Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 73


__ADS_3

Semua anggota keluarga tengah berkumpul di depan ruang operasi. Kedua orang tua Satya, kedua orang tua Nia bahkan Tiara pun juga ikut menunggu di depan kamar operasi.  Dengan perasaan yang gelisah dan harap – harap cemas menanti kabar baik dari dokter yang mengoperasi Nia.


Satya pun turut tertunduk lemas menunggu dokter menyelesaikan operasi Nia dan memberi kabar yang baik. Hati dan pikiran Satya tak berhenti melantunkan segala doa dengan penuh harap agar istrinya bertahan dan membaik.


“Maafkan aku sayang… maafkan aku… aku mohon bertahanlah… kamu harus kuat sayang…” lirih batin Satya.


Airmata Mama Dessy bahkan tidak berhenti mengalir diiringi dengan permohonan tulus dia seorang ibu untuk anaknya yang tercinta.


Setelah menunggu lebih dari 5 jam. Dokter bedah pun keluar dari ruang operasi. Semuanya berdiri dari tempat duduknya, tampak terkesiap ingin mendengar kondisi Nia.


“Bagaimana keadaan istri saya. Dokter…??” tanya Satya yang tidak dapat menyembunyikan wajah cemasnya.


“Operasinya berjalan dengan lancar, Ibu Nia berhasil melewati masa kritisnya… Namun kita harus menunggu dulu sampai pasien siuman” ujar Dokter itu.


 “Alhamdulillah… syukurlah… terimakasih dokter…” ucap Satya.


Anggota keluarga yang lain pun nampak lega dan bersyukur mendengar kondisi Nia yang berhasil melewati masa kritisnya.


“Tapi…. Ada kabar yang kurang bagus…” imbuh Dokter itu.


“Ada apa dokter…???” wajah Satya kembali memucat.


“Maaf… kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi janin yang di kandung Ibu Nia tidak terselamatkan..” kata Dokter bedah.


“Janin…???” gumam Satya yang masih berusaha mencerna apa yang di katakan dokter itu.


“Benar Pak…. Kami tidak bisa menyelamatkan janin Ibu Nia.” Ulang Dokter bedah.


Bagai petir yang menggelegar di siang bolong, jantung Satya seakan berhenti berdetak.


Bukan hanya Satya, semuanya pun ikut terkejut karena tidak mengetahui bahwa Nia sempat mengandung.


Tak terkecuali seorang pria yang berdiri di balik tembok, jauh dari pandangan mereka. Niko, rasa syukur dan duka sekaligus ia rasakan saat mendengar kondisi Nia.


Satya terduduk lemas. Pikirannya kacau. Bahkan ia tidak mampu memahami apa yang terjadi.


“Nia hamil…??? Dan aku, suaminya, bahkan tidak menyadari itu..?? aku bahkan tidak bisa menjaganya… Ya Tuhan… Nia maafkan aku.” Tangis sesal Satya.


Bunda Wike pun memeluk Satya, anak semata wayang. Rasa sesal menghinggapi perasaannya.


“Maafkan Bunda, Satya… bunda tidak bisa menjaga Nia. Andaikan Bunda tidak ke toilet dan meninggalkan Nia sendiri, ini semua tidak akan terjadi. Maafkan Bunda, Satya…” ucap Bunda Wike yang menggenggam erat tangan putranya itu.

__ADS_1


Mama Dessyyang sejak tadi duduk tertunduk lemas pun mendongakkan kepalanya.


“Maksudnya bagaimana, Jeng Wike..?? meninggalkan bagaimana…??” tanya Mama Dessy dengan matanya yang sudah sembab.


Bunda Dessy menarik nafasnya panjang, dan mulai menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit kemarin.


“Nia mengeluh badannya terasa tidak enak, dan Bunda bisa merasakan jika itu adalah tanda – tanda kehamilan. Jadi Bunda membawa Nia ke rumah sakit. Dan benar saja, Dokter berkata bahwa usia kandungan Nia sudah 13 minggu. Bunda sudah berusaha menghubungimu, Satya. Namun terus saja tidak tersambung. Hingga Bunda meninggalkan Nia untuk ke toilet sebentar dan terjadilah hal itu.” Jelas Bunda Wike panjang lebar.


“Bukan Bunda yang salah, tapi ini semua adalah salahku… andaikan aku tidak menemui Marsya, Nia pasti tidak akan salah paham dan ini semua tidak akan terjadi. Satya yang salah, Bunda.. Ini salah Satya, Ma…" sesal Satya.


“Marsya…?? Siapa Marsya, Satya…??” tanya Mama Dessy sedikit naik pitam.


