Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 35


__ADS_3

Sang mentari sudah benar – benar menghilang di balik bukit, kembali ke peraduannya. Berganti cahaya rembulan yang menemani sepanjang malam diiringi sapuan halus angin yang menambah kesyahduan.


Para maba dan panitia yang lain sudah duduk berkumpul di sekitar api unggun kecil yang sudah membara.


Malam ini adalah acara puncak yang di tunggu – tunggu semua peserta. Malam keakraban yang akan benar _ benar mengakrabkan diri mereka membaur menjadi satu bersama hembusan angin dan alunan musik.


Ya, setiap kelompok maupun individu bebas menampilkan kreasi seni mereka. Nia yang memimpin jalannya acara pun di buat terkesan dengan penampilan junior – juniornya.


Namun ada sepasang mata yang sejak sore tadi, tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Nia. Di sudut taman, membaur dengan mahasiswa lainnya, ia selalu melihat setiap gerak – gerik Nia. Sesekali arah tatapannya berganti sudut menatap Niko, yang duduk tak terlalu jauh dari Nia.


“Baiklah, siapa lagi yang ingin maju tampil ke depan?? Gak cuma nyanyi atau main musik lho, kalian juga bebas mengekspresikan isi hati kalian. Ayo, silakan yang mau maju kedepan!” ucap Nia


Seseorang mengangkat tangannya.


“Ya, silakan!” ucap Nia yang susah mengenali orang yang mengangkat tangan itu, karena tertutupi mahasiswa lainnya.


Seseorang itupun menyambar gitar milik mahasiswa yang duduk di sebelahnya kemudian berdiri,” saya pinjam sebentar ya?” ucapnya.


Nia masih memincingkan matanya yang silau terkena cahaya api unggun. Siluet seseorang yang ia kenal dengan perlahan mendekat ke arahnya.


Dengan gitar di tangannya, kini ia berdiri tepat di sisi Nia.


Nia tertegun sesaat, dan bukan Nia saja, hampir semua mahasiswi tertegun memandang kagum sosok pria yang berdiri di samping Nia.


“Kamu mau berdiri di sini menemani saya bernyanyi, atau mau duduk disitu??” ucap Satya melihat Nia yang hanya diam saja tak bergerak.


“Eh, iya pak. Silakan!”


Nia tersadar dari lamunannya kemudian segera duduk di di tempatnya.


Satya mulai memetik dawai gitar yang di pinjamnya tadi. Dan tentu saja, penampilannya langsung menjadi pusat perhatian.


Well, you done done me and you bet i felt it


(kau menggodaku dan bertaruh aku merasakannya)


I tried to be chill but you’re so hot that i melted


(aku berusaha dingin namun kau begitu menggoda hingga aku meleleh)


I feel right through the cracks, now i’m trying to get back


(aku merasa terabaikan,sekarang aku mencoba kembali)


Before the cool done run out, i’ll be giving it my best test


(sebelum hal bagus itu terlewati,aku akan berusaha sekuat tenaga)

__ADS_1


And nothin’s gonna stop me but divine intervention


(dan takkan ada yang bisa menghentikanku selain campur tangan Tuhan)


I reckon it’s again my turn to win some or learn some


(kukira inilah kesempatanku utuk menang atau belajar sesuatu)


But i won’t hesitate no more, no more


(tapi aku takkan ragu lagi, tidak lagi)


It cannot wait, i’m yours


(itu tak bisa menunggu, aku milikmu)


This is our fate, i’m yours


(ini adalah takdir kita, aku milikmu)


(I’m yours _  Jason Mraz)


Semua mahasiswi serasa terhipnotis dengan petikan gitar dan alunan nyanyian Satya, yang notabene dosen killer serta merta berubah menjadi sosok romantis dan hangat malam ini.


Bahkan mereka terhanyut dalam angannya masing – masing yang berharap bahwa mereka objek dari nyanyian Satya kali ini.


Namun tepat di lirik terakhir, sorot mata Satya jelas tertuju kepada Nia. Seakan lagu tersebut memang di tujukan untuknya.


