
Radit mengantar Laura hingga sampai ke rumahnya. Setelah berbasa-basi sejenak, Radit berpamitan untuk pulang.
Ibu menyambut gembira kedatangan Laura dan Radit.
"Bener nih Mas Radit ga mau istirahat di sini malam ini?" Ibu menawari Radit untuk menginap.
"Tidak Bu, besok saja saya mampir lagi. Saya sudah ngabari Pakde Mo, yang ngurus rumah Oma, takutnya sudah nunggu." Tolak Radit dengan sopan sambil tersenyum.
"Oh, ya sudah kalo gitu. Tunggu sebentar ya!" Pinta Ibu sambil bergegas masuk dalam rumah menuju dapur, lalu sekitar beberapa menit kembali lagi.
Laura hanya menaikkan bahunya, mengisyaratkan tidak tau saat Radit menatapnya seolah bertanya.
"Ini buat makan malam Mas Radit. Ini tadi ada pesanan katering, Ibu sisakan buat kalian. Nah, itu sudah ada nasi, lauk, sayur, dan buah." Kata Ibu sambil menyerahkan sekantung tas goodie.
"Terima kasih banyak, Bu. Loh tapi kok banyak banget isinya?" Tanya Radit sambil menimbang-nimbang kantung itu.
"Buat teman ngopi nanti malam, kalo begadang." Jawab Ibu sambil menepuk bahu Radit. Radit tersenyum lebar menanggapi Ibu.
"Terima kasih banyak sekali lagi, Bu. Saya pamit pulang." Ucapnya, sambil mencium tangan Ibu.
Ibu dan Laura melambaikan tangan saat Radit berlalu meninggalkan rumah Laura.
Setelah mobil Radit tak terlihat lagi dari pandangan, Ibu memeluk putrinya itu.
"Ibu senang kamu pulang lagi. Apalagi bersama Nak Radit." Ucap Ibu saat melepas pelukannya.
"Ibu senang aku pulang atau senang ketemu Radit?" Tanya Laura.
"Ya dua duanya lah. Sudah sana mandi dulu, nanti makan." Ucap Ibu.
Laura menuruti perintah Ibunya untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi, ia menuju dapur. Ibu membuatkannya teh dan menyiapkan makanan untuk Laura.
Rumah terlihat sepi. Hanya Samin yang terlihat masih mondar mandir membereskan dapur, karena tadi ada pesanan yang diambil sore hari.
"Dewa belum pulang ya Bu?" Tanya Laura yang sedari tadi belum melihat adiknya itu.
"Dewa itu sibuk. Selain sibuk di kantornya yang baru, dia juga sibuk nganter pesanan katering yang buat maen film itu loh. Katanya ada temenmu, si Lisa Lisa itu." Jawab Ibu sambil ikut duduk di kursi menemani Laura.
Laura berhenti sejenak dari kegiatannya yang hendak mengambil nasi dan lauknya.
"Sekarang dia ke mana?" Tanya Laura.
__ADS_1
"Tadi sore mengantar pesanan katering ke lokasi syuting." Jawab Ibu.
"Kok bisa, Ibu yang dapat pesanan katering?"
"Ibu juga kurang tau bagaimana awalnya. Katanya, karena istri produser langganan kateringnya Ibu. Tapi, Ibu juga gak tau siapa. Sebulan yang lalu ada rombongan datang, mengajukan kerjasama. Katanya selama proses syuting film makannya dari sini. Sama snacknya satu kali. Kalo makan, untuk siang dan malam." Cerita Ibu.
"Untuk pembayarannya bagaimana?" Tanya Laura.
"Bayarnya seminggu sekali. Mereka kan syuting selama kurang lebih tiga minggu. Ini masuk Minggu kedua mereka syuting." Lanjut Ibu.
Laura menikmati makan malam buatan Ibunya sambil mendengarkan cerita tentang banyak hal. Termasuk Pakde yang sedang sakit, dan kini masa pemulihan.
Terdengar suara mobil menderu dari luar, Dewa pulang. Terlihat Samin buru buru ke luar untuk membukakan pintu.
"Oh, Mbak Laura sudah datang!" Ucap Dewa agak terkejut saat melihat Laura datang.
Ia memang sengaja tidak memberi tahu pada Lisa maupun Dewa, jika akan pulang. Ia baru memberitahu Ibu saat memasuki wilayah Yogya.
"Aku ganti baju sebentar ya." Pamit Dewa, sambil berlalu ke kamarnya.
