Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 55


__ADS_3

Matahari bersinar terang… seolah… tersenyum senang…


Alarm pagi Nia kembali berdering…


Nia merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia mengerjapkan mata, membiasakan dengan temaram lampu kamar.


Tempat yang asing baginya, itu pemikirannya pertama kali saat ia membuka mata.


“Ini kan tempat tinggalku yang baru… kenapa aku bisa lupa..??” gumamnya.


Perlahan ia membalikkan badan menatap paras tampan suaminya yang masih tertidur pulas di sampingnya.


Menatap dalam raut wajah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam kehaluannya. Kini berbaring bersama di


bawah pelukan selimut yang sama.


Nia membelai lembut pipi Satya, kembali meyakinkan dirinya bahwa ini nyata, bukan lagi sekedar imajinasinya. Bahwa sosok yang tidur di sampingnya kini adalah laki – laki yang dicintainya, suami impiannya, Satya Aryadika.


Setelah cukup lama memandangi wajah suaminya, Nia pun mengecup singkat pipi Satya lalu beranjak dari ranjangnya.


Namun belum sempat Nia berdiri, Satya sudah terlebih dahulu menarik tangannya. Alhasil Nia terjatuh tepat diatas dada bidang Satya.


“Mau kemana sayang…??” ucap Satya masih dengan mata yang terpejam.


“Sudah pagi, mas… Ayo bangun..!” kata Nia yang hendak berdiri.


Satya justru semakin mengeratkan pelukannya. Mengunci pergerakan Nia agar tetap berada diatasnya.


“Tunggu sebentar, aku masih ingin memelukmu.. sebentar lagi..” ucap Satya yang mengecup singkat bibiir Nia.


Satya membuka perlahan matanya. Membuatnya kini beradu pandang dengan Nia. Paras nan Ayu yang kini berada di atas tubuhnya.


Satya menatapnya lekat. Dalam dan semakin dalam.


Dalam sekali gerakan Satya mengubah posisinya, ia berada diatas sedangkan Nia terkungkung dalam himpitannya.


Jantung Nia berdegup kencang. Raut wajah khas bangun tidur Satya semakin membuatnya terpesona.


“Kenapa lama sekali…??” ucap Satya setengah berbisik di telinga Nia.


“Sabar mas… baru juga 2 hari.” Kata Nia.


“Susah sekali aku menahannya…”


“Sabar sayang…” kata Nia yang mengecup lembut bibirr Satya.


“Kamu selalu menggodaku, Nia.” Kata Satya.


“Sudah menjadi hobi baruku sekarang,mas...” Goda Nia.


“Oh God..!! kamu begitu menggemaskan, aku ingin menggigitmu..!!” kata Satya yang tanpa aba – aba langsung menciuumm bibir ranum Nia.


Nia memejamkan matanya, membiarkan Satya bermain – main dengan bibiirnya. Menelisik setiap sudut rongga, mengajarkan Nia untuk membalas setiap sesapann darinya.


Selalu, Satya melepaskan pagutannya saat mereka berdua hampir kehabisan nafas.


“Ayo kita mandi bersama..” kata Satya dengan nafasnya yang masih tersengal – sengal.


“Jangan mas… aku kan lagi datang bulan.. gak nyaman.” Kilah Nia.


Satya mengakui kealpaannya, bagaimana ia bisa lupa jika Nia masih dalam status darurat…?


“Mas, mandi duluan gih…”  bujuk Nia.


Satya pun menurut, ia segera beranjak ke kamar mandi. Sedangkan Nia menuju walk in closet dan menyiapkan baju ganti Satya. Hal yang pertama kali ia lakukan sebagai istri.


Setelah menyiapkan baju Satya, Nia beranjak ke ruang kerja dan menyiapkan buku dan modul kuliahnya.


Nia kembali ke kamar dan mendapati Satya mengerjakan dua rekaat paginya. Nia pun segera menuju kamar mandi.


“Mas, sarapan kali ini sandwich gak apa – apa ya…?? Nanti habis ngampus aku akan mampir untuk belanja.” Kata Nia yang sedang berkutat di dapur.

__ADS_1


“Iya sayang… “ kata Satya yang setia menunggu di meja bar.


“Mas biasanya kopi atau teh..??”


“Aku lebih suka nyusu…” sahut Satya.


“Maaaaaasss….. serius nih..”


“Lho.. mas juga serius sayang, kalau sarapan mas biasanya minum susu.”


“Oh… minum susu..” gumam Nia.


“Nah kan, kamu kan yank pikirannya kesitu mulu..” goda Satya.


Mereka berdua pun sarapan bersama. Menu sederhana, hanya sandwich dan juga segelas susu. Namun terasa nikmat dan hangat saat memakannya bersama – sama.


“Hari ini ada berapa kelas..??” tanya Satya.


“Cuma 2 mas. Jam pertama ada kelas dosen tampan, terus masih ada kelas 1 lagi.”


Satya tersipu malu mendengar pengakuan Nia yang juga seringkali menggodanya.


“Mas juga ada 2 kelas hari ini. Mau ikut mas ke kantor sebentar gak habis ngampus..?? nanti pulangnya kita mampir belanja.”


“Oke, tawaran diterima..!!” ucap Nia mengedipkan satu matanya.


