
“Nia!!!!” pekik Ayu.
Satya yang mendengar teriakan segera mencari sumber suara. Dan ikut terkaget saat melihat Nia yang sudah terduduk memegangi kakinya.
“Kaki loe bengkak lagi Nia.” suara Ayu bergetar karena khawatir.
“Loe belum periksa ke dokter ya, bekas loe jatuh tempo hari??” tanya Niko yang ikut berjongkok di sebelah Nia.
Nia hanya menggeleng pelan. Tangannya masih memegangi kakinya yang kesakitan.
“Naiklah!” perintah Satya yang entah sejak kapan sudah berjongkok di depan Nia menawarkan punggungnya.
Nia menengadahkan kepalanya, menatap Satya yang berjongkok di depannya.
“Cepat naiklah!” Satya mengulangi perintahnya.
“Kamu bisa berjalan hingga ke villa dengan kakimu yang seperti itu, jika ingin melihatnya lebih parah lagi.” Imbuhnya.
Nia pun dengan canggung meraih punggung Satya dan memposisikan badannya.
“Saya akan membawa Nia kembali ke villa. Kalian bisa melanjutkan tugas kalian.” Ucap Satya pada Niko dan Ayu yang masih terdiam di tempatnya.
“I-Iya pak.” Kata Ayu kemudian.
Sedangkan Niko hanya berdiri terdiam melihat Satya menggendong Nia, kembali ke villa.
“Nik, Ayo!”
“Nik!!!” ulang Ayu.
“Eh iya, Ayo!”
Satya melangkahkan kakinya dengan hati – hati menuruni jalanan yang sedikit curam.
Tangannya semakin erat menggendong Nia yang kini hanya terdiam seribu bahasa di punggungnya.
“Lain kali kamu harus lebih berhati – hati.” Ucap Satya.
“ Iya pak.”
“Ada apa?” tanya Satya.
“Hm??” Nia bingung dengan maksud pertanyaan Satya.
“Kenapa jantungmu berdegup kencang sekali? Saya sampai bisa merasakannya. Ada apa?” tanya Satya.
“Oh! Itu... tidak apa – apa pak!” jawab Nia sekenanya.
“Jantung siapapun pasti akan berdegup dengan kencang kalau sedang berada dalam posisi seperti ini,Pak! Masih untung jantung saya gak copot,Pak!” batin Nia.
Satya tersenyum simpul. Dalam hati ia tahu bagaimana perasaan Nia saat ini. Dan itu justru membuatnya ingin terus menggoda Nia.
"Kamu makan apa aja sih?? kenapa berat sekali?" goda Satya.
"Pak Satya ih!" ujar Nia yang tersipu malu digoda Satya seperti itu.
Sesampainya di villa, perlahan Satya membaringkan Nia di sofa ruang tengah.
“Tunggu disini sebentar!” Ucap Satya.
__ADS_1
Nia menganggukkan kepalanya.
Satya kembali dengan balutan es batu di tangannya.
“Kamu boleh berteriak jika terasa nyeri.” Ucap Satya yang mulai mengompres kaki Nia.
Nia memandangi Satya yang dengan telaten merawat dirinya, mengompres kakinya yang kini sudah mulai membengkak.
Hati Nia berdesir. Ia merasa bahagia juga sekaligus sedih. Karena sekali lagi ia harus berusaha menepis perasaannya kepada Satya.
Tanpa terasa Nia meneteskan airmata dan mulai menangis sesenggukan.
“Apakah sangat sakit?” tanya Satya yang tampak khawatir.
Nia hanya menganggukkan kepalanya, tidak mampu berkata – kata.
“Kita harus ke rumah sakit! Tunggu disini sebentar, saya akan mengambil sesuatu di kamar dulu!” ucap Satya seraya berdiri.
Masih dengan sesenggukkan Nia menahan lengan Satya untuk tidak beranjak dari tempat duduknya.
“Kenapa Nia?”tanya Satya kembali duduk.
“Sakit Pak... sakit sekali..” ucap Nia terbata – bata.
“Maka dari itu, tunggu sebentar saya akan mengantarmu ke rumah sakit.”
Nia menggeleng.
“ Disini terasa sangat sakit.” Ucap Nia memegang dadanya.
“Hati saya terasa sangat sakit,Pak! Bagaimana tidak sakit jika sikap bapak seperti ini kepada saya? Sudah saya bilang jangan membuat hati saya bingung. Jangan terlalu baik kepada saya. Jika bapak seperti ini terus bagaimana saya bisa melupakan bapak? Bagaimana saya bisa menghapus cinta saya kepada bapak? Bagaimana saya harus bertahan dengan ini semua?! Rasanya sakit sekali Pak Satya........”
Tangis Nia pun pecah. Ia sudah tidak mampu lagi menahan emosi yang meletup – letup di dalam hatinya.
