
Sepulang dari kantor, Laura sengaja berbelanja kebutuhan hari harinya sebelum pulang. Ia janjian dengan Lisa untuk belanja bersama di Persada.
Laura, menunggu Lisa di area food court pusat perbelanjaan itu.
Saat melihat Lisa dari kejauhan, Laura melambaikan tangannya. Lisa bergegas mempercepat jalannya.
Mereka berjalan berkeliling area perbelanjaan itu.
"Sudah lama gue ga jalan gini sama sahabat gue." Gumam Laura.
"Iya. Entah gue yang sibuk atau Lo yang sibuk. Yuk, masuk ke swalayannya aja dulu." Ajak Lisa.
Laura menuju pojok dorongan troli belanjaan, dan mengambil satu, lalu mendorongnya. Saat itu, tampak Lisa sedang di rubung oleh beberapa ibu ibu untuk diminta foto bersama.
Laura mendekati mereka, dan membantu mengambilkan gambar untuk mereka.
Setelah kita kita lima belas menit sesi foto foto bersama penggemar, Lisa dan Laura masuk ke swalayan itu.
Mereka mengambil sayur, buah, aneka roti, lalu mereka menuju ke area kebutuhan sehari-hari. Mengambil keperluan yang telah habis atau tinggal sedikit.
Dari jauh, terlihat sepasang mata menatap ke arah Laura dan Lisa.
Ya, saat itu Dina tak sengaja melihat Lisa dan Laura berada di sana untuk berbelanja.
Laura tak sengaja, melihat Dina yang tengah melihat ke arahnya. Lalu ia berbelok arah menuju rak lain untuk menghindari Dina. Ia malas bertemu dengan Dina lagi.
Namun seolah Dina berjalan mendekati Laura dan Lisa.
"Laura." Panggil Dina.
Lisa menyenggol lengan Laura. " Tuh ada yang panggil." Ucap Lisa.
"Biarin aja lah, gue males ladenin dia." Jawab Laura.
"Siapa sih?" Tanya Lisa sambil bisik bisik.
"Itu Dina, teman yang merebut Pras, tunangan Laura." Jawab Laura cuek, sambil masukkan deterjen cair dalam trolinya.
"Ya, ada apa?" Laura mendekati Dina.
"Bisa ngobrol berdua?" Tanya Dina.
"Untuk apa? Aku sudah tidak pernah lagi mengusik keluargamu dengan Pras. Apa lagi yang mau diomongin?" Tanya Laura sedikit emosi.
"Bukan itu. Entahlah, aku ingin ngobrol saja denganmu."
"Setelah kami selesai belanja." Jawab Laura.
Laura mendorong troli belanjaan kembali, dan mencari kebutuhan yang belum masuk ke dalam keranjang. Lisa mengikuti Laura dari belakang.
Setelah selesai memilih barang belanjaan. Laura dan Lisa menuju kasir untuk membayar.
Lisa membantu memasukkan barang belanjaan mereka kembali ke troli, supaya tidak berat, dan mendorong ke arah food court kembali. Dari kasir lain terlihat Dina mendekati mereka.
__ADS_1
"Kita ngobrol di food court saja." Ajak Dina. Laura menganguk. Mereka bertiga menuju ke food court dan duduk di kursi yang telah disediakan untuk pengunjung.
"Ada apa?" Tanya Laura dingin.
"Aku ingin minta maaf lagi. Sungguh aku sangat menyesal merebut Pras darimu." Ucap Dina sambil melihat ke arah Laura dan Lisa.
"Lalu, untuk apa menemuiku." Tanya Laura heran.
"Aku ingin kita seperti dulu lagi. Aku tau kamu pasti sangat marah padaku. Tapi aku tak mau kamu terus memusuhiku." Ucap Dina lirih.
"Dulu, mengapa kamu tak jujur padaku mengenai perasaanmu pada Pras?" Tanya Laura sambil menatap tajam Dina.
"Jika aku mengatakannya, apakah kamu mau melepaskan Pras untukku?"
"Hanya kamu sebenarnya yang ada di hati Pras, sampai sekarang pun masih. Sakit rasanya, Laura." Suara Dina bergetar menahan tangis saat mengatakannya.
Laura hanya menatap dingin pada Dina.
"Lalu mengapa dulu, kamu sampai hati tidur dengan Pras?" Tanya Laura.
"Karena kamu dengan Radit! Apa kamu tidak sadar, Pras selalu cemburu saat kamu dekat dengan temanmu itu. Setiap dia cemburu selalu cerita padaku, dan melampiaskan marahnya padaku. Kamu tau bagaimana perasaanku saat itu?" Ucap Dina dengan keras.
"Lalu mengapa kamu tidak mengatakan padaku, jika kamu juga suka pada Pras?" Tegas Laura.
"Itu tidak mungkin La. Karena Ibunya. Mertuaku yang tak mungkin bisa menerimaku."
"Kenapa?"
"Aku merasa hina, La. Dan kini Ibuku telah tiada, tak ada ada lagi tempat berkeluh kesah." Dina menangis. Lisa menjawil Laura, yang masih terbengong-bengong melihat Dina yang menangis.
Laura mendekat dan memeluk Dina.
"Maaf. Aku turut berdukacita atas meninggalnya Ibumu." Ucap Laura dengan lembut.
Tangis Dina mulai mereda, lalu ia melepas pelukan Laura, dan duduk di kursinya.
Lisa menyodorkan tisu untuk menghapus air mata Dina.
