
Dengan tergopoh – gopoh Bik Tini menghampiri kedua majikannya yang sedang bersantai di ruang tengah, saat Pak Wijaya sedang menikmati camilan buatan istrinya.
“Permisi Pak, Bu, ada mas Niko di depan.” Ucap Bik Tini.
“Langsung suruh masuk aja, bik. Nia ada di taman belakang tuh!” ucap Mama Dessy santai.
“Mas Niko datang sama Papanya, bu” imbuhnya.
“Papanya?? Pak Andrian??” Pak Wijaya dan Mama Dessy bersitatap dengan sejuta tanda tanya di pikirannya masing – masing.
Dengan bergegas keduanya menemui Pak Andrian yang duduk di ruang tamu di temani oleh Niko.
“Selamat Pagi, Pak Andrian.” Sapa Pak Wijaya seraya menyalami rekan bisnisnya itu.
“Selamat pagi, Pak Wijaya.” Keduanya saling bersalaman. Begitu juga dengan Mama Dessy dan juga Niko yang mencium takzim punggung tangan kedua orang tua Nia.
“Maaf saya menganggu hari santai Pak Wijaya.” Ujar Pak Andrian.
“Oh tidak sama sekali, pak.”
“Nia nya ada tante?” tanya Niko.
“Nia ada di taman belakang, kamu langsung kesana saja.” Jawab Mama Dessy.
“Saya permisi ya tante, om. Pa, Niko ke belakang sebentar.” Pamit Niko.
“Silakan nak Niko.” Ucap Pak Wijaya yang juga dibarengi anggukan kepala Pak Andrian.
Setelah Niko berlalu dari ruangan tersebut dan menghampiri Nia di taman belakang, Pak Andrian memulai pembicaraannya.
“Jadi begini, saya datang kemari untuk membicarakan persoalan anak – anak kita. Kelanjutan perjodohan antara Niko dan Nia.” ucap Pak Andrian penuh wibawa.
Pak Wijaya dan Mama Dessy mendengarkan dengan seksama. Terlihat dari raut wajah mereka yang begitu serius.
Sedangkan Niko menyusul Nia yang sedang bersantai di dalam perpustakaan pribadinya.
Ttokk... ttokkk.. ttoookk...
“Hai Ni..!” sapa Niko.
“Niko!”
Nia yang sedang asyik membaca novel favoritnya sontak menengadahkan wajahnya.
“Asyik banget kayaknya. Nih! Gue bawain cheesecake ama bobba kesukaan loe.” Ucap Niko
“Wah, thanks ya Nik! Tahu aja loe kalau lagi gini paling enak sama ngemil.”ujar Nia dengan wajah gembira.
Dengan tidak sabar Nia membuka bingkisan kue pemberian Niko. Raut wajah Nia benar – benar terlihat ceria dan bahagia. Hanya karena kue!
Lain halnya dengan Niko yang menatap Nia dengan tatapan wajah yang sendu yang dibalut dengan senyum getir.
Nia pun menyadari perubahan raut wajah Niko.
“Loe kenapa Nik??ada masalah??” tanya Nia.
Niko hanya menggeleng.
Nia mengerutkan kedua alisnya.
“Nia, besok – besok kalau gue ada masalah , gue boleh kan cerita ama loe??” tanya Niko dengan menatap lurus kedalam netra Nia.
“Ya boleh donk Nik. Selamanya, sampai kapanpun loe bakalan tetap jadi saha.....” ucapan Nia terpotong. Dia langsung menyadari ucapannya yang salah.
Niko hanya tersenyum tipis melihat Nia.
“Gue boleh minta sesuatu?” tanya Niko.
__ADS_1
“Kalau gue bisa, why not!” jawab Nia yakin.
Niko serta merta mendekat ke arah Nia dan memeluknya erat.
“Nik!” sontak Nia terkejut hingga membelalakkan matanya.
“Sebentar aja Nia. sebentar doank.” Ucap Niko yang semakin dalam memeluk Nia.
Nia hanya diam terpaku dalam pelukan Niko. Entah mengapa ia merasakan sesuatu terjadi pada Niko. Dekapan erat Niko menyiratkan bahwa ia sedang tidak baik – baik saja, bahwa ia sedang berusaha untuk kuat.
Perlahan Nia mengelus lembut punggung Niko. Layaknya memberi kekuatan bagi Niko untuk melalui semuanya. Karena Nia pun juga bingung bagaimana harus bersikap.
Cukup lama kemudian Niko menyudahi pelukannya pada Nia. Wajahnya tersenyum simpul, namun dengan jelas menyiratkan isi hatinya yang sedang buruk.
“Nik, loe baik – baik aja??” tanya Nia yang tampak khawatir.
Niko menganggukkan kepalanya, “ Loe bahagia, gue juga bahagia. Jadi berjanjilah untuk selalu bahagia, Nia.”
Nia semakin tidak mengerti arah pembicaraan Niko.
“Nik??”
“Gue pulang dulu ya. Besok – besok gue main lagi.” Pamit Niko seraya berdiri meninggalkan Nia.
