Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Laura menghilang


__ADS_3

Laura hanya diam sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, ia turun dari mobil.


Dengan langkah gontai, ia hanya menatap bunga anggrek yang ada di sudut teras.


Laura mengambil kunci mobilnya, lalu ia menghidupkan, dan segera berlalu meninggalkan rumahnya.


Air mata berderai membasahi pipinya.


"Mengapa??" Teriaknya meluapkan emosinya.


Setelah kecelakaan yang merenggut nyawanya, lalu jiwanya masuk dalam tubuh Laura. Kenyataan ia bukan anak kandung Madam Lulu, dan kini, Ben ternyata telah memiliki seorang anak bersama Jane.


Kehidupan masa lalunya sebagai Gwen ternyata menyedihkan.


"Mengapa Tuhan...? Mengapa harus aku..? Aku harus ke mana?" Ucapnya sambil terus terisak.


Laura menyetir tanpa tujuan, keluar dari ibu kota. Seolah ada yang mangarahkannya menuju tempat itu.


Laura berhenti di halaman panti asuhan yang biasanya ia kunjungi.


Suster kepala menyambut kedatangannya dengan penuh sukacita, namun melihat wajah Laura yang sedih, dan matanya yang sembab, Ia memeluknya.


"Ada apa anakku?" Tanyanya.


"Saya ingin di sini sebentar, bisakah?" Tanyanya dengan suara serak menahan tangisnya.


"Silahkan."


Suster itu mengajaknya masuk melalui pintu samping, yang menuju arah biara.


Suasana sangat tenang di sana. Laura seakan nyaman berada di sana.


Lalu suster mengajak ke sebuah ruangan,


"Kamu bisa berdoa di tempat ini. Mintalah pertolongan pada Tuhan saat kamu sedang susah. Jika kamu ingin mencurahkan semuanya, tumpahkan lah di sini! Jika butuh teman bicara, saya akan mendengarkan." Ucap Suster itu.


"Terima kasih. Saya ingin sendiri dulu."


Laura berlutut, bersimpuh di hadapan Tuhan, memohon ampun, dan mencurahkan semua pertanyaan yang ada dalam kepalanya. Sambil menangis ia terus berdoa di tempat itu.


****


"Maaf Bu, Bu Laura belum datang." Jawab seorang staf bagian keuangan.


"Belum datang? Ini sudah pukul 11 siang!" Ucap Bu Sisil kaget. Lalu ia menutup interkom nya.


Bu Sisil menuju ruangan Dirga.


"Ada apa Ma?"


"Laura belum masuk?" Ucap Bu Sisil dengan cemas.


"Iya, aku sudah menghubungi Lisa, katanya Laura pergi dari kemarin." Jawab Dirga.


"Dia menghubungimu?"


"Tidak, bahkan dia tak dapat dihubungi saat ini."


"Astaga Dirga, kemana Laura pergi?" Gumam Bu Sisil khawatir


"Aku akan coba hubungi Radit." Kata Dirga, saat teringat pada Radit


"Ya, halo Radit, apa kamu tau di mana Laura?"

__ADS_1


"Hah, Laura? Bukannya dia sudah di rumah kemarin?"


"Hari ini dia tidak masuk kerja, dan kata Lisa dari kemarin dia tidak ada di rumah. Bukannya terakhir dia bersamamu?" Tanya Dirga


"Ya, namun, dia sudah pulang." Jawab Radit.


"Kamu mengantarnya pulang?" Tanya Dirga.


"Tidak, dia pulang sendiri, memakai taksi online." Jawab Radit, namun dengan nada cemas.


"Dirga, serius dia belum pulang?" Tanya Radit.


"Mobilnya tidak ada di rumah." Ucap Dirga.


Mereka terdiam.


"Baiklah, aku akan mencarinya lagi, nanti tolong kabari ya, jika ada perkembangan." Pesan Radit.


"Baik."


Setelah mendengar kabar dari Dirga, Radit menjadi cemas. Selama ini Laut tidak pernah bersikap seperti itu. Mengapa dia pergi tanpa memberi kabar?


Radit menuju rumah Laura, ingin memastikan.


"Radit, bukannya Laura bersamamu setelah pesta pernikahan itu?" Tanya Lisa saat melihat Radit datang.


"Iya, lalu kemarin Laura ke rumahku."


"Terus pulangnya kamu antar?"


"Tidak, dia ingin pulang sendiri."


"Kenapa kamu ga antar dia pulang, Dit?" Tanya Lisa gemas.


"Jadi kemarin Laura bertemu Jane di rumahku." Radit mulai bercerita.


"Ya. Jane adalah sepupuku, Lis." Ucap Radit berterus terang.


"Apa..!" Lisa terkejut, matanya melotot menatap Radit.


"Ya, Jane menceritakan semua, tentang masa lalunya, terutama bersama Ben. Tapi, itu Laura sendiri yang terus memancing dan bertanya pada Jane. Mau tak mau Jane menceritakan semuanya pada Laura." Cerita Radit.


"Memangnya kisah apa yang terjadi antara Jane dan Ben?" Tanya Lisa.


Untuk sesaat Radit terdiam, menatap Lisa dengan tatapan tajam.


"Jane memiliki anak dengan Ben selama ini." Jawab Radit dengan pelan, namun sangat jelas di telinga Lisa.


"Ben memiliki anak dengan Jane? Bagaimana bisa? Bukannya selama ini ia bersama Gwen terus. Apakah Ben selingkuh dengan Jane?" Desak Lisa.


