
Lisa termenung menatap suasana stasiun Gambir pagi itu. Ia berangkat diantar oleh Laura, hanya membawa tas koper dan tas ransel sedang untuk membawa gadget, dompet, dan make up hariannya.
Kali ini ia memakai pakaian kasual, celana jeans 7/8, kaos oblong, jaket hoddie, dipadu dengan sepatu kets. Tak lupa memakai masker, dengan rambut dikuncir ekor kuda.
Ia masuk ke dalam stasiun dengan menunjukkan tiketnya, lalu ia berjalan menuju peron, mencari kereta yang akan membawanya ke Yogyakarta.
Ini pertama kalinya ia bepergian menggunakan kereta api, dan pertama kali ke Yogyakarta. Kaki ini ia sendirian, Lisa merasa sedikit gugup. Ingin rasanya ia menelpon Laura, namun inikan kemauannya sendiri.
"Tempo hari Laura saja bisa, kenapa aku tak bisa." Lisa terus menekankan itu dalam pikirannya. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan.
Ia mendekati petugas kereta api yang terlihat di dekatnya, dan menunjukkan tiketnya. Petugas itu menunjukkan peron tempat kereta api yang akan ditumpangi oleh Lisa. Setelah mengucapkan terima kasih, Lisa menuju arah yang ditunjukkan petugas tadi.
Lisa berjalan menyusuri peron mencocokkan nama nama kereta api dan nomor gerbong yang tertera pada tiket. Setelah menemukan kereta Taksaka, ia masuk dan mencari nomor kursi miliknya. Lisa berjalan menyusuri bangku bangku yang sebagian terisi penumpang.
Setelah beberapa lama melangkah, akhirnya ia menemukan nomor kursi miliknya. Lisa mencocokkan kembali dengan tiketnya. Lalu ia menaruh tas pada rak Tatakan di bagian atas kursinya. Lisa menyamankan posisi duduknya, lalu ia melihat sekelilingnya.
Mulai banyak penumpang yang masuk dan menempati kursinya masing masing. Ia bersebelahan dengan seorang lelaki paruh baya yang terlihat sibuk dengan gadgetnya.
Lisa membuat video dan memposting fotonya saat dalam kereta di Instagram miliknya. Membuat cerita di laman instagramnya. Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu di dalam kereta, akhirnya mulai bergerak.
Terdengar suara merdu petugas sedang memberi informasi nama kereta dan tujuan, serta peraturan dalam kereta melalui speaker. Lisa memberi pesan pada Laura, bahwa, keretanya telah berangkat. Lalu ia membuka playlist pada ponselnya, dan menyelipkan earphone ke telinga untuk mendengarkan musik, sambil membaca buku yang dibawanya.
Perjalanan dimulai dengan kawasan padat kota Jakarta, akhirnya mulai masuk ke perumahan. Setelah perjalanan sekitar dua jam, pemandangan sawah mulai terlihat.
Saat petugas menawarkan makanan dan minuman, Lisa memesan beberapa menu untuk dinikmati, karena perutnya terasa sangat lapar.
Ia selalu membuat dokumentasi di setiap pemberhentian, dan selalu takjub saat melihat kereta api lain yang melintas. Tampak area persawahan, gunung, dan bukit menjadi pemandangan selama dalam perjalanan. Saat jam makan siang, Dewa mengirim pesan menanyakan sampai di mana.
Tak terasa sekitar enam jam berlalu, akhirnya Lisa memasuki kota Yogyakarta. Lisa sangat antusias, ia menatap ke luar jendela dan memperhatikan kota tempat Dewa tinggal.
Kereta memasuki stasiun Tugu dan berhenti di sana. Lisa mengambil tas kopernya, dan mengenakan tas ranselnya. Ia menunggu hingga penumpang terlihat agak sepi, supaya tidak terlalu berdesakan.
Ia tersenyum, ternyata tak ada yang mengenalinya dengan dandanan seperti ini. Namun, harapan Lisa sirna, takala beberapa petugas kereta api menghampirinya, dan meminta foto bersama. Lisa dengan ramah meladeninya.
Setelah sesi foto berlalu, Lisa akhirnya dapat menginjakkan kakinya di kota Yogyakarta. Ia menghirup udara Yogya, lalu membenarkan tas ranselnya, dan menenteng tak koper miliknya.
