
"La, gue dapat alamat praktek Dokter Linawati. Sudah gue konfirmasi juga, dokter kandungan yang pernah praktek di klinik ibu dan anak tempat Laura periksa dulu." Info Lisa lewat telpon.
"Oke. Jadi rencananya ntar gimana nih?"
"Tar gue buat janji dulu ke dokter Linawati, Lo temenin gue. Supaya dia ga curiga. Lagian akting Lo kan lebih bagus dari gue selama ini."
"Kalo akting gue lebih bagus, gue ga bakal kerja kantoran, Nek."
"Lo mau main film?" Tanya Lisa.
"Film apaan, paling dapet peran jadi pembantu yang ada."
"Serius, kalo Lo mau, gue tar bilang ke Mas Andre. Dia lagi cari talent yang bisa nyanyi dan akting." Ucap Lisa dengan nada serius.
Sejenak Laura terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak. Membuat Winda dan rekan seruangannya terkejut dan menoleh ke arah Laura.
Laura memelankan tawanya, setelah jadi tontonan rekan kerjanya.
"Udah ah. Tar kita bahas soal yang itu. Pokoknya atur aja jadwalnya, buat kita ketemu tuh dokter."
"Oke, Nek. Tar gue kabari lagi, bye!"
"Bye!"
Lisa dan Laura mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
Laura mencari info nama dokter itu melalui bantuan Mbah google, tak lama muncul berita dan informasi tentangnya. Laura membaca artikel mengenai dokter itu, lalu mencatat nomor telpon tempat praktek dan alamatnya di buku catatan kecilnya. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya kembali.
"La, udah jam makan siang. Lo mau ikut ga?" Ajak Winda.
"Ga usah, kalian duluan aja. Gue udah pesen makan lewat gofood, katanya udah sampe di lobi." Jawab Laura.
__ADS_1
"Ya udah, gue makan dulu ya."
"Kak, kita makan dulu ya." Pamit rekan satu ruangan Laura.
Laura menganguk sambil melambaikan tangannya.
Lalu ia menuju ke lobi, karena makanan pesanannya telah tiba dari tadi. Ia masuk lift dan menuju lantai paling atas. Itu tempat favoritnya selama ini jika ingin sendiri.
Ia mencium aroma rokok, dan berjalan menuju tempat favoritnya itu. Dan di sana telah ada Dirga sedang mengisap rokoknya. Laura ingin berbalik, namun Dirga telah keburu melihatnya.
"Oh, kamu di sini? Aku kira kamu ikut makan siang bersama Bu Sisil." Sapa Laura yang serba salah, setelah mengetahui masa lalu Dirga bersama Laura.
"Ya, aku ingin sendiri. Oh, silahkan jika mau makan di sini, aku mau menghabiskan rokoknya dulu."
Laura mendekati dan duduk di samping Dirga.
"Mau makan sama sama? Kebetulan aku beli banyak."
Dirga menerima makanan dari Laura, sekalian dia lapar, ia juga mulai sedikit rindu dengan teman masa kecilnya itu.
Dreet.. dreeet..
Ponsel Laura bergetar, ia segera mengangkatnya.
"La, gue dan jadwalin ketemu dokternya. Tar malam." Seru Lisa.
"Oke, sampe ketemu di rumah. Thank you ya, Lis. Bye."
"Bye."
Laura menutup panggilan, dan menikmati makanannya kembali. Dirga sedikit terkejut mendengar nama Lisa.
__ADS_1
Di satu sisi ia mencintai Lisa, namun di sisi lain ia mulai tertarik pada Laura.
"Apa kabar Lisa?" Tanya Dirga bermaksud mencairkan suasana.
"Lisa, baik. Loh, bukannya kamu kekasihnya?" Tanya Laura balik.
"Entahlah, sejak ingatanku kembali pulih, hubungan kami seakan merenggang."
"Kamu ga boleh seperti ini, Ga. Selama ini Lisa sudah berkorban untuk kamu. Saat keluargamu menolak, kamu selalu memberi harapan padanya. Membuat dia terus bertahan hingga selama ini denganmu. Kamu pacar terlama dia, Ga!" Laura sengaja menekan kalimat terakhirnya untuk Dirga.
"Lalu kita?"
"Aku sudah bersama Radit saat ini. Kita bukan anak muda lagi. Kita sudah sama sama dewasa. Dulu, mungkin kita membuat kesalahan, dan membuatku mungkin depresi. Tapi, kini aku sadar, kita ga bisa terjebak terus dengan masa lalu Dirga. Kamu telah bersama Lisa. Pikirkan perasaannya, aku ga mau menyakiti hatinya."
Dirga hanya terdiam mendengar perkataan Laura. Ia menarik tangan Laura dan memeluknya. Sejenak Laura terdiam. Ia ingin merasakan saat dalam dekapan Dirga. Dan ternyata ia tidak merasakan getaran perasaan apapun. Berbeda saat ia bersama Ben, atau Radit.
Lalu Laura melepas pelukannya dari Dirga, dan berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Dirga yang kembali sendiri, merenungi ucapan Laura barusan.
"Aku bahkan telah menyakiti orang lagi! Laura dan Lisa. Apa yang harus aku perbuat?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
***
Malam hari, Lisa dan Laura tiba di sebuah rumah sakit dan mereka berada di ruang tunggu di ruang praktek dokter Linawati.
Mereka menunggu bersama dengan ibu ibu hamil yang hendak memeriksakan kandungannya. Ada yang didampingi suami atau keluarga lain.
Saat melihat Lisa dan Laura, terlihat beberapa pasien berbisik pada orang di sampingnya.
Mungkin mereka membicarakan Lisa yang ikut antri menunggu di praktek dokter kandungan.
Padahal yang periksa ke dokter kandungan, bukan hanya ibu hamil, tapi semua yang berkaitan dengan bagian kandungan dan organ di dalamnya.
__ADS_1
Mereka menunggu giliran hampir satu setengah jam, baru dapat masuk bertemu dokter kandungan itu.