sendiri disisi cafe yang berdinding kaca.


Satya kemudian turun dari mobilnya dan masuk menghampiri wanita tersebut.


Dari ambang pintu, Marsya, nama wanita itu, sudah langsung melambaikan tangan, tersenyum menyambut kedatangan Satya.


“Ada perlu apa lagi sekarang...?” tanya Satya tanpa basa-basi.


“Kemarin bahkan kamu tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, Satya.” Ujar Marsya memelas.


“Duduklah dulu” ucapnya kemudian


Dengan perasaan enggan Satya menuruti perkataan wanita itu.


Marsya mengambil tas nya, merogoh sesuatu dari dalamnya.


Marsya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dengan hiasan pita gold,menyodorkannya ke atas meja.


Satya terdiam, ia teringat kembali masa-masa ia bersama Marsya dulu. Masa yang dianggapnya paling bahagia saat itu, karena ia sangat mencintai Marsya.


Meskipun sering terdengar selentingan kabar burung yang berkata buruk tentang Marsya, Satya masih tetap setia berdiri di sampingnya.


Bahkan dari awal hubungan mereka tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya, Satya pun tetap menjalin hubungan bahkan sempat melamar wanita itu


Hingga orangtua tua Satya pada akhirnya mengalah dan memilih merestui kedua hubungan mereka.


Namun justru disitulah titik balik kehidupan Satya. Satu bulan sebelum pernikahan mereka digelar, Marsya menghilang bagai di telan bumi.


Tentu saja Satya merasa sangat terpuruk dan kehilangan. Berbagai cara ia lakukan untuk mencari calon istrinya itu.


Hingga suatu saat ia mengetahui bahwa kabar burung yang selama ini ia dengar bukanlah isapan jempol semata. Marsya memilih meninggalkan Satya untuk pria lain yang entah sejak kapan dekat dengannya.


Amarah dan kekecewaan yang tersimpan di dalam hati Satya, menjadikannya pria dingin dan tidak berempati lagi terhadap cinta.


Susah payah Satya mengubur rasa sakitnya, kini wanita itu justru kembali duduk di hadapannya.


“Aku sudah tidak punya hak akan hal itu. Terserah mau kau buang atau mau kau apakan, aku tidak peduli. Dan seperti janjimu tadi di telpon, aku harap ini pertemuan kita yang terakhir.” Tegas Satya menatap mata Marsya dengan tatapan kejam dan mematikan.


Saat Satya hendak berdiri dari kursinya, Marsya memegang tangan Satya cepat.


“Setidaknya temani aku makan sebentar, aku sudah terlanjur memesankanmu makanan.” Pinta Marsya.


Melihat pelayan cafe yang membawa pesanan mendekat, Satya menepis tangan Marsya lantas duduk kembali.

__ADS_1


“Cepatlah, aku tidak bisa lama-lama.”


Marsya menyeringai tipis, lalu memulai memakan makanannya.


Di sisi lain, Nia yang sedang dalam perjalanan ke rumah Nindya, mampir untuk membeli beberapa cemilan


untuk mereka nantinya.


Nia memarkirkan mobilnya di pelataran minimarket. Ia turun dan memborong beberapa cemilan di dalam sana.


Meskipun telah menenteng banyak camilan, Nia masih belum merasa cukup.


Nia melangkahkan kakinya ke seberang minimarket, setelah sebelumnya memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.


Nia menuju ke arah penjual siomay, seblak dan juga es teler. Nia masing-masing memesan 3 porsi untuk di bungkus.


Saat menunggu pesanannya dibuatkan, Nia tanpa sengaja melihat mobil Satya terparkir di cafe


yang berseberangan denga minimarket tadi.


Persis didepan matanya, Nia melihat Satya tengah duduk dengan seorang wanita cantik yang berpakaian cukup seksi.


Mata Nia tertuju pada kotak kecil merah diatas meja, yang lebih mirip kotak cincin menurutnya.


Tanpa terasa airmata Nia menetes membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak dan pedih. Segera setelah pesanannya selesai Nia meninggalkan tempat itu lalu meluncur ke rumah Nindya.


“ See...???? benar - benar sudah tidak ada lagi kesempatan untukmu Nia....” ucapnya lirih.


“Cepatlah, aku tidak bisa lama-lama.”


Marsya mulai memakan makanannya, sedangkan Satya hanya mengaduk-aduknya saja, tidak berselera untuk makan bersama.


Marsya yang memang tadi melewatkan makan siangnya, melahap habis isi piringnya.


Satya tanpa sengaja melirik isi piring Marsya, saat Marsya sedang memilah kulit ayam lalu menyisihkannya.


Seketika Satya teringat kejadian tempo hari, saat Satya mengajak Nia makan malam dadakan. Nia begitu lahap memakan bagian favoritnya itu.


Tanpa sadar Satya tersenyum, “Nia....” gumamnya lirih.


“Kenapa Satya..? kamu bilang apa..?” tanya Marsya.


“ Tidak ada.  Maaf aku harus segera pergi, sudah kukatakan aku tidak bisa lama-lama.” Ucap Satya langsung beranjak dari kursinya meninggalkan Marsya seorang diri lagi.


“Sial!! Aku ditinggal lagi.” Umpat Marsya.


.


.


.


.


.


.


.Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya..

__ADS_1


Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.


Terimakasih.


__ADS_2