Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 29


__ADS_3

Nia dan Clara melangkahkan kakinya menuju restoran hotel tempat mereka menginap, diikuti Satya yang menyusul dari belakang.


Saat memasuki restoran mereka sudah disambut oleh waitress yang langsung sigap mengarahkan mereka ke meja yang kosong.


Nia pun duduk saat Satya menarik kursi untuknya. Sesaat hati Nia menghangat, Ia merasa perlakuan Satya kepadanya benar-benar berubah. Tidak ada lagi Satya dingin dan cuek seperti di kampus.


“Maaf Non Nia, saya harus kembali ke kamar secepatnya, ada beberapa berkas yang harus segera saya laporkan kepada Pak Wijaya.” Ucap Clara yang ternyata masih berdiri disampingnya.


“Lho, gak ikutan makan dulu kak Clara??”


Clara hanya menggeleng, tersenyum manis.


“Non Nia silahkan makan duluan. Saya nanti saja.”


“Oke kalau begitu, tapi nanti beneran jangan lupa makan ya, kak.” Pinta Nia tulus.


Clara mengangguk lalu berpamitan kepada Satya dengan anggukan kepala.


Clara segera membalikkan badan, keluar dari restoran hotel menuju kamarnya.


Ia melangkahkan kakinya dengan senyuman penuh arti yang keluar dari bibirnya.


Kini hanya tinggal Nia berdua dengan Satya. Sudah dapat ditebak, Nia begitu gugup seperti saat akan sidang skripsi saja. Namun sepertinya, ia mampu menutupinya dengan baik, walau ia sendiri bisa merasakan tangannya kini benar-benar dingin.


“Kamu mau pesan apa,Nia??” Satya tampak membolak-balik buku menu yang dipegangnya.


Nia memegang buku menu yang sama, namun tak satupun nama makanan itu masuk dipikirannya.


Ia terlalu gugup bahkan untuk memilih makanan. Nia menelan berat saliva nya berusaha untuk tenang. Tarik nafas, buang nafas... tarik nafas, buang nafas...


“Haduh jantung gue, sumpah gak aman!!! haduuuuh...” batin Nia dengan wajah tertutupi buku menu.


“Bagaimana, sudah menentukan pilihan...??”


“Hah??heh?? oh.. bingung saya pak, semuanya sepertinya enak.” Jawab Nia kikuk.


“Mau saya yang pilihkan??”


“I-Iya pak! saya ngikut bapak aja.”


Satya tersenyum, seraya memanggil waitress untuk memesan makanan untuk dirinya dan Nia.


Setelah waitress itu pergi, Satya melirik Nia yang terlihat gugup meminum air putih di gelasnya.


Satya tersenyum simpul, jelas masih ada dirinya dihati gadis itu,pikirnya.

__ADS_1


“Bagaimana, kamu ada kesulitan dalam magang??” Suara Satya tiba-tiba terdengar serius.


Nia menatap pria di hadapannya, apakah ia sekarang dosen atau rekan bisnisnya, ia mencoba menerka lewat raut wajahnya.


“Pak Dosen??” tanya nya hati-hati.


Sontak Satya tersenyum melihat kepolosan Nia,”Ya, saya dosen kamu. Bagaimana apa ada kendala??”


“Belum ada pak, semuanya lancar-lancar saja.” Ucap Nia menundukkan wajahnya, sekarang ia merasa seperti di ruangan dosen daripada sedang makan siang di restoran.


“Baguslah kalau begitu.”


Nia pun mengangkat kepalanya, menatap intens Satya yang duduk dihadapannya.


“Tapi Pak, masak ada anak magang disuruh megang proyek gede gini, ya kan Pak..??  Papa Nia tuh aneh deh, orang anaknya masih magang malah disuruh kerja keras kayak gini. Jujur Nia tuh keteteran pak, harus masuk kerja, kuliah juga, belum kalo ada tugas bejibun, harus bikin laporan magang juga! duuuh, mana sekarang weekend masih harus menjalankan mandat bapak negara pula!!” kesal Nia meluapkan uneg-unegnya.


