Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 36


__ADS_3

Malam sudah terlampau larut. Sebagian besar penghuni villa itu sudah meninggalkan taman belakang, memasuki kamar mereka masing – masing. Hanya tersisa beberapa orang saja yang masih terjaga di sekitaran taman.


Di salah satu sudut taman belakang, masih duduk seorang pria yang duduk sendirian hanya berteman angin malam yang semakin menusuk tulang. Hampir dini hari, ia belum beranjak dari tempat duduknya.


“Masih memikirkan sesuatu??” sapa seseorang dari belakangnya.


Niko, pria yang duduk sendirian itu cukup terkaget dengan kedatangan dosennya.


“Bapak masih terjaga??”


Satya tersenyum, berdiri di hadapan Niko dengan  memegang 2 cangkir minuman.


“ Ini teh chamomile. Bagus untuk meningkatkan kualitas tidur dan juga meredakan stress.” Ucapnya seraya menyodorkan salah satu cangkir pada Niko.


“ Terimakasih pak”


Satya duduk di sebelah Niko, lalu menyesap teh yang di bawanya sendiri.


“Sepertinya kita sedang memikirkan satu hal yang sama.”


Niko menoleh sejenak, lalu kembali menatap depan dengan tatapan mata yang kosong.


Satya menghembuskan nafasnya pelas.


“Dia gadis yang ceria dan periang.”


Niko kembali menoleh, mengerutkan kedua alisnya.


“Nia, bukankah dia gadis yang seperti itu??” ucap Satya menjawab pertanyaan dalam hati Niko.


Niko mengangguk setuju.


“Bapak benar, dia memang gadis yang ceria dan periang.”


“Tapi dia juga bisa sangat ceroboh dan bertingkah konyol. Dan juga bisa sangat cerewet.” Imbuh Satya.


Niko kembali mengangguk setuju.


“Dan senyumannya, saya sudah terpikat dengan senyumannya.” Pungkas Satya.


Niko menoleh cepat. Raut wajahnya terlihat khawatir.


Dalam hati ia benar – benar tidak ingin mendengar hal ini, ia cukup takut untuk mengakui kenyataan yang ada.


“Tempo hari saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian di taman kampus.” Ucap Satya sedikit berbohong. Sudah jelas – jelas dengan sengaja ia mencuri dengar percakapan antara Nia dan Niko. Tapi gengsinya tentu lebih tinggi untuk mengakui hal itu.


“Dan saya cukup yakin, hal itu yang membuat gadis ceria dan periang berubah menjadi murung dan pendiam. Tidak ada lagi yang menggoda saya, menganggu saya, dan dengan beraninya selalu mengirim pesan kepada saya setiap malam.” Ucap Satya mengulum senyum.


“Awalnya saya merasa ada yang aneh disini.” Ucapnya menunjuk dadanya.


“Tapi kini saya akui, saya merasa kehilangan. Saya merindukan semua perlakuannya kepada saya. Saya merindukan senyuman hangatnya. Semakin saya mengenalnya, semakin saya terpikat dengannya. Saya sudah jatuh cinta dengan gadis itu. Dan saya merasa, saya belum terlambat untuk memiliki itu semua. Setidaknya saya akan berusaha untuk mendapatkannya,”

__ADS_1


“Saya tidak pernah merebut apapun darimu bukan?? Sejak awal rasa itu sudah ada untuk saya kan?? Nama saya yang ada di hatinya. Saya hanya sedikit terlambat untuk menyadarinya. Bukankah seperti itu??”


Niko cukup lama terdiam.


Masih menatap depan dengan tatapan matanya yang kosong.


“Saya mampu bersaing dengan orang yang mencintai Nia, siapaun itu! namun saya tidak akan mampu bersaing dengan orang yang dicintai Nia. Saya pun tidak akan sanggup jika kebahagiaan Nia yang menjadi taruhannya. Dia terlalu berarti untuk saya."


“Niko, saya hanya...”


“Satu minggu. Saya mohon bapak untuk menunggu satu minggu lagi.” Potong Niko cepat.


Satya menautkan kedua alisnya.


