
"Tit-tit-tiiiiiiiit." mesin yang ada di sebelah ranjang berbunyi. Perasaanku sungguh tidak enak.
Tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan dengan tergopoh-gopoh. Mereka memeriksa kondisi tubuh Bella.
"Siapa kalian?" tanya dokter kemudian.
"Kami adalah kerabatnya." jawab Yoga.
"Pasien sudah meninggal. Saya turut berduka cita. Tapi syukurlah kalian sudah datang." ucapnya.
Apa, meninggal?!
Kurasakan tubuhku ringan, lalu semuanya menjadi gelap.
Saat membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah dia, Yoga. Wajahnya penuh dengan rasa khawatir.
"Ini dimana?" tanyaku yang tengah berbaring di sebuah ranjang.
"Masih di rumah sakit. Kamu pingsan selama enam jam."
"Tubuhku?" tanyaku lagi.
Yoga menggenggam tanganku, "Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
"Apa aku sudah meninggal?"
"Sayang, dengarkan aku. Ini takdir yang memang harus kamu jalani. Kamu harus tetap hidup di sini bersamaku."
Aku menangis tersedu. Tiba-tiba teringat papa dan mama yang telah lama meninggal. Tubuhku yang sebatang kara pun telah menjadi fana.
"Menangislah sekarang, karena besok aku tak akan mengijinkanmu menangis lagi." ucap Yoga lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku menangis cukup lama, meratapi nasibku dan Tania. Dia sudah meninggal, dan kini aku yang berada di tubuhnya. Tania, aku akan membalaskan semua penderitaanmu. Lalu pamanku, kamu lah yang menyebabkan kematianku, kamu harus membayarnya!
Jasad Bella harus segera disemayamkan hari ini juga. Yoga telah mengurus segalanya dan memakamkannya di pemakan keluarga. Pemakaman itu tidak dihadiri banyak orang. Hanya ada aku, Yoga, dan beberapa orang penggali kubur.
***
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Yoga yang tengah memelukku di tempat tidur keesokan paginya. Kami langsung pulang setelah pemakaman selesai.
"Banyak."
"Berbagilah denganku."
__ADS_1
Kutatap mata laki-laki yang ada di sampingku, dia lah yang selama ini menguatkanku. Entah bagaimana bila dia tak bersamaku, sanggupkah aku menghadapinya seorang diri?
"Terimakasih." ucapku.
"Aku mencintaimu." Sebuah kecupan mendarat di pipiku.
Entah ada dorongan dari mana tiba-tiba saja aku mencium bibirnya. Yoga memeresponnya dengan hangat, makin lama ciuman ini memanas. Suhu tubuhku ikut naik, begitu pula dengan Yoga. Tangannya telah menggerayangi tubuhku. Kami terbakar asmara. Malam pertama yang tertunda lama akhirnya kurasakan, tapi bukan di malam hari. Apakah lebih baik kusebut saja pagi pertama?
Kami berpelukan, kelelahan dalam bahagia.
"Aku mencintaimu." bisikku di telinga Yoga.
"Katakan sekali lagi." pintanya.
"Aku mencintaimu."
Yoga menciumku lagi, ciuman panas yang membangkitkan hasrat. Lagi, kami memulainya lagi.
"Kamu gak kerja?" tanyaku setelah dua ronde kami tempuh.
"Enggak, aku mau nemenin kamu hari ini."
"Aku lapar." ucapku malu.
"Baiklah, kita mandi dulu." kata Yoga sambil beranjak dari kamar tidur.
"Hah, mandi bareng?" tanyaku tak percaya.
Yoga tak menungguku menjawab. Dia membopongku dari tempat tidur dan membawaku ke kamar mandi.
"Kamu nakal." ucapku malu-malu.
Yoga tertawa puas dan kami melakukannya sekali lagi.
***
"Habiskan sarapanmu, kamu butuh energi yang banyak." ucap Yoga menggodaku.
Pipiku bersemu merah. Sarapan yang tidak pagi lagi, matahari sudah berada tepat di atas kepala.
"Bubur ayam ini porsinya banyak sekali." protesku.
"Kemarin aku memintamu untuk makan banyak, ternyata masih pingsan juga. Aku tak mau kamu pingsan lagi." Yoga berkata dengan serius.
__ADS_1
"Iya iya, aku habiskan." Tubuh ini memang sedikit lemah, tapi aku telah melakukan beberapa latihan untuk menguatkannya. Memang butuh proses yang lama supaya tubuh ini terbiasa.
Hari ini Yoga benar-benar seharian menemaniku di rumah. Aku tahu dia sedang mencoba menghiburku. Dia tak ingin aku mengingat kejadian kemarin.
"Sayang, kamu mau punya anak berapa?" tanya Yoga tiba-tiba. Kami sedang bersantai di atas sofa di depan televisi.
"Dua saja cukup." jawabku.
"Aku mau punya banyak anak."
Kuputar tubuhku menghadapnya, "Kenapa?"
"Aku suka anak-anak. Selama ini aku seorang diri di rumah. Padahal aku juga ingin punya kakak atau adik." ungkapnya.
"Baiklah, kita akan punya banyak anak." Kupeluk tubuh suamiku, calon dari ayah anak-anakku kelak. Tetaplah hangat seperti ini, aku tidak ingin kehilanganmu.
Sebuah ciuman basah mendarat di bibirku.
Ah, begitu mudahnya dia terpancing. Ini di ruang terbuka! Ada Mbak Lis dan Pak Yanto yang entah sekarang mereka ada di mana. Bagaimana kalau mereka melihat?
"Sayang, jangan." bibirku susah untuk bicara.
Yoga melepaskan ciumannya, "katakan sekali lagi." pintanya.
"Jangan."
"Bukan, bukan itu."
Apa yang harus kukatakan?
"Katakan sekali lagi, sayang... "
"Sa-yang." ucapku kaku.
"Sekali lagi."
"Sayang."
"Sekali lagi yang benar, kalau tidak aku akan menciummu lagi." ancamnya.
"Sayang ... sayang ... sayang ..." ucapku malu.
"Sayang, kita ke kamar aja, ya." bisiknya tepat di tengkukku.
__ADS_1
Yoga membopongku menuju kamar. Kubenamkan wajahku di dadanya, menyembunyikan semu merah di pipi. Lebih baik aku tak mengeluarkan suara, daripada nanti Mbak Lis dan Pak Yanto nanti mendengar.
Ini kah yang pengantin baru lakukan? Matahari juga belum kembali ke peraduan, tapi dua sejoli yang tengah di kasmaran tak peduli waktu untuk bercinta.