Setelah selesai sarapan bersama, Nia kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya.


Satya dengan setia menunggu di ruang tamu, setelah menyiapkan berbagai berkas yang akan dibawanya ke kampus dan ke kantor.


“Ayo mas, kita berangkat…!” kata Nia.


Satya menengadahkan wajahnya, menatap Nia. Sepersekian detik Satya terhipnotis dengan paras istrinya itu.


“Tunggu dulu…! Ganti bajunya sayang.. jangan pakai yang itu.” Kata Satya.


“Ganti baju..?? kenapa mas..??” tanya Nia yang kebingungan.


“Seksi darimana sih mas..?? lagipula, sudah banyak pria yang menyukaiku.” Sahut Nia.


“Tuh kan, makanya mas gak mau.. sudah ganti baju biasa aja.” Perintah Satya.


Nia yang memakai dress hitam dibawah lutut di padu padankan dengan jaket jeans crop serta sneaker putih, akhirnya menuruti perintah suaminya untuk berganti baju yang biasa saja.


“Nah, ini baru oke.” Kata Satya saat melihat Nia dengan celana kulot dan t shirt ditutup dengan jaket jeans tadi.


“Ayo kita berangkat…!” ajak Satya mengandeng mesra istrinya.


Tidak sampai 15 menit, mobil Satya sudah memasuki parkiran kampus.


“Kok berhenti disini mas..?? kalau ada yang lihat aku keluar dari mobil mas gimana..??” kata Nia.


“ Ini masih pagi sayang… lihat, masih sepi kan..??”


Nia setuju, memang saat ini masih terlalu pagi dan masih sedikit mahasiswa ataupun dosen yang datang.


“Oke, aku turun dulu mas..” ujar Nia seraya melepas seatbeltnya.


“Eits, kamu gak lupa sesuatu..??


Satya menyodorkan punggung tangannya.


Nia tersenyum, lalu mencium takzim punggung tangan suaminya. Satya lalu menarik tangan Nia, lalu mengecup lembut dahi istrinya.


“Belajar yang rajin ya istriku…” kata Satya


“Iya, suamiku…” ucap Nia.


“Assalamu’alaikum..”


“Walaikumsalam..”

__ADS_1


Nia pun turun dari mobil Satya lalu berlari kecil sambil menoleh ke kanan dan kiri. Takut – takut ada yang memergokinya turun dari mobil Satya.


Satya hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.


Nia berjalan santai menyusuri koridor kampus menuju kelasnya. Kali ini ia tidak perlu terburu – buru takut terlambat. Karena dosennya pagi ini masih duduk dengan santai di mobilnya, Dosen tampan bin killer, Pak Satya.


Nia memasuki kelasnya dan langsung mendapati 2 sahabatnya yang sudah langsung heboh melihat kedatangannya.


“Niaaaa…!!! Sini.. sini…” pekik Nindya heboh.


Nia pun mengambil tempat duduk di samping sahabat – sahabatnya itu.


“Cieee yang pengan…”


“Hush…!!!” Nia langsung membungkam mulut Nindya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


“Sorry.. sorry Ni, gue keceplosan..” Kata Nindya.


“Resek loe…”


“Loe kok masih ngampus sih,Ni..??” tanya Ayu.


“Kenapa juga gue harus bolos..?? ujian tinggal seminggu ini…” sahut Nia.


“Loe masih bisa jalan..??” tanya Nindya.


“Emang gue harus ngesot gitu..??” sahut Nia.


“Hmmm.. loe belum unboxing kan..??” selidik Nindya.


Nia menautkan kedua alisnya.


“Pantesan loe masih bisa jalan… saran gue nih ya, mending sekalian habis  ujian semester aja, Nia.. daripada loe ngesot beneran…!!” kata Nindya.


“Sok tahu loe…” ucap Nia.


“Yeee… dibilangin juga.. kalo loe gak percaya ya udah langsung praktek aja sono.. eh tapi habis itu bagi cerita ama gue ya…??”


“Dasaaarr loe, Nindya…!!!!”


Saking serunya ketiga mahasiswi itu bertukar cerita hingga tidak menyadari sang dosen sudah berada di ujung pintu.


“Ehem… selamat pagi.” Sapa Satya dengan suara dan auranya yang khas.


“Pagi pak…” seru mahasiswa kompak.


Satya memulai pun memulai kelasnya. Menjabarkan materi terakhir sebelum ujian semester pekan depan.


Berbeda dengan Satya yang tampak biasa saja seperti tidak terjadi apa – apa, Nia justru sibuk mengatur degup jantungnya.


Setiap ia tidak sengaja beradu pandang dengan suaminya itu, jantungnya justru berdetak semakin cepat.


“Kenapa dia bisa santai banget gitu sih…??” batin Nia.


Satya memang bersikap sangat profesional di kampus. Mimik wajahnya tidak banyak berubah. Tetap terkesan dingin dan killer.


Nia pun berusaha memfokuskan dirinya menyerap materi dari Satya.


“Jangan lupa tugas terakhir kalian semester ini kumpulan di PJ, lalu segera bawa ke ruangan saya sebelum jam 12” Ucap Satya diakhir sesi mengajarnya.


“Tugas…?? Mampus gue…!!!” gumam Nia lirih.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2