Satya kembali tersenyum hangat dan geleng-geleng kepala. Betapa dengan cepat suasana hati Nia berubah, yang tadinya ia terlihat gugup, lalu terkesan takut, sekarang malah terlihat kesal dengan raut wajah semakin menggemaskan.


“Gadis ini benar-benar....” batin Satya.


“Sepertinya Pak Wijaya benar-benar mempersiapkan kamu menjadi penerusnya ya..??”


Nia tidak menanggapi perkataan Satya, dirinya mencebik kesal memanyunkan bibirnya.


“Tetapi sebagai rekan bisnis, saya suka dengan kinerja kamu. Kamu hebat untuk gadis seusiamu. Dan sebagai dosen pembimbingmu, tentu saja saya bangga. Karena kamu bukan hanya bisa secara teori, tapi juga mampu dalam prakteknya.” Puji Satya yang langsung membuat rona wajah Nia memerah dan salah tingkah.


“Justru kamu seharusnya merasa istimewa bukan?? berasa bimbingan privat kan?? magang dengan rekan kerja sekaligus dosbing??” tanya Satya menggoda.


Sedangkan yang digoda hanya senyum-senyum saja. Tidak mampu berkata – kata. Satya memang berhasil membuat Nia salah tingkah.


Dalam hatinya ia merasa bersyukur karena dibimbing sekaligus bekerja sama dengan dosennya itu. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kebahagiaan itu dengan memikirkan hal lain.


“Terimakasih sekali lagi pak.”


Satya mengangguk lembut.


Makanan yang dipesan pun datang, mereka mulai menyantapnya sambil diiringi obrolan-obrolan ringan.


Inilah alasan Nia menerima mandat dari papanya itu untuk mengurus proyek hotel mereka, apalagi selain bisa lebih dekat dengan pujaan hatinya.


Membiarkan mereka saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Siapa tahu takdir pun luluh dan menyatukan mereka.


“Nanti malam, kamu tidak ada acara kan Nia??” tanya Satya saat akan menaiki lift mengantarkan Nia hingga ke kamarnya.


Nia menggeleng.

__ADS_1


“Oke, nanti malam kita jalan-jalan.” Pungkas Satya.


Belum sempat Nia menjawabnya pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk pun masuk menaiki lift.


Berada berdua saja di dalam lift membuat Nia canggung, Satya pun merasakan hal yang sama. Bahkan Nia sampai lupa mau mengatakan apa. Hingga lift kembali terbuka, mereka membisu dalam diam.


Masih terdiam hingga mereka berhenti tepat di depan kamar Nia.


“Saya tunggu nanti di lobby jam 7 malam.” Ucap Satya seraya pergi berlalu. Meninggalkan Nia yang masih terdiam yang bahkan masih belum memberikan jawaban atas ajakan Satya.


Seulas senyum merekah di bibir Nia, cepat-cepat ia masuk ke kamar. Melemparkan diri di atas kasurnya, berguling ke kanan dan ke kiri. Ia merasakan degup jantungnya begitu tepat dan pipunya begitu panas.


“Rasanya jatuh cinta tuh gini gak sih...??”  Nia tersenyum malu-malu mengingat semua kejadiannya bersama Satya hari ini.


“Akkkkhhh!!!”  Nia berteriak kegirangan.


Berguling ke kanan, ke kiri, memekik, benar-benar membuat ranjang kamar hotelnya berantakan.


Sejenak kemudian dia terdiam, “Salah gak sih gue perasaan gue ini?? Masih menyimpan rasa untuk orang lain yang sudah mempunyai kekasih, bahkan di saat gue akan bertunangan.”


"Maaf, gue hanya ingin sedikit lebih egois." ucapnya entah ditujukan kepada siapa.


Namun tetap saja Nia tidak bisa menyembuyikan perasaan bahagianya. Senyum dengan jelas tercetak lebar di wajahnya.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya.


Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemagat lagi dalam berkarya.


Terimakasih.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2