Ia berjalan menuju pintu kedatangan. Dari kejauhan ia mengenali sosok Dewa yang berdiri menunggunya.
Lisa berjalan menuju ke arah Dewa, untuk sejenak Dewa baru ngeh, yang menghampirinya adalah Lisa.
"Astaga, aku pangling lihat kamu." Ucap Dewa menyambut Lisa.
__ADS_1
Lisa tersenyum melihat Dewa, namun tak terlihat karena masih memakai masker.
"Selamat datang di Yogya, Nona cantik!" Sambut Dewa.
Lisa tertawa mendengar ucapan sambutan dari Dewa itu.
"Aku naik motor, tidak apa apa kah?" Tanya Dewa.
"Tak apa apa."
"Jadi, mau ke mana dulu kita sekarang?"
"Sebaiknya kita ke alamat ini." Lisa menunjukkan ponselnya.
Dewa menerima ponsel Lisa, dan membaca alamat yang tertera pada ponsel itu. Lalu ia mengangguk angguk tanda mengerti. Dan menyerahkan kembali ponsel pada Lisa
"Tau gak tempatnya?" Tanya Lisa.
"Tau dong." Jawab Dewa.
Lisa berjalan mengikuti Dewa yang membantu membawakan tas kopernya. Ia mengamati tubuh Dewa dari belakang.
"Nih, dipakai helm nya!" Perintah Dewa.
Lisa memakai helm, dan membonceng di motor bebek matic milik Dewa.
Sepanjang perjalanan Lisa melihat kanan dan kiri jalan. Kota Yogyakarta ternyata sangat ramai juga. Banyak cafe dan toko toko kekinian di pinggir jalan. Sepanjang jalan Dewa bercerita tentang rute yang mereka lewati itu.
Hingga sampai di belokan, jalannya terasa lebih tenang. Mereka tiba di sebuah rumah. Ada mobil terparkir di garasinya. Dewa memarkir motornya, dan menuju ke pintu rumah untuk mengetuk.
Tak lama seorang membukakan pintu itu.
"Cari siapa, Mas?" Tanya seorang perempuan yang membukakan pintu rumah itu.
"Apa benar ini alamat untuk menginap kru film dari Jakarta?" Tanya Dewa dengan sopan.
"Ya, tapi katanya mereka akan sampai hari Senin besok, bukan hari ini." Ucap perempuan itu.
Lisa menarik lengan Dewa.
"Sebaiknya, aku menginap di hotel saja." Bisik Lisa, karena merasa tak nyaman saat melihat rumah itu.
__ADS_1
Dewa berbalik dan menghampiri perempuan itu.
"Iya, Bu. Maaf besok saja kalau sudah sampai orang nya. Terima kasih."
Dewa. Dan Lisa pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku antar ke penginapan yang bagus tapi ga terlalu mahal ya." Dewa memberi saran.
"Iya, sudahlah. Aku nurut saja sama Pak pemandu." Jawab Lisa.
Dewa melajukan motor kembali melewati patung tugu Yogya yang ikonik, lalu membawa Lisa melewati Malioboro. Dewa memarkir motor di area parkir Malioboro.
Lalu mereka berjalan sebentar melalui sebuah gang kecil di jalan Malioboro. Kawasan itu tampak rapi dan kanan kirinya terdapat perang berjualan.
Dewa membawa Lisa ke sebuah hotel kecil kelihatannya.
Namun, setelah masuk ternyata hotel itu luas dan ada kolam renangnya.
Setelah melakukan check in, Lisa menuju kamarnya diikuti oleh Dewa yang membawakan tas kopernya.
Mereka masuk ke kamar hotel.
"Tunggu ya Dewa, aku mau mandi dulu." Ucap Lisa.
"Sebaiknya aku tunggu di lobi saja ya Lisa." Jawab Dewa.
Lisa terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.
Dewa keluar untuk menunggu di lobi hotel selama Lisa bersiap siap.
Lisa mengumpat dalam hati setelah Dewa menutup pintunya dari luar.
"Bodoh! Mengapa gue jadi gini?"
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, Lisa akhirnya turun menuju lobi.
Lisa memakai celana jogger santai, dengan kaos oblong lengan panjang. Kali ini rambut dikuncir biasa.
"Jadi mau kemana lagi kita?" Tanya Dewa.
"Yuk kita ke Malioboro, sambil cari makanan. Aku lapar!" Ucap Lisa.
__ADS_1