Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Berkunjung ke rumah Laura


__ADS_3

Pagi itu Lisa bangun dengan tubuh terasa segar. Hari baru menyambut dirinya hari itu. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menyegarkan dirinya dan meyakinkan, bahwa semuanya bukan mimpi.


Kini ia adalah gadis yang bebas. Dirga telah memutuskan hubungan dengan dirinya secara baik baik. Ia sengaja tak memberi pesan pada Laura, namun ingin menceritakan semuanya pada sahabatnya itu secara langsung.


Hari minggu pagi, jadwal syutingnya nanti malam, jadi ia ingin menghabiskan waktu pagi ini bersama sahabatnya yang hampir selama menghabiskan waktu di Yogya tidak pernah bersama sama.


Lisa mengenakan celana jeans baggy, dikombinasikan dengan kaos oblong pink, sesuai hatinya yang sedang senang. Ia mengenakan luaran jaket rajut untuk menghangatkan tubuhnya, karena udara Yogya saat pagi terasa dingin.


Lisa mengenakan sepatu kets andalannya, lalu mengambil tas selempang kecilnya, untuk menyimpan dompet dan ponselnya.


Ia menuliskan catatan dan menempelkan pada kulkas, supaya Mas Andre dapat membacanya setelah bangun. Sebenarnya ia telah menuliskan pesan melalui wa, namun, untuk berjaga jaga jika tidak terbaca oleh Mas Andre.


Lisa memesan ojek online untuk mengantarnya ke rumah Laura. Berbekal cerita, Ibunya memiliki catering dengan nama 'Dapoer Ibu Tinuk' yang labelnya ada di box makanan kru film setiap hari.


Menunggu tak lebih dari lima menit, akhirnya mas mas ojek online sudah datang untuk menjemput Lisa. Setelah mengenakan helm, mas ojol itu mengemudi motor sesuai aplikasi seperti yang diorder oleh Lisa.


Lisa menikmati perjalanan menuju rumah Laura dengan melihat pemandangan kota Yogya dipagi hari, hari Minggu pagi, yang mana tampak ramai orang orang berolahraga, ada yang joging, jalan santai, bersepeda, atau senam bersama. Banyak orang juga yang menjajakan makanan di sepanjang jalan. Aroma harum makanan menggoda perut Lisa untuk berdendang, karena belum terisi apapun sejak tadi pagi.


Sekitar lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai di halaman rumah yang lumayan cukup besar dengan ruang joglo di depannya. Di halaman terparkir mobil yang sering dipakai Dewa untuk mengantar makanan, membuat Lisa yakin itu rumahnya.


"Terima kasih, Mas!" Ucap Lisa sambil menyerahkan helm pada mas kok itu.


"Samin!" Panggil Lisa saat melihat pembantu keluarga Laura itu terlihat tengah menyapu sudut halaman. Yang empunya nama malah clingukan mencari yang memanggil namanya.


"Heh... Aku di sini!" Lisa melambaikan tangannya. Samin menghampiri Lisa dan mengucek matanya, meyakinkan dirinya, bahwa itu bukan mimpi.


"Mbak Lisa!" Ulang Samin memanggil nama Lisa, supaya tambah yakin bahwa itu benar benar artis cantik idola orang orang serumah itu.


"Iya, ini aku. Laura ada?" Tanya Lisa.


"Mbak Laura ada, Mas Dewa ada, Ibu juga ada. Tinggal pilih mau yang mana?" Jawab Samin sambil bercanda.


"Hus... Kamu itu ya, aku mau ketemu Laura. Sana tolong panggilkan!" Ucap Lisa sambil masuk ke ruang joglo yang dijadikan ruang tamu oleh Ibu.


Di rumah seberang, sepasang mata melihat tak berkedip percakapan antara Lisa dan Samin. Kinan, menatap tak suka pada Lisa, karena ia cemburu.

__ADS_1


"Ternyata temanku benar, gosip tentang Lisa dan Dewa." Dengus Kinan dengan kesal.


Lisa menunggu dengan sabar di kursi jati yang ada di ruang tamu itu.


"Loh... Ini kan Mbak Lisa, artis itu kan?" Tanya Ibu.


"Iya, Bu. Ini saya Lisa." Jawa Lisa mengulurkan tangan, disambut hangat oleh Ibu.


"Ayo masuk, langsung ke dapur saja sini." Ibu mengajak Lisa masuk ke dapur rumah itu.


Ia duduk di kursi di dekat meja, yang penuh akan bahan makanan dan aneka bumbu.


