Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 66


__ADS_3

“Bagaimana hasilnya…???” tanya Satya.


“Kecelakaan itu memang diakibatkan karena rem blong pak, tapi yang cukup mencurigakan rem tersebut seperti sengaja dipotong… karena bentuknya sangat presisi dan simetris….” Jelas detektif swasta yang selama ini selalu membantu Satya.


“Sudah kuduga, tapi bukti itu saja masih belum cukup untuk menyimpulkan bahwa itu adalah percobaan pembunuhan, bukan kecelakaan biasa.” Kata Satya.


“Saya akan mencari bukti – bukti yang lain pak.”


“Bukankah sopir itu selamat…??? Kita mulai dari dia…” perintah Satya.


“Selain itu pak, saya menemukan cctv dari toko seberang jalan. Dan ada satu hal yang membuat saya tertarik.”


“Apa itu….??” Tanya Satya.


Detektif swasta itu pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memutar sebuah video.


Satya melihatnya dengan seksama detik – detik sebelum mobil yang ditumpangi istrinya tertabrak. Walau setelah itu ia bergidik ngeri dan tidak berani melihat apa yang terjadi pada istrinya.


Saat video menunjukan mobil istrinya ditabrak, Satya bahkan ikut menahan nafasnya. Namun setelah itu, saat orang – orang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi dan menolong para korban, Satya melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri tepat di sisi istrinya.


“Bukankah ini adalah orang yang waktu itu…?? Anda menyuruh saya mencarinya waktu itu…” tanya Detektif itu.


“Marsya….??? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan dia…??” ucap Satya yang kaget tidak percaya.


Satya terhenyak menyadari kebenaran yang mulai terungkap. Ia bahkan tidak habis pikir bahwa wanita yang dulu pernah sangat ia cintai bisa melakukan hal sekejam itu.


“Segera selidiki, dan beri aku jawaban yang pasti…!!aku akan menuntut siapapun yang berbuat ini kepada istriku..” perintah Satya.


“Baik pak….” Jawab Detektif itu seraya pamit dari ruangan kantor Satya.


Baru saja menyenderkan kepalanya dan sejenak memejamkan matanya, ponselnya berdering.


Satya langsung mengangkatnya saat melihat nama yang tertulis di ponselnya.


“Halo.. assalamualaikum bun…”


“Walaikumsalam Satya… Sat, Niaa…..”


Satya langsung menutup teleponnya setelah mendengar perkataan bundanya di telepon.


Satya langsung menyambar tas serta kunci mobilnya seraya beranjak dari kantornya.


Jihan sampai terkejut melihat Satya yang setengah berlari keluar dari ruangannya.


“Jihan, saya pulang awal hari ini. Atur ulang semua jadwal saya.” Perintah Satya setengah berlari.


“Baik pak…” kata Jihan.


Dengan masih tanda tanya, Bunda Wike pun membuka pintu dan sangat terkejut melihat seseorang yang berdiri di balik pintu.


“Kamu….???!!!”


“Hai tante… selamat siang, lama tidak berjumpa…”

__ADS_1


“Mau apa kamu kesini…??!!” tanya Bunda Wike dengan setengah berteriak.


“Tante….. jika ada seseorang bertamu bukankah sebaiknya dipersilakan masuk terlebih dahulu…??” kata Marsya yang langsung seenaknya masuk ke dalam apartemen.


Nia yang mendengar ibu mertuanya setengah berteriak segera menyusul ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.


“Jadi sekarang Satya tinggal di apartemen ini…??” kata Marsya melihat sekeliling.


“Mau apa kamu datang kesini…??” tanya Bunda Wike ketus.


 “Tante….. kenapa tante masih saja tidak suka kepadaku…??? ingat hipertensimu lho tante... tidak baik marah - marah terus..." kata Marsya.


Bunda Wike mendengus kesal melihat sikap Marsya yang tidak pernah berubah. Di depanya ia selalu bersikap


sombong dan angkuh, tetapi jika di depan Satya ia bisa berubah mejadi lemah lembut dan sok manja.


“Berhenti berbasa – basi dan katakan apa tujuanmu datang kesini…!!” kata Nia yang tiba – tiba muncul.


“Nah ini dia…. Aku dengar kamu habis terkena musibah… bagaimana keadaanmu sekarang…??” ujaar Marsya seraya mendekati Nia.


“Aku rasa kita tidak cukup dekat untuk saling bertukar kabar…” jawab Nia.


“Apakah kamu sombong karena sudah menjadi istri Satya….??” Tanya Marsya.


“Tidak juga, aku hanya tidak bisa berpura – pura baik pada semua orang.” Jawab Nia enteng.


Selangkah demi selangkah Marsya mendekati Nia, membuat Nia semakin waspada.


“Aku hanya ingin mengingatkan, Satya adalah milikku. Tidak ada yang bisa memilikinya selain diriku. Boleh jadi kau adalah istrinya, tapi hati Satya hanya untukkku. Satya hanya mencintaiku. Dulu, sekarang dan hingga nanti. Cinta Satya hanya untukku. Dan aku akan memastikan apa yang seharusnya menjadi milikku akan tetap menjadi milikku.” Ucap Marsya.