Satya sudah mengambil langkah besar untuk mengakui isi hatinya kepada Nia di depan banyak orang. Walau ia juga tahu, tak akan ada yang menyadarinya.


Tapi Satya tak peduli dengan yang lain, asalkan Nia mengerti apa yang ingin ia katakan. Asalkan Nia mampu memahami makna syair itu.


Satya sudah mengakui cinta nya kepada Nia!!


Cukup lama mereka bersitatap, dalam diam, jauh menusuk masuk ke dalam relung hati.


Tapi satu hal yang tidak disadari Nia,  raut wajah seseorang yang duduk di sampingnya kini benar – benar berubah menjadi sendu.


Tersakiti begitu dalam, perih yang tak berwujud.


Dan semakin teriris pedih saat ia melihat sorot mata Nia yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Sorot mata yang sangat tulus mengungkapkan isi hatinya. Sorot mata yang seharusnya untuk dirinya, justru hanya tertuju untuk Satya. Dan semakin ia mengerti, bahwa sorot mata itu tidak akan pernah beralih menatap dirinya.


Satya mengakhiri penampilannya dengan apik. Disambut riuh tepuk tangan para maba yang terkagum dan terhipnotis oleh pesona dosen killer itu. Dan sudah dapat dipastikan, sejak malam ini penggemar Satya akan semakin bertambah.


“Pak Dosen tadi seperti mengungkapkan isi hatinya gak sih,Nia??” tanya Ayu saat mereka berdua sudah berada di kamar.

__ADS_1


Setelah acara api unggun selesai banyak para maba maupun panitia yang lain menghabiskan malam mereka bercengkerama di halaman belakang.


Namun tidak dengan Nia, ia memilih masuk kembali ke kamar untuk beristirahat di temani oleh Ayu.


Badannya memang terasa amat lelah. Mungkin karena aktivitas yang cukup padat di tambah dengan “pengakuan cinta” Satya tadi, seperti yang di dikatakan Ayu, membuat Nia memilih merebahkan badannya diatas ranjang daripada menkmati udara malam di halaman belakang.


“Mengungkapkan apa?! Dia kan cuma nyanyi doank.” Jawab Nia ketus.


“Tapi gue juga lihat tatapan mata Pak dosen ke loe tadi. Gue ngerasa emang Pa Dosen ada rasa ama loe deh, Nia!” sahut Ayu.


Nia menghela nafasnya,” Ay, kan gue sudah bilang kalau Pak Satya itu sudah punya kekasih. Masak iya mengungkapkan cinta ke gue??? Aneh deh loe!”


Ayu tampak berpikir. Dalam hatinya ia yakin melihat sorot mata Satya yang penuh cinta untuk Nia. Tapi mendengar perkataan Nia bahwa Satya sudah memiliki kekasuh membuatnya ikut meragu.


Nia mencebik,” Ckk, sudah gue bilang jangan membuat hati gue bingung! Dia malah  bernyanyi seperti itu. Pak Satya jahat sama gue kan, Ay??”


Ayu hanya tersenyum sembari mengelus punggung sahabatnya itu.


Nia beranjak dari tempat tidurnya, melangkahkan kaki keluar kamar.


“Mau kemana??” tanya Ayu tepat sebelum Nia membuka gagang pintu.


“Ambil air dingin di kulkas dapur. Gerah gue!”


Nia langsung menuju dapur mengambil air dingin yang memang sudah di sediakan di dalam kulkas.


Sebelum kembali ke kamarnya, Nia melangkahkan kakinya ke halaman belakang hanya untuk mengecek apakah masih banyak orang yang bercengkerama atau tidak.


Dari balik pintu kaca yang memisahkan dapur dan halaman belakang, Nia melihat halaman belakang yang sudah sepi. Hanya tinggal beberapa gelintir orang yang masih asyik bercengkerama.


Saat netranya menelisik setiap sudut taman, tidak sengaja Nia melihat 2 sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk berdua.


Tentu saja Nia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, karena jarak mereka dengan Nia berdiri memang cukup jauh. Namun Nia yakin, dari raut wajah yang tergambar, jelas mereka sedang berbicara hal yang serius.


“Sedang apa mereka berdua disana???”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2