
Kania membuka matanya melihat di balik tirai jendela matahari pagi sudah bersinar terang.
Ia menggerakkan badannya terasa pegal seluruh tubuhnya, semalam Gavin tidak membiarkan ia beristirahat tetapi pria itu terus menggempurnya sampai lima jam tanpa berhenti.
Baru mereka menyelesaikan satu ronde Gavin sudah mengajaknya untuk melanjutkan ronde selanjutnya, untung saja Kania tidak di buatnya menjadi pingsan.
Sampai keduanya benar-benar lemas dan hampir tidak kuat berdiri baru Gavin mau mengakhiri permainan malam mereka yang panas dan sangat menantang.
Lihat pria itu sekarang sedang lelap tertidur setelah kelelahan, pakaian mereka semua tercecer kemana-mana.
Kamar yang mereka pakai sudah seperti kapal perang, sprei mereka sudah tidak ada bentuknya karena sudah berbagai gaya mereka berdua coba, mumpung bulan madu hanya berdua bebas, mau teriak sekencang-kencangnya tidak ada yang akan mendengar.
Kania menatap wajah tampan Gavin sambil tersenyum "dasar kucing garong" gumamnya dalam hati pantang lihat istri nganggur langsung di hajar.
Pria itu sekarang mulai tersadar dari tidurnya, tangannya meraba sebelah kasurnya seperti kosong, lalu ia membuka matanya dan melihat Kania sudah duduk di sudut ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Kamu udah bangun sayang," tanya Gavin.
"Heem, seperti yang kamu lihat," jawab Kania.
"Sini aku peluk kenapa duduk di pinggir ranjang begitu? Seperti wanita habis diperkosa," ucap Gavin.
"Kamu lupa semalam abis perkosa aku sayang, bayangkan lima jam tanpa jeda," balas Kania sambil terkekeh.
"Sekali lagi gimana sebelum kita mandi?" ajak Gavin.
"Apa??" pekik Kania.
"Sekali lagi tiga puluh menit aja, mumpung kita masih telanjang sayang ... ya ... ya ... ya," pintanya.
Langsung saja Gavin menarik tubuh Kania dan segera melahapnya anggap saja menu sarapan pagi mereka.
Setelah setengah jam berlalu permainan belum juga berakhir, hampir satu jam barulah mereka mengakhiri semuanya.
Tanpa di minta ia langsung menggendong Kania ke kamar mandi lalu membantu wanita itu untuk mandi dan setelah selesai baru turun untuk breakfast bersama sebelum mereka melanjutkan berkeliling ke wisata yang ada di Bali.
*****
Dokter memanggil Kevin untuk berbicara empat mata tentang penyakit yang di derita Siska. Dokter menyarankan untuk Siska segera melakukan kemoterapi dan radiasi untuk menghentikan penyebaran kanker dalam rahimnya.
__ADS_1
Sebenarnya cara ini pun tidak banyak membantu karena kanker di rahim Siska sudah bermetasis kemana-mana. Kevin hanya bingung kenapa baru saat ini Siska menyadari sakitnya? Ataukah memang wanita itu sudah mengetahui penyakitnya dan berusaha menyembunyikannya?
Sekuat apapun dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi tetapi tidak bisa mengalahkan tekad Siska untuk menolak melakukan hal tersebut.
Karena Siska sudah tau akhirnya cepat atau lambat ia akan menghadapi yang namanya kematian dan ia sudah sangat siap untuk itu.
Lama ia menyembunyikan sakitnya dan akhirnya semua harus terbuka saat sekarang ini, mungkin ini adalah saat-saat yang terbaik.
Kevin dan keluarga berusaha membujuk Siska namun wanita itu tetap menolak karena baginya melakukan kemoterapi akan membuat dirinya lebih tersiksa dengan status kanker stadium akhir seperti ini.
Kalau ia berniat melakukan kemoterapi mungkin sudah lebih dulu ia lakukan sebelumnya, bagi Siska Tuhan terlalu sayang kepadanya sehingga memberikan ujian seperti ini.
"Sis kenapa kamu tidak mencoba untuk kemoterapi saja, mungkin bisa membantu menyembuhkan penyakitmu," ucap Kevin yang duduk di sebelah Siska.
