
Perjalanan ke Yogya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, Laura berangkat bersama Radit menggunakan perjalanan darat dengan mobil. Laura menyiapkan makanan untuk menemani perjalanan mereka.
Radit sangat bahagia sekali, saat Laura langsung setuju dengan rencananya untuk berangkat ke Yogya bersama.
Dirga berangkat dengan menggunakan pesawat terbang, ia enggan pergi bersama Mamanya. Ia malas mendengarkan semua ocehan dan keluhan dari Mama ya itu, terlebih tentang hubungannya dengan Lisa yang sangat ditentang oleh keluarganya.
"Radit.." Panggil Laura.
"Ya."
Laura terdiam sambil menatap jalanan yang lurus dengan pemandangan kanan kirinya daerah bukit.
"Ada apa La?" Tanya Radit dengan lembut sambil mengambil jemari Laura dan menautkan jarinya di sana.
Laura masih diam, masih bergeming dengan pikirannya sendiri.
"Radit, aku punya masa lalu yang tidak baik." Ucapnya tanpa menoleh pada Radit. Ia ingin membagi kisah Laura dengan Dirga, namun ia khawatir Radit akan emosi sepanjang jalan. Maka ia hanya mengatakan kisahnya tanpa menyebutkan nama Dirga.
"Dengar Lagu, kita berdua punya masa lalu buruk semua. Aku dengan kelakuan bodohku, yang membuatmu pergi. Kini, aku tak akan pernah mengulanginya lagi. Aku mencintaimu Laura, sungguh!" Ucap Radit sambil mengecup jemari tangan Laura.
Laura tersenyum menatap Radit. Ia mencium pipi lelaki di sebelahnya itu dengan mesra.
Mereka beristirahat sejenak di rest area sambil menikmati menu ayam di sebuah restoran fast food yang ada di sana.
"Jika capek, biar aku yang gantian menyetir." Laura menawarkan diri.
"Tidak usah, aku masih kuat. Aku hanya butuh wanitaku ini menemaniku selama dalam perjalanan." Ucapnya merayu.
"Ah.. gombal!" Elak Laura.
Mereka menikmati perjalanan ke Yogya kali ini.
****
Ben berulang kali menatap perempuan berparas ayu di ujung ruangan yang tengah duduk di sofa lobi menatap kru film yang sibuk membereskan perlengkapan syuting mereka.
Lalu setelah benar benar yakin ia berjalan mendekati perempuan itu.
"Nova?" Panggil Ben. Perempuan itu menoleh ke arah Ben dan senyum mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Aa Ben..!" Sapanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Ben.
"Nova selesai syuting film, ini sedang menunggu balasan teman, bisa jemput atau ga. Soalnya tadi sudah janjian." Jawabnya dengan logat Sunda.
"Syuting film? Kamu main film?" Tanya Ben tak yakin.
"Iya A, Nova kemarin ikutan casting film, dan diterima. Salah satu lokasi syuting di kantor ini, kebetulan Nova dapat lokasi di sini." Jawab Nova sambil tersenyum menatap Ben.
"Aku antar saja ya. Kamu tinggal di mana?" Ben mewarkan diri untuk mengantar Nova.
"Aduh, malah jadi merepotkan Aa saja ini. Sebentar Nova telpon Kak Anita dulu ya, supaya dia tidak bingung nanti kalo menjemput ke sini." Nova membalikkan tubuhnya, dan mencoba menghubungi Anita.
Setelah sekitar lima menit mencoba, Nova mengehela napas pasrah.
"Sepertinya Kak Nita sedang sibuk, dia ga bisa dihubungi." Ucapnya pasrah.
"Kamu kirim pesan saja, kalo kamu sudah pulang. Kebetulan aku lewat daerah sana. Sudah malam ini, besok kamu kan harus syuting lagi." Saran Ben pada Nova.
Nova berpikir sejenak, dan akhirnya menganguk setuju.
Nova berjalan di belakang Ben, mengikutinya, dan mereka segera masuk mobil, lalu berlalu dari area perkantoran itu.
"Kebetulan klienku pemilik perusahaan, tempat kalian syuting film itu. Aku ada pekerjaan di sana, ya mengurus berkaitan dengan masalah hukum. Kamu kenapa bisa ikutan syuting?" Tanya Ben sambil menatap sekilas pada Nova.
"Nova sebenarnya tidak suka jadi pengacara, A. Keder duluan kalo ketemu orang dalam sidang. Apalagi kalo lawannya galak." Jawabnya.