Tangis Nia pun semakin kencang dalam dekapan Satya.
Satya semakin memeluknya erat. Membiarkan Nia sedikit lebih lama mengeluarkan segala keluh kesahnya.
Dibalik pintu, tanpa sepengetahuan mereka berdua, berdiri Niko yang mendengarkan semua perkataan Nia. yang juga terdengar sangat menyayat hatinya.
Sangat menyakitkan melihat orang yang kita cintai tidak mencintai kita. Namun lebih menyakitkan jika kita melihat orang yang kita sayangi terluka karena keegoisan kita.
Niko pun memilih beranjak pergi, kembali menyusul rekan – rekannya.
“Sudah. Tenanglah Nia. Saya mengerti bagaimana perasaan kamu. Tenanglah dulu. Oke?!” ucap Satya masih memeluk Nia, mengelus lembut belakang punggung Nia.
Nia perlahan mengendurkan dekapan Satya.
“Maaf Pak. Maafkan saya Pak Satya. Lagi – lagi saya sudah bersikap lancang.” Ucap Nia saat sudah lebih tenang dan menguasai hatinya.
Satya hanya tersenyum simpul.
“Kita ke rumah sakit sekarang!” ucap Satya.
Nia kembali menggeleng.
“Tidak perlu pak. Saya bisa istirahat saja. Toh, acara juga sudah hampir selesai. Lagipula kita mau naik apa ke rumah sakit?? Kita kan kesini sama – sama naik bis.” Kilah Nia.
“Baiklah, kalau begitu istirahatlah dulu di kamar. Jangan kemana – kemana sampai nanti waktunya pulang.” Ujar Satya.
__ADS_1
Satya pun memapah Nia hingga ke kamarnya. Membiarkannya beristirahat lebih lama lagi.
“Beritahu saya kalau kamu butuh sesuatu. Kamu masih menyimpan nomor ponsel saya bukan?”
Nia mengangguk patuh.
“Terimakasih pak.” Ucap Nia tulus.
“Sama – sama.” Satya tersenyum manis.
Nia termenung sendirian di kamarnya. Tatapan matanya menjurus pada balutan handuk berisi es batu yang diberikan oleh Satya tadi.
Dan tiba – tiba saja airmatanya kembali menetes. Semakin lama semakin tak terbendung, membanjiri pipinya.
Nia pun tertidur dengan airmata yang masih membekas di sudut matanya.
Hingga acara makrab selesai, Nia benar- benar hanya beristirahat di kamarnya. Walau sebenarnya ia sedikit jenuh berada di kamar sendirian, namun kakinya memang masih bengkak dan sakit untuk berjalan.
“Tunggu disini sebentar Nia, gue taruh tas loe di bis dulu.” Ucap Ayu yang membantu Nia dalam segala hal bahkan untuk membereskan semua barang bawaannya.
“Thank’s Ay, gue jadi ngerepotin loe.” Ucap Nia tulus.
“Gue suka loe repotin Nia, berarti loe masih anggap gue teman loe.’ Jawab Ayu.
Ayu meninggalkan Nia sendirian di kamar. Berlalu menuju bis yang akan kembali membawa mereka ke Jakarta.
Ayu akan menaruh dulu semua barang bawaanya dan juga Nia, baru setelah itu membantu Nia untuk naik ke dalam bis.
Ayu sengaja menempatkan tas Nia di atas kursi paling depan agar Nia tidak terlalu susah untuk naik dan turun bis nantinya.
Setelah Ayu selesai menaruh barang mereka di bis, ia langsung kembali ke dalam villa dan terkejut melihat Nia yang sudah berjalan tertatih – tatih di belakangnya.
“Lho Nia, kok loe udah jalan sendiri kesini?!” ucap Ayu setengah berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
Ayu mempercepat langkahnya hendak memapah Nia naik ke dalam bis.
Namun tanpa di duga, dari belakang Satya langsung saja menyambar Nia, mengalungkan satu lengan Nia di pundaknya.
Ayu yang melihat mereka berdua, serta merta mengurungkan niatnya untuk memapah Nia. Lalu kembali naik ke dalam bis.
Dengan sedikit kesulitan akhirnya Nia berhasil naik ke dalam bis. tentu saja berkat bantuan Satya yang dengan telaten memapah Nia hingga naik ke dalam bis.
“Duduk di depan sini gapapa ya Nia?” ucap Ayu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kursi paling depan.
Nia mengangguk setuju.
“Terimakasih Pak Satya.” Ucap Nia pada Satya yang masih berdiri di samping Nia menopang berat tubuhnya.
Nia pun duduk di kursi yang sudah di sediakan Ayu, di samping kaca.
“Ayu, boleh saya duduk disebelah Nia??” ucap Satya kepada Ayu.
Nia dan Ayu sama - sama terkejut dan saling melempar pandangan satu sama lain.
.
.
.
__ADS_1
.
.