Laura menyelesaikan makannya, lalu menaruh ke tempat cuci piring.
"Ternyata artis yang namanya Lisa itu cantik banget ya. Putih, bersih, wangi, ramah banget." Cerita Samin.
"Beberapa kali ikut Mas Dewa nganter nasi. Oya, Mas Dewa akrab banget sama Lisa. Ngobrol sambil ketawa ketawa gitu loh." Samin melanjutkan ceritanya.
"Heh, ada yang sedang ngrasani aku ya?" Ucap Dewa setengah berteriak dengan nada bercanda pada Samin.
"Mas Dewa hebat, bisa akrab sama artis ibu kota. Kapan kapan ajak main ke sini ya Mas, biar kenalan sama yang lain. Biar Mbak Kinan cemburu!" Celetuk Samin.
"Ngawur kamu Min! Aku sama Kinan itu ga ada apa apa loh. Jangan bikin gosip ya!" Dewa melotot ke arah Samin.
"Kinan siapa?" Ceplos Laura.
"Kinan tetangga depan itu loh, Mbak. Adiknya Mas Pras yang dokter Jakarta." Terang Samin.
"Sudah sudah! Sana kamu istirahat dulu. Besok biar bisa bangun pagi! Ga usah ikutan ngegosip di sini!" Ibu menyuruh Samin untuk berlalu dari situ.
"Tapi, Bu?"
"Wis, sana istirahat. Besok pagi ambil belanjaan Ibu di pasar, di tempat biasanya. Tadi sudah dikabari sama yang jual." Perintah Ibu.
"Nggih Bu." Jawab Samin dengan sopan sambil berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ibu bobok dulu ya." Pamit Ibu, sambil meninggalkan dapur menuju kamar untuk beristirahat.
Kini tinggal Laura dan Dewa yang duduk berhadapan di dapur.
"Jadi apa yang terjadi antara kamu dan Lisa?" Selidik Laura.
Dewa diam, ia memegang mug yang berisi teh panas.
"Kami memang dekat Mbak, tapi aku belum berani untuk lebih jauh. Karena dia pun sepertinya masih bingung." Jawab Dewa.
"Aku ga mau kamu sakit hati dan kecewa nantinya. Makanya, Mbak selalu mengingatkan kamu. Bukan maksudku tidak suka atau tidak setuju. Mbak tau dunia artis yang dilakoni oleh Lisa. Apa kamu sudah siap dengan segala konsekwensinya? Diselidiki oleh penggemarnya, belum lagi kehidupan keluarga kita, pasti akan terekspos juga." Nasihat Laura.
"Aku pun juga memikirkan semuanya, Mbak. Sejak pertama bertemu dengannya." Jawab Dewa.
Laura terkejut dan menatap adiknya.
"Pertama bertemu?"
"Ya, aku menyukainya sejak pertama bertemu. Lalu ternyata dia kekasih Mas Dirga. Lalu aku mendengar sendiri, Bu Sisil menentang hubungannya dengan Mas Dirga. Lalu aku tau mereka bersama lagi, lalu tiba tiba sebulan lebih lah, kami mulai berkomunikasi.
Selama itu kami sering berbagi cerita, hingga dia tiba di Yogya. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Saat selesai syuting, terkadang ia meminta ditemani jalan jalan, atau aku yang mengajaknya jalan." Cerita Dewa.
"Lalu, seandainya ia kembali lagi pada Dirga, apa kamu akan tetap mengejarnya?"
"Tidak." Jawab Dewa tegas.
Laura menatap Dewa, ingin mengetahui alasannya.
"Aku akan memberikan kesempatan untuk Lisa. Seandainya kali ini dia hanya menjadikan diriku hanya sebagai pelarian, aku akan mundur, dan tak pernah menghubunginya lagi. Melupakan semuanya." Ungkap Dewa dengan tenang.
"Lalu seandainya dia memilihmu, apakah kamu siap dengan segala konsekuensinya?"
"Aku percaya kamu bisa menjalaninya, Mbak."
"Kamu yakin?"
"Mbak, sebenarnya, kamu ini setuju atau nggak sih?"
"Dewa, hidup Lisa itu rumit, mulai dari keluarganya hingga pekerjaan."
"Lalu selama ini, Mbak yang tinggal bersamanya bagaimana?" Dewa bertanya balik pada Laura.
Ia menatap adiknya dalam dalam, lalu tersenyum.
__ADS_1