"Jauh sebelum bertemu Gwen. Saat sekolah dulu, Jane telah hamil anak Ben, lalu ia menikah dengan suaminya, lalu suaminya selingkuh, lalu kini dia telah bercerai, dan berstatus janda. Jane menceritakan semua pada Laura. Setelah mendengar cerita Jane, Laura pamit pulang. Wajahnya terlihat pucat saat itu. Tapi, dia bersikeras pulang sendiri." Terang Radit. Lisa menghela napas panjang, seolah berat setelah mendengar cerita Radit.


Lisa mengetahui, jika saat ini Laura pasti sangat syok setelah mengetahui kenyataan tentang Ben. Lisa tahu, karena sebenarnya jiwa Gwen yang ada pada tubuh Laura. Namun, ia tak tahu saat ini Laura pergi ke mana. Lisa hanya terdiam, tak banyak berkata-kata. Ia mengambil ponselnya dan meminta ijin pada Mas Andre untuk mengundur jadwal syutingnya hari itu, untuk mencari Laura yang mendadak menghilang.


Tak lama setelah mengirim pesan pada Mas Andre, ponselnya berbunyi terus, notifikasi pesan muncul.


Radit menyusuri kota Jakarta dan sekitarnya, tempat yang biasa ia lalui dan datangi bersama Laura menggunakan motornya.


Lalu Dirga dan Lisa pun sama, mereka mencari ke beberapa teman kerja Laura. Winda yang sedang berbulan madu pun ikutan cemas. Ia menghubungi Alan untuk mengetahui perkembangan tentang Laura yang menghilang.


Bu Sisil duduk di kursi kerjanya. Menatap kosong layar monitor laptop di hadapannya.


Ia ingin menghubungi Tinuk, Ibunya Laura, namun ia ragu. Ia takut sahabatnya itu akan menyalahkannya, dan semua keluarga di Yogya pasti akan cemas dan panik.

__ADS_1


Ia menghubungi suaminya, meminta tolong bantuan untuk mencari Laura.


*****


Hari berganti malam, namun, Laura sama sekali belum ada kabar beritanya.


Dirga mengantar Lisa pulang ke rumah Laura, dan menunggu di sana, berharap Laura juga pulang ke rumahnya. Lalu Dirga menuju rumah Ben untuk beristirahat.


Ben telah pulang dari Singapura, setelah pertemuan terakhirnya dengan Laura, Ben menghabiskan waktunya dengan bekerja, mengambil klien yang kebanyakan dari luar negeri.


"Baru pulang? Ada apa, sepertinya kusut sekali?" Tanya Ben, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk karena selesai mandi.


"Laura menghilang." Keluh Dirga, sambil menghempaskan pantatnya ke sofa.


"Hah, apa.!!?" Ben terkejut, lalu ikut duduk di samping Dirga.


"Laura menghilang." Ulang Dirga sambil mengusap-usap wajahnya dengan tangan.


"Sejak kapan? Sudah lapor polisi?" Tanya Ben dengan cemas.


"Kapan pastinya tidak tau. Hari ini Papa, minta bantuan temannya untuk melacak Laura. Ponselnya pun tak dapat dihubungi. Huh....!"


"Bagaimana awalnya, pasti ada sebabnya?" Tanya Ben menyelidiki.


"Setelah menghadiri acara pesta pernikahan salah satu staf kantor, aku dan Lisa kembali ke kamarku. Sedangkan Laura bersama Radit. Lalu kata Radit kemarin dia kerumahnya, dan bertemu Jane."


"Jane?" Tanya Ben heran.


"Jane ternyata sepupu Radit." Dirga menatap Ben.


"Astaga.." Ben menghela napas dalam-dalam saat mengetahui hal itu.


"Ben..." Dirga menatap Ben.


"Ada apa?" Ben masih heran.


"Jane memiliki anak denganmu." Jawab Dirga.


Ben tersentak terkejut, dia melotot menatap Dirga tak percaya.


"Tidak mungkin!" Ucap Ben dengan keras.


"Jane menceritakan semua pada Laura, lalu setelah itu, dia pamit pulang pada Radit." Jawab Dirga.


Ben tertunduk sambil merenung semua ucapan Dirga.


"Lisa mengatakan padaku, lalu tadi sempat bertemu Radit di rumah Laura. Dia juga juga menceritakan lagi semuanya. Tapi kamu merasa ada yang aneh tidak selama ini dengan Laura?" Tanya Dirga.


"Entahlah." Ben masih terdiam, memikirkan semuanya.


Lalu ia berdiri, beranjak dari sofa, mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


Ben berbicara di ponselnya lumayan lama, terlihat ia mengacak rambutnya sendiri sesekali, lalu menepuk dahinya. Setelah selesai berbicara di telpon ia menuju dapur mengikuti Dirga yang tengah menyeduh kopi.


"Kamu mau juga?" Tawar Dirga, dijawab anggukan kepala oleh Ben.


Lalu ia menyulut sebatang rokok, lalu menghisap perlahan.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ben?" Tanya Dirga.


"Ya, aku memiliki seorang anak bersama Jane. Selama ini dia menyembunyikan semuanya dariku. Dan kini, gara gara Laura, aku mengetahui kenyataan ini. Lalu kini Laura ada di mana, dan mengapa dia sampai seemosi itu saat mendengar kisah ku dan Jane. Padahal kami hanya dekat setahun terakhir ini." Ucap Ben sambil menghisap rokoknya kembali.


"Bagaimana perasaanmu padanya?"

__ADS_1


"Entahlah Ga. Adakalanya aku merasa Laura itu seakan-akan mirip Gwen, ada hal hal kecil yang sama antara mereka. Seperti kebiasaan menyetel radio saat dalam mobil, lalu menyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar, atau menyukai anggrek, lalu aku pernah tak sengaja mengikutinya ke panti asuhan yang biasa didatangi oleh Gwen dulu." Papar Ben.


Lalu keduanya saling terdiam tenggelam dalam pikiran masing masing sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi.


__ADS_2