"Setelah kami pindah ke mari, dan Pras menjadi dokter di Jakarta. Hidupku lebih tenang. Namun, dua tahun yang lalu ibuku mulai sakit-sakitan. Aku sering bolak-balik Yogya Jakarta untuk melihat Ibuku. Mulai deh Mertuaku ikut campur.
Apalagi akhirnya aku harus membawa Ibu berobat kemari. Ibu Mertuaku benar benar terus menyindirku. Membandingkan denganmu dan keluargamu.
Aku sadar aku salah, aku benar benar menyesal La. Saat Ibu sakit kemarin, ia juga banyak bertanya tentang kamu. Tentang kenapa aku merebut Pras darimu.
Aku hanya ingin lebih baik dari dirimu La, tapi tetap saja aku tak bisa. Bahkan setelah aku jadi istri Pras pun, aku tetap ga bisa jadi seperti dirimu, ga bisa lebih dari dirimu!" Tangis Dina kembali pecah, saat menceritakan semua keluh kesahnya.
Laura memeluk Dina kembali, menenangkannya. Lisa hanya menatap mereka berdua. Lisa dan Laura saling pandang, tak tau harus berbuat apa.
Setelah Dina tenang, ia menyeka air matanya.
"Terima kasih atas waktu kalian. Maaf jika mengganggu." Ucapnya.
"Tidak apa apa. Lalu bagaimana sekarang perasaanmu?" Tanya Laura
__ADS_1
"Lebih lega rasanya. Kamu masih marah padaku?" Tanya Dina.
"Marah kenapa? Jika marah karena merebut Pras. Tidak. Aku tidak marah lagi. Lagian kalian sudah memiliki putri cantik. Mengapa tidak nambah lagi?" Goda Laura.
"Pras sibuk terus." Ucapnya.
"Ah.. bohong. Goda saja lagi suamimu itu, dulu kalian bikin anak berapa lama sih, paling ga ada setengah jam kan. Masa sekarang ga bisa." Goda Laura. Lisa hanya tertawa mendengar ucapan Laura.
Dina melotot saat Laura mengatakan itu.
"Dasar kamu La! Tapi patut dicoba. Kamu sekarang dengan siapa?" Tanya Dina.
"Eh tadi kamu bilang aku sama Radit? Kapan?" Tanya Laura teringat ucapan Dina.
"Jadi sebenarnya aku yang sering minta tolong anter Pras. Aku ga tau kalo itu kost milik Omanya Radit. Lalu ternyata kalian teman kkn. Sepertinya Radit cerita tentang aku dan Pras. Lalu kamu sering jalan sama Radit.
Sejak itu kamu menjauh dari aku La. Sungguh aku sedih." Curhat Dina.
"Lah kalo pacarnya direbut teman, pasti marah dan menjauh lah. Logika harus jalan Dina." Ucap Laura dengan gemas.
"Ya sudah aku pikir kamu sama Radit, ya aku dekati saja Pras. Tapi tiap hari aku sampe bosen denger cerita tentang kamu dari mulutnya. Langsung tak bungkam saja sama bibirku. Lagian kamu juga belum nikah sama dia." Ucapnya dengan enteng membongkar aibnya sendiri.
Laura dan Lisa terlonjak terkejut dan kompak menutup mulut dengan tangan.
"Mulai dari situ, kami sering melakukannya." Dina mengaku.
Laura dan Lisa mengambil napas dalam dalam menatap Dina.
"Oke. Din, hari sudah gelap, kami pulang dulu. Hati hati di jalan ya. Jangan lupa buat anak lagi sama Pras, biar nambah personelnya. Jadi kalo pulang ke Yogya, rumah ibu Pras biar tambah rame." Ucap Laura pada Dina.
Laura dan Lisa berlalu sambil mendorong troli belanja mereka ke arah parkir menuju mobil mereka.
"Duh, gila tuh orang! Bisa bisanya dengan mudah dia cerita gitu, ngrebut pacar temennya!" Ucap Lisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku juga ga ngerti Lis. Kok mau Laura temenan sama dia. Terus keluarga emang kenapa ya? Kok sampe Ibunya Pras sampe segitu ga suka sama dia." Tanya Laura dengan heran.
Mereka memasukkan belanjaan ke bagasi mobil, lalu masuk ke mobil menuju rumah.
"Nanti aku coba tanya sama Dewa." Ucap Lisa sambil mengutak-atik ponselnya.
Laura melirik ke arah Lisa.
"Jangan bilang kamu wa Dewa?" Tanya Laura.
Lisa tersenyum. "Ya, akhir akhir ini aku sering berkabar dengan Dewa. Dia juga janji mau jadi guide saat aku ke Yogya besok." Ucapnya.
"Kamu sama Dirga bagaimana?"
"Entahlah, La. Dirga akhir akhir ini sering sibuk, wa ga dibalas. Mending dibaca, ini sama sekali ga dibaca. Lalu pernah aku ketemu di lokasi syuting, karena jadi model, dia mengeluh sakit kepala. Akhirnya dia pergi, ga tau pulang kemana. Aku telpon ga diangkat olehnya. Seolah ia berubah, La." Cerita Lisa, sambil menggosokkan telapak tangannya pada seat belt.
"Serius Lis? Padahal kemarin saya meeting dia terlihat baik baik saja. Dan dia mengantarku pulang malah." Ucap Laura sambil mengerutkan keningnya mencoba mengingat hal aneh tentang Dirga.
Namun, yang ada, ia malah mengingat foto foto nya bersama Dirga di masa lalu. Ia bimbang, apakah perlu diceritakan atau tidak penemuannya itu. Di sisi lain ia ingin meminta bantuan Lisa, namun, di sisi lain ia takut sahabatnya itu akan terluka.
__ADS_1