
Selesai mandi, Laura menuju ruang belakang si rumahnya, yang dipakai untuk gudang. Ia teringat ada satu kotak yang milik Laura, namun ia tak bongkar, karena hanya berisi buku buku tentang keuangan, dan beberapa pakaian yang terlihat kuno, menurutnya.
Laura - Gwen mengambil kotak kardus air mineral itu. Membawa kardus itu ke kamarnya, lalu membongkar isinya. Ada beberapa buku tentang keuangan, ia mulai membuka buka isi buku itu, siapa tau mendapat petunjuk masa lalu Laura.
Ia membolak-balik halaman buku, mencari cari siapa tau menemukan petunjuk. Ternyata tidak ada di buku pertama yang ia bongkar.
Ia menaruh di lantai dan mengambil buku yang lain, lalu membuka tiap halaman. Ia berhenti di sebuah halaman, tampak terselip sebuah kartu pos bergambar patung Liberti, ia membaliknya.
Dear My Lala...
Terima kasih kirimannya, aku harap kita bisa segera bertemu.
Miss you..
Radit
Ada alamat lengkap Radit di new York. Ia meletakkan kembali buku itu, dan menaruh kartu pos di kasur.
Lalu Laura membalik halaman selanjutnya, dan di bagian akhir buku, ada catatan sebuah alamat di New York. Laura mengambil lagi kartu pos itu, dan mencocokkan alamat itu. Ternyata berbeda. Lalu ini alamat siapa? Batin Laura terus bertanya, dan mencoba mengorek kembali semua ingatan dalam otak Laura. Hasilnya tetap nihil, karena hanya kemampuan dan kepintaran saja yang tertinggal dalam memori Laura, sedangkan segalanya telah menjadi milik jiwa Gwen.
Semakin berusaha semakin pening kepalanya.
"Aaargghh..!!" Laura melempar buku itu dengan kesal, karena tak menemukan jawaban apapun. Lalu ia duduk terkapar di lantai sambil menatap kartu pos pemberian Radit.
Terdengar suara mobil menderu dari arah luar. Lisa telah kembali. Terdengar pintu dibuka, dan langkah kaki mendekati kamar Laura yang terbuka.
"Kenapa La?" Tanya Lisa heran dari arah pintu.
"Ga apa apa. Gue hanya capek." Jawab Laura berbohong, ia tak ingin sahabatnya ikut sibuk membantu. Padahal ia sendiripun tak tau apa yang sedang dicari.
Lisa tersenyum, lalu berbalik keluar kamar Laura.
Laura kembali membuka buku yang lain. Ada selembar foto dalam buku itu. Laura membalik lembar foto itu, betapa terkejutnya ia menatap foto itu.
Foto dirinya bersama Dirga. Terlihat Dirga merangkul mesra Laura dengan balutan jaket tebal, seperti saat musim dingin dengan latar salju. Tak jelas diambil kapan foto itu. Foto itu sepertinya diambil dari kamera polaroid.
Laura - Gwen pernah melihat kamera polaroid di kamarnya di Yogya. Ia mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya yang telah terjadi dengan Laura. Cerita Radit saat sedang di New York, mereka tak sempat bertemu, lalu mengapa ia bisa berfoto bersama Dirga.
Apa yang sebenarnya terjadi ini? Mengapa Laura bisa bersama Dirga? Lalu mengapa Laura enggan kembali ke Yogya? Lalu mengapa Dirga seolah juga takut mendengar kata Yogya? Seolah ia pun takut untuk ke sana.
__ADS_1
"La, Lo udah makan belom? Itu Mang Ujang lewat, gue pesen nasi goreng ya, Lo mau apa?" Tanya Lisa setengah berteriak dari ruang makan sambil bergegas keluar memanggil gerobak nasi goreng langganan mereka.
"Belom, bentar." Laura membereskan buku yang berceceran di lantai, dan memasukkan kembali dalam kotak. Saat hendak memasukkan buku terakhir, ia tertarik membukanya.
Betapa terkejutnya ia saat membuka halaman pertama, ia menemukan foto Laura dan Dirga, sepertinya diambil dari foto box, mereka berpose seperti pasangan. Mereka berfoto saling mencium. Ada yang Laura mencium pipi Dirga, dan sebaliknya. Lalu foto pose wajah jelek ala ala remaja, dan terakhir saling mencium bibir.
Laura tertegun menatap foto itu. Apa ini? Mengapa jadi seperti ini?
"La, Lo jadi pesan apa?" Teriak Lisa, mengejutkan Laura.
"Ya.. tar gue keluar!" Jawab Laura, sambil membereskan kotak itu dan menaruh di sudut ruangan dekat tempat tidurnya.
Laura beranjak berdiri dan melangkah keluar kamarnya. Untuk memesan seporsi nasi goreng.
Lisa telah membawa piring nasi goreng pesanannya ke dalam rumah. Laura masih menunggu Mang Ujang meracik nasi goreng miliknya.
