
Malam itu, Dirga bersama sopir hotel datang menjemput Laura di rumah Pak Baron.
Saat itu hujan sudah mulai mereda, namun, masih gerimis. Dirga menatap jalan menuju ke kediaman Pak Baron. Ia tak menyangka, Laura akan sejauh itu perginya. Jalannya mulai menanjak, dan kediaman Pak Baron berada di bagian bukit, daerah perkebunan sayur dan buah, miliknya.
Saat ini Dirga pun dalam keadaan galau. Ia memikirkan Lisa, namun, ia pun memikirkan Laura, yang selama ini terlupakan, karena ia hilang ingatan selama ini. Sekitar hampir enam tahun, ia meninggalkankan Laura.
Dirga teringat anak yang dahulu, dikandung oleh Laura. Di mana sekarang? Selama setahun belakangan ini, ia sama sekali tidak pernah mendengar cerita tentang anak dari mulut Laura maupun Lisa.
Katrin pun seolah tak tau cerita tentang Laura selama ini. Atau karena Laura tak mengetahui ia hilang ingatan selama ini. Lalu mengapa ia seolah tak memiliki kenangan apapun tentang dirinya di masa lalu. Dirga punya banyak pertanyaan untuk Laura saat ini. Ia ingin menjelaskan semuanya, pada Laura.
Mobil memasuki halaman kediaman Pak Baron. Lampu penerangan yang di pasang temaram tersiram gerimis.
Dirga membuka pintu mobil, dan segera berlari menuju teras rumah itu. Bu Asri menyambut kedatangan Dirga dengan ramah. Mereka telah menunggu di ruang tamu sambil mengobrol banyak hal.
"Saya Dirga, teman Laura. Terima kasih atas informasi yang Bapak berikan tadi. Kami sangat bingung karena tidak tau harus mencari kemana lagi. Apalagi tadi hujan deras. Maaf merepotkan Bapak dan Ibu." Ucap Dirga sambil menyalami Pak Baron dan Bu Asri.
"Tidak apa-apa, yang penting, Nak Laura dapat kembali dengan sehat kembali." Jawab Pak Baron.
"La, ayo kita balik ke hotel." Ajak Dirga sambil menatap ke arah Laura.
Laura mengangguk, lalu ia berpamitan dengan Pak Baron dan Bu Asri sambil mencium punggung tangan ke dua orang tua itu.
"Kapan kapan main lagi ke sini ya. Pintu rumah kaki selaku terbuka untukmu, Nak." Ucap Bu Asri sambil menepuk nepuk tangan Laura.
"Iya Bu. Terima kasih. Saya permisi dulu, Pak, Bu." Pamit Laura.
Dirga pun berpamitan pada Pak Baron dan Bu Asri, lalu mereka masuk ke mobil dan kembali ke hotel.
Laura duduk di bangku penumpang, sedang Dirga duduk di samping sopir. Laura hanya menatap jalanan melalui jendela mobil tanpa banyak bicara. Seolah ada yang dipikirkannya. Dirga hanya menatap Laura dari spion tengah. Ia tak ingin mengganggu Laura untuk saat ini.
Sesampainya di hotel, Laura bergegas menuju vila tempat ia tidur. Ia segera membersihkan tubuhnya, lalu ia menuju tempat tidur jatahnya, dan menghempaskan tubuhnya di sana.
"Ada apa La?" Tanya Winda mendekati ranjang milik Laura.
"Iya, kenapa kamu tiba tiba lari saat Dirga siuman tadi?" Tanya Katrin.
__ADS_1
Laura menatap Katrin. Ia berharap Katrin mau bercerita tentang dirinya di masa lalu. Namun, bagaimana cara bertanya, supaya ia tidak curiga. Laura mencari ide untuk bertanya pada Katrin.
"Katrin, aku mau tanya, apa yang kamu ketahui tentang Dirga dan diriku sebelum dia meninggalkan tanah air." Tanya Laura.
Katrin terdiam sesaat, ia mencoba mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Astaga La, apa mungkin karena itu?" Pekik Katrin sambil menutup wajahnya dengan tangan, seolah ada rahasia yang ia ketahui dari Dirga.
"Awalnya Aku mengenal kamu dan Dirga adalah teman masa kecil. Dulu, Ben masih culun, ga seperti sekarang. Kita dulu rekan satu team. Perusahaan Bu Sisil berkembang pesat. Kita team pusat ada sepuluh orang dapat bonus jalan jalan ke Amerika. Saat itu, kalo ga salah Dirga mau meneruskan kuliahnya di sana juga. Ya aku akui dulu aku suka pada Ben, jadi sebisa mungkin berada di dekatnya.
Lalu lima tahun yang lalu, Dirga kembali ke Indonesia, membantu bisnis Bu Sisil. Kebetulan dia sedang merayakan ulang tahun. Aku, Ben, dan Kamu kita merayakan bareng bersama Dirga di klub malam.
