Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 38


__ADS_3

Dengan sedikit kesulitan akhirnya Nia berhasil naik ke dalam bis.


“Duduk di depan sini gapapa ya Nia?” ucap Ayu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kursi paling depan.


Nia mengangguk setuju.


“Terimakasih Pak Satya.” Ucap Nia pada Satya yang masih berdiri di samping Nia menopang berat tubuhnya.


Nia pun duduk di kursi yang sudah di sediakan Ayu, di samping kaca.


“Ayu, boleh saya duduk disebelah Nia??” ucap Satya kepada Ayu.


Nia dan Ayu sama -  sama terkejut dan saling melempar pandangan satu sama lain.


“Eh, silakan Pak. Saya bisa duduk di belakang.” Ucap Ayu pada akhirnya.


“Terimakasih.” Kata Satya tulus.


Ayu pun berdiri, pindah tepat di kursi belakang Nia.


Satya pun menduduki kursi milik Ayu tadi. Tepat bersebelahan dengan Nia.


“Kenapa Bapak duduk disini?” tanya Nia sedikit canggung.


“Saya ingin duduk disini.” Jawab Satya datar.


“Kalau begitu saya yang akan pindah tempat duduk,Pak.” Ucap Nia


“Saya ingin duduk di sebelah kamu.” Jawab Satya santai.


Nia terdiam


“Tapi saya tidak nyaman dilihat mahasiswa lain karena duduk dengan bapak.” Ucap Nia seraya berdiri.


Satya pun menoleh


“Duduk!" Ucap Satya penuh penekanan.


Nia yang tidak bisa berkutik lagi memilih untuk kembali duduk.


Dan benar saja, semua mahasiswa yang naik ke dalam bis menatap Nia dengan tatapan aneh.


Nia hanya menundukkan kepalanya.


“Kamu malu duduk dengan saya?” tanya Satya.


“Bukan begitu pak. Hanya saja saya merasa canggung dengan tatapan anak – anak yang lain.” Jawab Nia jujur.


“Kamu pernah bilang bahwa kamu menyukai saya, tapi kenapa justru tidak nyaman bersama saya. Sepertinya kamu tidak sungguh – sungguh menyukai saya.” Ucap Satya seraya menyandarkan punggungnya.


Nia menghela nafasnya kasar.

__ADS_1


“Tidak sungguh – sungguh?? Bagaimana bisa bapak bilang perasaan saya tidak sungguh – sungguh?? Sejak 3 tahun yang lalu, sejak pertama kali saya ikut kelas bapak saya sudah menaruh hati kepada bapak. Dan sampai sekarang! Walaupun selama ini bapak selalu dingin, tidak pernah menanggapi saya bahkan selalu cuek, saya tidak pernah patah semangat. Bahkan saat saya galau berhari – hari karena perjodohan saya dengan Niko sampai saya jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit, bapak kira itu karena apa? Ya karena perasaan saya yang tidak bisa berpaling dari bapak! bahkan hingga saat ini bapak membuat hati saya selalu bingung dengan sikap bapak, membuat hati saya semakin sakit, bapak bilang masih tidak sungguh – sungguh?? Ampuuun saya pak!” ucap Nia menggebu – gebu.


Satya hanya tersenyum mendengar Nia mengakui kembali perasaannya.


“Saya benar – benar membuat kamu bingung ya?” tanya Satya santai.


“Kan saya sudah bilang kemarin,Pak. Saya merasa sikap bapak kepada saya akhir – akhir ini berubah. Menjadi lebih hangat dan ramah kepada saya.” Jawab Nia ketus.


“Berarti saya tidak boleh ramah sama kamu?” tanya Satya kembali.


“Kalau sekiranya memang tidak ada kesempatan untuk saya, mending jangan PHP deh pak! Bapak sudah punya kekasih, saya juga sudah di jodohkan dengan Niko. Kalau sikap bapak seperti ini terus, hati saya semakin sakit,Pak.” Jawab Nia.


Satya hanya menganggukkan kepalanya.


“Nih!” ucap Satya seraya memberi kulit jeruk kepada Nia.


“Kamu  membutuhkan ini ‘kan?” ujar Satya sambil melahap potongan buah jeruknya yang terakhir.


Nia diam tertegun.


“Lah.. kapan dia makannya?? Tahu – tahu sudah tinggal kulitnya!” batin Nia


“Ini ambil!” ulang Satya karena Nia hanya diam seribu bahasa.