Ibu mengeluarkan dari plastik belanjaan yang dibelinya tadi. Ibu mengambil jajanan pasar yang dibelinya untuk sarapan.


Ibu menaruh di meja, lalu menyodorkan pada Lisa.


"Mau teh atau kopi?" Tanya Ibu.


"Kopi saja Bu." Jawab Lisa.


"Min, sana turunkan belanjaan Ibu dari mobil, biar Bude Pur bisa racik racik!" Ibu menyuruh Samin untuk menurunkan belanjaan dari mobil.


Samin dengan enggan, menuju ke mobil. Lisa hanya tersenyum geli melihat Samin.


"Ibu, kaget loh, ada artis, pagi pagi sudah datang berkunjung ke rumah, pake ojek, bukan pakai mobil, seperti yang sering diberitakan di tivi itu loh." Celetuk Ibu sambil memegang lengan Lisa, meyakinkan diri, bahwa yang ada di hadapannya itu adalah artis sinetron yang sering ditonton tiap malam di tivi.


"Nggak lah, Bu. Saya juga seperti yang lain, cuma pekerjaan saya kebetulan pemain film. Sama seperti Laura, Dewa, bahkan Ibu, atau yang lain di sini.


Oya, masakan Ibu benar benar enak. Hampir setiap hari menikmati masakan Ibu, beli makanan di tempat lain, kok rasanya aneh. Pantes saja, Laura sering minta kirim makanan dari rumah." Puji Lisa sambil menatap Ibu.


Bude Pur, melihat Lisa, langsung tergopoh-gopoh mendekati dan bersalaman dengannya. Disusul pegawai Ibu yang lain, mereka bersalaman dan antri foto bareng. Samin dengan heboh menjadi pengarah gaya dan juru fotonya.


"Loh... La aku, Ojo ditinggalkan. Ayo difotoke!" Pinta Samin pada salah seorang pegawai yang lain.


Lisa senyum senyum sendiri melihat tingkah mereka yang heboh sendiri. Bahkan pujian untuknya terdengar, dalam bahasa Jawa. Lisa sedikit mengerti bahasa Jawa selama di sana, namun, untuk berbicara masih belum lancar. Dalam berdialog saja, dia harus take berulang kali, saat mengucapkan bahasa Jawa.

__ADS_1


***


Laura terbangun mendengar suara berisik dari dapur. Saat membuka kamar, ia berpapasan dengan Dewa yang juga baru bangun.


"Ada apa sih, Mbak? Di dapur rame bener." Tanya Dewa sambil mengucek matanya.


"Ga tau. Aku juga baru bangun." Jawab Laura.


Mereka berdua berjalan menuju dapur. Betapa kagetnya mereka saat melihat Lisa telah ada di sana dan bersenda gurau dengan pegawai Ibu mereka. Gelak tawa terdengar dari mereka semua. Celetukan Samin tak jarang membuat Lisa terbahak.


Dewa menatap Lisa yang terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.


Laura pun merasakan hal yang sama. Ia melihat Lisa terlihat lepas dan tanpa beban. Ia yakin, Dirga telah mengambil keputusan yang membuat sahabatnya itu merasa bebas.


Lisa menatap Laura dan Dewa dan mengajak mereka untuk bergabung.


Laura duduk di sebelah Lisa, sedang Dewa di sisi yang lain . Laura menuang kopi ke dalam gelas blirik untuk dirinya dan Dewa.


Laura menghirup aroma kopi sebelum menyesapnya.


"Ibu sangat baik sekali, lihatlah, pagi pagi aku sudah dapat hidangan enak enak seperti ini. Seandainya tiap hari, bisa bisa berat badanku bisa naik." Gumam Lisa.


Sontak ucapannya itu mendapat pukulan pada punggungnya oleh Laura.


"Kamu menyindirku, ya!" Pekik Laura pura pura tersinggung


"Kok marah sih. Aku senang malah. Jadi ingat Mama. Tiap pagi pasti sudah ada makanan tersaji saat bangun tidur." Lanjut Lisa.


Dewa hanya memperhatikan Lisa dan kakaknya ribut sendiri, terlihat lucu.


Ibu melerai mereka sambil menyodorkan lemper yang baru matang buatan Ibu.


Mereka langsung menyerbu lemper itu, dan memakannya.


Lisa merasa sangat senang, meskipun baru pertama kali ke rumah Laura. Kehangatan dan kekeluargaan yang ditunjukkan membuatnya merasa diterima di sana.

__ADS_1


__ADS_2