Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 63


__ADS_3

"Perkenalkan.. saya Marsya..." ucapnya seraya menyodorkan tangannya pada Nia.


Nia pun bangkit dari kursinya lalu berjalan memutari meja dan berdiri di sisi Satya.


Satya yang hendak berdiri dicegah oleh Nia.


"Saya Nia, istri dari Satya Aryadika. Permintaan maaf anda saya terima karena anda memang menganggu kami. Jadi silakan anda sekarang mencari tempat lain." ucap Nia dengan senyum sinisnya.


Satya sempat terkejut melihat sikap tegas Nia. Namun dalam hati ia juga bahagia karena Nia tidak mudah terintimidasi.


"Istri...??" ucap Marsya yang tidak percaya melihat ke arah Satya untuk meminta penjelasan.


"Apa ucapan saya masih kurang jelas..??" ucap Nia dengan lembut namun penuh penekanan.


Satya lantas berdiri dan menggenggam jemari Nia. Layaknya membenarkan segala yang di ucapkan oleh Nia.


Marsya yang sangat shock masih mencoba untuk terlihat biasa saja. Ia tahu bahwa Satya sangat mencintainya, hingga sulit untuk melupakannya. Bisa saja ini hanyalah akal - akalan Satya agar ia tidak bisa mendekatinya.


"Kalau begitu, boleh aku bergabung...?? aku ingin berkenalan lebih dekat dengan istrimu.." ucap Marsya tanpa basa - basi.


"Seperti yang dikatakan istriku tadi, kami sedang makan siang dan tidak ingin di ganggu, jadi silakan cari tempat lain." ucap Satya tegas.


Marsya pun mengalah dan meninggalkan meja Satya. Ia duduk di meja lain sambil menatap tajam ke arah Satya dan Nia.


"Sayang...." ucap Satya menggenggam jemari Nia di atas meja.


"Kita makan dulu mas, makanannya sudah datang.." kata Nia masih dengan senyum manisnya.


"Baiklah..." ujar Satya kemudian.


Mereka berdua melanjutkan makan siang yang tertunda seperti biasanya. Diselingi dengan obrolan - obrolan ringan dan canda tawa.


Nia pun sebisa mungkin bersikap biasa saja, tak mempedulikan Marsya yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tajam.


"Setelah ini mas antar balik ke kantor ya...??" ujar Satya.


"Kayaknya aku mau pulang aja deh mas... kepalaku agak pusing..." ucap Nia.


"Pusing...?? kenapa sayang...?? mas antar ke rumah sakit aja ya..??"


"Gak usah mas... paling cuma kecapekan aja.. tolong anterin pulang aja mas..." pinta Nia.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Satya dan Nia pun beranjak dari restoran dan tetap tidak menggubris Marsya yang sejak awal tidak memalingkan sedikitpun pandangannya dari mereka berdua.


Satya melajukan mobilnya menuju apartemen mereka. Dengan menggenggam jemari Nia, Satya fokus menyetir dengan tangan kanannya.


Sesampainya di apartemen, Nia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Masih pusing, sayang...??" tanya Satya yang meraba kening Nia, mengecek suhu tubuhnya.


"Masih mas..."


"Mas buatin teh hangat ya..??" ucap Satya.


Nia hanya mengangguk lemah.


Satya segera beranjak ke dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk Nia. Hanya ini pertolongan pertama yang bisa ia lakukan karena seumur hidupnya, Satya tidak pernah merawat orang sakit.

__ADS_1


Satya menyodorkan secangkir teh hangat, dan Nia langsung menyeruputnya.


"Tidurnya pindah ke kamar saja ya sayang...???" pinta Satya.


Nia pun mengangguk setuju, Satya langsung memapah Nia untuk berbaring di ranjang besar mereka.


"Tidurlah... istirahat sebentar.." ucap Satya yang duduk di sisi ranjang mengelus lembut kening Nia.


Nia mengangguk. Namun saat Satya hendak berdiri, dengan segera Nia memegang tangan Satya. Mencegahnya untuk pergi.


"Mas Satya temani aku disini ya...??!!" pinta Nia.


"Tapi mas harus kembali ke kantor..."


"Kali ini saja mas..." pinta Nia memelas.


Satya terdiam sejenak, ia berpikir tidak biasanya Nia bersikap seperti ini.


"Oke baiklah... Mas akan menelpon jihan sebentar.. biar dia atur ulang jadwal mas... oke..??"


"Jangan lama-lama mas..."


Satya mengangguk kemudian berdiri mengambil ponselnya yang tadi diletakkan di ruang tengah.


Setelah menelepon sekretarisnya, Satya segera kembali ke kamar menyusul Nia.


Dilihatnya Nia yang sayup - sayup mulai memejamkan matanya. Satya pun ikut berbaring di samping istrinya itu.


