Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 27


__ADS_3

Nia terperangah kaget, melihat sosok yang disebut rekan bisnis papanya itu. Begitu pula dengan pria itu, dia tidak menyangka akan bertemu gadis itu disini.


Netra mereka berdua sempat bersitatap dan terdiam sesaat. Namun pria itu segera tersadar dan menguasai kembali dirinya.


“Selamat siang, Pak! Silakan duduk.” Ucap pria itu mempersilahkan Pak Wijaya beserta Nia dan Clara untuk duduk.


 “Mohon maaf karena Pak Dika ada keperluan mendadak, maka saya yang mewakili beliau. Perkenalkan nama saya Satya Aryadika, anak dari Pak Dika. Untuk selanjutnya, proyek ini akan diwakilkan oleh saya.” Ucapnya memperkenalkan diri.


Pak Wijaya nampak teliti memperhatikan sosok pria di hadapannya. Raut wajahnya menyiratkan tentang sesuatu.


Ia tampak mengingat – ingat dimana pernah bertemu dengan pria ini, karena wajahnya terlihat tidak asing baginya.


“Sepertinya kita pernah bertemu sebelum ini, acara makan malam di rumah saya bukan ya??” tutur Pak Wijaya akrab setelah berhasil mengingat siapa Satya.


“Benar sekali pak, waktu itu saya datang bersama bunda saya.”


“Ya betul, kamu anaknya teman istri saya bukan, Wike!! dan katanya kamu juga dosen anak saya Nia?? Ah..!!! dunia sempit sekali.” Pak Wijaya melirik sekilas putrinya yang duduk diam di sampingnya namun tidak dapat menyembunyikan senyum yang menghiasi wajahnya.


Satya mengangguk tersenyum, netranya kembali tak sengaja bersitatap dengan Nia. Satya merasakan gelombang- gelombang aneh yang membuat hatinya berdesir melihat senyuman Nia.


Setelah cukup lama berdiskusi dan membicarakan masalah proyek, mereka pun memesan makanan dan mengobrol santai.


Nia begitu terkagum dengan sosok Satya. Ia begitu pandai membawa diri, dalam waktu sebentar saja, ia bisa mengakrabkan diri dengan papanya. Jauh dari sosok dingin dan galak yang selama ini dikenalnya di kampus.


“Untuk selanjutnya, proyek ini akan saya serahkan kepada Nia, ya walaupun tetap dalam pengawasan saya. Tapi untuk kedepannya, kamu akan lebih sering berhubungan dengan Nia daripada saya.” Ucap Pak Wijaya sesaat sebelum meninggalkan restoran.


“Baik pak. Kami tunggu progress selanjutnya.”  Ucap Satya.


“Kalau begitu kami pamit dulu Pak Satya.” Pak Wijaya berpamitan menyalami tangan Satya.


Satya menyambut uluran tangan Pak Wijaya. Lalu bergeser mengulurkan tangannya kearah Nia.


Nia menyambut dengan jantung yang berdegup kencang.


Helloooo, kemana Nia yang ceria dan cerewet?? selama rapat tadi hanya diam membisu, berusaha menahan jantungnya agar tidak lompat dari tubuhnya. Tangannya bahkan berkeringat dingin, dan Satya menyadari itu saat bersalaman dengannya.


“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, Nona Nia.” ucap Satya tersenyum simpul yang semakin membuat Nia salah tingkah.


“I-iya Pak.”

__ADS_1


Mobil Pak Wijaya berlalu pergi meninggalkan Satya yang masih berdiri menatap kepergian mobil di depannya.


Satya pun masuk kedalam mobilnya lalu kembali ke kantornya sendiri, perusahaan milik ayahnya.


“Satya, bagaimana hasil meeting tadi...??” tanya Pak Dika.


“Satya??”


“Satya!!!” panggilnya dengan suara yang lebih keras.


“Eh Pak Dika, mengagetkan saja Pak...” ucap Satya yang memang terbiasa memanggil ayahnya dengan sebutan Pak jika di kantor, Profesionalisme katanya.


Pak Dika menggeleng kepala,


“Saya tadi sudah mengetuk pintumu berkali-kali... eee kamu gak denger malah cengar cengir sendiri. Bagaimana hasil meeting tadi...??” tanya Pak Dika mengulangi pertanyaannya, karena tidak ada tanggapan dari anaknya.


“Berjalan dengan lancar, Pak. Sabtu Minggu besok kami berencana survey tempatnya ke Surabaya.” Ucap Satya antusias.


“Weekend...?? tumben Pak Wijaya mau survey hari weekend...??”


“Bukan dengan Pak Wijaya, tapi untuk proyek ini akan di handle oleh anaknya, ya walaupun tetap dalam pengawasan Pak Wijaya.” Satya menjelaskan dengan senyum merekah.


"Masih belajar Pak, dia masih mahasiswi." jelas Satya singkat namun dengan senyum yang masih merekah.


 Pak Dika kembali menautkan kedua alisnya, melihat perubahan pada diri Satya. Yang awalnya ia begitu ogah ogahan untuk membantu proyek ayahnya ini, tapi kini malah terlihat antusias dan bahkan tidak menolak untuk survey luar kota disaat weekend.


“Oke kalau begitu, kamu lanjutkan, jangan lupa laporannya.” Ujar Pak Dika berlalu dari ruang kerja anaknya.


“Baik Pak.” Jawab Satya mantab.


Malam hari nya, Nia yang capek dengan hari pertama magangnya, langsung masuk ke kamarnya setelah menyudahi makan malamnya.


Nia merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya melayang mengingat kejadian tadi siang. Bertemu orang yang ia cintai.


Tentu saja Nia merasa bahagia, apalagi dalam beberapa bulan ke depan mereka akan semakin sering bertemu bukan hanya sebagai dosen dan mahasiswi tapi juga sebagai sesama rekanan bisnis.


Namun disisi lain, hatinya juga merasa sedih. Bagaimana ia akan segera move on dari cinta pertamanya itu dan beralih memandang Niko, calon tunangannya??? Nia merasa takdir terlalu bermain-main dengannya.


Mengapa kesempatan ia dekat dengan orang yang dicintainya justru saat bendera perjodohan telah berkibar di kehidupannya.

__ADS_1


Mengapa justru ia merasa Satya semakin terbuka padanya dan seakan membuat ia berharap lebih, padahal jelas ia tahu, bahwa dosen yang dicintainya itu telah memiliki kekasih.


Nia benar-benar merasa takdir sudah terlampau jauh bermain-main dengannya.


Hati yang lelah dan kebahagiaan yang meronta-ronta ingin segera bebas membuat tubuh dan akalnya ikut lelah. Nia hanya berdoa dan berharap akan ada kesempatan kedua untuknya.


Kesempatan kedua baginya menggapai mimpinya dan juga cintanya.


Jauh di lubuk hatinya Nia yakin takdir tidak akan menipunya, takdir tidak akan terus mempermainkannya. Dan Nia yakin, cinta yang sudah ditakdirkan untuknya takkan pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


Semoga aja ya Nia, jodohmu ditangan Author. wkwkwkwkw...


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya.


Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi daam berkarya.


Terimakasih.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2