Nia mengangguk dari tempat duduknya, menatap kepergian Niko.
Niko kembali melangkahkan kakinya, menuju ruang tamu menyusul papanya yang masih duduk bersama kedua orang tua Nia.
“Nah itu dia Niko! Sudah selesai??” tanya Pak Andrian yang melihat Niko berjalan ke arahnya.
“Sudah pa.” jawab Niko mantap.
“Kalau begitu kami berdua pamit Pak Wijaya, Ibu Dessy.” Ucap Pak Andrian seraya berdiri dan menyalami kedua orang tua Nia.
“I- iya Pak Andrian.” Pak Wijaya sontak ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Pak Andrian.
Begitu pula dengan Mama Dessy yang ikut beranjak dari tempat duduknya.
Saat akan mencium punggung tangan Mama Dessy, serta merta Mama Dessy memeluk Niko.
Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut keduanya.
Mama Dessy pun melepaskan pelukannya. Senyuman tersungging dari wajah cantiknya.
“Tetap main – mainlah kesini. Kamu sudah tante anggap sebagai anak sendiri.” Ucap Mama Dessy tulus.
“Baik tante.” Jawab Niko.
Pak Andrian adalah seorang single parent. Mama Niko meninggal dunia saat Niko masih kecil. Dan sejak saat itu hingga sekarang Pak Andrian membesarkan Niko seorang diri.
Bersahabat dengan keluarga Nia sejak kecil membuat Niko menjadi dengan dengan Mama Dessy, begitu pula sebaliknya.
“Ayo Nik!” ajak Pak Andrian.
Mereka pun beranjak dari ruang tamu. Pak Wijaya dan Mama Dessy pun mengantar kepergian pak Andrian dan Niko hingga mereka masuk ke dalam mobilnya.
Pak Wijaya dan Mama Dessy kemudian masuk kedalam rumah setelah mobil Pak Andrian melesat pergi meninggalkan rumah mereka.
“Bagaimana ma??” tanya Pak Wijaya setelah mereka kembali duduk di ruang tengah.
“Bagaimana apanya pa?” tanya Mama Dessy.
“Perasaan mama??”
“Entahlah pa. Papa memang benar, Niko adalah anak yang baik.” Jawab Mama Dessy gamang.
Keduanya merebahkan diri pada sofa empuk di ruang tengah. Pak Wijaya kembali menyesap kopinya, sedangkan Mama Dessy meminum es teh manis yang baru saja disajikan bik Tini.
__ADS_1
“Oh iya pa, kira – kira Niko sudah memberitahu Nia belum ya?” tanya Mama Dessy.
“Mungkin saja sudah. Tadi kan Niko ke belakang menemui Nia.” jawab Pak Wijaya.
“Benarkah?? Kalau memang sudah kenapa Nia tidak ada respon? Seharusnya dia sudah heboh mendatangi mama.” Ucap Mama Dessy pada dirinya sendiri.
Mama Dessy menghela nafas berat. Memposisikan duduknya lebih santai.
Baru saja Mama Dessy akan memejamkan matanya, bik Tini dengan tergopoh – gopoh kembali menemui kedua majikannya tersebut.
“Permisi pak, bu.. ada tamu di luar.” Ucap bik Tini.
Pak Wijaya dan Mama Dessy kembali saling menatap satu sama lain.
“Siapa bik?” tanya Mama Dessy.
“Duh, maaf bu. Tadi bibik lupa tanya namanya. Orangnya masih muda bu.”
Mama Dessy menautkan kedua alisnya.
“Laki – laki atau perempuan bik?” tanya Pak Wijaya kemudian.
“Laki – laki pak. Mana ganteng pisan pak! Tadi nyariin bapak sama ibu katanya.” Ucap bik Tini antusias.
“Ya sudah. Makasih ya bik.” Ucap Pak Wijaya.
“Iya pak.” Ucap bik Tini kemudian berlalu meninggalkan ruang tengah.
“Kira – kira siapa ma?” tanya Pak Wijaya penasaran.
“Mungkin rekan bisnis papa?” jawab Mama Dessy santai.
“Rekan bisnis mana ada yang datang tanpa menelpon atau janjian dulu ma..”
“Ya sudah, ayo kita ke depan! Kita lihat siapa yang bertamu.” Ajak Mama Dessy.
Mereka berdua pun beranjak dari ruang tengah dan menuju ke ruang tamu. Dilihatnya tamu yang di maksud tadi duduk di sofa ruang tamu membelakangi mereka.
“ Selamat siang.” sapa Pak Wijaya.
Pemuda yang dimaksud pun membalikkan badan dan memberikan salam.
“Selamat siang Pak Wijaya.” Ucapnya.
“Lho...!” Mama Dessy terkejut melihat siapa yang datang bertamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo.... siapa tuuuh yang datang...??? tunggu kelanjutan ceritanya besok ya!!
Jangan lupa like dan komentarnya ya readers tercinta, supaya author lebih semangat nge halu lagi!
Terimakasih.
__ADS_1
.
.