Hari telah beranjak malam saat Nia terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Satya yang masih terlelap di sampingnya.


Perlahan Nia memindahkan tangan Satya dari perutnya kemudian beranjak dari ranjangnya.


"Mau kemana, sayang....??" ucap Satya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku membuatmu terbangun ya mas....??" ujar Nia.


Satya menggeleng lemah.


"Kamu mau kemana..?? bagaimana pusingnya...??"


"Sudah lebih baik mas... aku mau ke kamar mandi sebentar..."ucap Nia.


Satya sudah duduk bersandar di ranjang saat Nia kembali dari kamar mandi.


"Mas Satya yang mengganti pakaianku...??" tanya Nia.


"Tidurmu sepertinya pulas sekali, bahkan kamu tidak terbangun sedikitpun saat aku mengganti pakaianmu...." jelas Satya.


"Hampir saja aku mencicipi nya jika saja aku tidak teringat kalau kamu sedang pusing..." imbuh Satya.


Nia tersenyum geli mendengar perkataan Satya. Selama di apartemen topik yang dibahas tidak pernah jauh - jauh dari masalah ranjang.


"Kemarilah..." perintah Satya yang menepuk sisi ranjang.


Nia pun mendekat dan kembali merebahkan dirinya di atas ranjang besar seraya menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Satya.


Satya mengelus rambut Nia seraya mengecup mesra puncak kepala Nia.

__ADS_1


"Dia wanita waktu itu yang di restoran, bukan...??" tanya Nia.


Satya yang masih mengelus rambut Nia terdiam tanpa jawaban.


Nia yang gusar menanti jawaban Satya pun menengadahkan kepalanya.


Satya tersenyum seraya mengecup singkat bibir Nia.


"Terimakasih...kamu bahkan sudah menahannya selama ini." ujar Satya.


"Aku mengingat wajahnya dengan jelas sejak di restoran tempo dulu." ucap Nia.


"Boleh aku menceritakan tentang dia...?? agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita..."


Nia mengangguk.


"Dia masa laluku, kamu tahu bukan..?? dulu waktu masih kuliah, aku menjalin hubungan dengan dia. Bisa dibilang dia cinta pertamaku. Tapi Bunda melarang hubunganku. Entah mengapa Bunda tidak suka dengannya. Tapi kamu tahu jiwa - jiwa remaja, kan...?? aku memberontak dan tetap berpacaran dengannya, bahkan aku sempat melamarnya. Ayah dan Bunda pun tak ada pilihan lain selain merestui hubungan kami. Tapi ternyata, Bunda tidak pernah salah... satu bulan sebelum pernikahan, dia pergi melarikan diri." terang Satya.


"Melarikan diri...??"


"Iya, melarikan diri pergi dengan kekasihnya..."


Nia terkejut mendengar cerita Satya dan memeluknya erat.


"Hatimu dulu pasti sangat sakit, mas...." ucap Nia.


"Iya benar... aku sempat mencarinya kemana - mana hingga akhirnya aku menyadari kenyataan itu, bahwa Bunda memang tidak pernah salah. Aku pun sempat terpuruk hingga sulit untuk jatuh cinta kembali."


"Dan disaat aku sudah menata hatiku, melupakan kenangan tentang dia, dengan seenaknya dia mulai mengusik hidupku lagi. Tempo hari yang kamu lihat di restoran itu, dia mencari alasan untuk bertemu dengan mengembalikan cincin pertunangan dulu. Berkali-kali ia mencoba mendekatiku, berkali-kali pula aku menolaknya. Bahkan sebelum ada cinta diantara kita. Perasaanku kepadanya sudah mati."


Nia memeluk Satya erat.


"Ada yang perlu aku khawatirkan...??" tanya Nia.


"Jangan khawatirkan apapun... dia hanya masa lalu yang sudah ku kubur dalam-dalam. Kini hanya ada aku, kamu dan anak - anak kita kelak... membangun masa depan bersama..."


"Terimakasih sudah bercerita mas...."


Nia pun semakin memeluk Satya erat dan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Satya.


Satya pun membalas pelukan Nia dan mengecup mesra puncak kepala Nia.


Nia menengadahkan kepalanya, dan Satya langsung menyambar bibiir ranum Nia.


Mengecupnya mesra.


Semakin lama kecupan - kecupan mesra berubah menjadi semakin menuntut dan semakin ganas.


Satya mulai mengabsen seluruh bagian tubuh Nia.. Panas dan liar...


Krucuk...Krucuk...Krucukk...


Suara cacing di perut Nia pun tidak terkendalikan...


"Maaf mas.. tapi aku lapar banget sampai tidak bertenaga..." ujar Nia nyengir tanpa dosa.


Satya tersenyum geli, "Ya ampun sayaaaaaaang...."

__ADS_1


__ADS_2