“Sudah.. sudah… berhentilah menyalahkan diri sendiri. Saat ini kita lebih baik berdoa untuk kesembuhan Nia. Berhentilah membuat keributan. Nia saat ini membutuhkan doa dan kekuatan dari kita.” Ujar Pak Dika bijak.


“Benar. Kita masih harus menunggu Nia siuman untuk melihat perkembangannya.” Imbuh Pak Wijaya.


Sudah 2 hari sejak Nia selesai di operasi, namun hingga kini ia belum juga siuman. Selama itu pula Satya tidak beranjak sedikit pun dari sisi Nia. Dengan setia dan tidak mengenal lelah Satya selalu mendampingi Nia.


Rasa sesal karena meninggalkan Nia sendirian dan berakhir kesalah pahaman membuat rasa bersalah semakin mendalam di hati Satya.


“Sayang… aku mohon, ayo bangun… Kamu boleh memarahiku, memukulku, namun jangan hukum aku seperti ini, sayang… aku mohon segeralah bangun…ya…??” ucap Satya lirih tepat di telinga Nia.


Tak terasa airmata Satya menetes mengenai pipi Nia. Sedikit merespon, pipi Nia pun sedikit bergerak. Satya menyadari perubahan itu dan dengan segera memanggil perawat jaga untuk memeriksa keadaan Nia.


“Sayang… aku bersihin dulu ya…?? Ganti baju dulu… biar bersih, tetep cantik.” Ucap Satya pada Nia yang masih terbaring memejamkan matanya.


Dengan telaten Satya merawat Nia, meskipun Nia masih belum juga sadar namun ia tetap terlihat cantik, bersih dan wangi. Berbanding terbalik dengan penampilan Satya saat ini. Rambut acak – acakan dengan mata yang sayu dan wajah yang terlihat lelah. Jauh berbeda dengan penampilan Pak Dosen Satya idola mahasiswi seantero kampus.


Seusai mengganti baju Nia, Satya kembali duduk di sisi Nia dengan jemari yang saling bertautan. Satya acapkali mengajak Nia berbicara, sesuai saran dari dokter agar Nia segera siuman.


“Nah… sayangku sudah cantik, sudah wangi… kamu masih ingin tidur, sayang…??? Kamu capek banget ya..?? bangun yuk sayang, aku sudah kangen banget… katanya kamu ingin segera honeymoon. Aku sudah mencari tempat yang bagus untuk honeymoon kita, sayang… cepat bangun ya…?!” ucap Satya sembari mengelus punggung tangan Nia.


Sedetik kemudian punggung tangan itu bergerak seperti merespon. Begitu pula dengan jemari -jemarinya. Satya


terkesiap, antara percaya atau hanya halusinasi.


Perlahan Nia membuka matanya. Mengerjapkannya beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya.


Satya yang saking terkejutnya bahkan tidak bergerak sedikitpun.


Nia melihat orang di sampingnya, lalu beralih melihat tangannya yang masih di genggam erat.

__ADS_1


Perlahan ia melepaskan genggamannya dari Satya kemudian bangun dan bersandar di ranjang.


“Nia… kamu sudah siuman…??? Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter.” Ucap Satya dengan wajah berseri lalu berdiri dari kursinya.


Nia hanya mengangguk.


Berbarengan dengan itu Mama Dessy datang bersama Niko menjenguk Nia.


“Nia… kamu sudah siuman, sayang..??” pekik Mama Dessy tepat saat membuka pintu.


Satya dan Nia sama -  sama menoleh ke arah sumber suara.


Nia tersenyum manis, senyum yang menjadi ciri khasnya, tidak berubah sedikitpun.


“Mama…” ucap Nia lirih.


Mama Dessy pun masuk ke dalam kamar di ikuti dengan Niko.


“Nik, elo juga datang…??” ucap Nia.


Niko mengangguk.


Satya merasa sedikit ada yang salah. Nia menyapa Mama Dessy bahkan Niko, namun ia tidak menyapa Satya sedikitpun.


“Apa kamu masih membenciku, Nia..??” batin Satya pedih.


“Ma.. titip Nia sebentar, saya akan memanggil dokter.” Ucap Satya.


“Iya…” ucap Mama Dessy.


Niko mendekat ke arah Nia.


“Nik, makasih ya elo udah nolongin gue. Gue udah ngira bakalan pingsan gara – gara ospek kemarin. Gila, katingnya serem – serem semua…!!! Eh, itu kayak yang Dosen yang kemarin kan ya..?? kok dekat banget ama nyokap gue..??” ucap Nia panjang lebar.


Satya, Mama Dessy bahkan Niko sama - sama terkejut mendengar perkataan Nia barusan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2