Sontak membuat Ben terkekeh mendengarnya.
"Kan selama magang dulu, Nova sering foto foto gitu, kadang dimintain tolong sama teman teman untuk bantu promosi jualannya. Ya sudah, Nova lakukan itu. Kadang lumayan dapat duit juga dari hasil promosi itu. Atau kalo ga dapet ya, paling gak dapat produknya.
Masih ingat, menu nasi campur yang pernah Nova bagi bagi buat makan siang di kantor dulu?" Tanya Nova pada Ben.
Ben mengerutkan keningnya, mencoba mengingat, dan akhirnya ia mengangguk.
"Nah.. itu hasil promosi juga. Nova ga dapat duitnya, tapi selama seminggu dapat jatah makan siang buat sekantor." Ceritanya sambil tersenyum senang.
"Lalu bagaimana bisa sampai ke Jakarta dan tinggal di tempat Madam Lulu?" Cecar Ben.
__ADS_1
"Kemarin ada tawaran buat iklan dari perusahaan di Jakarta. Kebetulan, suami Madam Lulu, yang bule itu sedang ada di kantor, ada urusan sama Abah. Nah cerita cerita lah si Abah sama si Mister Bule itu, tentang kegalauannya melepaskan Nova berangkat ke Jakarta, karena ga ada kerabat di sini.
Lalu Mister bule ngasih informasi, tentang agensi milik Madam Lulu, terus mengubungi istrinya. Lalu Nova dihubungi sama Mas Andre, managernya. Terus besoknya Nova ikut ke Jakarta bareng Mister bule itu dan Madam Lulu, karena menjemput suaminya ke Bandung.
Itu pekerjaan pertama Nova di Jakarta. Lalu beberapa Minggu lalu ada tawaran casting film, dan Nova lolos juga, akhirnya sekarang ikut syuting film, kayak artis artis terkenal itu.
Nova dulu ngefans sama Gwen. Sudah cantik, baik, ramah, gak sombong. Tapi sayang, Tuhan selalu memanggil lebih dahulu orang orang yang baik ya A...." Ucapnya sambil bercerita panjang lebar pada Ben.
Lalu ia terdiam menyadari sesuatu yang salah akan ucapannya barusan.
"Astaga!" Nova menutup mulutnya dengan tangannya sendiri lalu menatap ke arah Ben dengan tatapan takut.
"Ma-maafkan aku A. Nova ga ingat, kalo Gwen kekasih Aa. Bener, suwer!" Ucapnya tak enak pada Ben, dengan kedua tangannya membentuk isyarat tanda V.
Ben yang tadinya terdiam karena terkejut, menjadi tertawa terbahak-bahak melihat Nova yang menjadi ketakutan sendiri.
"Kenapa malah ketawa A?" Tanyanya heran.
"Lihatlah wajahmu itu! Sangat lucu." Ben masih tertawa sambil terus mengendalikan mobilnya, sementara Nova, menatap wajahnya pada layar di ponselnya. Ia masih bingung dengan Ben yang tertawa karenanya.
"Sudah sampai." Ucap Ben pada Nova. Mereka keluar dari mobil, tepat saat itu sebuah mobil tiba di rumah Madam Lulu.
Anita keluar dari mobil dan bergegas mendekati Ben dan Nova.
"Nova, maafkan aku. Ponselku tadi mati low bat." Ucap Anita penuh penyesalan.
"Tidak apa apa Kak. Untung ada Aa Ben yang berbaik hati mengantar pulang." Jawab Nova.
"Nita, lain kali tolong lebih hati hati, apalagi talent yang masih baru yang dari daerah." Ben menatap Anita sambil memperingatkannya.
"Maaf Ben. Ponselku benar benar low bat." Ulang Anita.
"Ada apa denganmu?" Tanya Ben, seolah tau Anita juga tengah mengalami masalah.
"Ga ada apa apa Ben. Aku hanya lelah dan akhir akhir ini sejak kepergian Mas Andre ke Yogya, membuatku kalang kabut mengurus artis artis yang di sini." Keluh Anita sambil menggeleng kepalanya.
"Kamu bisa minta Madam untuk rekrut orang baru, membantu mengurus agensi ini." Saran Ben.
"Terima kasih, Ben." Jawab Anita sambil tersenyum pada Ben.
__ADS_1
"Oke, baiklah. Selamat beristirahat. Aku pulang dulu." Pamit Ben.
"Terima kasih, A. Hati hati di jalan." Ucap Nova sambil melambaikan tangannya mengantar kepergian Ben.