Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Season 2-27


__ADS_3

Kania dan rombongan berkumpul di bandara setelah semua anggota lengkap mereka semua melakukan check in sebelum masuk ke ruang tunggu bandara.


Gavin dan Kania berjalan bergandengan tangan, sekali-kali Kania menggelantung di lengan pacarnya.


Seperti ingin menunjukkan kepada teman-temannya kalau lelaki di sampingnya hanya miliknya sekarang.


Gavin senyum-senyum sendiri melihat sikap Kania kepadanya, entah apa yang merubah wanita itu menjadi dadakan sangat posesif terhadap dirinya.


Sampai di ruang tunggu Kania dan Gavin duduk bersebelahan dan ia sengaja menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu, seolah ingin menunjukkan kemesraan di depan teman-temannya.


"Kan, lu gak asik banget bukannya gabung malah mojok sendiri, udah kayak ulet keket nempel aja sama pacar lu," kata Asri salah satu temannya Kania.


"Beneran Kania lu asik sendiri mojok, masa kita-kita di biarin aja sendiri... jadi gak asik," lanjut Mila.


"Lu orang pada berisik aja, pantang lihat orang senang nih. Ganggu aja," balas Kania.


"Bawa cowok lu sini dong Kan, kenalin sama kita-kita," celetuk Sari.


Semua teman-temannya sekarang pada heboh untuk menggoda Kania, wanita yang selama ini di kenal kalem di kampus belum pernah mereka melihat Kania berpacaran tetapi sekarang memamerkan kemesraan.


"Gak penting banget ngenalin cowok gue sama lu orang, entar ada yang nikung lagi," balas Kania sambil tertawa.


"Sombong amat" sela Mila dengan muka konyolnya.


Sekarang waktunya untuk masuk kedalam pesawat, semua mengantri dengan membawa boarding pass masing-masing untuk melewati pintu pemeriksaan akhir sebelum masuk dalam pesawat.


Kania duduk berdua dengan Gavin, kali ini pria itu tidak menggunakan kelas bisnis karena menyesuaikan dengan teman-teman Kania yang lain.

__ADS_1


Kania udah duduk di kursi pesawat, Gavin membantu memasangkan seatbelt untuknya.


Tiba-tiba "cup" dengan cepat seperti pesawat akan take-off secepat itu juga satu ciuman terbang di pipi Kania.


Sekarang perasaan Kania seperti terbang di atas awan, Gavin sudah membuat Kania merasa antara senang dan malu.


Kania mengusap pipinya bekas bibir Gavin masih terasa lekat di ingatannya.


"Kebiasaan suka mencuri kesempatan," cubit Kania di Lengan Gavin.


"Tapi suka kan," goda Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Udah sini kepalanya taruh di dada aku, perjalanan kita masih jauh kamu bisa istirahat. Nanti kalau udah landing aku bangunin kamu," ucap Gavin sambil memberikan dadanya untuk sandaran Kania istirahat.


"Nanti kamu capek kalau aku sandaran di dada kamu sayang," balas Kania.


"Dasar pemaksa selalu aja mengancam," jawab Kania dengan memanyunkan bibirnya.


Akhirnya Kania meletakkan kepalanya di dada Gavin, lalu pria itu membelai rambut panjang Kania sambil beberapa kali mengecup pucuk kepala gadis itu.


"Kamu udah keramas belum tadi pagi sayang," tanya Gavin sambil terkekeh.


"Udah dong, makanya lama tadi harus mengeringkan rambut dulu pake hairdryer.


Emang kenapa? Emangnya bau rambut aku?" tanya Kania.


"Aku mau bilang wangi, jadi pengen cium terus. Udah tidur nanti capek sampai sana," jawab Gavin terkekeh.

__ADS_1


Baru saja Kania mau memejamkan matanya lumayan dapat sandaran dada bidang Gavin, datang pramugari membagikan permen, bungkusan makanan dan minuman.


Pramugari tersebut tersenyum ramah melihat mereka berdua dan Gavin membalas senyum tersebut sambil mengucapkan "terima kasih."


Kania tersenyum ke pramugari tersebut dengan muka kurang suka.


Setelah pramugari tersebut berlalu dari hadapan mereka berdua, Gavin langsung bertanya "Kamu kenapa sayang dari tadi marah-marah aja, jangan-jangan mau PMS."


"Aku gak suka melihat kamu tebar pesona sana sini," sahut Kania.


"Aku bukan tebar pesona sayang, tapi berusaha bersikap ramah sama semua orang," jawab Gavin.


"Tetap aku gak suka, senyum kamu cuma boleh kasih aku aja dan cuma milik aku doang," balas Kania.


"Terus kamu mau aku setiap ketemu orang cemberut aja gitu, cemburu kamu gak beralasan," ucap Gavin sambil menatap wajah Kania.


"Ini kamu dengar detak jantung aku di setiap detaknya ada nama kamu dan kalau kamu bisa lihat hatiku di sana udah terukir satu nama cuma nama kamu "Kania Dewita", sahut Gavin.


"Gombal," sahut Kania cepat.


"Benar dah demi apa pun," balas Gavin.


Sepanjang perjalanan di pesawat mereka berdua banyak perdebatan, sampai akhirnya capek sendiri Kania tertidur dengan bersandar di dada bidang Gavin.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa jejak dengan cara like, komen dan bantu vote ... happy reading.

__ADS_1


__ADS_2