Sepertinya aku minum terlalu banyak, karena yang aku ingat, paginya aku bangun di rumah Ben. Lalu aku tidak melihatmu saat itu." Katrin berhenti sejenak memberi jeda pada ceritanya.
Laura hanya dapat menggelengkan kepala mendengar cerita Katrin mabuk dan berakhir di rumah Ben, bersama Ben. Tidak mungkin mereka tidak melakukan apa-apa saat itu. Jiwanya sebagai Gwen, sedikit kecewa pada Ben, setelah mendengar cerita Katrin.
"Lalu sebulan atau dua bulan kemudian, Dirga kecelakaan, dan melakukan perawatan di Eropa, karena ada masalah serius yang ditimbulkan akibat kecelakaan kali itu."
"Kecelakaan?" Tanya Laura heran.
"Astaga! Jadi sebenarnya Pak Dirga itu pergi karena perawatan akibat kecelakaan ya." Ucap Winda yang masih syok mendengar cerita Katrin.
"Lalu apa hubungannya denganmu La?" Tanya Winda.
Laura yang masih bingung dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Dirga sebenarnya hanya menatap lantai, berharap menemukan jawaban di sana.
Ia mengambil tasnya, lalu memeriksa ponselnya. Banyak pesan masuk dan telpon dari Radit. Kini ia jadi teringat akan Nora. Pak Baron dan Bu Asri yang tadi menerimanya di rumah mereka.
Yang menceritakan tentang Nora dan tragedi memilukan yang membuatnya kehilangan masa mudanya. Namun, kini mereka bahagia, Nora bukan hanya berhasil dan sukses menjalankan karir, tapi juga memiliki suami yang baik. Kabarnya ia kini berhasil hamil.
Ya tempo hari Laura ke sana, perut Nora sudah mulai membuncit. Si bayi mungkin mulai menampakkan wujudnya.
Winda sibuk melakukan video call bersama suaminya, lalu Katrin pun sama, ia sibuk dengan ponselnya.
Laura menuju ke teras, dan duduk di salah satu kursi di sana. Terlihat Dirga berjalan ke arahnya dan mendekati diri Laura.
__ADS_1
"La, mau jalan jalan sebentar?" Tanya Dirga.
Laura menganguk, ia berpamitan pada Winda yang berada di ruang tengah. Laura mengambil jaket, dan mengenakannya. Ia berjalan bersama Dirga menuju arah kolam renang.
Laura hanya diam membisu, ia tak tau harus berkata atau mau berbuat apa lagi saat ini. Dirga adalah kekasih sahabatnya. Ia tak ingin merebut Dirga dari Lisa.
Mereka duduk berdampingan pada bangku yang ada di pinggir kolam renang.
"La, aku minta maaf." Ucapnya sambil menatap Laura.
"Maaf untuk apa?"
"Aku telah meninggalkanmu sendiri selama ini. Aku terlalu takut untuk mengetahui, bahwa kamu hamil karena aku." Ucap Dirga.
Laura menatap tajam ke arah Dirga.
"Hamil? Lalu anakku di mana saat ini?" Gumam Laura.
"Jujur aku benar-benar minta maaf, telah mengundangmu, bersama Katrin untuk merayakan ulang tahunku saat itu. Dan aku menjadikanmu bahan taruhan bersama Ben."
"Taruhan?"
"Aku dan Ben bertaruh, aku bisa mendapatkanmu dan Ben mendapatkan Gwen, si artis muda itu."
"Mengapa Gwen?" Cecar Laura.
"Karena ia adalah sosok artis muda. Awalnya aku tertarik pada Gwen, namun sosokmu terlihat lebih menarik malam itu.
Kita minum bersama, lalu kamu mabuk. Ben dan. Katrin entah telah di mana. Aku membawamu menuju hotel. Malam itu kita melakukan hal yang tak semestinya La. Lalu sebulan kemudian kamu mengatakan bahwa kamu hamil. Saat itu kamu sedang berjalan jalan dengan temanmu, aku berjanji akan datang menemuimu di sana. Namun, saat melihat kamu sedang tertawa bersama teman-temanmu, aku merasa belum siap dengan semua yang harus aku lalui.
Aku berlalu dari tempat itu, tidak jadi menemuimu. Namun, naas, karena tidak fokus, sebuah truk mwnabrakku. Lebih tepatnya aku yang menabraknya.
Lalu ternyata aku amnesia, hilang ingatan, dan melakukan perawataan si Jerman dan akhirnya kembali ke new York lagi. Lalu aku kembali lagi kemari. Mamaku memerlukan diriku." Dirga menceritakan semua pada Laura.
Lalu bayi itu kemana sekarang? Laura pun juga tak tau.
__ADS_1
"Lalu apakah Lisa harus mengetahui ini semua?" Tanya Laura.