"Mang, dari dulu mamang sudah jualan di sini?" Tanya Laura iseng iseng.
"Iya Neng, dari jaman perumahan ini baru dibangun. Pekerjanya, kan, tinggal di sini juga dulu, lalu setelah selesai dibangun semua, mereka pergi." Cerita Mang Ujang.
"Mulai rame penduduk gini kapan, Mang?"
"Kapan ye..? Sekitar empat tahunan lah Neng. Kalo Eneng, kan baru setahunan kayaknya. Soalnya Mamang inget banget sama si Lisa artis itu." Ucapnya sambil tertawa malu.
"Iya. Tapi baguslah dia, meskipun dulu sahabatan sama almarhum Gwen, tapi tetap tidak sombong. Sama dengan sahabatnya." Puji Mang Ujang.
"Kalo Gwen masih ada, terus ketemu, gimana?"
"Mamang pernah ketemu sama Gwen, saat syuting sinetron di kampung sebelah. Waktu itu Mamang iseng ngider, ke kampung sebelah, katanya lagi ada syuting film. Nah pucuk dicinta ulama tiba. Alhamdulillah, Gwen ngeborong jualan Mamang ini." Mang Ujang bercerita dengan semangat dengan logat Sunda yang kental.
"Pantas.." Gumam Laura.
"Apaan Neng?"
"Ga ada Mang, punya saya sudah selesai?" Laura sambil menunjuk piring nasi goreng pesanannya.
"Sudah Neng, keasikan cerita, sampe lupa." Ucap Mang Ujang tersipu malu.
Laura hanya tersenyum sambil menyerahkan uang pada Mang Ujang.
__ADS_1
"Makasih ya Neng."
"Oke, Mang."
Laura berbalik masuk ke dalam rumah.
Lalu ia duduk di kursi, sambil menikmati nasi goreng suapan demi suapan dengan lahap.
"Tumben lama?" Tanya Lisa.
"Ngobrol aja sama Mang Ujang."
"Iya, dia fans berat Lo!" Ujar Lisa.
"Gwen. Iya, gue juga ga nyangka, dia tukang nasi goreng yang pernah gue borong, karena enak rasanya. Akhirnya ketemu lagi. Pantas kayanya familiar, sejak pertama beli saat kita pindah di sini." Kenang Laura.
"Iya, gue juga ga sangka. Oya, Mas Wisnu udah ketemu orang tua Katrin. Ternyata dia anak orang kaya!" Cerita Lisa.
"Oya? Katrin?"
"Iya, Mas Wisnu serius dengan Katrin. Papa tanya hubungan Mas Wisnu dengan Katrin. Sewaktu Mbak Niken berkunjung ke rumah. Lalu Mas Wisnu pingin ketemu sama orang tua Katrin. Kebetulan kata Katrin, orang tuanya sedang ada di rumah. Mas Wisnu terkejut, ternyata Papa dan Mama Katrin itu pengusaha semua, dan perusahaan mereka di luar negeri."
"Wah, jujur gue baru tau, soal ini. Karena gue ga pernah tanya tanya keluarganya."
"Iya juga sih. Lalu yang paling heboh ya, Mama Mita, tau sendiri kan dia. Langsung si Miranda di hempasan, setelah tau keluarga Katrin." Ujar Lisa sambil tersenyum geli.
"Wah, bakal seru!"
"Iya, pokoknya kemarin Miranda datang ke rumah, biasanya sama Mama Mita, pasti selalu di sambut hangat. Kemarin pas datang dicuekin, terus, mengatakan jika Mas Wisnu bakal nikah sama Katrin."
Laura menanggapi setiap cerita Lisa mengenai keluarganya.
"Besok aku akan tanya sama Katrin langsung. Pasti bakal seru cerita beberapa versi. Dia sedang sibuk ngurus acara gathering perusahaan, soalnya Alan, juga sibuk ngurus acara ulang tahun Persada Swalayan." Cerita Laura pada Lisa.
Mereka menikmati makan malam mereka sambil bercerita seperti biasa.
Laura pun menceritakan tentang Gwen yang ternyata bukan anak kandung Madam Lulu dan suaminya. Lalu Madam Lulu akan rujuk kembali dengan mantan suaminya. Laura menceritakan semua yang ia dengar sendiri dari Madam Lulu. Lisa terkejut, berkali kali ia menepuk punggung tangan Laura, dan memeluk sahabatnya itu.
"Oya, Lis, apa Dirga pernah cerita tentang masa lalunya?" Tanya Laura dengan hati hati.
__ADS_1
"Pernah, dia pernah bilang pacaran dengan temannya di luar negeri sana. Bule. Makanya keluarganya ga setuju, kalo dia sama bule, karena Mbaknya sudah menikah dengan Bule. Makanya dia diminta untuk cari yang pribumi, dan berdarah Jawa." Jawab Lisa.
Laura hanya mengangguk.