“Eh, iya Pak. Terimakasih.” Ucap Nia


Satya menganggukkan kepala seraya menyandarkan tubuhnya,mengatur posisi duduk yang nyaman lalu memejamkan matanya.


Nia merasa berubah menjadi kucing yang penurut setelah sebelumnya bertransformasi layaknya harimau ganas yang meluapkan semua emosinya.


Dengan wajah yang menahan malu karena sudah kesekian kalinya bertindak ceroboh di depan dosennya, Nia pun memilih membuang mukanya ke sisi jendela bis sambil menghirup aroma kulit jeruk pemberian Satya.


Satya yang hanya berpura – pura tertidur melirik sekilas ke arah Nia. sedikit senyuman menyungging dibalik bibirnya.


Selama perjalanan pun Nia hanya duduk terdiam memandangi sisi luar jendela. Sesekali diliriknya dosen yang sedang tertidur di sampingnya.


“Wajahnya sangat tampan, tapi juga sangat menyebalkan!” ucap Nia lirih.


“Tapi kamu sangat menyukai wajah tampan nan menyebalkan ini, bukan?” ucap Satya masih sambil memejamkan matanya.


Nia tersentak kaget. Ia tidak mengira jika Satya hanya memejamkan matanya dan tidak tidur!


“Sial! Gue dibuat malu lagi sama doi.” Gerutu Nia dalam hati.


“Jangan terlalu lama memandangiku, nanti kamu akan semakin jatuh cinta.” Goda Satya yang sukses membuat Nia semakin menahan malu.


“Ishh... Dasar!” batin Nia seraya membuang kembali pandangan menghadap sisi jendela.


Satya tersenyum simpul setelah kesekian kalinya berhasil menggoda Nia.


Setelah 2,5 jam perjalanan akhirnya mereka kembali ke kampus dengan selamat.

__ADS_1


Satya masih dengan sabar dan hati – hati membantu Nia turun dari bis. Walaupun harus menjadi orang yang turun paling akhir,Satya tetap dengan telaten memapah Nia hingga ke parkiran mobil.


“Kamu tunggu disini sebentar, saya ambil kunci mobil sebentar di kantor. Nanti saya antar pulang.” Perintah Satya.


“Ha?”


“Nanti biar saya suruh orang untuk antar mobil kamu ke rumah.” Ucap Satya lagi.


“Saya tidak bawa mobil,Pak.” Kata Nia.


“Itu lebih bagus. Oke tunggu disini sebentar.” Ucap Satya seraya meninggalkan Nia sendirian.


“Tapi pak...” ucapan Nia terhenti karena percuma saja, Satya sudah menghilang dari hadapannya.


 Apa boleh buat, mau tidak mau akhirnya Nia duduk menunggu Satya kembali.


Dari kejauhan Niko berjalan menghampiri Nia yang sedang duduk sendirian.


“Nia” sapa Niko.


Nia sedikit merasa tidak enak bagaimana harus mengatakan pada Niko jika Satya yang akan mengantarkannya pulang. Karena pada saat berangkat kemarin Niko yang menjemputnya, paling tidak Nia merasa berkewajiban untuk berpamitan pada Niko.


“Nik, nanti gue pulangnya...”


“Loe pulang duluan bisa gak??  Gue masih ada beberapa urusan di kampus. Gak bisa nganterin loe pulang.” Potong Niko cepat.


Nia langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya, gue bisa kok. Loe lanjutin aja urusan loe. Gue gampang.” Ucap Nia


“Oke kalau gitu. Gue tinggal dulu ya!” pamit Niko meninggalkan Nia.


Nia mengangguk. Dalam hati ia lega karena tidak harus mengungkit nama Satya di depan Niko.


“Gue tahu loe dianterin pulang Pak Satya, dan gue gak mau loe merasa terbebani karena harus menjaga perasaan gue, Nia.” batin Niko saat berjalan menjauhi Nia.


Tak butuh waktu lama Satya sudah kembali berada di parkiran mobil. Sepertinya ia sedikit berlari, dan itu terlihat dari dahinya yang sedikit berkeringat.


“Cepat sekali pak?” tanya Nia.


“Saya tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama. Kamu sudah cukup lama menunggu.” ucap Satya penuh arti.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2