Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Jawaban Laura


__ADS_3

Malam itu, Laura menuju ke suatu tempat bersama Radit.


"Mau ke mana kita?" Tanya Laura.


"Lihat saja nanti?" Jawab Radit sambil tersenyum.


Radit membawa Laura ke sebuah restoran yang berada di atas bukit dengan pemandangan lampu lampu yang temaram indah nan cantik.


Ya, dulu Ben menembak Gwen di tempat itu. Ia ingat saat itu Mama dan Papanya sedang proses perceraian, lalu Ben sering datang ke rumah sejak pertemuan keduanya.


Ben bukan sekali menyatakan cintanya, pertama kali, di rumah, tapi Gwen tolak, dengan alasan ingin sekolah dulu. Lalu setelah kelulusan, Ben mengajaknya ke tempat ini, dan menyatakan perasaannya kembali. Kali kedua itu, Gwen merasa sangat bahagia. Karena merasa Ben selalu hadir di dekatnya, apalagi sejak orang tuanya berpisah dan sibuk dengan bisnis masing masing.


Ben selalu melindunginya dari semua berita berita miring tentangnya, atau saat Gwen membela Lisa dengan memarahi wartawan infotainment yang mendesak Lisa menceritakan keluarganya saat itu. Saat itu Ibunya baru meninggal, dan terbongkar bahwa, Lisa adalah anak dari istri kedua. Saat itu istri pertamanya yang sok sosialita itu berkoar koar di media.


Kembali lagi ke tempat itu bersama Laura dan Radit.


Laura tersenyum mengenang semua masa lalunya sebagai Gwen. Rasanya seperti Dejavu saat itu.


"Mengapa kamu membawaku ke tempat romantis ini?" Tanya Laura saat Radit menghentikan mobilnya di parkiran.


"Kamu tidak suka?" Tanyanya.


"Aku masih memakai pakaian seperti ini, lalu... Tempat ini menunya tidak terlalu enak dan harganya mahal." Ujar Laura.


"Kamu sudah pernah ke mari?" Tanya Radit menyelidik.


"Eh.. ya.. Dulu ada teman satu kantor yang prewedding di sini, katanya sih gitu." Jawab Laura berbohong.


"Kamu mau masuk? Atau kita pergi ke tempat lain saja?" Tanya Radit merasa Laura tak nyaman berada di tempat itu.


"Ya sudah, kita masuk saja, aku pun sudah lapar." Jawab Laura sambil melepas seatbelt miliknya, lalu keluar dari mobil diikuti Radit.


Mereka memasuki restoran, menuju ke ruangan atas, Radit memilih tempat di balkon dengan pemandangan lampu lampu dari rumah penduduk di bawahnya yang temaram.


Laura duduk berhadapan dengan Radit di meja yang ada lilin di atasnya menambah kesan romantis malam itu.


Laura dan Radit memilih menu yang hendak mereka nikmati malam itu. Selesai memilih dan pelayanan mencatatnya, mereka saling pandang.


"Jadi, bagaimana pekerjaan adikku selama ini?" Tanya Laura.


"Tak perlu diragukan lagi, kalian benar benar sedarah, sama sama memiliki otak dan etos kerja yang tinggi. Aku sangat puas dengan kinerjanya." Jawab Radit.


"Terima kasih." Jawab Laura singkat, beruntung sekali jiwanya masuk ke dalam tubuh Laura yang memiliki otak yang cerdas, terlebih memiliki suara yang merdu. Itu impian Gwen selama ini. Ia ingat dulu pernah bermain film tentang penyanyi, dia mati matian belajar vokal, namun akhirnya tetap lipsing memakai suara penyanyi asli, karena vokalnya tidak terlalu bagus. Tapi, karena kemampuan aktingnya yang luar biasa, lagu yang dinyanyikan dalam film dan menjadi soundtrack seolah menjadi milik Gwen.

__ADS_1


Makanan pesanan mereka sudah tiba, mereka memakan perlahan-lahan sambil mengobrol.


"Jika disuruh memilih ini atau masalah Bude, aku akan memilih masakan Bude." Gumam Laura, disambut tawa oleh Radit.


"Kamu masih lapar?" Tanyanya.


"Hmmm... Sedikit.." jawab Laura sambil berpikir.