“Apa kamu belum terbangun dari mimpimu…??” kata Nia yang selangkah demi selangkah mendekati Marsya, membuat Marsya perlahan melangkah mundur.


“Siapa yang berkhianat..? siapa yang melepaskan…?? Siapa yang melarikan diri…??? Ah.. seharusnya aku berterimakasih kepadamu…!! Kini aku akan menjaganya sebaik mungkin, tidak akan mengkhianatinya, tidak akan melepaskannya, dan akan terus berada di sisinya. Aku sarankan selamatkan harga dirimu, karena hanya itu yang tersisa dari dirimu. Jangan mengemis cinta yang bukan lagi menjadi milikmu. Mengerti, bukan…?? Segeralah bangun dari tidurmu..” ucap Nia yang langsung membuat Marsya terpojok.


“Dan juga, sebelum menanyakan keadaanku, sebaiknya kamu periksa dulu keadaanmu. Sepertinya justru kamu yang tidak baik – baik saja.” Imbuh Nia yang melihat wajah Marsya yang pucat.


Marsya semakin kesal pun tidak mempunyai pilihan selain pergi dari apartemen Nia. Dan dengan senang hati, Bunda Wike membukakan pintu untukknya mempersilakan untuk pergi.


“Oh sayang…. Syukurlah dia segera pergi dari sini. Bunda tidak suka bertemu dengannya lagi.”Kata Bunda Wike sesaat Marsya pergi.


“Iya bunda….” Ucap Nia yang meringis menahan sakit di kepalanya.


“Sepertinya kalian pernah bertemu sebelumnya…??” Tanya Bunda Wike.


“Beberapa hari yang lalu kami sempat bertemu saat makan siang bunda… dan dia tanpa aba – aba langsung saja mencium pipi kanan dan kiri Mas Satya… mengingatnya saja membuat Nia kesal…!!” jawab Nia.


“Benarkah…?? Dasar lancang…!! Tapi meskipun begitu, Bunda yakin Satya sudah melupakan dia, sayang… hatinya sudah tertambat padamu…”


“Begitukah Bunda…??”


“Tentu saja…!!! Bunda yakin… Satya sudah menjadi milikmu seutuhnya…”


“Tentu saja bunda…” ucap Nia dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Tapi sayang, kenapa kamu pucat sekali..??” tanya Bunda Wike yang khawatir melihat Nia yang semakin pucat.


“Nia hanya sedikit pusing bunda… tidak apa – apa.. Nia akan istirahat saja di kamar.” Kata Nia.


Bunda Wike mendekat dan meraba kening Nia.


“Badanmu juga panas… apa sebaiknya kita ke dokter saja..??”


“Setelah tidur nanti juga mendingan, bunda… Nia hanya merasa capek saja…”


“Baiklah… kalau begitu istirahatlah di kamar… bunda akan membuatkan teh madu.”kata Bunda Wike.


Nia pun mengangguk lalu beranjak masuk ke kamarnya. Sedangkan Bunda Wike ke dapur untuk membuatkan teh madu.


“Sebaiknya aku memberi tahu Satya….”gumam Bunda Wike lalu mengambil ponsel di sakunya.


“Halo.. assalamualaikum bun…”


“Walaikumsalam Satya… Sat, Niaa…..”


“Nia kenapa bun…??”


“Nia badannya panas, dia juga bilang kepalanya pusing. Dan jugaaaa, Marsya tadi kesini, Satya…” ujar Bunda Wike.


“Apa…??!!” tanya Satya yang setengah tidak percaya.


“Satya akan pulang, Bun… bunda tunggu dulu di sana…” pinta Satya.


Satya menutup teleponnya dan langsung menyambar tas serta kunci mobilnya seraya beranjak dari kantornya.


Tak berselang lama Satya pun tiba di apartemennya dan langsung mencari keberadaan ibunya.


“Bagaimana kondisi Nia , bun…??” tanya Satya.


“Dia masih tidur di kamarnnya… syukurlah demamnya sudah turun. Sepertinya dia agak syok dengan kedatangan Marsya tadi.” Jawab Bunda Wike.


“Syukurlah Bun… Satya masuk kamar dulu ya bun…??”


“Kalau begitu Bunda pulang ya, Satya…?? Sudah mulai petang… jaga Nia baik – baik ya..!!”


“Iya bunda, terimakasih bunda…” kata Satya.


Segera setelah Bunda Wike pulang, Satya masuk ke kamar untuk melihat keadaan Nia.


Satya mendekat dan hendak mencium kening Nia. Tiba – tiba saja Nia terbangun.


“Mas Satya sudah pulang..?? bau banget sih mas…?!! Jauh – jauh deh…. Mandi dulu sana…” ujar Nia yang langsung menutup hidungnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2