"Percuma, aku sudah banyak membaca dan bertanya kepada sesama pasien kanker hasilnya nihil. Kemoterapi itu prosesnya juga sakit, belum lagi efek sampingnya dan aku ingin pasrah menerima semua ini dengan mengucap syukur. Jangan paksa aku Kevin, biarkan aku menikmati sakit ini sambil intropeksi diri mungkin Tuhan sedang menegur dan menguji aku, aku ikhlas," sahut Siska dengan tenang.
"Kenapa kamu bisa sangat tenang di tengah situasi seperti ini?" tanya Kevin.
"Karena aku tau Tuhan tidak pernah meninggalkan aku sendiri, dia paling tau saat aku melakukan kesalahan dan pada saat aku melakukan hal yang benar.
Allah tau dosaku semoga ada pengampunan sebelum aku menutup mata," jawab Siska.
Siska sesungguhnya wanita yang baik namun perjodohan dari orang tuanya membuat Kevin menjadi tidak menyukai wanita itu.
Sikap arogan mamanya yang selalu memaksakan kehendak membuat pria itu mengacuhkan Siska selama ini.
Sedikit rasa bersalah muncul dalam hatinya sudah menyia-nyiakan Siska selama ini, namun belum terlambat untuk ia memperbaiki semuanya.
Dari mana ia harus memperbaiki semuanya karena sejujurnya ia sudah mendua hati dengan Aurel.
Dokter sudah memvonis Siska jika ia tidak melakukan kemoterapi sisa hidupnya pun tidak akan lama lagi, membuat ia semakin merasa bersalah menjadi suami yang tidak baik bagi kedua istrinya.
Di rumah sakit yang berbeda Aurel mulai membuka matanya dan baru menyadari kalau dirinya sudah berada di rumah sakit.
Tina senang melihat artisnya sudah sadar kembali.
"Tina aku kenapa bisa di sini?" tanya Aurel ketika membuka matanya.
"Ya ampun Aurel akhirnya kamu sadar juga, tau gak udah berapa hari lu pingsan gak sadarkan diri," jawab Tina.
__ADS_1
"Siapa yang bawa ke sini Tina? Apa Kevin tau gue di rawat di sini?" tanya Aurel.
"Kevin yang bawa lu ke sini, nungguin lu dan kemarin dia harus pergi dan nitip ke gue buat jagain lu," jawab Tina.
"Sekarang kemana Kevin?" tanya Aurel.
"Katanya ada urusan penting dan minta gue supaya memberi kabar kalau lu udah sadar," jawab Tina.
"Gue sakit apa Tina?" tanya Aurel lagi.
"Lu hamidun Aurel, gue lagi bingung mau kasih alasan apa nanti kalau orang tau lu hamil," kata Tina lagi.
"Hamil?? serius lu Tina gue hamil??" tanya Aurel kaget.
"Iya lu hamil udah dua belas minggu beg*," jawab Tina.
"Terus aku harus bagaimana Tina? Tidak mungkin aku bisa menyembunyikan kehamilan ini selamanya," tanya Aurel.
"Sebaiknya kamu bicarakan hal ini berdua dengan Kevin, aku tidak bisa mencampuri urusan kalian berdua," jawab Tina.
"Apakah Kevin senang kehamilan ini Tin?" tanya Aurel.
"Aku tidak bisa menebak perasaan suami lu, coba saja kalian bicara berdua," jawab Tina lagi.
"Tina coba kamu hubungi Kevin aku ingin bertemu dan banyak yang harus aku bicarakan dengan dia," pinta Aurel.
Lalu Tina menekan nomor telepon Kevin dan menghubungi pria itu untuk memberi kabar kalau Aurel sudah sadar dan ingin bertemu dengannya.
Namun karena situasi tidak memungkinkan untuk pria itu mengangkat teleponnya karena keluarganya sedang berkumpul untuk membesuk Siska.
Ada mamanya yang sangat otoriter itu sedang dalam ruangan perawatan Siska membuat Kevin mengabaikan panggilan dari Tina.
Setelah sambungan terputus tanpa jawaban membuat Aurel kecewa dan menganggap suaminya tidak memperhatikan dirinya.
Dengan raut wajah kecewa Aurel berkata "Udah Tina tidak perlu hubungi Kevin lagi kita berdua pikirkan cara yang terbaik."
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Selamat berlibur jangan lupa memberi like dan komen setelah membaca.
__ADS_1