"Sebentar."


Radit berjalan menuju kasir dan membayar pesanan mereka, lalu mengajak Laura pergi meninggalkan restoran itu.


Radit membawa Laura berkendaraan menjauh dari kota Jakarta.


"Mau kemana kita?" Tanya Laura memperhatikan sekitarnya.


"Lihat saja nanti!" Jawab Radit cuek sambil fokus mengemudi.


"Loh ini kan jalan ke arah tempat Bude?"


Radit hanya tersenyum menanggapi Laura.


Sesampainya di tempat Bude, telah terparkir banyak mobil dan motor di sana. Aroma masakan tercium dari tempat Radit menghentikan kendaraannya.


"Bude masih buka?" Laura membelalakkan matanya.


Laura keluar dari mobil, wajahnya sumringah, mencium aroma enak makanan. Radit hanya tersenyum menatapnya.


Laura berjalan cepat masuk ke rumah, di teras banyak anak muda yang telah makan sambil nongkrong di sana.


Terlihat beberapa anak muda yang menikmati makanan sambil berbicara di depan kamera, mungkin youtuber.


Laura masuk ke dapur, tercium aroma bumbu yang sangat harum dari sumbernya.


Laura melihat menu yang tertulis di tempelan kertas di dinding.


Ia memilih mi Jawa godog dan nasi goreng Jawa, Radit memilih mi goreng.


"Wah, tumben Mas Radit datang malam? Oh, datang berdua.." Sapa seseorang yang tengah sibuk mengaduk mi dalam wajan.


"Iya Mas. Pesan mi goreng, mi godog, dan nasi goreng, satu satu ya." Pesan Radit.


"Siap Mas, ditunggu saja!" Jawabnya.

__ADS_1


Radit dan Laura memilih tempat di teras samping, yang biasanya mereka tempati.


Mereka menunggu sekitar sepuluh menit, lalu pesanan mereka datang.


"Wah, aku benar-benar berselera dengan menu yang ini!" Ucap Laura dengan wajah berbinar.


"Harusnya dari tadi aku mengajakmu ke mari."


"Mengapa malah ke sana?" Tanya Laura sambil meniup nasi goreng di sendoknya yang masih mengepul.


"Sebenarnya ada yang mau katakan padamu." Ucap Radit pelan sambil menelan ludah.


"Apa?" Tanya Laura sambil mengunyah nasi gorengnya.


"Aku... Aku menyukaimu Laura, bukan untuk sebagai kekasih, tapi aku ingin kita lebih serius." Ucap Radit dalam satu hembusan napasnya.


Laura terdiam, lalu tetap meneruskan menikmati makannya.


Dalam hatinya sebenarnya dia bimbang, tapi ada hal yang membuatnya juga tertarik pada lelaki di depannya ini.


"Kamu mau cicip nasinya?"


"Boleh!"


Mereka menikmati makanan dengan tenang, tanpa berbicara sedikit pun. Radit pun bingung dengan reaksi Laura yang seolah tak terjadi apa-apa, tak menjawab atau pun menolaknya. Mungkin sambil menikmati makanan dia berpikir.


Hampir satu jam mereka di sana, setelah membayar pesanan, Radit dan Laura kembali ke mobil.


"Hah... Terima kasih atas makan malamnya." Ucap Laura.


"Sama sama." Jawab Radit.


"La, lalu apa jawabanmu? Hhmm aku ingin memberikan kamu waktu sepertinya..."


Belum selesai Radit melanjutkan ucapannya Laura mencium pipi Radit, lalu kembali ke posisi duduknya.


Radit mengelus pipinya lalu menatap Laura.


"La... Apa maksudmu?"


Laura tersenyum sambil tersipu malu.


Radit pun mendekat ke arah Laura, lalu menyentuh dagunya, dan mereka pun saling tatap, lalu wajah Radit mendekat, makin dekat, dan dekat, hingga bibir mereka saling bersentuhan. Laura mengalungkan kedua tangannya ke leher Radit.

__ADS_1


Radit menyusuri bibir Laura yang terasa manis, lalu memainkan lidahnya dalam mulut Laura, terdengar suara geli dari Laura.


Tak perlu jawaban dari mulut Laura, Radit sudah tau jawaban dari pertanyaan kepada Laura.


__ADS_2