“Tapi setelah itu, berjanjilah satu hal kepada saya.” Ucap Niko


“Janji?” tanya Satya.


Niko mendekat, tampak membisikkan sesuatu kepada Satya.


Satya tersenyum,” Tentu saja.”


“Terimakasih untuk tehnya.” Ucap Niko yang beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Kini tinggal Satya yang duduk sendirian di taman belakang, meyakinkan dirinya kembali bahwa langkah yang ia ambil ini sudah benar.


Hembusan angin malam yang kian menusuk membuat Satya kembali masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Setelah selesai dengan aktivitas pagi dan senam bersama, para maba masih berkumpul untuk mendengarkan instruksi panitia yang akan memberikan pengarahan untuk games terakhir  sebelum mereka kembali pulang.


Dalam permainan kali ini, mereka akan mencari bendera kecil yang sudah di sembunyikan di berbagai tempat di hutan kecil yang tidak jauh dari villa. Siapapun yang mengumpulkan bendera paling banyak berhak membawa pulang hadiah.


Maba yang dibagi dalam beberapa kelompok tampak antusias mengikuti permainan ini. Dan mulai menyusuri hutan kecil yang terletak diatas villa mereka.


“Ayo!” ajak Niko pada Nia dan Ayu yang berdiri di sebelahnya.


Mereka pun turut mendampingi para maba yang antusias mengitari hutan kecil di atas sana.


“Awas hati – hati, tanahnya licin.” Niko yang berjalan di depan mereka mencoba memperingatkan.


 Jalanan setapak yang sedikit menanjak itu memang cukup licin akibat guyuran hujan beberapa hari yang lalu.


Membuat para maba dan panitia harus ekstra berhati – hati.


Pak Satya juga tampak membantu Bu Mega yang agak kesusahan menapaki jalan yang berlumpur.


“Masa remaja sungguh indah bukan, Pak?” ucap Bu Mega.


“Maksud Bu Mega?”


“Lihatlah mereka!”

__ADS_1


Satya menatap ke arah yang di maksud Bu Mega.


Beberapa langkah di depan mereka, tampak Nia yang juga kesusahan menapaki jalan di bantu oleh Niko.


Niko memegang erat tangan Nia yang hampir tergelincir karena lumpur.


Desiran rasa aneh memenuhi ruang sesak dada Satya. Apalagi ia dengan jelas melihat Nia juga tampak nyaman dalam genggaman tangan Niko.


“Tapi kita juga belum terlalu tua lho Pak Satya, untuk menikmati masa muda.” Goda Bu Mega.


Satya menautkan kedua alisnya, “Maksud Bu Mega??” ia yakin ada maksud terselubung dari pernyataan rekan sesama dosennya itu.


“Saya dengar Pak Satya belum mempunyai pasangan, saya juga belum lho pak.” Bu Mega mengerlingkan matanya.


Nah kan!!


Satya hanya tersenyum simpul menanggapi Bu Mega. Ia sudah terbiasa menghadapi sikap Bu Mega yang seperti itu.


Sejak awal mengajar bukan hanya mahasiswa saja yang terpikat pesonanya. Bahkan para dosen yang masih lajang pun secara terang – terangan banyak yang mengajaknya berkencan, Bu Mega salah satunya.


Namun Satya tetaplah Satya yang dingin dan menutup diri dari cinta. Ia sebisa mungkin tetap berlaku profesional terhadap mahasiswanya dan juga rekan sesama dosennya.


Dan sepertinya hanya Nia yang mampu menembus dinding itu. Meluluhkan hati Satya yang membeku.


“Niaaa!!!!!” pekik Ayu


Satya yang mendengar teriakan segera mencari sumber suara. Dan ikut terkaget saat melihat Nia sudah terduduk memegang kakinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readersku tercinta, maaf Author baru sempat up lagi karena ada beberapa hal yang terjadi di dunia nyata Author. Terimakasih yang sudah selalu setia menanti kelanjutan cerita Author. apalah arti Author tanpa reader setiaku.


Terimakasih.


.

__ADS_1


.


__ADS_2